
"Apa kau sudah gila melindungi Aliran hitam?" Mantili menatap tajam Sabrang.
"Bukan begitu bi, aku hanya merasa ada yang harus diluruskan" Sabrang berkata pelan.
"Semakin lama kau semakin mirip ibumu" Kali ini Mantili menyerang cepat Sabrang, gerakannya hampir tidak terlihat mata namun Sabrang berhasil menghindar walau dengan susah payah.
"Gunakan pedangmu, dia bukan lawan yang bisa kau hadapi dengan tangan kosong" Naga api berbicara pada Sabrang.
"Tidak, dia bibiku aku tak mungkin menggunakanmu untuk melawannya".
Aura Api merah mulai menyelimuti tubuh Sabrang, untuk mengimbangi kecepatan Mantili Sabrang memutuskan menggunakan Energi bumi.
"Aura apa yang keluar dari tubuhnya?" Suliwa menatap pertarungan dihadapannya tanpa berkedip.
"Anda tak harus melakukan ini tetua" Ki Ageng mulai khawatir pada Sabrang.
"Kau jangan ikut campur, ini urusan keluarga" Mantili meningkatkan kecepatannya namun serangannya selalu memgenai perisai es yang dibuat Sabrang.
"Keluarga?" Ki Ageng mengernyitkan dahinya.
"Kau bertambah kuat nak" Tubuh Mantili tiba tiba menghilang dan muncul tepat dibelakang Sabrang.
"Tapak Dewa Es Abadi" Serangan Mantili menghancurkan perisai es Sabrang dan menghantam tubuhnya namun tiba tiba Mantili terpental Mundur.
"Jurus ini" Mantili menoleh ke arah ki Gandana.
Suliwa tersenyum sambil menatap Sabrang "Rengkah jiwa tingkat II : Brajawesi, tak kusangka kau sampai bisa menguasai jurus itu".
"Aura aneh itu meningkatkan jurus Brajawesi berkali kali lipat" Ki Gandana berkata dalam hati.
"Hentakan Es Utara" Tiba tiba ratusan bongkahan es mulai bermunculan diudara.
"Bukankah ini sudah berlebihan?" Suliwa mulai bangkit untuk menghentikan Mantili.
Bongkahan es melesat cepat ke arah Sabrang namun tiba tiba bongkahan es tersebut hancur tiba tiba seolah membentur sesuatu yang tak kasat mata. Tak lama kemudian Mantili melompat mundur dan membuat Perisai es tiga lapis yang sangat tebal, namun lagi lagi hancur membentur sesuatu menyisakan perisai es terakhir yang retak.
"Sudah kuduga kau menguasai Energi bumi" Mantili mengatur nafasnya. Membentuk perisai es yang tebal sampai tiga lapis membutuhkan tenaga dalam yang besar.
"Energi bumi?" Suliwa tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya begitupun yang lainnya termasuk Kertasura yang memang sudah lama mencari Kitab Energi Bumi.
__ADS_1
"Bagaimana dia menguasai Energi Bumi? Apakah dia telah menemukan lokasi Dieng?" Kertasura menatap tak percaya.
"Cukup nak, aku hanya ingin memastikan karena sejak kehadiranmu tadi ada energi aneh yang menyelimuti tubuhmu" Mantili mendekati Sabrang "Lalu apa maksudmu melindungi Kertasura tadi?".
"Anak ini bagaimana bisa menguasai Kitab yang bahkan di anggap legenda? apakah dia telah berhasil masuk ke Dieng?" Ki Ageng bergumam dalam hati.
Sabrang tidak langsung menjawab pertanyaan Mantili dia berlari ke arah Ki Ageng dan memeluknya.
"Kakek".
Ki Ageng tersenyum melihat tingkah cucunya "Kau sepertinya semakin kuat nak" Ki Ageng mengelus rambut Sabrang.
Sabrang kemudian menceritakan tentang kejanggalan terhadap penyerangan Elang putih sesuai dengan yang disampaikan Wardhana padanya.
Walaupun beberapa tetua aliran putih masih belum sepenuhnya percaya namun mereka memutuskan menahan diri untuk menyerang Kertasura.
"Aku telah meminta Paman Wardhana untuk mencari murid tersebut dan membawanya kesini, semoga paman berhasil menemukannya".
"Jika memang ada yang ingin mengadu domba lalu siapa pelakunya?" Ki Gandana mengernyitkan dahinya.
"Lembah Siluman" Kertasura tiba tiba berbicara.
"Kau mengetahuinya?" Suliwa menoleh ke arah Kertasura.
"Lembah Siluman ya? tak kusangka mereka benar benar berusaha bangkit, namun bagaimana bisa? bukankah sekte itu telah musnah ratusan tahun lalu?" Sudarta menggelengkan kepalanya.
"Air kehidupan" Kertasura menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya "Air kehidupan konon mampu meregenerasi sel tubuh dengan cepat sehingga dapat membuat orang hampir abadi. Air yang menurut cerita hanya mengalir di Tanah para dewa ini bukan tidak memiliki efek samping.
Setiap meminumnya maka tubuh akan merasakan terbakar. Air kehidupan konon memiliki roh jahat yang menunggu untuk bangkit kembali sehingga jika kita terus meminumnya maka akan semakin kuat roh tersebut untuk menguasai tubuh kita, itulah kenapa dulu seorang pendekar sakti menyegel sebuah danah tempat air kehidupan berada" Kertasura berbicara pelan.
Suliwa memejamkan matanya sesaat. "Manusia diciptakan bukan sebagai mahluk yang abadi, jika ada yang bisa membuat manusia menjadi abadi itu hanya tipu muslihat Iblis yang akan menguasai tubuh kita, namun sayang keserakahan dan ambisi kadang membutakan semuanya.
Aku jadi berfikir jika Dieng sengaja disembunyikan oleh seseorang karena sesuatu hal namun yang pasti itu bukan tempat untuk manusia, banyak kekuatan besar yang tubuh kita tak akan mampu menerimanya".
Semua terdiam mendengar penjelasan Suliwa, tempat yang selama ini selalu di cari para pendekar ternyata menyimpan begitu banyak kengerian.
"Jika benar semua ini ulah Lembah siluman lalu apa yang akan kita lakukan?" Wulan sari memecah keheningan.
"Semua masih belum jelas sepertinya terlalu cepat kita mengeliminasi Iblis hitam dari daftar tersangka" Mantili memandang sinis Kertasura.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti itu Kertasura hanya tersenyum sinis. Dia bisa saja menyerang semua yang ada diruangan itu dan dengan Ilmu Pedang langit dia memiliki kesempatan untuk menang namun dia memutuskan untuk menahan diri karena kebangkitan Lembah siluman menurutnya lebih penting dibahas saat ini.
"Kalian Aliran putih terkadang merasa paling benar, sangat menggelikan" Kertasura terkekeh menatap Mantili.
"Jaga bicaramu atau aku akan membungkam mulutmu Kertasura.
"Apa aku salah? kita bergerak atas kepentingan kelompok masing masing. Sudah banyak contoh sekte aliran hitam yang kalian hancurkan atas nama kebenaran. Sekali lagi aku katakan tujuan ku kesini hanya ingin bicara namun jika kalian memaksa pantang bagi Iblis hitam mundur". Aura biru mulai menyelimuti tubuh Kertasura dan menekan seisi ruangan.
"Dia menguasai Jurus Pedang langit, saat ini kita bukan tandingannya", Naga api memperingatkan Sabrang untuk tidak bertindak gegabah.
"Sebaiknya kita semua menahan diri, bukankah pendekar misterius itu bukan hanya menyerang aliran putih saja? Aku merasa kali ini musuh kita sama" Suliwa menengahi suasana yang mulai tegang.
"Lebih baik kita mencari tau terlebih dahulu kejadian yang sebenarnya".
"Maaf Pangeran hamba terlambat" Wardhana muncul dari balik pintu bersama Lingga Maheswara dan seorang pemuda.
"Ah paman datang tepat waktu, mohon anda juga menahan diri" Sabrang berkata pada Kertasura.
"Maaf aku terlambat ketua" Lingga Maheswara memberi hormat pada Kertasura.
"Bagaimana kau bisa bersama orang itu?"
"Ceritanya panjang ketua namun seperti yang anda duga seorang pendekar misterius berusaha mengadu domba kita".
"Apa maksudmu dengan mengadu domba kita?" Mantili bertanya pada Lingga.
"Maaf tetua semua seperti yang dikatakan tuan Lingga yang menyerang Elang putih adalah pendekar misterius" Wardhana menoleh ke arah Pemuda yang dibawanya. "Katakan yang sebenarnya".
Pemuda itu berkata dengan pelan dan sesekali menoleh ke arah Lingga, ada rasa takut terpancar dari wajahnya.
"Kejadiannya sangat cepat tuan, bahkan Guru Laksono tak berdaya dihadapannya. Semua tewas tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti. Aku melihat sendiri kemampuan pendekar itu, dia seperti bukan manusia. Dia bahkan membunuh sambil tersenyum seolah meinkmatinya. Lalu dia membiarkan aku hidup asal aku menyebarkan informasi jika Iblis hitam dalang dibalik inu semua" Pemuda itu menunduk ketakutan.
"Kau!, berani sekali mengkambinghitamkan Iblis hitam" Tanpa di duga Kertasura melesat menyerang pemuda tersebut.
Namun tiba tiba gerakan Kertasura terhenti "Segel bayangan?" Kertasura menoleh ke arah Sabrang dan menatapnya tajam.
"Kau kira bisa menahanku dengan jurus ini?". Aura biru kembali menyelimuti Kertasura.
"Aku akan mencobanya" Tubuh Sabrang mulai diselimuti kobaran api merah.
__ADS_1
"Dasar bodoh, kau memilih lawan yang salah" Naga api berbicara pada Sabrang.
"Aku tidak punya pilihan" Sabrang tersenyum kecut.