Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Hutan Kematian


__ADS_3

Sabrang terlihat membawa beberapa ekor anak rusa di tanganya. Dia tersenyum puas melihat hasil buruannya lumayan banyak. Dia berjalan menuju ke sebuah gua tempatnya menginap, malam ini dia bisa makan daging sepuasnya.


Setelah makan malam dan perutnya terasa sesak, Sabrang memutuskan memejamkan matanya. Cuaca dingin Hutan Kematian dan perut yang sudah terisi penuh membuat matanya terasa memgantuk.


Saat Sabrang sedang mencoba memejamkan matanya, samar samar dia mendengar suara orang minta tolong. Dia menajamkan pendengarannya, mencari arah suara yang didengarnya.


"Ada yang meminta tolong di tempat seperti ini?" gumamnya dalam hati.


Sabrang kemudian mengambil pedangnya dan memutuskan memeriksa asal suara tersebut. Saat hampir mencapai asal suara, dia berhenti ragu. Dia berpikir sejenak sebelum tubuhnya berbalik menjauh.


Sabrang kembali menghentikan langkahnya saat suara itu kembali terdengar.


“Apa yang harus aku lakukan? bukankah di depan sana adalah Hutan Kematian?” ucap Sabrang bingung.


“Kakek berpesan untuk tidak mendekati Hutan Kematian,” Sabrang menggaruk rambutnya yang tidak gatal sebelum memutuskan berbalik dan menuju arah suara tersebut.


“Kakek pasti akan melakukan hal yang sama denganku untuk menolongnya."


Dia berjalan menyusuri Hutan Kematian mengikuti suara minta tolong.


Saat Sabrang sudah sampai di asal suara tersebut, terlihat seorang wanita muda sedang terluka parah. Wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah, terlihat darah menetes dari perutnya akibat sayatan pedang.


Sabrang langsung berlari mendekati wanita itu dan memeriksanya, dia menutup luka di perutnya dengan kain untuk menahan darah keluar.


Dia mengambil pil obat didalam tasnya dan meminumkan pada wanita itu.


"Lukanya sangat dalam," ucapnya pelan.


Sabrang Kemudian mencari beberapa tumbuhan obat yang ada disekitarnya, dia meramu tumbuhan itu dan digunakan sebagai obat luar.


Setelah mengobati wanita itu, Sabrang merebahkan tubuhnya di sebuah pohon besar sambil menatap gadis yang baru ditolongnya.


“Siapa sebenarnya gadis ini? bagaimana bisa dia berada di hutan kematian?" Sabrang larut dalam lamunannya dan tanpa sadar dia tertidur pulas.


***


Sabrang terbangun saat mendengar suara wanita terbatuk, dia kemudian memberi gadis itu minum dan memeriksa lukanya kembali


“Sepertinya sudah mulai membaik," gumamnya.

__ADS_1


"Hei nona, buka mulutmu, kau harus minum obat ini agar cepat pulih," Sabrang mengangkat kepala gadis itu dan meminumkan kembali pil obat pemberian ki Ageng.


***


Setelah beberapa hari dirawat gadis itu mulai sadar, dia menatap sekelilingnya dan mendapatkan Sabrang sedang meramu obat untuknya.


Dia mencoba bangun tetapi mengurungkannya karena rasa sakit diperutnya. Sabrang menoleh dan langsung menghampiri gadis tersebut.


“Nona jangan memaksakan bangun dulu, kau tidak boleh banyak bergerak, lukamu sangat dalam," ucap Sabrang lembut.


Sabrang kemudian mengoleskan kembali ramuannya pada luka gadis tersebut.


Gadis itu tampak bersikap siaga, dia masih memandangi Sabrang dengan curiga. Sabrang memahami sikap gadis tersebut, dia tersenyum ramah dan mengambil pil obat di sakunya.


“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” tanya gadis itu.


Sabrang berfikir sejenak “Tiga hari nona, namun tak perlu khawatir luka anda sudah mulai membaik dan hanya perlu beristirahat untuk memulihkan tenaga," jawab Sabrang.


Sabrang mengambil buah buahan kemudian memberikannya pada gadis tersebut.


“Makanlah buah ini untuk mengembalikan tenagamu," ucap Sabrang pelan.


“Kalau aku boleh bertanya, bagaimana anda bisa ada di hutan ini dengan keadaan terluka parah nona?”.


Gadis itu hanya menoleh sesaat kemudian melanjutkan makannya, dia terlihat masih belum mempercayai Sabrang.


“Aku di rampok, hartaku di rampas dan aku terluka karena melawan mereka,” jawab gadis itu setelah menghabiskan buah buahan yang diberikan Sabrang padanya.


Sabrang mengernyitkan dahinya sambil tersenyum kecut, bagaimana mungkin ada perampok yang berani masuk ke Hutan Kematian sedangkan pendekar dunia persilatan saja menghindari tempat ini.


Namun Sabrang tidak bertanya lebih lanjut, dia bersyukur gadis tersebut sudah sadar dan bisa segera kembali ke Sekte Pedang Naga Api, kakeknya pasti mencarinya.


Sabrang bangkit dari duduknya sambil berkemas, dia meninggalkan beberapa pil untuk diminum wanita itu.


“Nona, karena lukamu sudah membaik aku terpaksa harus pergi, sudah tiga hari aku berada di hutan ini, kakek pasti mencariku,” dia menundukkan kepalanya memberi hormat kemudian melangkah pergi.


“Terima kasih tuan muda,” jawab gadis tersebut kemudian di jawab anggukan oleh sabrang.


***

__ADS_1


"Aku benar benar tersesat," ucap Sabrang saat melihat tanda yang dibuatnya disebuah pohon.


Sabrang merasa sudah tiga kali melihat tanda yang dia buat saat pertama kali masuk Hutan Kematian, artinya sudah tiga kali dia berputar putar di tempat yang sama.


“Sepertinya aku masuk terlalu dalam ke hutan ini,” batinnya sedikit menyesal.


Merasa tidak ada pilihan lain, Sabrang bergerak mencari sungai. Gurunya pernah berkata jika sungai adalah penuntun jalan terbaik di alam.


Sepanjang perjalanan mencari sungai sabrang melihat beberapa hewan buas.


Sinar matahari yang tidak dapat menyinari Hutan Kematian karena terhalang pohon pohon besar membuat suasana gelap dan lembab yang menciptakan kesan angker di hutan tersebut.


Setelah berjalan hampir dua jam, wajah Sabrang sedikit lega setelah mendengar suara air mengalir, dia kemudian berlari kearah suara air berasal.


Terlihat sebuah air terjun yang sangat tinggi dengan air yang sangat jernih di hadapannya. Dia menelan ludahnya sebelum berlari kearah air tersebut dan meminumnya.


Setelah dahaganya hilang, Sabrang kemudian duduk di atas sebuah batu dan melihat sekelilingnya.


“Kemana sekarang aku harus pergi?” dia menggaruk kepalanya sambil berfikir, tak lama pandangan matanya tertuju pada air terjun dihadapannya.


Sekilas dia melihat sebuah gua di balik air terjun tersebut, dia menyipitkan matanya mengamati tempat itu.


"Itu benar benar sebuah gua," Sabrang kemudian berdiri dan menuju ke arah gua tersebut, karena hari sudah mulai gelap dia merasa lebih baik beristirahat di gua itu untuk menghindari hewab buas.


Sebuah gua kecil namun dalam tampak dibalij air terjun, Sabrang mencoba mencari kayu bakar disekitar sungai dan mulai membuat perapian.


Api yang dibuat Sabrang menerangi seluruh dalam gua.


"Gua ini sepertinya sangat dalam," Sabrang bangkit dan memutuskan memeriksanya.


“Gua ini seperti tidak ada ujungnya,” gumam Sabrang pelan.


Saat sedang berfikir akan melanjutkan memeriksa gua itu atau kembali tiba tiba terdengar suara dari perutnya, dia tersenyum kecil sambil memegangi perutnya yang lapar. Sabrang duduk di sebuah batu yang ada di dekatnya.


“Sial, sepertinya malam ini aku harus tidur dengan menahan lapar."


Saat sedang duduk termenung, Sabrang merasakan batu yang di dudukinya tiba tiba bergerak, dalam hitungan detik tanah yang di pijaknya terperosok.


Sabrang mencoba menyelamatkan diri tetapi tidak sempat, ia pun ikut terperosok ke dalam lubang tersebut. Tubuhnya mendarat keras di dasar lubang yang membuatnya hilang kesadaran.

__ADS_1


__ADS_2