
Suara benturan logam menggema diseluruh sudut hutan Dieng setiap kali pedang Maruta Dan Sabrang berbenturan. Setelah bertukar puluhan jurus terlihat jelas Sabrang jauh lebih kuat, terbukti dengan beberapa goresan di tubuh Maruta sementara Maruta belum berhasil menyentuh Sabrang.
"Kenapa kau terus mengulur waktu? Kalahkan dia segera, pedang embun paginya terus menyerap energi Dieng. Akan sangat berbahaya jika pedang itu terus bertambah kuat". Ucap Naga api tak sabaran.
"Aku tidak ingin kejadian yang dialami ken Panca terulang lagi, jika aku membunuhnya akan bermunculan Mahendra mahendra lainnya. Satu satunya cara untuk menghentikan semua ini adalah meluruskan sejarah. Aku ingin Lembah siluman tau apa yang ada di dalam gerbang kegelepan dan alasan Ken Panca membunuh pengikutnya".
"Mata itu memang selalu merepotkan, jika saja tuan Ajisaka tidak melarangku menggunakan itu maka sudah dari tadi dia kuhabisi". Maruta terus bergerak untuk menghindari serangan Sabrang, Maruta benar benar dibuat hanya bisa bertahan.
"Sebaiknya kau hentikan semua ini sebelum aku terpaksa melukaimu lebih parah, aku hanya ingin bicara denganmu, ada kesalahpahaman mengenai tempat ini". Sabrang mempercepat gerakannya dan melepaskan beberapa pukulan ke tubuh Maruta.
"Tempat ini memang salah! Panca dengan biadabnya menghabisi seluruh pengikut setianya. Aku akan membunuh semua keturuan Panca termasuk dirimu untuk membalas luka masa lalu. Setelah itu aku akan mengubah tatanan dunia persilatan menggunakan suling raja setan".
"Kau benar benar kepala batu, sudah kukatakan pusaka kelima itu tidak ada". Ucap Sabrang sambil mengayunkan pedangnya. Menyadari serangan Sabrang sangat cepat Maruta memutuskan bergerak lebih dulu, dia menjaga jarak.
"Kau pikir aku percaya jika pusaka itu tidak ada? Kalian hanya ingin menguasai pusaka itu untuk kepentingam sendiri".
Sabrang menggeleng pelan "Aku benar benar harus melumpuhkanmu terlebih dulu". Sabrang melepaskan beberapa jurus Cakar es utaranya, Maruta hanya bisa terus menghindar dan menjaga jarak.
Saat Sabrang muncul tiba tiba dibelakang dan menyerang cepat Maruta tidak punya pilihan lain selain menerima serangan itu. Dia memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang embun paginya. Raut wajah Maruta tiba tiba menjadi buruk saat melihat Sabrang merubah gerakan pedangnya disaat terakhir. Sabrang memutar kebelakang sebelum lengan kirinya mencengram leher Maruta dan melemparnya kesebuah pohon.
Belum selesai rasa terkejut Maruta, Sabrang telah muncul dihadapannya dengan telapak tangan sudah menyentuh tubuhnya.
"Gawat aku tertipu". Maruta berusaha mencengram lengan Sabrang namun semua sudah terlambat.
"Hembusan dewa es abadi". Seketika Maruta diselimuti bongkahan es, dia hanya bisa menatap tajam Sabrang dari dalam bongkahan es.
Sabrang membuat kobaran api kecil ditangannya dan melelehkan bongkahan es yang menutupi kepala Maruta.
"Aku ingin bicara denganmu, dimana Mahendra?". Tanya Sabrang pelan.
"Aku bersumpah akan membunuhmu walau harus menjual jiwaku pada iblis sekalipun". Maruta tidak menjawab pertanyaan Sabrang.
Sabrang menghela nafas panjang, dia tidak menyangka masalah ini benar benar menimbulkan dendam yang begitu dalam pada Lembah siluman.
__ADS_1
"Semua tidak seperti yang kalian pikirkan, setidaknya sebagiannya". Sabrang berusaha menjelaskannya namun dia bingung harus mulai dari mana.
"Kau pikir aku akan mendengarkan ucapan keturunan Ken Panca? kalian sama saja, buta oleh kekuatan dan rela mengorbankan apapun termasuk pengikut setianya". Ucap Maruta penuh dendam.
"Leluhurku hanya berusaha mencegah Iblis petarung keluar dari Dieng, mungkin caranya salah namun semua demi dunia persilatan. Jika memang kau ingin menuntut balas kau bisa mencariku setelah ini namun aku katakan sekali lagi padamu, tidak pernah ada pusaka kelima, apa yang ada didalam gerbang itu adalah suku Iblis petarung dan jika kalian tetap memaksa membuka gerbang itu maka seluruh dunia akan hancur. Aku benar benar harus bicara pada Mahendra".
Maruta tersenyum sinis "Kau pikir aku percaya begitu saja? Panca hanya berusaha menutupi aib masa lalunya".
Sabrang menggeleng pelan, dia benar benar tidak mengerti harus berbuat apa.
***
Lingga hampir tidak bisa bicara saat mereka muncul disungai dibalik tebing. Sungai tempat mereka muncul hampir ditutupi rimbunya pepohonan disekitarnya. Udara lembab akibat kurangnya sinar matahari membuat air sungai sangat dingin.
Tebing yang menjadi pembatas antara gerbang pertama dan kedua terlihat kokoh dengan warna hijau muda menandakan lelumutan menempel hampir diseluruh dinding tebing
Belasan pusaka tertancap di pinggir sungai yang sudah dipenuhi lumut membuat Lingga mengernyitkan dahinya.
"Pusaka pusaka itu memiliki aura yang menakutkan". Gumam Lingga dalam hati. Puluhan batu berjajar rapi didekat pusaka itu seperti tempat pemujaan menghadap dinding tebing.
"Apakah pusaka pusaka itu ada pemiliknya?".
Ciha menggeleng pelan "Pusaka pusaka ini muncul entah dari mana dan untuk apa tidak ada yang tau, bahkan tuan Panca sendiri belum mengetahui mengenai pusaka pusaka yang kerap muncul di Dieng".
"Tempat ini lama lama membuatku gila". Lingga tersenyum kecut. Semakin mereka masuk lebih dalam semakin banyak misteri yang mereka temukan.
"Lalu dimana letak air kehidupan itu?". Ucap Wulan sari saat muncul dari dalam sungai. Dia kemudia meletakan tubuh Mentari ditanah.
"Kau baik baik saja?". Tanya Wulan sari pada gadis dihadapannya itu.
Mentari mengangguk pelan "Aku hanya perlu mengumpulkan kembali tenaga dalamku nek". Mentari duduk bersila sambil memejamkan matanya.
"Jika kita mengikuti sungai ini kita akan menemukan sebuah danau kecil yang dipenuhi oleh bunga mawar hitam. Disanalah tempat air kehidupan itu".
__ADS_1
"Baiklah ayo kita pergi, kau harus segera minum air itu". Lingga kembali menggendong Ciha.
Sepanjang perjalanan Wulan sari tak bisa berhenti berdecak kagum. Pepohonan yang berjajar rapih seolah sengaja ditanam dengan tujuan tertentu karena setelah diamati oleh Wulan sari semua tumbuhan itu menghadap ke dinding tebing.
Pandangan mata Wulan sari berhenti saat menatap sebuah bangunan menyerupai kuil berdiri kokoh di atas sungai. Raut wajahnya berubah setelah mengamati bangunan itu.
"Teratai merah". Wulan sari menghentikan langkahnya.
"Hei ayo kita harus cepat". Lingga menoleh kearah Wulan sari yang terus memperhatikan bangunan itu.
Wulan sari hanya terdiam sambil terus mengamati bangunan itu.
"Bangunan dengan bentuk seperti kuil itu adalah ciri khas Teratai merah. Aku yakin siapapun yang membangun kuil itu memiliki hubungan dengan kelompokku".
"Teratai merah? jadi anda berasal dari kelompok teratai merah?". Ciha terkejut mendengar ucapan Wulan sari.
"Benar, aku adalah ketua kelompok teratai merah". Jawab Wulan sari singkat sambil terus memperhatikan bangunan itu. Dia benar benar heran bagaimana bangunan itu bisa ada di gerbang kedua, sedangkan menurut catatan leluhurnya mereka hanya sampai digerbang pertama.
"Jika anda berasal dari kelompok teratai merah berarti anda bisa membaca Aksara carakan?". Ciha terlihat kembali bersemangat.
Wulan sari mengangguk "Aksara Carakan biasa kami gunakan saat menulis di batu tulis sebagai tanda pergantian ketua baru".
"Bagus, ada yang ingin aku tunjukan padamu. Tolong antarkan aku ke bangunan itu". Pinta Ciha pada Lingga.
"Bukankah kau harus cepat meminum air kehidupan?". Protes Lingga, bagaimanapun Ciha sangat dibutuhkan untuk mengungkap semua ini.
"Aku yakin kuil itu salah satu petunjuk penting untuk mengungkap semua yang ada disini. Saat aku masuk menemani tuan Birawa aku sudah menyadari jika yang membangun kuil itu adalah Teratai merah. Mereka membangun kuil itu dengan tujuan tertentu. Aku mencoba mencari tau dengan membaca batu tulis yang mereka buat di kuil itu namun aku tidak mengerti Aksara Carakan. Sebaiknya kita beristirahat sejenak disana sambil mencoba membaca petunjuk itu".
"Jadi benar jika kuil ini dibangun oleh leluhurku?". Tanya Wulan sari penasaran.
Ciha mengangguk pelan "Bangunan segi lima seperti kuil dengan hiasan kubah besar adalah cirikhas teratai merah. Bintang langit pernah beberapa kali berhubungan dengan Teratai merah".
Wulan sari terlihat bersemangat melangkah mendekati kuil diatas sungai itu.
__ADS_1
"Baik, kita lihat informasi apa yang ditinggalkan leluhurku". Wulan sari membuka pintu kuil itu hati hati.