Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pangeran Sabrang Damar


__ADS_3

Wijaya mematung di sebuah ruangan, matanya terpejam memikirkan sesuatu. Dia masih tidak percaya Yang mulia Ratu telah tiada. Ingin rasanya langsung menuntut balas detik ini juga, namun dia sadar ilmunya masih terlalu rendah. Dia hanya akan mengantarkan nyawa pada Lembah Tengkorak.


Tak lama pintu ruangan di ketuk, dia menoleh dan mempersilahkan Lasmini masuk.


"Tuan patih, tetua kami memanggil anda" Lasmini memberi hormat di balas anggukan Wijaya.


"Terima kasih nona, aku banyak merepotkan Rajawali Emas". Lasmini menggeleng pelan "Tuan terlalu sungkan".


"Tuan patih penjagaan di ibukota Malwageni kini semakin ketat akibat kejadian kemarin malam, Anda harus berhati hati".


Sudarta memang langsung menghubungi beberapa kenalannya di ibukota. Penjagaan makin diperketat dipintu masuk ibukota untuk menghindari pendukung Arya Dwipa menyusup.


"Ku dengar juga Iblis Hitam mengirim beberapa Pendekar terkuat untuk mengendalikan suasana ibukota. Akan sulit jika tuan sekarang masuk ibukota".


Wijaya mengangguk pelan, dia pun belum berniat kembali ke ibukota. Prioritas utamanya kini menemui Pangeran Sabrang di Sekte Pedang Naga Api kemudian menyusun rencana kedepannya. Bagaimanapun kini Sabrang satu satunya harapan Malwageni.


Wijaya tersenyum lembut saat mendengar cerita jika Sabrang telah menjadi pendekar hebat, ditambah lagi Pedang Naga Api berada ditangannya.


"Yang mulia pasti sangat bangga jika mengetahui Pangeran telah menjadi pendekar hebat. dia akan menjadi raja yang hebat kelak Yang mula Raja".


"Guru aku ingin meminta bantuanmu jika berkenan?" Wijaya menatap Sudarta penuh harap.


"Apa yang bisa ku bantu tuan, jika bisa kupenuhi pasti akan ku bantu dengan sekuat tenaga?"


Wijaya terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.


"Kudengar jika beberapa kelompok pendekar yang masih setia pada Yang mulia raja bersembunyi di Sekte Hutan Bambu. Aku ingin meminta tolong untuk menghubungi mereka dan mengatakan jika Pangeran masih hidup. Aku tidak ingin simpul kekuatan yang masih setia pada Yang mulia Raja bergerak sendiri sendiri, akan sangat menyulitkan dengan kondisi sekarang".


Sudarta mengangguk pelan, "Aku akan mengirim beberapa muridku untuk menghubungi mereka". Wijaya menundukan kepala memberi hormat.


"Aku sangat berterima kasih pada anda guru".


........................................

__ADS_1


Sabrang melangkah cepat menuju kediaman Wulan sari, pagi ini dia ingin meminta izin kembali ke Sekte Pedang Naga Api. Dia sudah memutuskan untuk berkelana mencari Dataran Tinggi Dieng. Dia harus lebih kuat apalagi kemarin terdengar kabar jika Sekte Rajawali Emas porak poranda diserang aliran hitam dan satu satunya caranya adalah dia pergi mencari Dataran Tinggi Dieng.


"Nenek aku mencarimu dari tadi" Sabrang menemukan Wulan sari sedang bermeditasi di ruang latihan.


Wulan sari membuka matanya, senyum manis terpancar dari bibirnya.


"Ada apa nak? Bukankah kau sedang berlatih dengan Kakek gurumu?".


"Nek aku rasa sudah saatnya aku berkelana mencari Tanah Para Dewa. Nenek pasti sudah mendengar kabar jika Rajawali Emas di serang gabungan Aliran Hitam. Aku sudah memutuskan untuk mencari tempat itu, aku harus segera menjadi lebih kuat".


Wulan sari mengernyitkan dahinya, dia menatap Sabrang lembut.


"Kau yakin akan keputusanmu?" Sabrang langsung mengangguk yakin.


Wulan sari menarik nafas panjang, dia melihat keyakinan di mata Sabrang dengan keputusan yang telah dia ambil.


Mungkin memang saatnya dia melihat dunia luar, bagaimanapun dia adalah calon Raja Malwageni kelak. Apalagi tenaga dalam Sabrang telah meningkat sangat pesat akibat Pil Buntang Emas yang dikonsumsinya. Tak mudah kini untuk mengalahkannya, ditambah Pedang Naga Api ditangannya.


"Berhati hatilah nak, dunia luar sana sangat kejam. Ku harap kau mengikuti kata hatimu. kau akan dihadapkan dengan banyak kepalsuan".


"Gunakan lah ilmu yang kuajarkan padamu, ku harap dapat sedikit membantu. Ingat jangan gunakan Pedang Naga Api dan kitab api abadi bersamaan sampai kau bisa mengendalikan tenaga dalammu".


Sabrang mengangguk pelan dipelukan Wulan sari. Mulai hari ini dia sudah memutuskan untuk melihat dunia luar dan mencari tujuan hidupnya.


.................................


Setelah menempuh perjalanan dua hari Wijaya mematung sejenak di pintu gerbang Sekte Pedang Naga Api, Nyalinya ciut untuk melangkah masuk sampai seseorang menegurnya.


"Maaf tuan ada yang bisa kubantu?" Seorang murid Sekte Pedang Naga Api tersenyum ramah. Dia memandang wajah Wijaya yang ditutupi topeng.


"Aku ingin bertemu Tetua Pedang Naga Api, apakah anda bisa mengantarkanku".


Satria mengangguk pelan, dia menunjukan jalan ke Aula utama tempat ki Ageng berada. Wijaya memandang setiap orang yang berpapasan dengannya.

__ADS_1


"Guru ada yang ingin bertemu dengan anda". Satria memberi hormat. Ki Ageng mengernyitkan dahi menatap seorang Pendekar bertopeng dihadapannya.


"Silahkan masuk tuan, ada yang bisa kubantu?".


Wijaya menatap ki Ageng sejenak dan membuka topengnya. Dia memberi hormat pada ki Ageng.


"Perkenalkan guru, Hamba Wijaya Salah satu Patih Malwageni dahulu".


Sontak wajah ki Ageng berubah dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sepengetahuannya seluruh pengawal kerajaan dibantai oleh Lembah Tengkorak saat melindungi Yang mulia ratu.


"Bagaimana anda bisa selamat?".


Wijaya melangkah duduk dihadapan Ki Ageng "Ceritanya Panjang guru".


......................


Tubuh Wijaya bergetar mendengar semua cerita ki Ageng. Rasa bersalahnya makin besar membuat dadanya sakit. Namun dia sedikit lega karena ki Ageng sepertinya merawat Pangeran dengan baik.


"Terima Kasih guru telah merawat Pangeran dengan sangat baik" Wijaya berlutut di hadapan ki Ageng.


"Anda terlalu sungkan tuan patih. Aku hanya menjalankan apa yang ku anggap benar".


Beberapa saat kemudian Seorang pemuda masuk dengan tergesa gesa


"Kakek aku kembali, apa kabar kakek? Aku telah menguasai ilmu baru Teratai Merah. Kali ini aku tak akan kalah oleh kakek". Seorang pemuda menatap ki Ageng dan Wijaya bergantian.


Wijaya menatap Ki Ageng meminta penjelasan, tak lama ki Ageng mengangguk pelan.


Wijaya merasakan seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, dia lalu bangkit dan berlutut di hadapan Sabrang


"Aku pantas mati Pangeran" tak ada kata kata lain yang keluar dari mulut Wijaya. Hanya air mata yang menetes dari matanya.


Sabrang menatap Wijaya bingung, dia merasa tidak mengenalnya tetapi kenapa pria tersebur berlutut dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2