Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Wardhana Terluka Parah


__ADS_3

Suasana malam di puncak gunung padang yang awalnya terang oleh sinar bulan tiba tiba berubah menjadi gelap dan diselimuti kabut tebal perlahan. Suasana semakin mencekam karena bagi yang memiliki ilmu kanuragan, mereka bisa merasakan jika itu bukan kabut biasa.


"Segel kabut? tidak...auranya jauh lebih besar dari segel milik Ciha, apa sebenarnya kabut ini?" ucap Lingga sambil memberi tanda pada yang lainnya untuk bersiap.


Emmy yang berada didekat pintu masuk jalur pemujaan berjalan mendekati Lingga.


"Apa kau merasakannya?" tanya Emmy sedikit khawatir.


Lingga mengangguk pelan, dia terus memperhatikan sekitarnya dengan waspada.


"Energinya hampir sama dengan segel kabut namun ini jauh lebih kuat," jawab Lingga.


Kabut yang menyelimuti gunung padang perlahan menghilang, Lingga dan Emmy semakin waspada saat sesosok tubuh terlihat muncul dari balik kabut.


"Maaf aku terlambat, tempat ini sulit sekali datangi," ucap Ciha pelan.


"Ciha? aura ini?" sapa Emmy lega.


"Segel kabut, aku telah berhasil menyempurnakannya sesuai dengan permintaan tuan patih. Gunung padang kini telah tersembunyi seperti sekte Bintang Langit, tak ada yang akan menemukannya kecuali aku membuka segel ini," jawab Ciha sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Jadi benar aura ini berasal dari segel kabut ciptaan mu?" balas Lingga takjub.


"Benar tuan, berbeda dengan segel kabut sebelumnya yang bisa dibuka oleh siapa saja yang menguasainya, segel ini membutuhkan darahku untuk membukanya. Jadi selama aku tidak membukanya semua akan tetap tertutupi segel ini."


"Begitu ya... jadi Gunung ini akan terus terkubur selama kau tidak membukanya," jawab Lingga kagum.


Ciha mengangguk, "Sepertinya gunung ini..." Ciha menghentikan ucapannya saat merasakan segel udara berada disekitarnya.


"Segel ini?" wajah Ciha berubah seketika.


"Apa kau merasakan sesuatu?" Emmy terlihat bingung saat melihat wajah Ciha.


"Tuan Wardhana, dimana dia saat ini?" tanya Ciha panik.


"Wardhana? dia berada di dasar Nagara siang padang? apa ada yang salah?" Emmy mulai gelisah setelah melihat wajah Ciha semakin memburuk.


"Dia dalam bahaya, tuan Patih menggunakan segel udara untuk meminta bantuan, kita harus cepat mencarinya," ucap Ciha cepat.


"Jangan jangan? Ibu ratu!" Emmy menoleh kearah Lingga yang juga memasang wajah khawatir sebelum melesat kearah gerbang pemujaan dan melompat turun.


Candrakurama dan yang lainnya tampak bingung sebelum Lingga berteriak untuk mengejar Emmy.


"Cepat bantu nyonya selir, sepertinya sesuatu terjadi pada Ibu ratu dan tuan Patih," Lingga melompat turun sambil mencabut pedang.


Melihat Lingga turun dengan cepat, Candrakurama dan yang lainnya ikut melompat turun.


"Wijaya, kau tunggu disini bersama Ciha dan beberapa anggota Hibata, kita akan berkomunikasi melalui segel udara. Jika Yang mulia datang, katakan semuanya," ucap Candrakurama sebelum melompat.


"Baik tuan," balas Wijaya cepat.


***


Emmy terus melompat turun dengan cepat, kobaran api ditubuhnya perlahan membesar membuat suasana lubang itu menjadi terang. Gerakan cepat dan gesit Emmy yang melompat diantara tangga yang mulai rapuh membuatnya terlihat seperti bola api yang jatuh dari langit.


Wajah Emmy semakin memburuk karena samar samar terlihat seorang wanita berdiri di dinding ruangan dengan dua buah pedang menancap di tubuhnya. Dia sangat mengenali jubah perang yang digunakan wanita itu.


"Ibu ratu," teriak Emmy sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Emmy melompat pada sebuah pijakan batu untuk mendorong tubuhnya bergerak lebih cepat ke dasar lubang.


"Jurus Api abadi tingkat II : Tarian Api abadi," kobaran api yang keluar dari pedang Emmy memaksa Kanigara mencabut salah satu pedang yang menancap di tubuh Sekar dan melompat mundur.


"Perisai Pelindung Latimojong," Kanigara menahan serangan pedang api abadi sebelum mengarahkan tangannya pada Emmy yang bergerak turun kearahnya.

__ADS_1


"Emmy mundur," teriak Sekar Pitaloka sesaat sebelum dia kembali batuk darah.


Emmy menoleh kearah Sekar Pitaloka bingung, dia sudah menghitung jarak dengan lawannya, bagaimana Sekar bisa sepanik itu saat dia tidak berada dalam jangkauan lawannya.


"Jurus Api abadi..." belum selesai Emmy memutar pedang, tubuhnya berhenti bergerak di udara.


"Jurus menghentikan waktu?" mata Emmy menoleh kearah Sekar yang tubuhnya masih bergerak dan berteriak padanya.


"Bukan, lalu jurus apa ini?" Emmy berusaha menggerakkan tubuhnya namun tidak berhasil.


"Bayangan pedang Iblis," Kanigara seperti menarik sesuatu dari udara. Tak lama kemudian puluhan energi pedang muncul dari udara dan menyerang Emmy yang masih belum bisa bergerak.


"Jurus apalagi itu?" umpat Lingga sebelum muncul didepan Emmy dan menangkis semua serangan Kanigara.


"Tarian iblis pedang," Lingga menyerang balik dengan kekuatan penuh namun Perisai pelindung Latimojong kembali mengangkis serangan Lingga dengan mudah.


Lingga memutar tubuhnya dan menempelkan telapak tangan di dinding yang berada tepat di atas Kanigara.


"Tapak peregang sukma," dinding lubang itu sebagian hancur dan meluncur kearah Kanigara dan para pendekar Guntur Api.


"Sial, sejak awal dia mengincar itu. Ketua, mundur," teriak Kanigara sambil mengarahkan telapak tangannya kearah batu untuk menghentikan ratusan batu yang melesat kearah mereka.


Lingga menarik tubuh Emmy dan mendarat di atas batu yang berhenti di udara akibat jurus Kanigara.


"Pedang Penghancur Iblis," Lingga melompat kearah Sekar Pitaloka sambil menghancurkan bebatuan lainnya.


Melihat bebatuan semakin banyak akibat serangan Lingga, Kanigara memutuskan kembali masuk gerbang ketiga bersama pasukannya.


Suara ledakan akibat bebatuan yang hancur dan menutup gerbang keempat memekakkan telinga mereka.


"Ibu ratu? anda baik baik saja?" tanya Lingga khawatir sambil mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Emmy.


"Jurusnya?" ucap Emmy terbata bata.


"Aku tidak tau jurus apa yang mereka gunakan namun itu sangat berbahaya. Sekilas sangat mirip dengan milik Sabrang yang menghentikan waktu namun jurus ini hanya menghentikan tubuh manusia dan yang lebih berbahaya, jurus ini bisa menghancurkan organ tubuh kita dari dalam," jawab Sekar cepat.


Emmy yang melihat kondisi Sekar Pitaloka langsung bergerak mendekati dan mengalirkan tenaga dalamnya.


"Lingga, bantu Wardhana, dia terluka cukup parah," ucap Sekar Pitaloka sambil menunjuk reruntuhan batu yang berada didekatnya.


Tak lama Candrakurama, Biantara dan Ken Panca muncul dihadapan mereka.


"Ibu ratu?" sapa Candrakurama khawatir.


"Bersiaplah, mereka berjumlah sekitar tiga puluhan orang, saat ini Lingga berhasil mengurung mereka dengan bebatuan itu namun aku yakin batu itu tak akan mampu menahan lama.


Dari semua pendekar itu ada dua yang paling kuat, salah satu dari mereka pengguna jurus aneh yang dapat menghentikan tubuh kita dan merusak organ tubuh dari dalam. Hindari pertarungan jarak jauh karena akan memudahkan tangan kirinya membidik mu. Tangan itu yang menjadi kunci jurus anehnya jadi pastikan saat bertarung tidak berada dalam jangkauan tangan kirinya," ucap Sekar Pitaloka menjelaskan situasi.


"Menghentikan tubuh kita dan menghancurkan organ tubuh dari dalam?" Ken Panca menoleh kearah Sekar Pitaloka dengan wajah terkejut.


"Apa anda mengetahui jurus itu?" tanya balik Sekar Pitaloka.


"Aku tidak yakin namun jika melihat ciri yang kau sebutkan, jurus itu milik trah Latimojing yang dibuang dan dibunuh oleh Masalembo di gua api yang berada di daratan Masalembo," jawab Ken Panca.


"Trah Latimojong?" Sekar mengernyitkan dahinya.


"Wajar kau tidak mengetahuinya karena masalah ini sangat dirahasiakan bahkan di dalam Masalembo sekalipun. Saat Lakeswara membangun kekuatan, dia merekrut satu keluarga yang memiliki kekuatan aneh. Saat itu sebenarnya ada empat trah Masalembo dan latimojong adalah yang keempat.


Tenaga dalam trah Latimojong yang unik mampu meresap dengan cepat kedalam tubuh lawan tanpa diketahui, mereka bisa mengontrol siapapun saat tenaga dalam telah masuk kedalam tubuh lawan termasuk menghancurkan organ dalamnya.


Aku mengetahui rahasia trah terakhir Masalembo ini saat menyelidiki Gropak Waton, tapi bagaimana mereka masih hidup? menurut catatan itu sangking berbahayanya Latimojong, bahkan Lakeswara sendiri yang turun tangan untuk memastikan semua tewas," balas Ken Panca bingung.

__ADS_1


"Itu memang keahlian Masalembo, membuang orang yang sudah tidak diperlukan seperti ayah dan keluargaku," ucap Wulan sinis.


"Ibu ratu, nafas tuan Wardhana sangat lemah,," teriak Lingga panik.


Semua yang mendengar teriakan Lingga tersentak kaget, mereka berjalan mendekati Wardhana yang sebagian lengan kirinya sudah hancur dengan lubang menganga di perutnya.


Tubuh Wardhana terlihat sangat mengenaskan, selain luka di sekujur tubuhnya, organ dalamnya pun terluka parah terkena jurus milik trah Latimojong.


Semua terdiam, tak ada yang berani menyentuh tubuh Wardhana termasuk Lingga karena mereka sadar saat ini aliran darah Wardhana sangat kacau, sedikit saja salah penanganan maka dia bisa tewas seketika.


Saat semua panik dan sebagian sudah pasrah karena kondisi Wardhana yang terus memburuk, Wulan berjalan mendekat.


"Menjauh!" teriak Wulan tiba tiba yang membuat semua terkejut. Mereka menoleh kearah Wulan bingung, aura yang meluap dari tubuh Wulan tampak aneh namun terasa sangat lembut, tak ada tekanan sama sekali dari aura besar yang menyelimuti tubuh Wulan.


Perlahan namun pasti rambut Wulan memutih, wanita yang sangat benci terlihat tua itu rela rambutnya memutih dengan menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat Vi demi seorang pria yang membuatnya tertarik setelah terakhir kali dia mencintai Rubah Putih namun berakhir dengan penolakan dari pria yang lebih tertarik ilmu kanuragan itu.


Namun ada yang berbeda kali ini, Wulan seolah rela mati demi pria itu, hal yang tidak dia rasakan saat bersama Rubah Putih.


"Hei nona, aku tidak tau apa yang kau lakukan namun saat ini seluruh organ dalam Wardhana sangat lemah, jika salah sedikit saja..." belum selesai Sekar Pitaloka bicara, Wulan sudah memotong ucapan Sekar.


"Aku tau, ilmu pengobatan adalah keahlianku, itulah kenapa dulu aku dijuluki dewi obat sebelum berubah menjadi dewi kematian. Sebaiknya kalian memberiku waktu, karena selama aku mengalirkan tenaga dalam, tak ada yang boleh menyentuh tubuhku atau kami berdua bisa mati," Wulan duduk di dekat Wardhana dan menempelkan kedua tangannya di tubuh Wardhana.


"Kau tak akan kubiarkan mati, kehilangan keluarga masih terasa sakit di hatiku dan kau dengan seenaknya mau meninggalkanku?" umpat Wulan sambil memejamkan matanya.


"Candrakurama, kau dan tetua Biantara bertugas menjada tuan patih selama pengobatan, aku akan mencoba mencari cara..."


Suara Lingga terhenti saat ledakan besar menghancurkan reruntuhan batu yang menutupi gerbang keempat.


"Sial, mereka lebih cepat dari perkiraan ku," Lingga mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.


"Candrakurama pastikan tak ada yang mendekati tuan Patih," Lingga bergerak menyerang saat puluhan pendekar muncul kembali dari reruntuhan batu itu.


"Tuan Panca," ucap Lingga sambil mengayunkan pedangnya, dia bergerak cepat dan membunuh beberapa pendekar Guntur Api yang tidak menyangka mendapat serangan saat keluar dari lubang itu.


Beberapa pendekar yang berusaha menyerang Lingga tiba tiba tak bisa bergerak saat Ken Panca menancapkan obor di dinding dan menggunakan bayangannya untuk menahan mereka.


"Sekarang!" teriak Ken Panca.


Lingga memutar tubuhnya dan menggunakan sebuah batu untuk menjadi pijakan serangannya.


"Tarian Iblis Pedang," energi hitam keluar dari pedang langit dan membunuh semua yang dilewatinya. Lingga tidak berhenti disitu, dia menarik salah satu pendekar Guntur api sebelum melompat naik ke dinding batu yang tempat gerbang keempat berada.


Aura hitam menyelimuti telapak tangan kanannya sebelum Lingga menempelkan di atas pintu keempat.


"Tapak peregang..." wajah Lingga berubah seketika saat tubuhnya tak bisa digerakkan, dia merasakan sesuatu mengalir di tubuhnya sebelum merasakan sakit yang luar biasa.


"Jurus itu?" Ken Panca menarik segel bayangan dan mencabut pedangnya, dia bergerak mendekati Lingga.


Namun Kanagara muncul dari balik gerbang keempat dan mengarahkan tangan kanannya kearah Ken Panca yang membuat tubuhnya berhenti dan melayang di udara.


"Bukankah hanya tangan kirinya yang bisa menggunakan jurus itu?" umpat Ken Panca bingung.


"Kalian pikir bisa menghadapi kami?" Kanagara mulai merusak aliran darah di tubuh Lingga dan Ken Panca dengan tenaga dalamnya, sedangkan sebagian pendekar Guntur Api bersama Kawanda bergerak menyerang Wulan dan Emmy yang sedang mengobati luka Wardhana dan sekar.


"Candrakurama!" teriak Emmy yang khawatir pendekar itu merusak pengobatan yang sedang mereka lakukan.


"Sial, mereka banyak sekali," Candrakurama dan Biantara bergerak bersamaan menyambut serangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Chapter Bonus sore atau paling lambat malam karena kita gak tau review eror seperti semalam... terima kasih dan jika menurut kalian ini menarik, berikan VOTE

__ADS_1


__ADS_2