
Saat hari masih sangat gelap tampak seorang pemuda menyelinap dan bergerak cepat pergi dari sekte Tapak es Utara. Gerakannya yang sangat cepat membuat para penjaga tak menyadarinya.
Dalam waktu singkat dia sudah jauh meninggalkan Tapak es utara. Dia terlihat memasuki hutan yang berada didekat kadipaten Rogo geni dan menghilang diantara kabut yang tiba tiba muncul.
Bagai sebuah pintu menuju dimensi lain, pemuda itu muncul kembali dengan pemandangan sebuah kota indah maju. Puluhan gedung tinggi menjulang dan beberapa penjaga memakai topeng merah tampak menjaga disetiap sudut.
Bangunan bangunan tinggi yang didominasi warna merah itu tampak dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi.
"Antar aku menemui ketua, ada kabar penting yang harus aku sampaikan" ucap Pradana, salah satu pendekar Langit merah yang ditugaskan menyusup ke sekte Tapak es utara.
Seorang penjaga mengangguk pelan dan mengantarkannya menuju sebuah gedung yang paling besar diantara gedung lainnya.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan yang cukup ketat, Pradana masuk kedalam ruangan yang sudah dipenuhi beberapa ketua sekte Langit merah.
"Sebaiknya kau membawa kabar baik dengan berani mengganggu kami" ucap Prabaswara yang merupakan ketua pendekar langit merah.
"Pengguna Naga api saat ini sedang terbaring lemah di tapak es utara tuan, aku tidak tau detailnya karena Tapak es utara menutup semua akses keruangan itu namun aku yakin dia sedang terluka parah" ucap Pradana pelan.
Wajah Prabaswara tampak berubah cerah setelah mendengar ucapan Pradana.
Sekte yang sudah sangat lama dipimpinnya itu memang akhir akhir ini sedang terpojok sejak kematian Dananjaya di Wentira praktis sumber informasi mereka mengenai Telaga khayangan api terputus.
Beberapa pendekar yang dia susupkan dibeberapa sekte besar disemua daratan demi mengumpulkan informasi mengenai Telaga khayangan api satu persatu dibunuh oleh Sabrang.
Namun yang membuat Prabaswara kesal adalah kematian Dananjaya. Dia sempat mendapat kabar dari Dananjaya mengenai kemungkinan keberadaan daratan misterius yang merupakan pusat awal ilmu pengetahuan Telaga khayangan api. Kematian Dananjaya memutus semua sumber informasi Langit merah.
"Kau yakin dia terluka parah?" kejar Prabaswara.
"Aku sudah memastikannya tuan, beberapa tetua aliran putih saat ini berkumpul disana".
"Mereka tidak membuatku khawatir" ucap Prabaswara sambil berfikir.
"Bawa separuh pasukan langit merah dan persiapkan keberangkatan kita. Sudah saatnya kita menghancurkan tapak es utara dan membunuh anak itu sebelum dia pulih".
"Baik ketua, akan aku persiapkan secepatnya" ucap salah satu tetua Langit merah.
***
"Pusatkan tenaga dalammu di beberapa titik kehidupanmu, Ajian Gelap ngampar adalah ilmu kanuragan untuk masuk kealam bawah sadar seseorang. Kau harus bisa mengatur besaran tenaga dalammu saat masuk ke alam bawah sadar seseorang.
Alam bawah sadar sangat sensitif, sedikit saja tenaga dalammu menekannya maka akan terkoyak dan membunuh pemiliknya". ucap Brajamusti sambil membantu Mentari membuka beberapa aliran darah yang tersumbat.
Mentari tampak duduk bersila sambil memejamkan matanya. Setelah beberapa hari bekerja keras akhirnya dia mulai bisa menguasainya.
Brajamusti bahkan sangat terkejut dengan tekad Mentari menguasai jurus itu. Gadis itu terus mengurung diri dikamarnya demi secepatnya menguasai ajian Gelap mampar.
Setelah menyelesaikan latihan sore itu Brajamusti mengajak Mentari menemui Suliwa dan Wulan sari yang sudah menunggu dihalaman belakang sekte.
"Anda yakin nona Mentari dapat menyerap energi Naga api? bukankah tubuh anda sendiripun hampir hancur saat itu?" tanya Wulan sari khawatir.
"Apa kau pikir Brajamusti memilihnya hanya karena dia menguasai ajian lebur sukma?".
"Apa maksud anda?" Wulan sari mengernyitkan dahinya.
"Walau samar, aku dapat merasakan anak itu memiliki energi api dalam tubuhnya namun dia tidak menyadarinya".
"Energi api?".
"Aku belum yakin namun sepertinya tanpa sadar ajian lebur sukmanya menyerap sedikit demi sedikit energi Naga api. Bukan hal yang terlalu mengejutkan mengingat dia telah lama bertarung bersama Sabrang. Saat ini hanya dia yang paling mungkin bisa mengendalikan Naga api".
__ADS_1
"Maaf tetua, kami sedikit terlambat. Nona ini harus menyempurnakan Gelap mamparnya agar tidak merusak alam bawah sadar Sabrang". Brajamusti muncul bersama Mentari.
"Kau benar benar beruntung nona dibimbing langsung oleh ketua Angin biru" ucap Suliwa pada Mentari sambil tersenyum.
Suliwa mengeluarkan pedang Naga api dari balik pakaiannya. "Kita beruntung tuan Adipati mencengkram pedang ini saat dia diserang, jika tidak maka pedang ini akan kembali menyatu dengan Sabrang dan hanya dia yang mampu mengeluarkannya kembali".
Suliwa menancapkan pedang itu ditanah dan memegang gagangnya.
"Semoga dia masih mengingatku" ucap Suliwa sambil merapal sebuah jurus.
Tak lama kobaran api mulai menyelimuti pedang itu dan dengan cepat menyambar lengan Suliwa.
"Aku hanya ingin bicara, bodoh" umpat Suliwa sambil menekan api yang mulai menjalar tangannya.
"Kau semakin lemah Suliwa, aku hanya ingin mencoba kemampuanmu" Naga api tertawa mengejek.
"Kau masih bisa bicara seperti itu saat tuanmu sedang dalam bahaya".
"Dalam bahaya? dia hanya butuh sedikit energiku, dan aku terus berusaha mengirimkan energiku walau sampai saat ini belum berhasil".
"Kau begitu yakin dia dapat melewati ini?" tanya Suliwa terkejut. Tak ada sedikitpun keraguan pada ucapan Naga api jika Sabrang mampu melewati ini semua.
"Ken Panca menciptakanku untuk melindungi trah Dwipa dari sesuatu dalam tubuh mereka yang baru hari ini aku tau apa itu namun tak ada sedikitpun niatku untuk menganggap mereka sebagai tuan sampai kau memberikanku pada anak ini.
Anak ini sangat berbeda dari leluhurnya, bukan tubuh tujuh bintang yang membuatku tertarik padanya namun energi murni yang sampai saat ini belum dia sadari. Kalian pikir dia sudah sangat kuat? buang jauh pikiran kalian sebelum melihat dia jika telah membangkitkan energi murni yang diturunkan dari ibunya. Tuanku tak akan mati dengan mudah bodoh!".
Suliwa terkekeh mendengar ucapan Naga api, bagaimanapun dia pernah puluhan tahun bersama Naga api dan untuk pertama kalinya dia mengakui seseorang sebagai tuannya.
"Baiklah, aku tak bisa berkata apapun lagi jika kau begitu yakin namun kami bisa membantumu mengalirkan energimu ke alam bawah sadarnya".
"Kau yakin?" Naga api mulai tertarik.
"Lebih tepatnya nona Mentari yang akan membantumu". Suliwa mulai menjelaskan jika Mentari akan menjadi perantara untuk mengalirkan energinya.
"Kau meremehkannya, apa kau tau secara perlahan dia menyerap energimu selama ini?".
"Aku tau namun jumlahnya sangat sedikit, itu tak menjamin dia bisa menerima energiku".
"Berikan saja energimu padanya, biar dia yang mengurus sisanya" ucap Suliwa kesal.
Naga api kembali terkekeh mendengar jawaban Suliwa.
"Kemarilah nona" Suliwa menoleh kearah Mentari.
Mentari mendekat dan mulai memegang gagang pedang Naga api, dia terlihat sedikit ragu dan menoleh kearah Brajamusti.
"Percaya pada kemampuanmu sendiri, alirkan perlahan seperti saat kau berlatih. Jangan pikirkan apapun dan bawa kembali dia kemari" ucap Brajamusti seolah taunada keraguan didalam hati Mentari.
Mentari mengangguk sebelum merapal ajian lebur sukma untuk menarik energi Naga api.
"Kau sebaiknya hati hati nona" ucap Naga api pelan.
"Kau yang harus berhati hati Naga api. Jika kau bertindak diluar perintahku dan membahayakan tuan muda maka akan kupastikan kau menerima akibatnya".
Naga api tersentak kaget mendengar ucapan Mentari, dia selama ini merasa Mentari hanya pendekar wanita biasa yang selalu dilindungi Sabrang bisa mengancamnya tanpa keraguan sedikitpun.
"Kau!".
"Bukan hanya kau yang tertarik dengan anak itu Naga api, seperti yang dilakukan Sabrang padanya. Nona ini akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya walau harus berhadapan denganmu, kau dalam masalah jika menganggap remeh dia" Suliwa tertawa mengejek.
__ADS_1
Mentari mulai menyerap energi Naga api perlahan dan mengikatnya di aliran tenaga dalamnya. Setelah dirasa cukup, Mentari melepaskan gagang pedang itu dan bangkit dari duduknya.
"Guru" ucap Mentari pada Brajamusti.
"Ayo kita lakukan".
Mentari mengangguk pelan, mereka berjalan menuju ruang perawatan Tapak es utara.
***
Sisi gelap Sabrang yang kini wajah dan tubuhnya menyerupai Sabrang tampak duduk sambil tersenyum mengejek menatap sesosok tubuh yang berada didalam bongkahan es.
Walau tak dapat menggerakan tubuhnya namun Sabrang terus berusaha menarik energi Naga api untuk melelehkan bongkahan es yang menyelimuti tubuhnya.
"Percuma kau berusaha menarik energi Naga api, sudah kukatakan disini akulah yang berkuasa".
Namun tiba tiba mahluk itu itu mengeluarkan sebuah pedang ditangannya saat merasakan kehadiran sesuatu.
Perlahan namun pasti energi yang dirasakan mahluk itu berubah menjadi seorang gadis cantik yang sangat dikenal Sabrang.
"Mentari?" Sabrang tersentak kaget saat melihat Mentari muncul dihadapannya.
Mentari tampak bingung karena ada dua orang Sabrang dihadapannya.
"Dia berusaha menguasai tubuhku namun aku telah mengurungnya dengan jurus es ku" mahluk itu berjalan mendekati Mentari.
"Berhenti disana" bentak Mentari tiba tiba.
"Hei apa kau gila? aku adalah Sabrang yang asli, dia berusaha mengacaukan pikiranmu dengan menyerupaiku" mahluk itu terus berjalan mendekati Mentari dan memeluknya.
Kali ini tak ada perlawanan dari Mentari saat mahluk itu membelai rambut indahnya.
Sabrang mencoba berteriak dari dalam bongkahan es namun tak berhasil, dia menatap Mentari seolah berbicara sesuatu.
"Pergi dari sini sekarang juga" gumam Sabrang dalam hati.
"Bunuh dia, setelah itu kita keluar dari tempat ini" bisik mahluk itu pada Mentari.
Mentari tampak mengangguk dan mengeluarkan pedang Naga api dari tangannya. Dia kemudian melempar pedang itu sekuat tenaga kearah Sabrang yang terkurung didalam es.
Sabrang tersenyum hangat sesaat sebelum memejamkan matanya, tak ada kemarahan sama sekali diwajahnya.
"Setidaknya mati ditangan orang yang sangat kucintai tidak terlalu buruk" gumamnya.
***
Mantili membuka pintu ruang perawatan dengan tergesa gesa membuat Suliwa dan yang lainnya sangat terkejut. Dia menoleh kearah Mentari yang duduk bersila didekat Sabrang.
"Kita diserang". ucap Mantili.
"Diserang?" Brajamusti mengernyitkan dahinya.
Mantili mengangguk pelan "Puluhan pendekar misterius sudah mengepung tempat ini".
"Kabar terlukanya Sabrang sepertinya sudah menyebar didunia persilatan" Suliwa mengambil pedangnya dan bersiap keluar. "Ayo kita hadapi mereka" ucapnya Kemudian.
"Nona, kau jaga mereka disini" pinta Brajamusti pada Emmy sambil mengajak Tungga dewi. "Kau ikut dengaku".
Tungga dewi mengangguk cepat dan mengikuti Brajamusti keluar ruangan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jika kalian merasa cerita PNA cukup menarik, bantu Sabrang dengan memberikan Vote.