
Mahendra terlihat tersenyum dingin sambil menatap Tungga dewi.
"Tak kusangka Hibata dan Tapak es utara memiliki hubungan, ini akan menjadi kabar menyenangkan bagi tuan Umbara".
"Kabar menyenangkan? aku tak akan membiarkan satupun dari kalian lolos" balas Tungga dewi.
"Apa kau tidak terlalu percaya diri? kau pikir aku sama dengan pengguna Naga api?" Mahendra tertawa sinis.
"Kau memang tidak sama dengannya, dia jauh lebih kuat darimu".
"Lebih kuat dariku? kau terlalu meremehkanku" Mahendra melesat cepat menyerang Tungga dewi.
Pada saat yang sama, puluhan sekte kencana ungu ikut menyerang.
Lingga bergerak membantu sedangkan Arung tetap didepan pintu keluar untuk mencegah ada yang melarikan diri. Wardhana sudah memberinya pesan tak boleh ada saksi mata yang melihat sosok ketua Hibata.
Serangan Mahendra memicu semua yang ada diruangan ikut bertarung termasuk Mantili dan Brajamusti.
Sementara Mentari melompat kendekati Arung, dia menyentuh gagang pintu keluar sebelum membekukan hampir seluruh dinding ruangan.
"Tak boleh ada yang keluar satu orangpun".
Nilam sari dan Indra bergerak mengepung Wardhana, mereka merasa dialah otak dibalik semua jebakan ini namun Mantili dan Brajamusti bergerak lebih cepat melindungi Wardhana.
"Sabrang telah membantu kalian sekuat tenaga, bahkan Mentari sampai terluka. Apa ini balasan terima kasih kalian?" bentak Mantili.
"Kami sudah bosan dicemooh sebagai sekte kecil, akan aku lakukan apapun untuk membuat sekteku besar dan ditakuti" balas Nilam sari.
Mantili menggeleng pelan sambil bersiap menyerang. "Akan kubunuh kalian demgan tanganku".
Pertempuran dua kubu tak dapat terelakkan lagi, gedung pertemuan tapak es utara menjadi saksi pertarungan hidup mati para pendekar dunia persilatan itu.
Mahendra sesekali menoleh kearah pintu keluar sambil menyerang Tungga dewi.
"Apa kalian tidak terlalu percaya diri dengan mengurung kita disini? kalian benar benar meremehkan pengguna ajian Panca geni".
"Kita lihat saja" Tungg dewi merapal jurus ruang dan waktu sebelum mulai menyerang balik. Tubuh Tungga dewi menghilang saat sudah berada didekat Mahendra.
"Ajian panca geni memungkinkan aku merasakan energi sekecil apapun, walau kau menghilang aku tau dimana kau akan muncul karena aku bisa merasakan energi ruang dan waktu".
Mahendra bergerak kesisi kiri saat sebuah energi muncul diudara. Kedua tangannya mulai diselimuti kobaran api.
"Panca geni tingkat 5, pedang penghancur api" Mahendra mengayunkan pedangnya sekuat tenaga namun dia tersentak kaget saat puluhan energi keris muncul dari dalam ruang dan waktu.
Serangan tiba tiba itu membuatnya sedikit tidak siap, dia menarik serangannya dan membentuk perisai tenaga dalam namun Tungga dewi muncul dari arah lain dan menyabetkan pedangnya.
"Sial" Mahendra memutar tubuhnya dan berusaha menahan serangan Tungga dewi sambil membuka energi ruang dan waktu untuk menghindari serangan Tungga dewi namun tiba tiba sebuah keris menembus tubuhnya bersamaan dengan hantaman tinju kilat hitam milik Sabrang.
__ADS_1
Mahendra terpental dan membentur dinding ruangan. Darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya.
"Bagaimana dia masih hidup?" umpatnya dalam hati.
Mata bulan Sabrang bersinar terang, dia berjalan sambil melepaskan aura dari tubuhnya untuk menekan semua orang.
Pertempuran seketika terhenti saat semua orang merasakan tekanan tenaga dalamnya. Mantili bahkan harus bersusah payah mengalirkan tenaga dalamnya.
"Sejak kapan tenaga dalamnya meningkat pesat seperti ini, dia benar benar mewarisi bakat Sekar pitaloka". ucap Mantili takjub.
Raut wajah Indra dan Nilam sari tampak pucat seketika, semangat bertarung mereka hilang seketika setelah melihat Sabrang begitu mudah menyerang Mahendra.
"Akan kupastikan kalian semua terbakar menjadi abu". Sabrang bergerak menyerang diikuti Tungga dewi.
Mahendra melompat menghindar sambil merapal jurus ruang dan waktunya namun Sabrang tak membiarkannya, dia bergerak lebih cepat berkat mata bulannya memaksa Mahendra kembali menghindar.
Pertarungan yang tidak seimbang itu berjalan cukup singkat. Mahendra hanya bisa mengumpat sambil terus menghindar semampunya.
Dia kini sadar dunia persilatan sudah tidak sama seperti jamannya. Ilmu kanuragan yang dia dapatkan dari Masalembo seolah tak berarti dihadapan Sabrang.
"Pembakar sukma" gumamnya dalam hati.
Sabrang terus bergerak menyerang sambil memusatkan tenaga dalamnya dimata bulannya. Dia terus menyerang menggunakan energi keris sampai persiapannya selesai.
Melawan pengguna Panca geni tak pernah mudah karena tubuh mereka seperti terbuat dari besi.
"Ajian sialan itu" umpat Sabrang dalam hati, dia menoleh kearah Tungga dewi seolah berkata inikah saatnya.
Sabrang menggunakan cakra manggilingan untuk menarik seluruh energi Anom.
"Tarian iblis pedang" Sabrang memutar tubuhnya dan melepaskan aura untuk memperlambat gerakan Mahendra yang terus meningkat akibat ajian pembakar sukma.
Mahendra terlihat mudah menghindari serangan itu sambil sesekali berusaha menyerang balik namun tanpa Mahendra sadari saat tubuh Sabrang memutar dia menarik masuk Tungga dewi kedalam ruang dan waktunya.
Menggunakan jurus api abadi tingkat akhir Sabrang terus menyerang dan mencari celah Mahendra.
"Percuma saja kau menyerangku karena kecepatanmu jauh dibawahku". ejek Mahendra.
"Aku bisa saja lebih cepat darimu namun bukan itu yang kuincar" Sabrang tiba tiba menajamkan matanya sambil merapal jurus pedang pemusnah raga.
"Jurus ini?" Raut wajah Mahendra menjadi buruk saat merasakan energi ruang dan waktu terbentuk diudara.
"Dia sengaja memancingku menjauh dari yang lainnya untuk melepaskan jurus pemusnah raga" Belum sempat Mahendra menghindar Tunga dewi muncul dari udara dan menggunakan jurus yang sama dengan Sabrang.
"Pedang pemusnah raga" Sabrang dan Tungga dewi menyerang dari arah berlawanan.
Mata pedang mereka berdua berbenturan saat menghantam kepala Mahendra bersamaan dari arah berlawanan.
__ADS_1
Ledakan besar menggema diseluruh ruangan sebelum tubuh Mahendra hangus menjadi abu.
"Tak ada yang bisa menghentikan mereka berdua" ucap Brajamusti takjub.
Tungga dewi tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang dan menundukkan kepalanya.
"Maafkan hamba yang mulia telah berani menyerang anda tadi".
"Berdiri, tak pantas ketua Hibata berlutut dihadapan banyak orang" balas Sabrang sambil menatap sekitarnya.
Terlihat Nilam sari dan yang lainnya sudah mulai terdesak. Walau dia bisa menggunakan jurus ruang dan waktu namun tenaga dalam mereka masih rendah sehingga tak terlalu berguna dihadapan Mantili yang jauh lebih cepat darinya.
Mantili hanya menunggu tenaga dalam mereka terkuras sebelum menghabisi dengan jurus tapak es.
Sementara Indra jelas terlihat masih jauh dibawah Lingga.
Hari itu tak ada satupun pendekar kencana ungu yang keluar dari ruangan pertemuan dalam keadaan hidup.
Tungga dewi memakai kembali penutup wajahnya sebelum menundukkan kepalanya.
"Temui aku malam ini diruanganku" ucap Sabrang pelan.
"Baik Yang mulia".
Ketika Tungga dewi hendak pergi bersama anggotanya Lasmini memegang tangannya.
"Kau kini jauh melampauiku Dewi" ucap Lasmini tersenyum haru.
"Bibi guru, banyak hal yang harus kubicarakan dengan anda namun aku harus mengganti pakaianku agat tidak ada yang curiga".
Lasmini mengangguk pelan "Aku akan menemuimu dikamar".
Tungga dewi mengangguk sebelum melesat pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini PNA up satu chapter mohon dimaklumi karena kesibukan yang agak oadat merayap.
Oh iya sambil menunggu PNA update esok hari yang rencananya akan udpate normal 2 Chapter plus Update ABM jika berkenan kunjungi beberapa novel sahabat saya
Pembunuhan di Kastil Tua
Putri Asisten Pribadiku
Gadis mungil (I Love U)
Terakhir vote mbang.. masa novel kelas dewa gini rank 35?.. udah kayak lagi jualan cabe aja dipojokkan..
__ADS_1