Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Suku Terkuat Bermata Biru


__ADS_3

Wulan Sari menyentuh pundak Mentari ketika panggilannya tak mendapatkan jawaban. "Kau baik baik saja nak?". Tanya Wulan sari khawatir.


Mentari hanya mengangguk pelan dengan pandangan kosong. "Apa mereka akan baik baik saja nek? tiba tiba firasatku tidak enak". Entah kenapa Mentari merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kali ini.


"Tenanglah, anak itu bersama pendekar dalam legenda dan Lingga. Saat ini kita hanya bisa menunggu mereka disini dan bersiap menghancurkan tempat ini". Wulan sari menenangkan Mentari.


Pandangan Wulan sari terarah pada sebuah gambar aneh di sudut dinding gua (Gambar aliran Magma di sebuah ruangan kecil dan beberapa simbol Iblis). Gambarnya yang sudah buram dan ukurannya kecil membuat gambar itu terlewat dari perhatian.


"Gambar ini sepertinya terlewat oleh Ciha". Gumamnya dalam hati. Wulan sari mencoba menterjemahkan arti gambar gambar itu namun dia tetap tidak mengerti artinya.


"Kemarilah nak". Panggil Wulan sari pada Mentari. "Kau lihat gambar kecil ini? sepertinya Ciha melewatkannya".


Mentari menajamkan pandangannya kearah gambar yang ditunjukan Wulan sari. "Mungkin Ciha melihat namun tidak menganggapnya penting". Gumam Mentari dalam hati.


"Kau lihat gambar lingkaran dan segitiga ini? sepertinya di beberapa tempat ini terdapat gambar yang sama. Aku baru menyadarinya tadi, mungkin ini suatu tanda atau apa". Wulan sari kembali mengingat ngingat gambar itu. Dia cukup yakin melihat gambar ini di gerbang pertama dan beberapa titik di gerbang kedua. "Semoga ini bukan firasat buruk". Ucap Wulan sari pelan.


***


"Apa yang kau pikirkan Naga api?". Tanya Anom penasaran. Dia merasa sejak memasuki ruangan ini Naga api terlalu pendiam.


"Aku cukup yakin tadi merasakan energi banaspati disini, bagaimana bisa tiba tiba menghilang". Ucap Naga api heran.


"Seluruh tempat ini berada diatas kantung kantung magma, wajar jika kau merasakan energi api".


"Begitu ya....". Ucap Naga api singkat, dia masih penasaran dengan energi yang dirasakannya sekilas tadi.


"Apa kau yakin jika ruangan Magma itu benar benar ada?". Lingga kembali memastikan setelah mereka mencari beberapa jam namun belum juga menemukan pintu atau tuas menuju ruang rahasia lainnya.


"Aku sangat yakin, mereka membutuhkan hawa panas untuk melelehkan besi sebagai bahan pembuatan pusaka. Pusaka pusaka misterius yang sering muncul di sini aku yakin ada tempat pembuatannya". Ucap Ciha yakin.


"Apa aku salah mengartikan petunjuk petunjuk ini". Gumam Ciha dalam hati. Dia duduk di sudut gua dengan tatapan kosong. Dia merasa ada yang janggal dengan analisa analisanya selama ini tapi dia tidak tau dibagian mana kejanggalan itu.


Ciha kembali membuka gulungan dan membaca petunjuk petunjuk dari gerbang pertama sampai gerbang terakhir. Entah kenapa ada rasa rakut yang besar dalam dirinya, dia seperti sedang melakukan kesalah yang besar.


"Semua petunjuknya benar dan mengarah ke lembah merah, selama kami tidak mendekati gerbang kegelapan sepertinya semua akan baik baik saja". Ciha terus meyakinkan dirinya sendiri.


"Sepertinya aku menemukan sesuatu". Suara Sabrang membuyarkan lamunan Ciha.


Ciha berlari kearah Sabrang dan menemukan sebuah lubang kecil seukuran pedang didekat lempengan batu yang tersusun rapih disudut ruangan.


"Ada gambarnya". Gumam Ciha dalam hati. Dia mendekatkan wajahnya kegambar itu karena ukuran gambar yang cukup kecil. (Gambar aliran Magma di sebuah ruangan kecil dan beberapa simbol Iblis).


"Sepertinya memang ini kuncinya namun sepertinya ada yang aneh". Ucap Ciha pelan. Pandangannya kemudian teralihkan pada sebuah batu yang sedikit menonjol. Dia menggeleng takjub menatap sebuah sistem hebat dihadapannya.


"Aneh?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


Ciha mengangguk pelan "Aku merasa ada yang aneh sejak pertama masuk keruangan ini namun aku belum tau apa itu".


Ciha meraba dinding gua yang berlubang itu. Dia mengernyitkan dahinya ketika merasakan ada udara menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Lubang sebesar pedang ini apakah kunci untuk membuka pintu ini". Ciha terus berfikir dan menyatukan kepinga kepingan petunjuk dikepalanya.


"Api". Ucap Ciha sambil menggambar sketsa di gulungannya.


"Kau bisa mengalirkan api kedalam lubang itu?". Pinta Ciha tiba tiba.


"Apa itu kuncinya?". Sabrang bertanya bingung.


"Jila perkiraanku tidak salah ruangan magma di bangun kedap udara. Jika suhu ruangan itu naik maka akan memberikan tekanan keseluruh ruangan itu. Batu yang sedikit menonjol ini sepertinya tuas yang menutupi dari dalam. Jika tekanan didalam naik mungkin tuas ini akan terbuka dari dalam dengan sendirinya". Ucap Ciha menjelaskan.


"Kau yakin ada ilmu pengetahuan seperti itu?". Tanya Madrim penasaran. Dia tidak mengerti dengan penjelasan Ciha namun dia yakin sangat rumit membuat pintu otomatis seperti itu bahkan dijaman sekarang.


"Apa kita bisa membayangkan betapa rumitnya Dieng dibangun? tempat ini adalah gudang ilmu pengetahuan, mereka mempraktekan semua ilmu dalam kitab paraton".


Sabrang mengeluarkan pedang naga api ditangannya dan memasukan kecelah itu lalu mengalirkan api kedalam lubang.


"Apakah cukup?". Tanya Sabrang pelan.


Belum sempat Ciha menjawab tiba tiba ruangan itu bergetar hebat. Bau belerang menyengat memenuhi ruangan saat sebuah batu bergesee perlahan.


Wajah mereka semua tampak cerah ketika menemukan sebuah tempat paling rahasia itu kecuali Ciha.


Ciha merasa ada yang salah dengan petunjuk petunjuk selama ini namun dia masih belum menemukan apa yang salah.


Tak lama sebuah pintu terlihat saat batu itu berhenti bergeser, suasana menjadi hening. Mereka berada dalam pikirannya masing masing dan menebak apa yang ada didalam ruang dengan bau belerang menyengat itu.


"Ayo kita masuk". Sabrang yang berdiri paling dekat dengan pintu itu melangkah masuk. Raut wajah Ciha berubah tiba tiba ketika menyadari kesalahannya setelah melihat gambar di dekat pintu rahasia itu.


Ketika Ciha hampir berteriak untuk memperingatkan Sabrang, sesosok tubuh keluar dari dalam ruangan magma itu. Pedangnya yang diselimuti kobaran api langsung menusuk tubuh Sabrang yang tidak siap dengan serangan tiba tiba itu. Semua kejadian itu sangat cepat, bahkan Madrim yang terkenal sebagai pendekar paling cepat tak mampu bereaksi apa apa. Dia hanya bisa mematung memandang Pedang mahluk misterius itu bersarang ditubuh Sabrang sampai tembus ke punggung.


"Gerakannya sangat cepat". Madrim masih mematung.


Butuh waktu cukup lama bagi Sabrang untuk menyadari jika tubuhnya kini dipenuhi darah segar. Mulut dan hidungnya juga mengeluarkan darah segar.


"Mata biru muda?". Sabrang sempat menatap mata biru muda yang menyala dari pendekar misterius itu.


"Aku melakukan kesalahan besar, aku melakukan kesalahan besar". Tubuh Ciha lemas dan jatuh berlutut melihat pedang yang diselimuti kobaran api bersarang ditubuh Sabrang.


Mahluk misterius itu tersenyum dingin setelah berhasil menusuk tubuh Sabrang. Dia berusaha menarik pedangnya namun tiba tiba lengan Sabrang mencengram lehernya dengan kuat.


"Kau pikir setelah menusuk tubuhku bisa pergi begitu saja". Sabrang memutar tubuhnya dan membenturkan mahluk itu di dinding gua. Dia tidak perduli lagi dengan rasa sakit ditubuhnya karena pedang masih bersarang diperutnya.


"Ternyata Suku Iblis petarung benar benar ada". Ucap Sabrang sambi terus berusaha mematahkah leher pendekar itu.


Raut wajah pendekar itu sedikit terkejut mendengar Sabrang menyebut suku Iblis petarung. Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari Sabrang namun tak berhasil.


Kobaran api hitam mulai membakar tubuh pendekar itu namun aura aneh melindungi pendekar itu dari Naga api. Lengan kiri Sabrang mengeluaran keris penguasa kegelapan dan menusukkan ketubuh pendekar itu dengan cepat.


Pendekar itu sedikit terkejut ketika melihat keris menghujam tubuhnya. Perlahan aura aneh ditubuh Pendekar itu menghilang dan tubuhnya mulai terbakar kobaran api hitam.

__ADS_1


Mata pendekar itu terus menatap keris yang bersarang ditubuhnya.


"Mati dengan pusaka Dieng setelah berusaha bertahan jutaan tahun diruang pengap itu sepertinya tidak buruk". Ucap pendekar itu sesaat sebelum tubuhnya berubah menjadi abu.


Tubuh Sabrang ambruk ketanah bersamaan dengan hilangnya kobaran api ditubuhnya. Pandangan matanya mulai kabur, dia sempat mendengar teriakan Ciha sebelum semua menjadi gelap dan hening.


"Ini semua salahku, ini semuanya salahku". Ciha memeluk tubuh Sabrang yang sudah tidak bergerak dan terus berusaha membangunkannya. "Hei sadarlah!". Ucapnya berteriak.


Mandrim melesat cepat mendekati Sabrang dan menempelkan telapak tangannya. Dia mengalirkan tenaga dalamnya ketubuh Sabrang untuk menekan darah yang terus mengalir keluar dari perutnya.


"Siapa mahluk itu?". Lingga bertanya dingin sambil menatap tubuh Sabrang yang berlumuran darah.


"Suku Hwuang ho atau lebih dikenal Suku Iblis petarung". Ucap Ciha lirih.


"Suku Iblis petarung?Bukan kah mereka terkurung di gerbang kegelapan?". Madrim hampir berteriak saking terkejutnya.


"Iya petunjuk petunjuk itu sengaja ditinggalkan untuk mengarahkan ke Gerbang kegelapan".


"Aku makin tidak mengerti apa yang kau pikirkan? jelaskan secara singkat". Kesabaran Lingga hampir mencapai batasnya.


"Sejak awal mereka tidak terkurung di gerbang kegelapan. Mereka semua terkurung di ruang Magma dan penempaan pusaka. Mereka memperkirakan jika suatu saat Dieng ditemukan, akan ada yang mencoba mencegah kebangkitan mereka. Mereka menyusun rencana dan meninggalkan petunjuk petunjuk di batu tulis untuk membimbing semua orang yang masuk Dieng menjauhi gerbang kegelapan dan secara tidak sadar mendekati ruang Magma. Ketika petunjuk petunjuk itu sudah membekas di kepala kita bahwa iblis petarung terkurung di gerbang kegelapan, apa yang akan kita lakukan?". Tanya Ciha pelan.


"Menghancurkan tempat ini selamanya". Jawab Madrim.


Ciha mengangguk pelan "Mereka juga meninggalkan petunjuk jika ingin menghancurkan tempat ini kuncinya ada di Danau kehidupan dan Lembah merah. Kita akan dibimbing untuk berusaha sekuat tenaga mencari Lembah merah demi menghancurkan Dieng. Saat kita merasa berhasil menyegel tempat ini, sebenarnya saat itu kita telah melepaskan Suku terkuat masa lalu".


"Jadi semua ini?".


"Semua rencana besar ini sudah disusun dengan matang sejak awal mereka menginjakan kaki ditanah Nusantara. Mereka menunggu seseorang membebaskan dari ruang Magma".


"Mereka? Maksudmu mahluk itu lebih dari satu?".


Pertanyaan Lingga langsung terjawab saat 4 orang bermata biru muncul dari dalam ruang magma. Aura ditubuh mereka jauh lebih pekat dari pendekar pertama menandakan kemamuan mereka diatasnya.


"Sial!. Ciha bawa Sabrang keruang rahasia pertama tadi". Madrim menghunuskan pedangnya kearah 4 Pendekar Suku Iblis petarung.


Ciha masih mematung dan mengutuk dirinya sendiri karena kesalahannya melepaskan suku terkuat.


"Ciha!! Bawa anak itu pergi, aku punya firasat Naga api kunci mengalahkan mereka. Berusahalah untuk menyelamatkan anak itu".


"Baiiik". Ciha tersadar setelah Lingga membentaknya. Dia mengangkat tubuh Sabrang dan masuk ke ruang rahasia yang ditemukannya pertama kali.


"Kau punya rencana?". Lingga bertanya pelan pada Madrim.


"Untuk saat ini tidak ada, aku ragu rencana apapun akan tidak berguna dihadapan Iblis petarung".


"Begitu ya, jadi kita hanya harus bertarung sampai mati". Lingga tersenyum kecut.


Mereka bergerak maju ketika 4 pendekar Iblis petarung mulai menyerang.

__ADS_1


__ADS_2