
"Apakah dia mau bekerja sama?" Seseorang bertanya pada Singgih setelah dia keluar dari ruang tahanan.
"Dia masih keras kepala tuan, sekejam apapun siksaan yang kami berikan dia tetap tidak mau bicara" Singgih menampakan raut wajah kesal.
"Teruslah berusaha menekannya agar mau membuka mulutnya, informasi yang dimilikinya akan sangat berharga untuk menumpas gerombolan pemberontak itu".
"Apakah sepenting itu posisinya tuan" Singgih mengernyitkan dahinya.
"Dia adalah otak dari kelompok pemberontak itu. kau mungkin sudah mendengar bagaimana mereka memukul mundur pasukan tangan besi dengan kekuatan seadanya. semua karena rencananya".
Singgih terlihat terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka telah menangkap orang yang sangat berbahaya. Seyum mengembang di bibirnya, dia merasa akan mendapatkan imbalan yang sangat besar dari Majasari.
"Aku akan berusaha semampuku memaksanya membuka mulut tuan Jinggo".
Jinggo mengangguk pelan.
"Hanya tolong diingat pesan tuan Lingga untuk tidak membunuhnya, Dia berharap Wardhana akan membelot mendukung Majasari".
"Baik tuan".
"Bagaimana dengan Saung Galah? kau harus menghindari gerakan yang tidak perlu yang dapat mengundang kecurigaan mereka".
"Aku sudah memastikan semua berjalan normal tuan, tidak ada yang perlu anda khawatirkan". Singgih menatap Jinggo sesaat sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi tuan, kalian akan melindungiku kan jika sesuatu terjadi dengan Ligung".
"Kau tenang aja kami dari sekte Iblis hitam maupun Majasari akan mendukungmu sepenuhnya".
"Terima kasih tuan, aku bisa tenang sekarang" Singgih menundukan kepalanya.
Beberapa hari ini dia selalu merasa was was, keputusannya membelot dari Sanung galah bukan tanpa resiko. Jika rencana mereka gagal dan Saung Galah mengetahuinya akan sangat merepotkan baginya karena kepala taruhannya.
***
(Lembah Sukma ilang, Tetarai Merah)
Wulan sari terlihat memasuki ruang pertemuan miliknya. dia tersenyum ramah menyapa beberapa perwakilan aliran putih.
"Selamat datang para tetua dan tentu saja tuan Wijaya di tempat kami, maafkan jik penyambutan kami kurang berkenan".
"Lalu apa yang dapat anda sampaikan pada kami tuan, ku harap kabar yang anda bawa sangat penting" Wulan sari bertanya pada Wijaya begitu dia duduk di kursinya.
Terlihat ki Ageng, Sudarta dari Rajawali emas dan beberapa perwakilan Sekte aliran putih lainnya.
__ADS_1
Wijaya tersenyum kecil sambil menarik nafas panjang. Dia sudah mengira hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk meyakinkan sekte Aliran putih mendukung perjuangannya.
Bagaimanapun walaupun mereka berasal dari aliran putih namun mereka akan menempatkan kepentingan pribadi dalam perundingan ini.
Selain karena musuh yang dihadapi adalah penguasa aliran hitam macam Iblis pedang, mereka tidak akan mau bergerak jika tidak menguntungkan mereka.
Kecuali Sekte Pedang naga api dan Rajawali Emas yang sudah mendukung Malwageni secara terbuka, Sekte lainnya cenderung bermain aman.
"Melihat perkembangan dunia persilatan akhir akhir ini kekuatan aliran putih makin ditekan oleh Majasari. bahkan beberapa sekte dihancurkan tanpa ampun. Cepat atau lambat entah kapan akan tiba sekte kita jadi korban selanjutnya.
"Dengan kekuatan kita yang tercerai berai akan sulit bagi kita untuk melawan penindasan mereka. Aku ingin kalian membatuku untuk memerangi mereka".
"Kau ingin kami membantu Malwageni? kami para pendekar tidak tertarik ikut dalam politik kalian". Ketua Sekte Angin selatan Mandala memotong pembicaraan Wijaya. Beberapa ketua sekte lainnya mengangguk setuju.
"Mungkin tetua tidak menyimak apa yang aku katakan, Aku ingin kalian membantuku memerangi mereka. Dan bagaimana mungkin kalian berdalih tidak akan ikut campur dalam berpolitik sedangkan kini kekuatan politik itu menekan kalian" Suara Wijaya meninggi.
Dia tidak habis pikir bagaimana mereka yang mengaku pendekar tidak peduli dengan situasi terkini dan cenderung bermain aman.
"Kau hanya memanfaatkan situasi dunia persilatan yang sedang kacau ini untuk merebut Malwageni. Dan bagaimana kau ingin kami menggantungkan harapan kami pada seorang anak kecil keturuna Arya Dwipa?" Mandala tersenyum sinis.
Situasi pertemuan menjadi sedikit panas namun Wulan sari terlihat masih belum ingin melerai.
"Anda boleh mengejek kami tetua namun anda sudah keterlaluan dengan menghina Pangeran kami! Bagaimana mungkin Sekte yang mengaku aliran putih bisa berpikir picik seperti itu" Wijaya berkata sambil menahan amarahnya.
"Apalah aku salah bicara? Wilayah sekte kalian berada di tanah Malwageni, apakah kalian pikir mereka tidak akan menyerang kalian? Iblis hitam akan menghancurkan kalian satu persatu karena itu tujuan mereka mendukung Majasari.
"Jika kalian merasa tidak akan diserang itu sebuah pikiran yang picik. hanya ada satu cara agar kalian tidak diserang mereka, kalian harus menjadi peliharaan mereka. apa ini yang kau inginkan tetua?" Wijaya menatap tajam Mandala
"Maaf tuan Wijaya mungkin para tetua lainnya butuh waktu untuk memikirkan tawaran anda, akan lebih baik jika anda memberi waktu pada mereka" Ki Ageng memberi jalan tengah. Dia tidak ingin pertemuan ini menjadi medan pertempuran.
Mendengar Ki Ageng berbicara membuat Wijaya melunak, Bagaimanapun Ki Ageng adalah guru dari Sabrang.
"Baiklah aku akan memberikan waktu pada tetua untuk memikirkan tawaranku. Namun satu yang pasti Iblis hitam mulai bergerak dan ku harap semua belum terlambat saat kalian menyadarinya.
"Malwageni tidak pernah menyentuh kalian selama ini karena Yang mulia Raja ingin semua bergerak di jalurnya. dan orang yang kau hina sebagai anak kecil itu adalah harapan kita untuk mengembalikan semua pada tempatnya dan menghancurkan kekejaman Iblis Hitam".
"Apa maksud mu dengan harapan?" Wulan sari mulai tertarik saat Wijaya menyebut nama Sabrang, begitupun dengan Ki Ageng.
"Aku mendengar kabar beberapa hari yang lalu Pangeran telah menguasai Jurus Pedang Pemusnah raga, bukankah itu satu satunya harapan menghadapi ilmu Pedang langit Iblis hitam?".
Semua tampak terkejut mendegar Wijaya menyebut Jurus terlarang tersebut.
"Kau jangan mebual hanya untuk menarik kami kedalam rencanamu" Mandala masih sinis terhadap Wijaya.
__ADS_1
"Dia tidak membual aku yang melihatnya sendiri" Ki Gandana muncul dari balik pintu.
"Maaf tetua aku terlambat" Ki Gandana menundukan kepalanya memberi hormat.
Ki Gandana melihat kesekelilingnya mencari seseorang namun tidak menemukannya.
"Apakah Suliwa tidak hadir dalam pertemuan ini?" Ki Gandana berkata sambil berjalan masuk.
"Aku sudah mengundangnya tetua namun sepertinya dia tidak berkenan hadir". Wulan sari memberi hormat pada ki Gandana.
"Lalu apakah anda benar benar melihat dia menggunakan jurus terlarang itu?".
Ki Gandana mengangguk pelan membuat semua yang hadir mematung tak percaya.
Mereka mengenal benar reputasi Ki Gandana di dunia persilatan.
"Anak ini benar benar mengerikan aku harus bicara dengan Suliwa untuk membahas ini".
Wijaya tersenyum mendengar pengakuan Ki Gandana. Dia sudah merasa jika suatu saat Sabrang akan menjadi pendekar sekaligus Raja terhebat dinusantara kelak.
"Anda bisa tersenyum bangga dari atas sana melihat Pangeran tumbuh menjadi Raja yang hebat yang Mulia".
Tiba tiba seseorang berlari masuk mencari Wijaya.
"Maaf tetua semua mengganggu anda, Hamba Lembu Sora meminta ijin berbicara dengan Tuan Wijaya"
Wijaya mengernyitkan dahinya, dia menatap Lembu sora dengan wajah penasaran. Dia melangkah mendekati Lembu sora perlahan.
"Ada apa kakang?".
"Tuan patih aku baru mendapat kabar dari orang kita di Saung Galah. mereka kehilangan tuan Wardhana". Lembu Sora berkata sedikit berbisik.
"Apa maksudmu kehilangan?" Wijaya menatap tajam Lembu Sora.
"tuan Wardhana menghilang, tidak ada yang dapat menghubunginya".
Wijaya memejamkan matanya sesaat.
"Ada yang tidak beres tuan?" Ki Ageng menatap Wijaya.
"Ada sedikit masalah tetua, orang kepercayaanku menghilang namun aku bisa mengatasinya" Dia menoleh ke arah Lembu Sora.
"Aku ingin kakang pergi ke Saung galah dan membatu memcarinya. ada beberapa orang kepercayaan ku di sana. kakang bisa menghubunginya. berhati hatilah Aku akan menyusulmu setelah pertemuan ini selesai"
__ADS_1
"Baik tuan aku mohon diri". Lembu sora mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.