Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Misi di Pulau Tengkorak IV


__ADS_3

"Dia berusaha menolongku, Ronggo tidak mengerti jalan pikiran Sabrang. Jika Sabrang berusaha menolong Mada itu bisa dipahaminya karena bagaimanapun Mada masih punya pengaruh di Kadipaten Rogo geni. Namun mengapa dia berusaha menolong seorang pemuda yang bahkan tidak memiliki pengaruh apa apa.


"Anda sebaiknya pergi Pangeran, aku tidak membutuhkan bantuanmu" Ronggo yang sejak tadi hanya diam berbicara pelan.


"Jaga ucapanmu nak!!" Mada berteriak kearah Ronggo.


"Tidak apa apa paman, aku dapat memakluminya" Sabrang berusaha menenangkan Mada.


"Tapi pangeran.....".


"Aku tidak tau kau memiliki dendam apa dengan ayahku namun aku akan tetap membantumu, kau bebas pergi kemanapun yang kau suka setelah kita keluar dari pulau ini".


Ronggo terdiam sesaat, dia masih belum memahami jalan pikiran Sabrang.


"Bukankah seharusnya dia lebih mementingkan urusan Malwageni daripada mengurusiku" Ronggo berkata dalam hati.


"Hahahaha Seorang Pangeran berusaha menolong seorang pemuda yang bahkan dia tidak mengakuimu sebagai Pangeran. Sebaiknya kita bergegas sebelum pasukan Majasari mengejar kemari" Arkadewi tersenyum sinis.


"Sudah kukatakan aku akan menolongnya dan akan kutepati janjiku" perlahan tubuh Sabrang diselimuti kobaran api.


Sabrang sengaja melepaskan auranya untuk menekan Arkadewi.


"Kau tidak memberiku pilihan Pangeran" Tubuh Arkadewi tiba tiba menghilang dan dengan cepat menyerang Sabrang dari belakang.


"Aku tidak ingin melukai seorang wanita nona" Sabrang melompat mundur beberapa langkah namun tiba tiba tubuhnya telah berada tepat di samping Arkadewi.


Tangannya mencengkram lengan Arkadewi, perlahan Es mulai menyelimuti tangan Arkadewi.


Melihat Arkadewi terdesak Brojoseno melesat menyerang Sabrang namun serangannya mengenai perisai es yang mengelilingi Sabrang.


Tangan kiri Sabrang mengarah ke tempat Brojoseno berdiri.


"Jurus langit menekan bumi". Tiba tiba tubuh Brojoseno menjadi berat dan tidak dapat digerakan.


"Jurus ini? Rengkah jiwa. Bagaimana dia bisa menguasai jurus milik tetua Gandana"


Mada menatap tak berkedip ke arah Sabrang, dia mengetahui jika Brojoseno adalah pendekar pilih tanding terlihat dari aura yang dilepaskannya tadi namun Sabrang melumpuhkannya hanya dengan satu jurus.


"Pangeran...." Gumam Mada dalam hati.


"Lepaskan tanganku" Arkadewi berusaha memberontak namun lapisan es telah menjalar sampai ke lehernya membuat dia tidak bisa bergerak.


"Sepertinya semua akan sia sia bagi anda nona jika tidak lekas pergi dari sini" Wardhana melangkah maju mendekati Arkadewi.


"Apa maksudmu?" Arkadewi menatap tajam Wardhana.


"Apakah Majasari akan diam saja mengetahui Mata elang menyerang Pulau Tengkorak?" Wardhana tersenyum penuh makna.


"Kalian yang membuat kekacauan harusnya kalian yang segera pergi dari sini".

__ADS_1


"Apakah Majasari akan mempercayai anda nona, Anda membantu kami masuk ke pulau tengkorak bukankah wajar jika Majasari menganggap kami bagian dari Mata elang?".


Raut wajah Arkadewi berubah dia merasa telah melakukan kesalahan besar. bukan hal mudah berurusan dengan Majasari. Dia baru saja menyadari masuk perangkap Wardhana.


"Dan aku yakin bangsawan yang menyewa anda tak akan berani membayar anda karena Mata elang telah membuat kekacauan diwilayah Majasari. Anda tidak akan mendapatkan apa apa kecuali kekalahan dan kejaran pasukan Majasari".


"Kau menjebakku?" Arkadewi tidak dapat menyembunyikan kemarahannya.


"Dalam strategi perang tujuannya hanya satu MENANG, Aku hanya mengantisipasi segala kemungkinan nona. Sekarang sebaiknya kita secepatnya menyepakati sesuatu kemudian segera pergi dari sini sebelum terlambat.


Arkadewi mengendus kesal, kini dia sadar dalam posisi terjepit. Jika dia melanjutkan pertarungan ini bukan hanya akan mengalami kekalahan karena ilmu yang dimiliki Sabrang jauh diatasnya namun juga mengundang Pasukan Majasari menangkapnya.


"Mau sampai kapan anda memegang tanganku, Lepaskan, kalian boleh membawanya pergi" Arkadewi menatap Sabrang.


"Ah maaf nona" Sabrang melepaskan tangannya, tanpa disadarinya saat menyerang tadi dia mencengkram pergelangan tangan Arkadewi.


"Ketua" Brojoseno berusaha bangkit namun tetap tidak bisa menggerakan tubuhnya.


"Biarkan mereka membawanya paman, katakan saja pada tuan adipati kita tidak berhasil menangkapnya".


Wardhana tersenyum lalu menundukan kepalanya pada Arkadewi "Terima kasih nona".


Mada menatap Wardhana "Kemampuannya membaca situasi masih seperti dulu, seandainya kau tidak melarikan diri mungkin Malwageni tidak akan runtuh".


"Dan tolong lepaskan Paman Brojoseno" Arkadewi berbicara ketus.


"Terima kasih Ketua" Brojoseno mendekati Arkadewi.


"Sekarang mari kita pergi sebelum mereka datang" Wardhana melangkah kearah kapal setelah membuka ikatan tangan Ronggo.


***


"Dasar pangeran mesum!". Arkadewi bersingut di pojok kapal, dia masih membayangkan cengraman tangan Sabrang tadi. Tanpa dia sadari rona merah muncul dipipinya.


"Lain kali akan kubuat perhitungan denganmu".


"Ketua, anda baik baik saja?" Brojoseno melangkah mendekati Arkadewi.


"Ah iya paman aku baik baik saja" Arkadewi berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Sejak kapal berlayar anda lebih banyak diam".


"Mungkin aku hanya lelah paman ditambah kita tidak akan mendapatkan bayaran apa pun hari ini membuatku sedikit tidak bersemangat".


"Maafkan aku ketua" Brojoseno menundukan kepalanya.


"Tidak apa apa paman, kemampuan pangeran itu jauh diatas kita" Arkadwi memegang lengan kanannya yang tadi dipegang Sabrang.


***

__ADS_1


"Hamba pantas mati Pangeran" Ronggo berlutut dihadapan Sabrang.


"Bangunlah kakang".


"Mohon maafkan hamba" Ronggo tak berani menatap Sabrang. Mada tersenyum kecil melihat Ronggo telah berubah.


"Kakang, Anakmu akan meneruskan perjuanganmu mengabdi pada Malwageni" Mada berkata dalam hati.


"Lalu apa rencanamu?" Mada menatap Wardhana tajam, tatapannya masih memperlihatkan ketidaksukaannya pada Wardhana.


Wardhana mulai menceritakan keadaan Malwageni saat ini sampai kondisi Patih Gundala saat ini.


Dia juga menceritakan secara detail gerakan tidak biasa Majasari yang menarik hampir separuh pasukannya dari Kadipaten Rogo geni dan keterlibatan Paksi.


"Jadi penghianat itu masih hidup?".


"Benar tuan, aku ingin meminta bantuan tuan Mada untuk mencari informasi di sekitar kadipaten Rogo geni, aku yakin masih banyak orang kepercayaan anda saat masih menjadi Adipati".


Mada terlihat mengangguk pelan "Ada beberapa prajuritku dulu yang masih setia padaku, aku akan mencoba mencari tau keberadaannya selain itu ada kenalanku seorang pemilik rumah makan di daerah rogo geni, dia bisa membatu kita menyamar selama berada disana mengamati situasi".


"Aku akan membantu menghubungi teman dekat ayah di Rogo geni, dia mantan prajurit teliksandi, ku pikir dia mempunyai banyak informasi penting" Ronggo ikut berbicara.


Wardhana mengangguk pelan "Terima kasih tuan Ronggo".


Ronggo hanya mengangguk pelan, kali ini tekadnya sudah bulat akan ikut perjuangan merebut kembali Malwageni. Entah kenapa dia sepertinya mulai memahami keputusan ayahnya dulu bertaruh nyawa demi melindungi Malwageni.


"Lalu bagaimana dengan Mata elang? jika dia buka suara tentang keterlibatan mu di pulau tengkorak maka rencanamu akan hancur".


Wardana menggeleng pelan, "Dia tidak akan buka suara, keadaan ini memaksa mereka akan bersembunyi sementara waktu untuk menghindari kejaran Majasari".


"Kau harus benar benar memastikan rencanamu, Aku tidak ingin Pangeran dalam bahaya. Lawan yang kita hadapi saat ini adalah mantan Ahli siasat terbaik Malwageni" Mada memperingatkan Wardhana.


"Aku mengerti tuan, akan kupertaruhkan hidupku kali ini".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


***BONUS CHAPTER MALAM MINGGU KHUSUS BUAT JOMBLO YANG PURA PURA BAHAGIA 😁


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca


Dukung juga penulis di


Karyakarsa. com /RickypakeC


dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya


Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2