Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Sesungguhnya Naga Api


__ADS_3

Sabrang mengernyitkan dahinya saat Ken Panca mengeluarkan sebuah pedang aneh dari pinggangnya. Sebuah pedang berwarna hitam pekat dengan hiasan sepasang Naga kembar di ujung genggaman.


Yang membuat pedang itu terlihat aneh adalah hiasan kepala Naga di gagang pedang yang seolah menggigit pedang kembar.


"Ini adalah pedang Pengilon Kembar, pusaka terakhir yang ku ciptakan. Aku menciptakan pusaka ini sebagai persiapan membangkitkan Dewa Api sebelum aku mengetahui betapa mengerikannya kekuatan Dewa Api.


Sampai saat ini aku tidak akan mengizinkanmu membangkitkan Dewa api namun aku akan mengajarimu memaksimalkan energi Naga Api yang ada didalam tubuhmu," ucap Ken Panca pelan.


"Pengilon kembar?" Sabrang terlihat bingung dengan nama itu.


"Pusaka ini seharusnya ada sepasang, aku memutuskan memisahkan pedang ini dan memberikan pusaka kedua pada seseorang untuk mencegah siapapun membangkitkan Dewa Api.


Pusaka Pengilon kembar tidak boleh bersatu atau dunia akan hancur. Kau adalah keturunanku, dan aku sangat percaya padamu namun sifat manusia akan berubah seiring dengan besarnya kekuatan yang dimiliki, aku hanya tidak ingin pusaka ini akan menciptakan Lakeswara baru, kuharap kau mengerti," jawab Ken Panca.


"Maaf kek jika mengecewakanmu tapi aku sudah memutuskan untuk membangkitkan Dewa Api," jawab Sabrang cepat.


"Apa kau sudah gila? bagaimana jika tubuhmu tak mampu menahan energi Dewa Api? bagaimana jika Naga api kalah saat melawan sisi gelapnya? kau akan berubah menjadi monster api yang menghancurkan dunia ini," bentak Ken Panca.


"Saat ini semua sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Masalembo termasuk paman Wardhana, aku tak mungkin diam saja hanya karena takut tak mampu mengendalikan energi Dewa Api.


Jika kakek adalah leluhurku maka kakek pun tau jika didalam tubuh kita mengalir semangat api Naraya. Aku sudah putuskan dengan atau tanpa izin kakek, Dewa api akan tetap kubangkitkan bersama Naga Api," jawab Sabrang tegas.


Ken Panca terdiam setelah mendengar jawaban Sabrang, dia seperti melihat semangat mudanya dulu dalam tubuh pemuda dihadapannya itu.


"Kau benar benar keras kepala," Ken Panca tiba tiba mengalirkan tenaga dalamnya ke pedang Pengilon Kembar dan langsung menyerang.


Sabrang tampak terkejut dengan sikap Ken Panca, dia melompat mundur sambil menarik pedang Naga Apinya.


Suara ledakan terdengar keras ketika dua pusaka itu berbenturan, Sabrang terlihat terdorong mundur akibat efek benturan.


"Dengan kemampuan seperti ini kau ingin membangkitkan Dewa Api? kau terlalu bermimpi," Ken Panca bergerak cepat, dia mencengkram lengan Sabrang untuk menarik tubuhnya.


Namun Ken Panca kembali melepaskan lengannya dengan cepat saat tubuh Sabrang diselimuti kobaran api.


"Jurus api abadi tingkat IV," Ken Panca memutar tubuhnya sebelum mengayunkan pedangnya.


Ketika kedua pedang mereka kembali beradu, kobaran api keluar dari pedang Sabrang dan menyerang Ken Panca.


"Perisai kegelapan," Ken Panca mencoba menahan energi api yang menyerangnya, dia kemudian melompat mundur saat energi Naga Api mampu menembus perisainya.


Wajah Ken Panca sedikit berubah setelah menerima serangan itu, dia tidak menyangka Naga Api akan melindungi Sabrang.


"Jadi kau sudah memutuskan menerimanya sebagai tuan dan menyerang penciptamu sendiri Naga Api?" ucap Ken Panca sambil mengatur nafasnya.


"Sudah aku katakan bahwa kami akan membangkitkan kekuatanku yang tersegel di sisi gelap alam semesta. Aku kecewa dengan sikap pengecut mu Panca," balas Naga Api.


Ken Panca tersenyum kecil sambil menarik pedang ya ke depan, terlihat tenaga dalamnya terpusat di pusaka Pengilon kembar.

__ADS_1


"Aku ingin mengajarimu sesuatu nak namun aku memiliki aturan sendiri, kita akan bertarung dan hanya boleh menggunakan jurus api abadi, apa kau mampu?" ejek Ken Panca pada Sabrang.


Sabrang tampak bingung namun tetap mengangguk setuju.


"Kau tau nak mengapa aku menciptakan jurus api abadi? karena aku ingin mengajarkan iblis bodoh itu betapa unik kekuatan yang dimilikinya, namun sepertinya dia terlalu bodoh untuk belajar," Ken Panca kembali bergerak menyerang.


Sabrang dan Ken Panca kembali bertukar jurus di udara, suara bentukan akibat tenaga dalam yang besar membuat Rubah Putih tertarik. Dia melesat cepat kearah pertarungan bersama Wulan untuk melihat dari dekat.


"Apa yang sedang dilakukan mereka?" tanya Wulan bingung saat sudah berada didekat area pertarungan.


"Aku juga tidak tau tapi pasti menarik, karena bagaimanapun Ken Panca lah yang menciptakan pedang Naga Api," jawab Rubah Putih sambil mengamati pertarungan.


"Kekuatan mereka berimbang namun terlihat jelas jika Panca jauh lebih menguasai jurus itu," gumam Rubah Putih dalam hati.


Apa yang dikatakan Rubah Putih benar, Walau Sabrang sebenarnya lebih kuat dengan kekuatan Naga Api dan ajian inti lebur saketi namun menggunakan jurus yang sama, Ken Panca justru bisa sedikit menekan pergerakan Sabrang.


Jurus api abadi milik Ken Panca terlihat lebih halus dan mematikan.


"Dia jelas lebih unggul karena dialah pencipta jurus api abadi," ucap Wulan pelan.


"Bukan, bukan itu masalahnya, penguasaan mereka terhadap jurus itu sama namun ada sesuatu yang membuat gerakan Sabrang kaku dan aku tidak tau apa itu," balas Rubah Putih sambil terus mengamati pertarungan.


"Energi Naga api sebenarnya unik karena seolah tanpa bentuk, dia bisa menjadi keras dan kasar namun juga bisa halus dan mematikan. Karena si bodoh itu sudah terbiasa dengan kekuatan besar yang dimilikinya, setiap kau menggunakan kekuatannya, maka dia akan melepaskannya dengan sangat cepat dan cenderung kasar untuk meningkatkan daya hancurnya.


Aku menciptakan Jurus Api abadi yang bertentangan dengan sifatnya untuk mengajarinya jika dalam kelembutan sebenarnya memiliki daya rusak jauh lebih besar," Ken Panca memutar pedangnya saat kedua pusaka berbenturan, dia menarik sedikit pedangnya dengan sangat lembut sebelum mendorong pedang Naga Api dengan sekuat tenaga.


Suara ledakan kembali terdengar bersamaan dengan terlemparnya tubuh Sarang.


Dia yakin sekali jika jurus itu adalah api abadi tingkat V namun yang membuatnya bingung, gerakannya yang sangat halus membuatnya seperti jurus berbeda.


"Jurus Api abadi membutuhkan tenaga dalam yang halus dan dialirkan secara perlahan untuk membuat serangannya tidak mudah terbaca namun sangat mematikan. Naga Api yang memang sudah terbiasa mengalirkan energinya dengan kasar hanya merusak keindahan jurusku.


Harusnya kau belajar bodoh, jika energi yang kau miliki akan lebih mematikan dalam pertempuran andai kau bisa merubah kasar menjadi halus dan halus kembali kasar sesuai lawan yang kau hadapi," ucap Ken Panca pada Naga Api.


"Kunci kemenangan adalah gunakan kekuatanmu secepatnya untuk menekan dan membakar lawan sampai habis, apa salah jika aku ingin memenangkan pertarungan secepat mungkin?" balas Naga Api.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu? bahkan sampai saat ini tuanmu sama sekali tidak bisa menyentuhku," Ken Panca kembali menyerang.


Sabrang terus tersudut dengan serangan serangan mematikan Ken Panca, dia sudah berusaha menggunakan jurus yang sama untuk mengimbanginya namun tidak berhasil, serangan Ken Panca selalu berubah, kadang bisa sangat lembut namun beberapa saat kemudian berubah kaku.


"Apa mungkin yang dikatakannya benar?" tanya Sabrang pada Naga Api.


"Apa kau mulai percaya padanya? bukankah efek dari jurus api abadi dan kekuatanku membentuk energi bumi? mengalirkan tenaga dalam perlahan hanya berlaku bagi pusaka lemah yang memiliki energi terbatas," balas Naga Api.


Ken Panca kembali merubah sedikit gerakannya, dia mencoba mengelabui mata Bulan Sabrang.


Saat Sabrang berusaha menekannya, Ken Panca kembali merubah arah pedangnya, gerakan cepat dan sulit ditebak membuat Sabrang hampir mustahil membaca serangan Ken Panca. Dia terpaksa menggunakan mata bulannya sampai berdarah untuk menghindari serangan.

__ADS_1


"Bahkan laut yang dalam dan tenang akan jauh lebih mematikan dari ombak besar yang bisa menyeret mu, karena kau tidak akan tau apa yang disembunyikan dalam ketenangannya itu.


Inti dari jurus yang kau ciptakan adalah bagaimana lawan yang kau hadapi tidak bisa membaca gerakan jurusmu. Apa kau masih belum sadar jika kekuatan besar dalam tubuhmu tak berarti di hadapanku selama aku bisa mematahkan serangan mu?


jurus api abadi mengajarkan Iblis bodoh itu jika kekuatan bukan segalanya, pergerakan cepat menyesuaikan lawan yang dihadapi dan serangan yang selalu berubah dari Api abadi adalah kunci kemenangan. Energi iblis bodoh itu sebenarnya bisa memaksimalkan jurus ini andai dia mau menurunkan egonya.


Dengan kekuatan yang dimilikinya, harusnya dia bisa menembus dimensi ruang dan waktu tanpa kesulitan," Ken Panca merendahkan sedikit tubuhnya saat sabetan pedang Sabrang hampir mengenainya.


Gerakan lincahnya yang semakin halus membuat Sabrang tak mampu berbuat apa apa, mata bulan telah mencapai batasnya. Sangat sulit menggunakan mata biasa untuk melihat perubahan jurus Panca yang cepat.


"Api abadi tingkat X," sebuah sabetan punggung pedang menghantam tubuh Sabrang, dia terpental beberapa langkah sebelum membentur pepohonan.


"Kekuatan dan kelembutan, seperti alam yang memiliki dua sisi, jika disatukan maka akan menciptakan kekuatan besar. Hal ini sering dilupakan oleh pendekar dengan bakat besar seperti Sabrang yang cenderung percaya diri dengan kekuatan besarnya.


Jika dia mampu merubah sikap Naga api dan menggabungkannya dengan Ajian inti lebur saketi, mungkin kita bisa sedikit mengimbangi Lakeswara. Ken Panca telah mengambil bagian ku untuk mengajari anak itu," umpat Rubah Putih.


Ken Panca menatap pedang yang ada ditangannya sebelum melemparkannya kearah Sabrang.


"Aku masih belum terlalu percaya jika kau adalah cahaya putih dalam ramalan namun aku merasa pedang itu seolah menginginkanmu. Ambilah dan mulai biasakan bertarung dengan dua pedang ditangan karena jika memang kau adalah pendekar dalam ramalan maka orang itu pasti akan memberikan pusaka Pengilon kembar satunya padamu. Saat itu terjadi, kau tak akan terkalahkan bersama Dewa Api," ucap Ken Panca pelan.


"Jadi Pedang Pengilon kembar memang ada dua?" tanya Sabrang.


Ken Panca mengangguk pelan, "Aku menitipkannya pada seseorang karena suatu hal. Aku bukan pengecut seperti yang dikatakan Naga Api. Aku hanya ingin pusaka itu bersatu diwaktu yang tepat agar tidak melahirkan Lakeswara baru dengan kekuatan yang lebih besar.


Pelajari apa yang sudah kuajarkan tentang hakikat jurus api abadi, karena jurus itu sebagai persiapan awal sebelum membangkitkan Dewa Api.


Jika kau sudah bisa memaksimalkan Naga Api, besok kita akan mencoba berkomunikasi dengan Wardhana. Dengan Energi Naga Api tidak mustahil menembus ruang dan waktu mereka," jawab Ken Panca sambil melangkah pergi.


"Terima kasih kek," jawab Sabrang.


"Tak perlu berterima kasih, aku hanya ingin kau memastikan agar semua keputusan yang telah kubuat hari ini tidak akan menjadi penyesalan terbesarku dilain waktu."


Saat Ken Panca berpapasan dengan Rubah Putih dan Wulan, dia tersenyum kecil.


"Maaf jika aku membuat sedikit keributan," ucapnya sopan.


"Jadi kau masih menyembunyikan pusaka Pengilon Kembar satunya?" tanya Rubah Putih tiba tiba.


"Pusaka Pengilon Kembar hampir sama dengan Pedang Naga Api, mereka seolah memiliki ruh yang akan memilih sendiri tuannya walau aku belum memasukkan ruh kedalam pedang itu.


Saat ini pedang itu masih menolak Sabrang dan aku tidak tau apa alasannya, namun pertarungan tadi sepertinya sedikit merubah pendirianku, entah kenapa aku merasa anak itu memang dilahirkan untuk Pengilon kembar.


Biarkan alam yang mengatur kapan pedang itu mencari Sabrang, yang sekarang harus kita pikirkan adalah rencana esok hari. Pastikan semua bergerak sesuai permintaan Paksi, aku akan membantu dengan seluruh kekuatan yang kumiliki," balas Ken Panca.


"Apa kau menitipkan pedang pusaka itu padanya? tak banyak pendekar yang dipercaya trah Dwipa sepertimu," ucap Rubah Putih.


"Jika kau sudah bisa menebaknya, berarti kau pernah bertemu dengannya, kau pasti mengerti jika hanya dia yang mampu menyimpan pusaka itu," jawab Ken Panca pelan.

__ADS_1


"Dia?" Wulan menoleh kearah Rubah Putih meminta penjelasan.


"Seseorang dari masa lalu, kau tidak akan mengenalnya karena dia tidak pernah mau turun ke dunia persilatan. Dia sama seperti Wardhana yang tidak menguasai ilmu kanuragan namun sangat ahli membuat pusaka, aku yakin Ken Panca adalah muridnya," jawab Rubah Putih.


__ADS_2