Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Tersembunyi Wardhana II


__ADS_3

"Perlahan rencana yang kau buat mulai menghancurkan mereka Wardhana," ucap Rubah Putih kagum saat melihat pasukan Arkantara mulai terdesak mundur, dia kembali teringat pesan Wardhana sebelum berangkat ke medan perang.


Saat itu Rubah Putih dan pasukannya akan meninggalkan Ibukota untuk menyergap pasukan Arkantara, seorang pria yang mengenakan penutup wajah berdiri menghadang jalan mereka.


"Tuan," ucap Wijaya yang sudah bersiap menyerang.


"Mohon ikut hamba tuan, Yang mulia ingin bicara pada anda,"" ucap pria itu sopan sambil menunjukkan lempengan kerajaan.


"Yang mulia?" tanya Rubah Putih bingung.


"Tak ada waktu untuk menjelaskannya, hamba hanya diminta membawa anda menemui beliau," ucap pria itu cepat.


Rubah Putih tampak berfikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.


"Tuan, bagaimana jika ini jebakan?" tanya Wijaya pelan.


"Tak perlu khawatir, bukankah lempengan itu hanya dimiliki oleh Wardhana? dia bukan orang yang ceroboh, sesuatu sedang terjadi dan aku harus memastikannya. Kau bawa pasukan ke medan perang sesuai rencana, aku akan secepatnya menyusul kalian," jawab Rubah Putih sebelum melesat pergi mengikuti pendekar itu.


"Gerakannya cukup cepat, dia bukan pendekar biasa, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jika anak itu ingin menemui aku harusnya dia bisa bicara di perkemahan tadi," ucap Rubah Putih dalam hati sambil mengikuti pria misterius itu.


Setelah bergerak cukup lama, pendekar itu memperlambat kecepatannya dan melesat kearah gua yang berada di tengah hutan dekat dengan perbatasan Ibukota.


Sikap Rubah Putih langsung siaga, lengan kanannya menggenggam erat golok yang terselip di pinggangnya.


"Selamat datang tuan, maaf sedikit membingungkan anda tapi keadaan memaksaku melakukan ini," seorang pria yang mengenakan jubah perang lengkap tampak menyambutnya di bibir gua.


"Wardhana?" ucap Rubah Putih terkejut.


"Aku akan menjelaskan semuanya di dalam, saat ini Yang mulia dan tuan Mahawira sudah menunggu anda," ucap Wardhana sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Bahkan ketua sekte Api dan angin? apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" jawab Rubah Putih bingung karena sebagai pasukan inti, Wira seharusnya sudah bersembunyi di sekitar bukit tinggi untuk menyergap.


"Yang mulia, semua sudah berkumpul," ucap Wardhana meminta izin untuk bicara yang di jawab Anggukan Sabrang.


"Aku mohon maaf jika membuat kalian bingung tapi Yang mulia terpaksa melakukan ini karena keadaan kita yang sudah terdesak."


Wardhana kemudian mulai menjelaskan situasi saat ini dimana Malwageni sudah dikepung dari berbagai arah termasuk oleh Saung Galah. Dia juga menjelaskan jika sejak awal pasukan Angin selatan sudah di susupi oleh mata mata Pancaka.


"Aku sengaja membiarkan mata mata itu untuk mengarahkan mereka melalui informasi informasi palsu yang tadi kukatakan di perkemahan. Saat ini tak ada cara lain untuk membalikkan keadaan kecuali membohongi semua orang termasuk Gusti ratu agar Arkantara terkecoh. Aku mempertaruhkan semuanya pada rencana kali ini," ucap Wardhana pelan.


"Jadi sejak awal apa yang kau ucapkan di perkemahan tentang rencana Emprit Neba dan Supit urang adalah jebakan?" tanya Rubah Putih terkejut.


"Tidak sepenuhnya jebakan, karena dua formasi itu akan kita gunakan bersamaan setelah aku dan Yang mulia berhasil merebut pasukan Saung Galah," jawab Wardhana pelan.


"Merebut pasukan Saung Galah? apa anda begitu yakin mereka akan berpihak kembali pada kita? bagaimana jika mereka lebih memilih Agam?" tanya Wira ikut bicara.


"Aku yang akan mengurus Agam dan sisanya kita serahkan pada paman," sahut Sabrang menyakinkan.


"Sebenarnya kunci dari pasukan Saung Galah ada di tangan Putri Andini dan saat ini Candrakurama sedang menjemputnya. Aku akan meminta Wulan mengirim pesan ke Ibukota setelah berhasil merebut pasukan Suang Galah, sampai saat itu tiba kalian adalah kunci untuk menahan mereka sementara waktu.


"Apa aku terlalu yakin dengan rencana ini? benar, aku sangat yakin karena mata mata mereka akan melaporkan semua perintahku dan secara tidak langsung mengarahkan pasukan mereka sesuai keinginanku. Hadang mereka di titik ini sementara waktu dan Lingga akan bergerak diam diam setelah berhasil memecah pasukan lawan.


"Aku sudah meminta tuan Darin dan Wahyu Tama menunggu Lingga dan pasukannya di sini sejak awal. Setelah nyonya Emmy mendapat tanda dari Arung, dia akan bergerak mundur membantu Gusti ratu menghadang pasukan bantuan yang telah mereka siapkan di dekat Trowulan dan itu artinya anda harus menarik mundur pasukan untuk memancing musuh mendekati lokasi jebakan.


"Aku dan Yang mulia bersama pasukan Suang Galah akan memutar untuk mengepung mereka, jika kalian sudah melihatku di medan perang gunakan Formasi Garuda Nglayang secara bersamaan dan Lingga akan membantu tuan Wira memaksimalkan Emprit Neba. Aku yakin dengan kekuatan Tuan Darin dan Wahyu Tama formasi gabungan ini akan meledak di Trowulan dan kita akan mengakhiri perlawanan mereka dengan Api Malwageni," ucap Wardhana menutup penjelasannya sambil menunjukkan bola kecil yang terbuat dari tanah liat.

__ADS_1


"Tunggu, kau mengatakan jika mereka masih menyimpan pasukan di suatu tempat? bagaimana kau bisa tau? tanya Rubah Putih penasaran.


"Aku mengakui dalam perang kali ini mereka berhasil mengecohku tapi aku juga buka orang yang hanya memiliki satu rencana karena tak ada yang pasti dalam ilmu perang. Sebelum datangnya utusan Arkantara aku sudah menyusupkan mata mata di pasukan Saung Galah untuk mengawasi pergerakan Pangeran, merekalah yang memberitahu letak pasukan rahasia musuh berada," Wardhana menggambar titik kecil di dekat perbatasan ibukota.


"Apa jumlah mereka besar?" tanya Wira khawatir.


"Cukup untuk menguasai Ibukota tapi aku sudah meminta Ciha dan Mata elang untuk membuat jebakan di sini menggunakan segel kabut sehingga mereka hanya akan berputar putar di sini sebelum di lumpuhkan oleh pasukan Gusti ratu dan Arina," jawab Wardhana yakin.


"Mata elang? bukankah mereka kelompok bayaran yang hanya setia pada uang?" tanya Wira sedikit khawatir, dia tidak ingin Wardhana termakan siasat licik Arkadewi.


"Sebenarnya cukup mudah menjinakkan mereka, selain karena kami memiliki kedekatan dengan nyonya Arkadewi, aku sudah menukar sedikit Ilmu pengetahuan Masalembo dengan kesetiaan mereka," balas Wardhana.


Rubah Putih tampak kagum dengan rencana yang dibuat Wardhana. Dia yakin patih Malwageni itu baru mengetahui perang ini beberapa hari lalu setelah Arsenio melaporkannya dan dalam waktu yang sangat singkat itu dia bisa membuat rencana yang melibatkan orang dalam jumlah besar termasuk kelompok Mata elang.


"Sejak kapan kau mulai menghubungi Mata elang dan meminta bantuan mereka?" tanya Rubah Putih takjub.


"Sejak aku menyadari kesalahanku di Kuil Khayangan, saat itu aku meminta salah satu pendekar Kalang untuk menemui Kelompok Mata elang dan menyampaikan tawaran kerja sama dengan imbalan peninggalan peradaban Masalembo dan aku yakin mereka akan menyetujuinya.


"Nona Arka memang licik tapi dia bukan orang jahat jadi aku tidak terlalu khawatir menyerahkan sedikit ilmu pengetahuan Masalembo. Aku harus mengerahkan semua yang kita miliki termasuk Mata Elang karena banyak yang dipertaruhkan dalam perang ini," jawab Wardhana, dia bangkit dari duduknya dan mengajak Sabrang pergi.


"Hal yang membuatku yakin rencana ini berhasil adalah keberadaan anda dan tuan Wira. Bukan tanpa alasan aku memilih kalian berdua dan jika boleh memohon, meledak lah dalam pertempuran kali ini," ucap Wardhana sebelum melangkah pergi.


"Meledak? tanpa disadari semua orang, kau lah yang meledak dalam perang ini, benar benar manusia yang menakutkan," ucap Rubah Putih sambil memberi tanda untuk membentuk formasi Garuda Nglayang setelah melihat Wardhana muncul.


"Wijaya, bentuk formasi Garuda Nglayang, aku akan menjadi pusat penyerangan kali ini," Rubah Putih menggunakan sedikit energi Suanggi untuk menambah kecepatannya karena formasi ini membutuhkan "Paruh" kuat sebagai kunci utama untuk "meledak".


"Sial, formasi mereka kembali berubah. Yang mulia kita harus mudur, aku sudah menyiapkan pasukan untuk membuka jalan dan saat ini mungkin sedang dalam perjalanan," ucap Rengga dengan berat hati setelah melihat pasukannya terkepung.


Cukup berat bagi Rengga yang memiliki rasa percaya diri tinggi untuk mengatakan mundur karena kekalahan ini benar benar mencoreng wajahnya.


Amarah Rengga semakin memuncak karena dengan pasukan yang jauh lebih besar dia merasa dipermainkan habis habisan oleh Wardhana namun jika dia terlambat mundur nyawanya akan melayang.


"Saat ini kita sudah kalah Yang mulia, jika terus memaksa maka Arkantara akan jatuh. Hamba masih punya rencana yang mungkin bisa membalikkan keadaan tapi sebelum itu kita harus mencari tempat aman untuk menyusun kekuatan kembali," jawab Rengga lemas.


"Kau benar benar bodoh! jika sampai rencana yang kau buat kembali gagal, aku akan memenggal sendiri kepalamu," ucap Saragi kesal sambil mulai bergerak mundur.


"Maafkan hamba Yang mulia," jawab Rengga menahan amarah, dia menatap Wardhana yang mulai merengsek masuk. Serangan dua arah Garuda Nglayang benar benar memporak porandakan pasukan Arkantara.


"Bentuk Lingkaran, gunakan formasi Cakra Byuha dan Lindungi Yang mulia," teriak Rengga.


Separuh pendekar Kuil suci yang berbaur dengan pasukan Arkantara langsung membentuk lingkaran dan melepaskan aura untuk membentuk perisai tenaga dalam.


Setelah tameng tenaga dalam terbentuk mereka perlahan bergerak ke satu sisi sambil berputar sedangkan pasukan Arkantara mulai mundur dan melindungi para pendekar itu.


"Cakra Byuha? jadi kalian sudah menyerah dan berniat mundur ya... tak akan kubiarkan," Wardhana kembali memberi tanda untuk memecah formasi.


Arung yang berada di dekatnya langsung memimpin sebagian pasukan untuk menekan formasi Arkantara sedangkan Lingga dan Wahyu Tama mulai melepaskan Aura besar dari tubuh mereka dan ikut menekan.


"Sudah saatnya," teriak Lingga saat melihat belasan pisau Tumbuk Lada melesat kearah pasukan Rengga bersamaan dengan munculnya Arsenio dan Hanggareksa bersama pasukan masing masing.


Beberapa pendekar Kuil Suci yang terkena serangan pisau tumbuk lada langsung roboh dan dalam sekejap formasi perisai tenaga dalam hancur seketika membuat semua prajurit Arkantara panik.


"Kemana mereka, seharusnya pasukan bantuan sudah datang dan membuka jalan," ucap Rengga yang mulai kehilangan ketenangan.


Rengga semakin terjepit saat bongkahan es yang muncul tiba tiba dan membentuk lingkaran dari dua sisi membatasi gerakan pasukan Arkantara.

__ADS_1


Melihat musuh semakin panik, Sekar Pitaloka dan Mentari yang baru sampai di medan perang semakin bersemangat. Belasan es terus bermunculan membuat udara di sekitar pertempuran menjadi dingin.


"Malwageni tak akan mudah jatuh kali ini karena kami memiliki dua Naga kembar yang akan selalu siap melindungi," ucap Sekae Pitaloka puas.


"Wardhana, aku akan meminum darahmu sampai habis," teriak Rengga kesal sambil berlari kearah Wardhana.


Ahli siasat yang sempat mengecoh Wardhana habis habisan itu sudah benar benar kehilangan ketenangan.


"Sejarah tidak akan mencatat seberapa banyak pasukanmu karena pada akhirnya yang kuatlah pemenangnya," Wardhana pun berlari kearah Rengga.


***


Barapati mengumpat keras saat melihat kembali tanda di sebuah pohon yang tadi dia buat, ratusan pasukannya mulai terlihat lelah karena hampir berjam jam berjalan namun anehnya mereka kembali lagi ketempat awal.


"Apa kita hanya berputar putar ditempat ini tuan?" ucap salah satu prajurit Arkantara bingung.


"Aku tidak tau tapi ada yang tidak beres dengan tempat ini, kita harus secepatnya keluar dan membantu Yang mulia," balas Barapati khawatir.


Selain di tugaskan sebagai pasukan pembuka jalan, Barapati juga ditunjuk sebagai pemimpin pasukan bantuan yang sudah dipersiapkan oleh Rengga.


Selain kemampuan kanuragannya yang cukup tinggi, dia juga terkenal pintar dan licik hal itulah yang membuat Rengga sangat percaya padanya.


"Tuan, kabut aneh itu datang lagi," teriak para prajurit Arkantara saat melihat kabut putih mendekat.


"Bentuk Formasi tempur dan jangan sampai terpisah selama kabut itu belum hilang," teriak Barapati.


Emmy, Tungga Dewi, Lenny Darow, Arkadewi dan Wulan tiba tiba muncul dan menyerang cepat bersama pasukannya saat kabut tebal menyelimuti tempat itu.


Suara jeritan kesakitan dan pedang beradu terdengar begitu keras sebelum menghilang kembali bersamaan dengan hilangnya kabut putih itu.


Barapati tersentak kaget saat melihat banyak pasukannya yang sudah meregang nyawa tanpa tau siapa yang menyerang.


"Apa ini cara bertarung Malwageni?" teriak Barapati kesal sambil menatap sekitarnya. Tak ada orang sama sekali, suasana begitu tenang dan sangat mencekam.


Arina yang bersembunyi di atas salah satu pohon kembali memberi tanda pada Ciha untuk menggunakan segel kabut.


"Apa kalian merasa putus asa? itulah yang dulu dirasakan seluruh keluargaku," ucap Arina dalam hati sambil melihat Tungga Dewi dan pasukannya kembali menyerang bersama datangnya kabut putih.


Formasi pasukan Arkantara sudah benar benar hancur kali ini, sebagian prajurit bahkan memilih melarikan diri karena melawan musuh yang tidak terlihat tidak akan pernah mudah. Keberadaan pendekar Mata elang yang memang terbiasa bertarung di dalam hutan benar benar menyempurnakan strategi Wardhana.


"Pertahankan formasi, aku akan mencari cara..." belum selesai Barapati bicara sebuah tebasan pedang mengenai lehernya.


"Cepat sekali..."


"Aku harus meminta bayaran yang besar pada raja muda itu," ucap Arkadewi sambil menyarungkan pedangnya kembali.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Penjelasan strategi perang yang digunakan di Chapter kali ini.


Garuda Nglayang


Strategi Garuda Nglayang ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung garuda melayang dan meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap,dan ekor memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk, dsb.


Pada intinya serangan ini mengandalkan satu senapati utama pada posisi paruh,kemudian sayap kiri kanan bergerak bebas dengan posisi pengatur posisi yang sedikit heroik, sebab perlindungan posisi pengatur pasukan berada di depan, pasukan inti menempati posisi cakar kaki, kemudian pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi pasukan penyapu terakhir.

__ADS_1


Strategi Cakra Byuha adalah formasi perang untuk masuk ke tengah-tengah medan pertempuran yang sudah terlebih dahulu terjadi . Lingkaran gelar Cakra Byuha akan langsung masuk ke tengah-tengah peperangan, kemudian mengembang sebagai gelar lingkaran yang semakin besar.


Formasi ini dapat menghadap ke segala arah sesuai dengan keadaan yang berkembang di medan yang sengit. Formasi ini biasanya digunakan untuk melindungi raja, orang penting, tawanan atau pusaka,yang akan dibawa ke suatu tempat.orang/ barang yang dilindungi tsb diletakkan ditengah gelar, sementara pasukan melindungi berlapis lapis berbentuk bulat/melingkar. dengan ujung ujung geriginya pasukan bergerak menghancurkan penghalang yang merintangi.


__ADS_2