Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sekte Gunung Batu Menyerang II


__ADS_3

Rombongan para pendekar Gunung batu terlihat berjajar didepan gerbang suku Hutan dalam. Nalm, ketua sekte Gunung batu tampak percaya diri berada diurutan paling depan bersama para tetua lainnya.


Lenny muncul dengan wajah masam karena sudah bisa menebak apa tujuan mereka.


Nalm tersenyum kecut melihat sambutan tak bersahabat Lenny.


"Apakah begini cara suku Hutan dalam menyambut tamu?". Ejek Nalm yang disambut gelak tawa para pendekarnya.


"Seingatku hari ini aku tidak memiliki janji dengan tamu manapun. Apa yang sebenarnya anda cari ditempat terpencil seperti ini?." Lenny masih berusaha menjaga emosinya, bagaimanapun dia masih belum sepenuhnya percaya pada seseorang yang disebut Wardhana mampu menghancurkan satu sekte seorang diri. Dia sangat mengerti kemampuan Nalm yang merupakan salah satu pendekar terkuat di Swarnadwipa.


Nalm tersenyum sinis dan tanpa basa basi melepaskan aura dari tubuhnya.


"Kau tak perlu berpura pura tak mengerti, tunjukan padaku jalan menuju gua emas atau hari ini adalah akhir bagi suku Hutan dalam". Ancam Nalm.


Butuh beberapa waktu bagi Lenny untuk lepas dari tekanan aura Nalm, dia bahkan harus menggunakan hampir separuh tenaga dalamnya agar tidak hilang kesadaran. Beberapa pendekar Hutan dalam bahkan langsung tak sadarkan diri.


"Kau meminta tolong atau mengancam?".


"Apapun penilaianmu nona namun satu yang harus kau tau aku sedang tidak ingin bercanda".


Lenny menggeleng pelan, kali ini dia benar benar dalam masalah. Setelah berfikir sejenak dia mencabut pedangnya sebagai jawaban atas pertanyaan Nalm.


"Kau yang memintanya nona". Nalm memberi tanda pada para pendekarnya untuk bersiap menyerang. "Aku ingin suku Hutan dalam hancur sekarang juga". Ucapnya lantang.


Puluhan pendekar langsung bergerak setelah mendapat perintah Nalm. Dilain pihak Lenny juga memberi tanda pada pasukannya untuk menyerang. Tak lama setelah dia berteriak, tiga pendekar melompat dengan kecepatan tinggi dan langsung menyerang.


Nalm menajamkan matanya karena baru ini dia melihat jurus yang digunakan tiga pendekar itu.


"Suku Hutan dalam memiliki ilmu kanuragan setinggi ini?" gumamnya heran.

__ADS_1


Wardhana bergerak sambil memberi tanda pada Lingga dan Arung untuk mengikutinya, gerakan mereka bagai ombak yang menghantam batu karang. Kecepatan Lingga dan Arung serta pengamatan tajam Wardhana mampu memojokan para pendekar Gunung batu.


Meliahat para pendekarnya mulai tertekan Nalm dan beberapa tetua lainnya mulai bergerak.


Namun belum sempat mereka menyerang tiba tiba puluhan keris muncul diudara diikuti aura besar yang menekan mereka semua.


Semua yang terlibat pertempuran serentak menelan ludahnya. Bagi mereka mungkin ini pertama kalianya merasakan tekanan sebesar itu.


Lenny menajamkan matanya saat melihat sepasang pendekar bergerak kearah mereka dengan kecepatan tinggi.


Wardhana melompat mundur dari pertempuran demi menyambut Rajanya.


Seperti diberi aba aba pertempuran tiba tiba terhenti karena mereka merasa sangat terancam oleh aura yang meluap dari tubuh Sabrang.


"Hormat pada Yang mulia". Ucap Wardhana sambil menundukan kepalanya.


"Yang mulia?." Lenny memperhatikan setiap inci tubuh Sabrang.


Emmy yang sedikit terganggu dengan pandangan wanita itu menggerakan pedangnya kearah Lenny.


"Jaga pandanganmu atau pedang ini akan mengambil matamu". Ancam Emmy.


Mendapat ancaman seperti itu membuat Lenny mundur selangkah namun tetap memperhatikan Sabrang. Dia masih belum percaya pendekar semuda itu bisa memiliki kekuatan yang sangat mengerikan.


"Jelaskan situasinya paman". Sabrang mengamati keadaan disekitarnya. Pandangan matanya berhenti saat menatap Parbo, dia tersenyum dingin seolah mengatakan urusan kita belum selesai. Mata bulannya masih bisa mengingat setiap orang yang menyerangnya malam itu.


Parbo hampir kehilangan kesadaran saat menatap mata biru Sabrang. Dia sadar Sabrang bisa membunuhnya dengan satu serangan.


Wardhana mulai menjelaskan permasalahannya sampai perjanjian dengan Lenny tentang gua emas yang menurut Wardhana adalah rumah para dewa yang mereka cari.

__ADS_1


Saat Wardhana masih menjelasakan situasinya, salah satu tetua Gunung batu mencoba mengambil kesempatan. Dia tiba tiba bergerak menyerang dengan pedangnya.


Gerakan cepatnya membuat semua orang hampir tak menyadari keberadaannya, dalam waktu singkat dia sudah berada didekat Sabrang. Emmy mencoba menangkis serangan tiba tiba yang terarah pada Sabrang namun gerakannnya kalah cepat.


Saat jarak antara pedangnya dengan Sabrang tinggal beberapa jengkal tiba tiba tubuhnya berhenti bergerak dan tidak dapat digerakan.


"Apa yang terjadi pada tubuhku" gumamnya pelan.


"Aku menyebutnya jurus langit menekan bumi. Seluruh tubuhmu akan merasakan tekanan yang sangat kuat sampai akhirnya seluruh organ dalammu hancur namun kau tak perlu khawatir, aku tak berniat menunggu terlalu lama". Lengan kiri Sabrang menarik beberapa energi keris diudara dan menghantamkannya ketubuh tetua Gunung batu. Tetua itu roboh seketika dengan lubang ditubuhnya.


Puluhan pendekar gunung batu serentak menjauh setelah melihat Sabrang dengan mudahnya membunuh salah satu orang kepercayaan Nalm.


Parbo bahkan mengumpat dalam hati, dia sangat menyesali pernah mencari masalah dengan Sabrang.


"Terima kasih paman, aku sudah sedikit mengerti. Aku hanya perlu menghancurkan mereka untuk sampai ke gua emas bukan?".


Wardhana mengangguk pelan sambil menunggu perintah Sabrang untuk bergerak.


"Apa kau tidak terlalu berlebihan? kuakui kekuatanmu cukup mengejutkan namun kau tidak tau apa apa tentang sekte gunung batu". Ucap Nalm geram, dia cukup tersinggung mendengar ucapan Sabrang.


Sabrang terkekeh mendengar ancaman Nalm, dia memberi tanda untuk mulai bersiap menyerang sebelum tubuhnya mulai diselimuti kobaran api.


"Naga api?". Nalm tampak terkejut melihat kobaran api yang semakin membesar. Kini pendekar dihadapannya itu terlihat bagaikan kobaran api yang membentuk tubuh manusia.


"Sebaiknya kau sedikit menahan diri nak atau kau akan membakar seluruh hutan dan isinya". Anom memperingatkan.


"Biarkan aku sedikit bersenang senang setelah terkurung didasar sumur itu Anom" jawab Sabrang sambil bergerak dengan kecepatan tinggi.


Emmy mengikuti dibelakangnya sambil menyerang para pendekar yang mulai mengepung Sabrang.

__ADS_1


"Sepertinya saat ini angin bertiup dipihak kita, ayo kita serang". Lenny bergerak bersama para pendekar suku Hutan dalam.


Pertempuran kembali pecah namun kali ini keadaan sedikit berubah berkat kehadiran Sabrang. Semangat juang suku Hutan dalam yang sempat turun kini mulai berkobar karena merasa memilik kesempatan untuk menang.


__ADS_2