Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pedang Adalah Jalan Hidup


__ADS_3

"Mohon ampun Gusti ratu, jika hamba boleh memberi masukan, apa tidak sebaiknya meminta pendapat menteri lainnya. Hamba sangat mengerti semua yang anda lalukan demi kebaikan Malwageni.


Namun dalam aturan keraton juga disebutkan jika para menteri memiliki kewajiban untuk membantu raja mengambil keputusan. Kami hanya ingin semua keputusan yang diambil Gusti ratu tidak bertentangan dengan aturan keraton yang sudah ditetapkan," ucap Adiwilaga untuk memberi jalan tengah saat pertemuan itu belum menemui titik terang.


Pertemuan memang berjalan alot karena separuh lebih menteri masih mendukung Adiwilaga walaupun Pancaka telah menentukan sikap mendukung Sekar Pitaloka.


"Jadi maksudmu aku harus mendengarkan suara terbanyak?" tanya Sekar Pitaloka tajam.


"Hamba tidak bermaksud berkata seperti itu Gusti ratu karena semua keputusan ada di tangan anda namun hamba mohon dalam setiap keputusan, kami dilibatkan karena ini semua demi Malwageni," jawab Adiwilaga pelan.


Sekar Pitaloka tampak mengelapkan tangannya menahan amarah, dia tidak menyangka Adiwilaga akan bertindak sejauh ini.


"Dia benar benar menentang keputusanku," umpat Sekar Pitaloka dalam hati geram.


Sekar Pitaloka tampak berfikir sejenak, dia menoleh kearah Wardhana yang sejak tadi hanya diam mengamati.


Dalam aturan keraton keputusan tertinggi memang berada di tangan raja namun untuk beberapa hal penting yang menyangkut sistem pemerintahan ada aturan yang mengharuskan seorang raja mendengarkan semua masukan para menteri dan celah itu yang digunakan oleh Adiwilaga untuk menggagalkan keputusan Sekar kali ini.


"Apa kau bermaksud menekan gusti ratu? bukankah pangeran Pancaka sebagai kepala pejabat pemeriksa sudah menentukan sikapnya?" tanya Wardhana sinis.


"Hamba tidak berani tuan, Gusti ratu dan semua raja Malwageni adalah pilihan dewa, hamba hanya ingin pendapat para menteri di dengar sesuai aturan keraton," balas Adiwilaga yang disambut anggukan para menteri lainnya.


Suasana kembali memanas karena para menteri yang mendukung Sekar Pitaloka menganggap Adiwilaga lancang.


"Kau pandai bermain kata Adiwilaga, jelas para menteri yang mendukungmu jauh lebih banyak, yang kau lakukan saat ini adalah menentang keputusan Gusti Ratu secara terang terangan," salah satu menteri pendukung Sekar berkata sinis.


"Tuan Layana sepertinya terlalu terbawa amarah, kata kata seperti itu tidak pantas keluar dari mulut seorang menteri. Kita semua adalah menteri Malwageni, tidak ada kelompok Adiwilaga atau kelompok Layana, semua demi kepentingan tanah leluhur ini," jawab Adiwilaga tajam.


"Kau!" Layana terlihat menahan amarah.


Wardhana menoleh kearah Sekar Pitaloka dan meminta izin untuk bicara yang dibalas anggukan Sekar.


"Baik jika itu keinginan kalian, aku akan mendengarkan pendapat kalian mengenai masalah ini," ucap Wardhana pelan.


"Terima kasih tuan Patih, anda benar benar seorang patih yang bijaksana," balas Adiwilaga sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah berhitung, walaupun Pancaka berada di pihak Sekar Pitaloka namun separuh menteri masih memihak padanya.


"Kalian dengar, Gusti ratu telah mengambil keputusan untuk mendengarkan pendapat kita semua, berterima kasihlah pada beliau," ucap Adiwilaga melanjutkan.


"Terima kasih Gusti ratu, semoga anda selalu diberikan kesehatan," teriak para menteri bersamaan.


"Kini kendali ada di tanganku Wardhana, kau mungkin pintar tapi politik kerajaan masih sangat hijau untukmu," ucap Adiwilaga dalam hati.


"Baik, siapa yang akan mulai bicara lebih dulu?" tanya Sekar Pitaloka.


"Ijinkan hamba bicara Gusti ratu," suara Pandita terdengar lantang dari pintu masuk ruangan.


Semua terkejut melihat Pandita muncul dengan pakaian lusuh dan kotor, wajahnya pun tampak memar di beberapa bagian.


"Kau sedikit terlambat Arung," ucap Wardhana dalam hati.


Adiwilaga terlihat yang paling terkejut diantara yang lainnya, dia tidak menyangka Pandita bisa hadir di ruangan itu karena telah memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Pandita.


"Apa terjadi sesuatu padamu tuan?" tanya Wardhana pelan sambil menoleh kearah Adiwilaga.


"Ada yang mencoba membunuh hamba tuan, tapi semua telah diurus oleh tuan Arung, saat ini para penjahat itu sedang diperiksa oleh beliau di ruang tahanan utama Malwageni," jawab Pandita sambil melangkah masuk. Dia memberi hormat pada Sekar Pitaloka sebelum duduk tepat disebelah Adiwilaga.


"Mereka di tahan di ruang tahanan utama?" wajah Adiwilaga berubah seketika, dia sangat mengerti betapa ketatnya ruang tahanan utama itu. Tahanan bagi para penjahat perang itu hanya boleh dimasuki oleh Raja, patih dan komandan utama pasukan elit Angin selatan.


Adiwilaga semakin panik karena itu artinya sampai kapanpun dia tidak akan memiliki akses untuk bertemu anak buahnya kecuali atas izin raja.

__ADS_1


"Maaf tuan, bagaimana Arung dapat masuk kedalam tahanan utama?" tanya salah satu menteri pendukung Adiwilaga.


"Ah, aku lupa menyampaikannya pada kalian bahwa utusan Yang mulia memintaku mengangkat Arung sebagai komandan utama Angin selatan, maka sejak aku menerima perintah itu, Arung secara otomatis menjadi komandan utama.


Arung juga yang akan memimpin penyelidikan percobaan pemberontakan dan penculikan tuan Pandita. Ini adalah perintah langsung Yang mulia, silahkan bicara jika ada yang keberatan," jawab Wardhana tegas.


Para menteri pendukung Adiwilaga mulai terlihat khawatir, tak ada lagi senyum jumawa merekah di bibir mereka. Kehadiran Pandita dan munculnya kembali Arung dengan jabatan yang lebih tinggi merubah situasi dengan cepat. Pandita dan para pengikutnya bagai terhimpit bebatuan besar yang perlahan akan membunuh mereka.


"Dia telah merencanakan semuanya, sialan kau Wardhana," umpat Adiwilaga dalam hati.


"Tuan Pandita, gusti ratu mengizinkan anda bicara, silahkan sampaikan pendapat anda," ucap Wardhana.


"Apa yang akan kau katakan bisa menjerat dirimu sendiri maka berhati hatilah dalam berbicara," bisik Adiwilaga pada Pandita.


"Setidaknya aku tidak mati ditangan para penjahat," sindir Pandita cepat.


"Kau!"


"Maaf jika hamba datang terlambat gusti ratu, hamba hadir di tempat ini ingin menyampaikan kebenaran. Apa yang anda khawatirkan memang sudah terjadi, hamba melihat sendiri bagaimana para pejabat pemeriksa bermain dengan laporan keuangan kerajaan dan ikut menikmati uang itu.


Hamba bukan tidak terlibat dan hamba siap menanggung semua hukuman atas kesalahan hamba. Mungkin jika masalah ini dibuka akan menyeret banyak pejabat dan membuat sedikit kekacauan di keraton tapi jika dibiarkan maka bukan hanya kekacauan yang akan terjadi, Malwageni akan hancur perlahan. Hamba hanya berharap ada keringanan hukuman bagi kami yang mengakuinya," ucap Pandita lantang.


"Gusti ratu, apa yang disampaikan..." belum selesai Adiwilaga bicara Sekar Pitaloka membentaknya.


"Cukup tuan Adiwilaga! ada saatnya kau bicara, kau lupa aku yang meminta dia bicara?"


Adiwilaga langsung terdiam, dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang terlihat pucat.


"Lanjutkan," ucap Sekar dingin.


"Sebagai kesungguhan hamba dan beberapa menteri untuk mengungkap semuanya, hamba siap memberikan beberapa bukti penggunaan keuangan kerajaan yang tidak sesuai dengan laporan."


"Jadi kalian semua setuju dengan keputusanku untuk memeriksa kembali laporan keuangan kerajaan?" tanya Sekar Pitaloka.


"Hamba siap menerima perintah Gusti ratu," jawab Pandita pelan yang diikuti anggukan puluhan menteri lainnya, hanya Adiwilaga dan empat orang menteri yang masih terdiam.


Suasana ruangan menjadi hening, semua sadar masalah kali ini akan menimbulkan gejolak besar ketika separuh menteri terlibat.


Walaupun nanti dalam penyelidikan tidak mendapatkan perlawanan berarti tetapi menangkap separuh lebih para menteri yang terlibat jelas akan mengguncang keraton.


"Keinginan anda sudah dipenuhi tuan Adiwilaga, hampir semua menteri setuju dengan keputusan gusti ratu dan kuharap kau menyetujuinya walau tidak ikut mengangguk," serang Wardhana yang sudah menguasai pertemuan itu sepenuhnya.


"Hamba mengerti," jawab Adiwilaga pelan, tak ada lagi kesombongan dan senyum di wajahnya, saat ini dia telah kalah segalanya dari Wardhana.


Adiwilaga tidak pernah menyangka jika Wardhana bisa membaca semua rencananya dan menggunakan untuk menyerang balik, kini tak ada lagi sedikitpun kekuatan yang tersisa untuk melawan.


Adiwilaga, menteri yang selama ini paling berkuasa di Malwageni telah ditinggalkan para pengikutnya yang berusaha menyelamatkan diri masing masing.


Pancaka tampak bernafas lega, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika tadi mendukung Adiwilaga.


"Kakang benar benar beruntung memiliki pengikut setia seperti paman Wardhana," ucap Pancaka dalam hati.


"Baik, tuan Patih tolong bacakan titahku," ucap Sekar Pitaloka pelan.


"Hamba menerima perintah," Wardhana menundukkan kepalanya sebelum membuka gulungan yang ada ditangannya dan mulai membacanya.


"Titah itu telah dipersiapkan sejak awal? dia benar benar yakin akan memenangkan pertarungan ini," ucap Adiwilaga dalam hati saat melihat gulungan di tangan Wardhana.


"Tidak ada seorangpun yang bisa mendahului wewenang raja Malwageni dan tidak ada yang lebih pantas berbicara aturan keraton kecuali raja. Titah ini di buat untuk mengatur semua urusan pemerintahan dan keuangan keraton yang bersifat mengikat bagi semuanya.

__ADS_1


Memutuskan untuk membuka kembali kasus percobaan pemberontakan yang terjadi pada saat Yang mulia Arya Dwipa karena banyak kejanggalan dalam keputusan para pemeriksa saat itu.


Memutuskan memeriksa kembali semua laporan penggunaan keuangan kerajaan yang akan di pimpin oleh ratu Tungga Dewi bersama pangeran Pancaka.


Memberi kuasa penuh pada Panglima tertinggi pasukan angin selatan untuk menyelidiki penculikan menteri Pandita dibawah perintah patih Malwageni," ucap Wardhana.


"Kami semua menerima perintah gusti ratu," ucap para menteri itu bersamaan.


Adiwilaga menundukkan kepala sambil memejamkan matanya, tak ada lagi yang bisa dia lakukan karena kini Wardhana telah menguasai keraton sepenuhnya.


***


Sudah seharian lebih Sabrang berlatih ilmu pedang bersama Wahyu Tama tapi dia masih belum diizinkan membaca kitab itu terlebih dahulu.


Sabrang hanya diperintahkan untuk menyerangnya dengan jurus yang dikuasai tanpa diberi petunjuk apapun.


Satu yang Sabrang pahami selama bertarung, walau mungkin kekuatan dan ilmu pedangnya lebih unggul dan bervariasi tapi Wahyu Tama masih bisa mengimbangi gerakan pedangnya.


Wahyu Tama begitu tenang dalam menghindari setiap serangan dan sesekali menyerang balik. Walau terkadang Sabrang mampu menekan tapi tak ada sedikitpun keraguan di mata Wahyu Tama, dia seolah sangat yakin mampu memenangkan pertarungan walau kekuatan Sabrang dengan Naga Apinya sangat besar.


"Jika kau masih belum mengerti arti sesungguhnya dari pedang itu sendiri, maka sekuat apapun jurus yang kau gunakan, aku akan selalu bisa menemukan celah jurusmu," Wahyu Tama tiba tiba memutar pedangnya, dia meningkatkan kecepatan tiba tiba sebelum memukul mundur Sabrang dengan jurus pedang Pencakar langit tingkat III.


"Bagaimana mungkin gerakannya terus berubah?" Sabrang terpaksa melompat mundur saat sebuah sabetan pedang hampir mengenai tubuhnya.


"Tapak langit dan bumi," lengan kiri Wahyu Tama menghantam perut Sabrang dengan cepat yang membuatnya terpental beberapa langkah.


"Apa arti pedang yang kau pegang itu? apa hanya sebagai alat untuk membunuh?" tanya Wahyu Tama sambil menyarungkan pedangnya.


"Arti pedang sesungguhnya?" Sabrang mengernyitkan dahinya bingung.


"Kau benar benar lambat dalam memahami sesuatu, duduklah akan kujelaskan sesuatu padamu," ucap Wahyu Tama kesal.


"Pantas saja setiap tebasan pedangmu tidak terlalu mematikan walaupun sangat cepat. Aku tak habis fikir apa yang sebenarnya menghambat ilmu pedangmu selama ini selain pergelangan tanganmu yang lemah, seharusnya dengan bakat setinggi itu kau mampu jauh lebih kuat dari saat ini. Apa kau tau apa arti pedang ini?" Wahyu Tama menancapkan pedangnya tepat dihadapan Sabrang.


Sabrang menggeleng pelan, dia benar benar tidak mengerti arti pertanyaan Wahyu Tama karena sepengetahuannya, pedang adalah senjata untuk bertarung.


"Kau tau apa pedang ini terbuat dari apa?" tanya Wahyu Tama pelan.


"Besi?" jawab Sabrang bingung.


"Benar dan kau tau bagaimana pedang ini tercipta? pedang adalah jalan hidup tertinggi bagi para pendekar dunia persilatan, banyak makna hidup dari sebuah pedang dan jika kau hanya menganggap pedang sebagai senjata maka kau tidak akan pernah berkembang walau dengan bakat sebesar apapun.


Pedang mengajarkan kita untuk melewati semua proses kehidupan dengan tenang agar menjadi lebih kuat. Bagaimana sebuah besi menyediakan dirinya untuk disiksa, ditempa dan dibakar sampai merah, dipukul ribuan kali, disepuh air berulang kali. Sebuah proses panjang dan ‘penyiksaan’ yang amat sangat menyakitkan sebelum menjadi sebuah pedang terbaik.


Pedang juga dapat disimbolkan sebagai pelindung, sebagai wajah dari keadilan, makna dari keberanian dan perjuangan, jadi jangan sebut pedang sebagai alat pembunuh karena bukan pedang yang membunuh tapi penggunanya.


Jika kau mampu menanamkan makna pedang dalam hatimu maka kau akan percaya pada dirimu sendiri dan melewati setiap pertarungan sebagai tempaan agar kau menjadi lebih kuat. Kau tidak akan salah memilih jalan karena jalan pedang sesuai dengan maknanya sebagai pelindung, sebagai wajah dari keadilan, keberanian dan simbol perjuangan.


Percayalah saat pedang telah menyatu dengan hatimu maka kau bisa mengalahkan aku hanya dengan beberapa jurus saja. Pahami itu sebelum kau mempelajari ilmu pedang tertinggi kitab Sabdo Palon," ucap Wahyu Tama menutup latihan hari ini.


Sabrang terdiam mendengar ucapan Wahyu Tama, dia tidak menyangka jika makna sebuah pedang bisa sangat dalam.


"Apa sebenarnya tujuanku berlatih ilmu pedang selama ini?" ucap Sabrang dalam hati, dia menatap kepergian Wahyu Tama sebelum memejamkan matanya untuk bersemedi.


"Nak, apa kau...," belum selesai Anom bicara, Sabrang sudah memotong ucapannya.


"Untuk kali ini biarkan aku memilih jalan pedangku sendiri Anom, bisakah kalian tidak bicara padaku untuk satu malam ini?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Pelajaran yang bisa dipetik dari chapter ini adalah Carilah jalan Jodohmu sendiri para pendekar Jomblo.... VOTE adalah salah satu jalan menuju ketidakjombloan....


__ADS_2