Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sebuah Kesetiaan


__ADS_3

"Pergilah" ucap Wardhana pada Emmy yang terlihat ingin membantunya.


"Tapi tuan," balas Emmy ragu, dia tau ilmu kanuragan Wardhana berada dibawah pria itu.


"Kubilang pergi dan bantu yang lain" teriak Wardhana.


Emmy mematung sesaat sebelum bergerak membantu yang lain. "Berhati hatilah tuan, Yang mulia sangat membutuhkanmu saat ini".


"Tak perlu cemas, aku belum berencana mati sebelum merebut Malwahgeni", balas Wardhana sambil menatap tajam pria dihadapannya.


"Apa kau marah padaku? aku melakukan ini demi Yang mulia Wardhana", ucap pria itu.


"Demi Yang mulia? kau tau dari mana sejarah kelam Trah Dwipa berasal? mereka yang menciptakannya".


"Aku tau, semua sejarah leluhur Yang mulia aku tau dan aku juga tau tuan Naraya pernah berusaha melawan para pemimpin dunia namun gagal. Dia tewas ditangan dewa penjaga Masalembo. Coba kau pikir, tuan Naraya yang merupakan keturunan Trah Dwipa yang paling berbakat meregang nyawa ditangan mereka.


Mereka tidak bisa dilawan Wardhana bahkan oleh Yang mulia sekalipun karena tuan Naraya pernah mencoba dan hasilnya gagal. Aku melakukan ini demi Yang mulia, mereka akan membantu kita merebut Malwageni dan akan melindungi Yang mulia karena salah satu pemimpin dunia adalah leluhur Yang mulia. Malwageni akan menjadi kerajaan besar yang ditakuti seluruh dunia dan Yang mulia akan menjadi Raja terbesar dalam sejarah Nuswantoro. Kuharap kau mengerti dan mau bergabung denganku untuk membantu Yang mulia. Aku pernah gagal sekali melindungi Malwageni Wardhana, dan aku tak ingin gagal lagi".


Wardhana tertawa mengejek sambil bersiap menyerang.


"Aku tak pernah menyangka seorang patih Malwageni takut berperang, Yang mulia Arya Dwipa akan mengejek mu kelak tuan Wijaya".


Wijaya terlihat tersenyum kecut mendengar ejekan Wardhana, dia menarik nafas panjang sebelum melepaskan aura dari tubuhnya.


"Aku tidak pernah takut perang namun aku pernah mengalami kekalahan menyakitkan saat berusaha melindungi Ratu, kau tak akan pernah mengerti perasaanku saat itu. Pasukanku dibunuh didepan mataku, Yang mulia Ratu tewas tanpa bisa ku lindungi.


Semua terjadi karena kita memaksakan diri, ada sesuatu yang tidak bisa kita lawan namun bisa kita hindari seperti Masalembo. Mereka menawarkan kekuatan yang bisa kita gunakan untuk merebut Malwageni".


"Apa anda pikir Yang mulia sudi tunduk pada Masalembo?".


"Kita tidak tunduk pada siapapun, kita hanya bekerja dengan mereka".


"Bekerja sama? semua sekte yang bergabung dengan mereka selalu ditawari bekerja sama walau kenyataannya semua harus tunduk pada mereka. Anda hanya dimanfaatkan oleh mereka karena kedekatan dengan Yang mulia bukan karena kemampuan anda. Saat para pemimpin dunia bangkit, kita semua akan dipaksa tunduk pada dunia baru.


Aku tak sudi mendapatkan kembali Malwageni jika harus tunduk pada mereka, Anda adalah orang yang paling dekat dengan Yang mulia Arya Dwipa harusnya anda tau sifatnya. Beliau lebih memilih mati dan bertempur walau kekuatan tidak seimbang dari pada tunduk pada orang lain dan aku yakin Yang mulia juga demikian. Jika anda merasa tindakan yang dilakukan ini benar, apa anda berani menemui Yang mulia dan katakan semua ini padanya?".


Wijaya terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana, Walah didalam hatinya dia merasa keputusannya bergabung dengan Masalembo adalah tindakan pengecut namun dia benar benar ingin membantu Sabrang merebut Malwageni. Kegagalan melindungi Malwageni masih membekas dihati Wijaya, ingatan itulah yang membuatnya tak pernah tidur nyenyak.

__ADS_1


"Apa anda takut? atau dalam hati anda mengakui jika tindakan ini salah?". sindir Wardhana.


"Aku sudah memilik jalanku dan tak ada tempat bagiku kembali namun satu yang harus kau ingat, semua yang kulakukan hanya untuk Malwageni", Wijaya melesat menyerang Wardhana.


"Kecintaan dan kesetiaan kadang membuat orang berubah menakutkan hanya demi melindungi sesuatu yang dicintainya. Aku tak pernah meragukan kesetiaan anda pada Malwageni namun jalan yang anda pilih salah, Malwageni tak pernah mau tunduk pada siapapun walau harus hancur berkali kali, itu yang dikatakan Yang mulia Arya Dwipa".


Wardhana mencabut pedangnya dan menyambut serangan Wijaya. Pertempuran dua orang kepercayaan Arya Dwipa yang sebenarnya memiliki satu tujuan, melindungi Malwageni namun melalui jalan yang jauh berbeda tak terelakkan. Dia punggawa Malwageni yang selalu berperang bersama kini menjadi lawan yang siap membunuh satu sama lain.


***


Dua kekuatan terlihat saling beradu diudara membuat getaran dan ledakan besar ketika pedang Naga api berbenturan dengan pedang milik Umbara, kecepatan mereka berdua hampir tak terlihat mata. Hanya percikan percikan api yang terlihat diudara akibat benturan pedang.


Setelah bertukar puluhan jurus dalam sekejap ,mereka saling mengambil jarak untuk menyusun serangan baru.


Tampak beberapa luka terlihat ditubuh Sabrang begitu juga dengan Umbara.


"Pada akhirnya kita memang harus saling berhadapan, kami pernah membunuh Naraya Dwipa, salah satu pendekar paling berbakat yang dimiliki dunia persilatan dan aku pastikan hari ini aku akan membunuhmu bocah. Kau tidak pernah berfikir untuk menghancurkan Masalembo saat Naraya pun tak mampu bukan?," ucap Umbara sinis.


"Seperti yang kau bilang, aku bukan Naraya yang masih memiliki belas kasih. Aku tidak berbakat seperti dirinya namun aku tak akan mundur satu langkah pun. Akan ku hancurkan kalian walau harus berhadapan dengan leluhurku sendiri", kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang kembali membesar.


Sabrang tersenyum sinis mendengar ajakan Umbara. "Aku tak akan pernah mau tunduk pada siapapun, simpanlah tawaranmu".


Sabrang langsung bergerak menyerang yang langsung disambut oleh Umbara.


Para pendekar yang bertarung didekat mereka memilih sedikit menjauh karena mereka bisa tewas kapan saja jika terkena efek serangan.


"Jurus pedang pemusnah raga", Sabrang merubah gerakannya ketika berada didekat Umbara, lengan kirinya dengan cepat menarik puluhan energi keris yang sudah disiapkan di ruang hampa udaranya.


Mendapat serangan tiba tiba, Umbara menarik pedangnya untuk menangkis jurus pemusnah raga sambil mengibaskan lengan kirinya kearah puluhan energi keris yang menyerangnya. Sabrang tersentak kaget saat melihat puluhan energi keris itu menghilang tiba tiba.


"Dia bisa menangkis pemusnah ragaku?," gumam Sabrang dalam hati


Sabrang kembali menciptakan energi keris untuk meredam serangan balik Umbara yang semakin cepat.


Dia menggunakan Cakra manggilingan untuk menarik energi Banaspati, Sabrang sedikit memperlambat gerakannya untuk mempersiapkan jurus pemusnah raga.


Sabrang meningkatkan kecepatannya saat melihat celah pertahanan Umbara, Mata bulannya bersinar terang seiring dengan gerakannya yang semakin cepat.

__ADS_1


Kobaran api tampak semakin besar menyelimuti pedang Naga api.


"Pedang pemusnah raga," Waktu terasa berhenti saat kobaran api merah melesat mendekati Umbara.


Saat pedang Naga api hampir mengenainya, Umbara merubah posisi pedangnya sambil mencengkram mata pedang Naga api.


"Akulah pencipta jurus pemusnah raga itu", Umbara mengayunkan pedangnya saat berhasil menangkis pedang pemusnah raga.


Tubuh Sabrang tertusuk pedang hingga tembus ke punggungnya sebelum menghilang.


"Dia menguasai jurus ruang dan waktu?," saat Umbara sedang berfikir puluhan energi keris kembali muncul dan menyerangnya.


Umbara melompat mundur sambil mengibaskan lengannya untuk menghilangkan keris itu namun Sabrang muncul didekatnya dan langsung menyerang.


"Naraya bisa jauh lebih cepat darimu," Umbara melepaskan energi ditubuhnya dan menangkis pedang Naga api.


Sabrang terdorong sedikit kebelakang akibat benturan tenaga dalam, saat dia sedang mengatur kuda kudanya tiba tiba Umbara merapal jurus yang sangat dikenalinya.


Sabrang menajamkan mata bulannya untuk membaca jurus pedang pemusnah raga milik Umbara namun terlambat.


Kecepatan pedang pemusnah raga milik Umbara jauh lebih cepat dari milik Sabrang.


Tubuh Sabrang terpental akibat sabetan pedang lawannya, dia berusaha menggunakan ilmu ruang dan waktunya untuk menghindar namun pukulan Umbara kembali menghantam tubuhnya.


Sabrang terpental beberapa meter sebelum pedangnya mencengkram tanah untuk menghentikan tubuhnya.


"Sial", umpat Sabrang sambil mengatur nafasnya, darah mengalir dari mulut Sabrang.


"Yang mulia", ucap Tungga dewi saat melihat Sabrang terpental. Ini pertama kalinya dia melihat Sabrang terdesak.


"Bukan waktunya mengkhawatirkan orang lain," Gendis mempercepat gerakannya untuk menyudutkan Tungga dewi namun jurus ruang dan waktu yang dikuasai Tungga dewi membuatnya mampu mengimbangi salah satu dewa penjaga Masalembo itu.


Tungga dewi muncul di udara dan langsung melepaskan jurus pedang pemusnah raga, Gendis melompat mundur untuk menghindari serangan Tungga dewi sambil melepaskan beberapa jurus andalannya untuk menangkis serangan Tungga dewi.


Kedua pedang dua pendekar wanita itu beradu membuat mereka sama sama terdorong mundur.


"Kau benar benar menarik", ucap Gendis dingin.

__ADS_1


__ADS_2