Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Saat malam semakin larut, Emmy memutuskan keluar kamar untuk meregangkan tubuhnya. Tertidur cukup lama sejak kapal berangkat membuat rasa kantuknya hilang.


Emmy berjalan menuju dek kapal sambil menatap lautan, suasana malam itu terasa sangat tenang saat angin laut berhembus di tubuhnya.


Dia menoleh ke sekelilingnya, ada beberapa awak kapal yang tertidur di sebuah kursi panjang.


Emmy kembali teringat kenangan saat dia dalam perjalanan menuju Swarna Dwipa bersama Sabrang.


Ketika itu dia bertanya siapa yang lebih cantik antara dirinya dengan Mentari dan tanpa di duga Sabrang menjawab dia bahwa Emmy sedikit lebih cantik.


"Yang mulia, kumohon bertahanlah dimana pun anda berada," ucapnya lirih.


Ketenangan yang dirasakan Emmy sedikit terusik saat dua dari empat pendekar yang dilihatnya saat makan malam berjalan kearahnya.


Lengan kanan Emmy langsung memegang gagang pedangnya, entah kenapa sejak awal dia selalu terganggu dengan kehadiran mereka.


"Ah nona, tak baik bagi seorang wanita cantik seperti anda berdiri sendirian di tempat gelap ini," sapa salah satu pendekar itu.


"Aku bisa menjaga diri," jawab Emmy dingin.


"Dia terlalu sombong kakang, sebaiknya kau jauhi nona itu," sahut temannya yang diiringi tawa mengejek.


"Menjauhi nona ini? apa kapal ini miliknya?" balas pendekar itu ketus.


Emmy terus menikmati desiran angin malam dan tidak memperdulikan keributan dua pendekar dibelakangnya, dia merasa suasana malam itu bisa sedikit meringankan rasa sedih dalam hatinya sejak Sabrang menghilang.


"Perkenalkan nona, namaku adalah Wisesa dan ini Yasa adik seperguruanku, semoga kehadiran kami tidak mengganggu anda," ucap Wisesa sambil berjalan mendekati Emmy.


Emmy tidak menjawab ucapan Wisesa, dia lebih memilih memejamkan mata dan menikmati setiap desiran angin yang berhembus di wajahnya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Wisesa menjadi geram. Dia berusaha memegang lengan Emmy namun gadis itu lebih cepat menarik separuh pedangnya dan menempelkan di leher Wisesa.


"Jangan paksa aku mencabut pedang, aku tidak ingin selama dalam perjalanan mencium bau darah," Emmy menatap tajam Wisesa.


Wisesa yang cukup terkejut melihat kecepatan yang ditunjukkan Emmy berusaha bersikap tenang, dia memegang pedang itu dengan tangan dan menjauhkan dari lehernya.


"Dia cepat sekali," Yasa tampak menelan ludahnya


"Sepertinya ada salah paham nona, aku tidak berniat mengganggu tapi jika anda merasa keberatan, aku akan pergi," ucap Wisesa pelan, dia menatap Emmy geram sebelum melangkah pergi bersama adik seperguruannya.


"Dasar tidak berguna," umpat Emmy pelan.


"Berikan makanan itu padaku!" teriakan Wisesa mengejutkan Emmy, dia menoleh kearah suara pendekar itu dan menemukan seorang pelayan kapal sedang membawa sepiring makanan.


"Maaf tuan, aku akan membawakan makanan yang anda pesan setelah mengantarkan ini pada tuan muda," balas pelayan itu.


"Aku tidak ingin makanan lainnya, berikan saja makanan itu," bentak Wisesa.


Wisesa sepertinya sedang melampiaskan rasa kesal akibat ulah Emmy yang mempermalukan dirinya pada pelayan itu.


"Maaf tuan, tapi tuan muda di kamar itu sudah memesannya lebih dulu," jawab pelayan takut


"Apa katamu? pria lemah yang mabuk laut itu? baik aku sendiri yang akan meminta makanan itu padanya," Wisesa berjalan cepat ke arah kamar yang tepat berada di sebelah kamar Emmy.


"Tuan kumohon jangan," teriak pelayan itu yang berusaha mengejar Wisesa tapi langkahnya terhenti saat Yasa tiba tiba menarik pedang pusaka nya.


"Tetap di tempat atau aku akan memenggal kepalamu," bentak Yasa.


Pelayan itu hanya bisa pasrah, piring ditangannya terlihat bergetar menandakan rasa takut yang luar biasa.


Emmy berpikir sejenak sebelum melangkah mendekat, dia merasa pemuda itu dalam bahaya.

__ADS_1


"Aku mungkin tidak mengenalnya tapi seperti janjiku pada tuan Dewanto, akan kulindungi mereka selama berada di atas kapal."


"Hei bodoh, buka pintunya," teriak Wisesa sambil memukul pintu kamar itu keras.


Mendengar teriakan Wisesa, semua penumpang kapal keluar kamar termasuk dua teman Wisesa lainnya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya temannya.


Yasa yang melihat Emmy berjalan mendekat tampak sedikit ketakutan, dia sudah melihat sendiri bagaimana kecepatan wanita itu.


"Aku tidak tau siapa kalian tapi sebaiknya jangan buat keributan di kapal ini atau aku akan bertindak," ucap Emmy dingin.


"Duarr," suara pintu hancur oleh pedang Wisesa mengejutkan semuanya termasuk Emmy.


"Sial, pemuda itu dalam bahaya," Emmy langsung bergerak menyerang Yasa, dia ingin segera menyelesaikan pertarungan untuk membantu pemuda itu.


Yasa menyambut serangan Emmy sambil mengumpat, dia tidak menyangka harus berhadapan dengan wanita yang tadi hampir membunuh Wisesa.


Namun saat Emmy hampir melumpuhkan lawannya, Wisesa tiba tiba terlempar keluar dengan sebagian tubuhnya membeku.


"Jurus es?" tubuh Emmy bergetar hebat, dia mulai menebak nebak siapa pria di dalam kamar itu dan mengapa selama ini begitu tertarik pada pemuda itu.


"Setelah sekte tapak es utara hancur, selain Tari dan Gusti ratu, yang menguasai jurus itu adalah...," suara nafas Emmy terdengar menderu, dia berjalan mendekati kamar itu dan tidak menghiraukan lagi Yasa yang menatapnya takut.


"Apa mungkin?" pertanyaan itu terus berputar dikepalainya, air mata mulai menetes dari mata indahnya.


"Ah sial, aku benar benar benci dengan laut," umpat pemuda dari dalam kamar, tak lama terdengar suara berlari dan orang sedang muntah.


Wajah Emmy menjadi pucat, dia sangat mengenal jelas suara pemuda itu, suara yang selama beberapa purnama ini sangat ingin didengarnya.


"Apa aku bermimpi?" Emmy berhenti di depan kamar dan mematung melihat punggung seorang pemuda yang sedang muntah.


"Yang mulia?" Dewanto dan beberapa temannya ikut bingung saat mendengar Emmy menyebut Yang mulia.


Sabrang yang terus mengeluarkan isi perutnya tak kalah terkejut setelah mengenali suara Emmy, dia menoleh cepat kearah suara itu.


"Emmy?" ucap Sabrang tak percaya.


"Mengapa...mengapa anda tidak segera kembali ke keraton... hamba... hamba," Emmy terus terisak, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Hatinya saat ini sedang campur aduk, ada rasa lega tapi juga marah pada pria yang dicintainya itu.


Sabrang menatap wanita itu lembut, ada rasa bersalah dalam hatinya saat melihat tangis Emmy pecah.


"Aku bukan tidak ingin kembali tapi tidak bisa, aku terbangun disebuah gunung dengan tubuh penuh luka, butuh waktu lama untuk memulihkannya," balas Sabrang lembut.


"Terluka?" tanya Emmy terkejut.


"Wanita sialan, kau memang pembawa sial," Wisesa yang menganggap semua masalah bersumber dari Emmy langsung bergerak menyerang saat bongkahan es yang menyelimutinya mencair, dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Emmy yang sedang berlutut tampak tidak siap dengan serangan itu, sebuah pedang yang sangat tajam sudah berjarak sejengkal dari lehernya.


"Tak akan kubiarkan kalian menyentuhnya," hembusan angin tiba tiba terasa di wajah Emmy sebelum sebuah pelukan mendarat ditubuhnya.


Sabrang mencengkram pedang Wisesa dengan tangannya, dia mengalirkan tenaga dalam yang membuat pedang Wisesa hancur menjadi serpihan debu dalam sekejap.


Sabrang kemudian melepaskan energi Anom untuk melempar tubuh Wisesa menjauh.


"Yang mulia?" Emmy terlihat terkejut dengan kecepatan Sabrang, dia sangat yakin beberapa detik lalu Sabrang masih berdiri jauh di dalam kamar.


"Tenanglah, tak akan ku biarkan ada yang menyakitimu," ucap Sabrang lembut.


"Ilmu apa yang digunakannya?" Wisesa menatap Sabrang takut, selama ini dia belum pernah mendengar seorang pendekar mampu menghancurkan pedang dengan tenaga dalam.

__ADS_1


"Kakang?" ucap Yasa pelan.


"Kita kembali ke kamar, dia bukan tandingan kita," ucap Wisesa cepat sambil melangkah meninggalkan Sabrang.


"Yang mulia, maaf terlambat mengenali anda," Dewanto langsung berlutut dihadapan Sabrang, diikuti pedagang lainnya.


Dewanto sebenarnya sudah merasa mengenal Sabrang saat berpapasan ketika menaiki kapal tapi dia tidak menyangka jika pemuda itu adalah seorang raja.


Dewanto memang pernah melihat Sabrang beberapa kali tapi itupun sambil menundukkan kepala saat rombongan keraton melintas di jalan ibukota, itulah sebabnya dia tidak terlalu mengenalinya.


"Tidak perlu meminta maaf paman," jawab Sabrang lembut.


***


"Suku Hutan Dalam dibantai oleh prajurit kuil suci?" tanya Sabrang terkejut saat mendengar ucapan Emmy.


Emmy yang tertidur dipangkuan Sabrang mengangguk pelan, "Nona Leny mendatangi keraton beberapa hari lalu dan meminta bantuan, lalu hamba memutuskan memeriksa lereng gunung Indrapura untuk mencari tau apa yang membuat mereka mengincar Suku Hutan dalam."


"Jika memang benar pasukan kuil suci milik Arkantara yang menyerang Suku Hutan Dalam, itu akan menjadi sangat aneh karena tidak ada apapun yang bisa direbut dari mereka."


"Itulah yang juga membuat paman Wardhana bingung, tak pernah sekalipun suku hutan dalam berurusan dengan mereka," jawab Emmy sambil merubah posisi tidurnya yang tanpa dia sadari pakaiannya sedikit tersingkap.


Sabrang menarik nafas panjang dan mengarahkan belaian tangannya ke leher Emmy sebelum jemarinya mulai menelusup kedalam pakaian.


Emmy yang sudah mengerti maksud Sabrang hanya memejamkan mata seolah menikmati setiap sentuhan lembut di tubuhnya. Nafasnya mulai menderu mengikuti detak jantung yang semakin cepat seolah ingin keluar dari tempatnya.


"Kau terlihat semakin cantik Emmy," ucap Sabrang hangat, dia mulai membuka pakaian Emmy satu persatu sebelum menyergapnya.


***


Kerajaan Arkantara terletak di sebuah dataran tinggi yang berdekatan dengan sebuah danau raksasa bernama Toba.


Kerajaan yang maju pesat dalam beberapa tahun terakhir itu awalnya hanya sebuah kerajaan kecil yang hidup damai dengan sebagian penduduknya bercocok tanam namun sejak pangeran Saragi Naik tahta menggantikan ayahnya dan kemunculan pasukan kuil suci, suasana kota itu mulai berubah.


Saragi memerintah Arkantara dengan tangan besi, dia tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan lebih memilih memperkuat pasukan tempurnya untuk memenuhi ambisinya menguasai daratan Nuswantoro.


Beberapa menteri ayahnya dulu dihukum mati jika menentang keinginannya untuk menguasai Nuswantoro.


Pangeran Saragi sebenarnya adalah raja yang baik sebelum terhasut oleh para pasukan kuil suci yang sepertinya memiliki agenda tersembunyi dibalik ambisi menguasai Nuswantoro.


Seorang pemuda yang bernama Agam Argani yang berjuluk pendekar angin timur adalah pemimpin tertinggi Pasukan kuil suci, dia kini menjabat sebagai patih Arkantara yang diberi kekuasaan besar oleh pangeran Saragi.


Pangeran Saragi bahkan mengijinkan Agam untuk membangun ruangan terpisah dari bangunan keraton sebagai pusat pelatihan semua prajurit Arkantara.


Ditempat itulah dia mengatur semua strategi perang ketika Saragi ingin menaklukkan sebuah kerajaan.


"Ketua, para pendekar yang pergi ke lereng Indrapura telah kembali," lapor seorang pendekar muda pada Agam Argani.


"Apa mereka membawa yang aku minta?' tanya Agam pelan.


"Seperti yang anda perkirakan ketua, pusaka itu berada di lereng Indrapura namun suku Hutan Dalam tidak menyadari jika pusaka itu tersembunyi di sana," jawab pemuda itu cepat.


"Bagus, satu persatu pusaka dewa telah ditemukan, kini hanya tersisa tiga lagi untuk membangkitkan dia. Kirim beberapa pendekar tangan suci ke daratan Jawata dan Celebes dan cari dimana kemungkinan pusaka itu berada," perintah Agam.


"Baik ketua," pendekar itu menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


"Ayah, bersabarlah sedikit lagi, aku akan membangkitkan ayah," ucap Agam dalam hati sambil mengalirkan tenaga dalam ke tangan kanannya. Perlahan namun pasti sebuah pedang berwarna putih muncul ditangannya.


\=\=\=\=\=


Bonus Chapter besok mblo untuk malam minggu... Udah gak ada pasangan, gak ada bacaan pula... ntar gila kan repot.. sekarang VOTE dulu aja...

__ADS_1


__ADS_2