
Danau Teratai adalah sebuah danau purba yang terletak di dekat kaki bukit Setumbu dan Bukit menoreh.
Letaknya yang cukup sulit dijangkau dan sebagian danau sudah tertutupi abu dan lahar muntahan gunung merapi membuat danau yang menjadi saksi munculnya kitab Sabdo Loji di dunia persilatan seperti dilupakan.
Saat sebagian orang sudah melupakan jika di dekat tempat pembunuhan Mandala itu ada sebuah danau, Agam justru berniat mendatangi danau purba itu.
Agam menghentikan langkahnya sejenak saat sudah berada di kaki bukit Setumbu, dia berusaha mengingat kembali letak pasti danau Teratai itu. Setelah yakin tidak salah arah, dia melanjutkan kembali perjalanan masuk kedalam hutan yang berada dekat di kaki bukit.
Suasana lembab mulai terasa saat Agam semakin masuk kedalam hutan, suasana semakin gelap saat sinar matahari tak lagi mampu menembus rimbunnya pohon pohon raksasa hutan itu.
Setelah berjalan cukup lama di dalam hutan, Agam akhirnya menemukan danau purba yang dicarinya.
Dia cukup takjub saat melihat danau itu, walau sebagian sudah terkubur bebatuan dan abu akibat letusan gunung Merapi, danau Teratai masih terawat dengan baik seolah ada yang tinggal di tempat itu.
"Benar dugaanku, mereka masih bersembunyi di tempat ini," ucap Agam sambil tersenyum.
Agam kemudian membuat perapian di pinggir danau dan mengambil beberapa lembar dedaunan untuk tempatnya beristirahat.
Cukup lama Agam duduk sambil menatap danau itu sebelum sebuah aura tiba tiba menekan tubuhnya.
Agam tersenyum kecil sambil memegang gagang pedangnya, walau dia berusaha terlihat tenang namun tanpa disadari tubuhnya telah basah oleh keringat dingin.
Agam tidak menyangka mereka bisa semakin kuat setelah pertemuan terakhir beberapa hari sebelum Mandala terbunuh.
"Bagaimana mereka bisa menyembunyikan kekuatan sebesar ini," Agam bangkit dari duduknya dan menundukkan kepala memberi hormat kearah danau purba itu.
"Aku datang dengan damai, dan jika diizinkan aku ingin bertemu dengan tuan Hanggareksa," ucap Agam sopan.
"Pergilah! kami tidak menerima orang luar," sebuah suara tiba tiba menggema di seluruh hutan.
"Maaf tuan, aku benar benar ingin bertemu dengan tuan Hanggareksa untuk membicarakan kejadian di bukit Menoreh ribuan tahun lalu. Namaku adalah Agam, anak dari Mandala yang terbunuh secara keji di puncak Bukit itu," balas Agam.
Suara misterius itu tidak terdengar lagi untuk beberapa saat sebelum sebuah kabut tebal dengan bau belerang yang sangat menyengat tiba tiba menyelimuti hutan.
Agam langsung mengalirkan tenaga dalamnya saat nafasnya mulai tidak beraturan, kabut putih dengan bau belerang itu seolah menyerap tenaga dalamnya perlahan.
"Segel langit? mereka masih menggunakan segel kuno ini untuk menutupi bangunan itu," ucap Agam dalam hati.
Tak lama, perlahan namun pasti kabut putih itu mulai menghilang. Agam yang terus memperhatikan danau itu tampak takjub saat sebuah bangunan megah yang mulai terlihat di tengah danau saat kabut menghilang.
"Kuil Kayangan, tempat ini selalu membuatku kagum akan keindahan dan kemegahannya," ucap Agam takjub.
Sebuah jembatan dari bebatuan tampak berjajar rapih dari pinggir danau sampai ke bangunan megah itu.
Agam kembali memberi hormat saat melihat seorang pria berdiri di atas bangunan bersama sepuluh pendekar.
"Terimalah hormat hamba tuan Hanggareksa," ucap Agam sambil menunduk.
Seorang pendekar memberi tanda pada Agam untuk mendekat dan naik ke puncak Kuil Kayangan.
Agam mengangguk pelan, dia berjalan hati hati dan menaiki bangunan megah itu.
"Senang bisa bertemu lagi dengan anda tuan," sapa Agam saat sudah berada dihadapan Hanggareksa.
"Jadi kau benar benar anak Mandala?" tanya Hanggareksa dingin.
"Benar tuan," jawab Agam singkat.
"Cepat katakan ada perlu apa kau denganku? jika kau ingin menarik kami ke dunia persilatan seperti yang coba ayahmu lakukan dulu maka lupakan! Pendekar Kalang hanya bertugas menjaga kuil khayangan ini dari tangan tangan kotor kalian!" bentak Hanggareksa.
"Ayah sangat mengagumi anda tuan, walaupun memilih cara yang berbeda dengan terjun ke dunia persilatan tapi apa yang dilakukan ayah juga untuk melindungi tempat ini. Sangat disayangkan dia tewas dengan cara licik sebelum keinginannya terwujud.
Namun situasi kini berbeda tuan, Dewa Api telah bangkit di tangan seorang pemuda yang berambisi menguasai dunia. Anda adalah orang yang paling mengerti seberapa besar kekuatan Dewa api. Apakah para pendekar Kalang mampu menghadapinya saat dia menyadari jika semua misteri Sabdo Loji terkubur di dasar Kuil khayangan?" jawab Agam pelan.
"Kau? bagaimana kau tau jika sesuatu tersembunyi di dasar kuil ini?" Hanggareksa tampak terkejut karena seharusnya yang mengetahui rahasia itu hanya suku pendekar kalang.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa yang disembunyikan di dasar danau ini namun beberapa petunjuk berhasil kutemukan di kitab Sabdo Loji ada kaitannya dengan Dewa api dan peradaban terlarang.
Aku adalah anak dari Mandala yang juga mengagumi anda, jadi tugas kita sama, melindungi kuil khayangan dari tangan tangan serakah. Bantu aku menghentikan Dewa api yang saat ini bersemayam di dalam tubuh seorang raja Malwageni maka aku akan menyerahkan hidupku untuk menjaga Kuil Khayangan," ucap Agam sopan.
"Melindungi kuil khayangan dari tangan tangan serakah? kau membuatku tertawa nak. Bukankah ayahmu adalah sumber semua kekacauan ini saat menemukan kitab Sabdo loji yang lama hilang?" balas Hanggareksa sinis.
Agam terkekeh setelah mendengar ucapan Hanggareksa, dia benar benar terkejut orang dihadapannya menyalahkan ayahnya tanpa beban.
"Bukankah kita semua telah melakukan kesalahan besar tuan? lupakan kesalahan masa lalu dan kita perbaiki bersama," balas Agam.
"Apa maksudmu kami melakukan kesalahan?" tanya Hanggareksa tajam.
"Aku hanya menebak, jika rahasia besar Sabdo Loji terkubur di Kuil khayangan seharusnya kitab itu juga berada di sini bukan? lalu bagaimana kitab itu bisa berada di danau Sidihoni?
Atau jangan jangan, seseorang dari pendekar Kalang berkhianat dan membawa lari kitab itu dan bersembunyi di danau Sidihoni. Bukankah itu juga suatu kesalahan?" balas Agam cepat.
Hanggareksa terdiam, bayangan wajah adik kesayangannya kembali muncul dalam ingatan. Bagaimana adik yang paling dipercaya olehnya tega mencuri kitab yang seharusnya mereka jaga seumur hidup itu.
"Kau benar benar pandai bersilat lidah Agam, jika aku tidak memandang ayahmu dulu, sudah kubunuh kau!" jawab Hanggareksa kesal.
"Maaf jika semua perkiraanku ini menyinggung anda tuan, aku hanya ingin mengatakan jika kita semua memiliki kesalahan di masa lalu. Ayah sebenarnya ingin mengembalikan kitab itu ketempat nya semula tapi mungkin dia dibutakan oleh ambisi.
Aku datang dengan maksud baik, mengajak anda untuk memperbaiki kesalahan dan mengembalikan kitab Sabdo Loji yang di curi oleh Raja Malwageni ke tempatnya semula. Aku sangat menghargai jika pendekar Kalang tidak ingin terlibat ke dalam dunia persilatan tapi jika anda diam dan membiarkan anak itu semakin kuat maka Dewa api tak akan bisa dihentikan," balas Agam.
Hanggareksa tampak berfikir sejenak, dia mulai terpengaruh oleh tipu muslihat dan hasutan Agam.
Hanggareksa tidak menyadari jika sedang dimanfaatkan oleh Agam untuk memuluskan ambisinya menguasai dunia.
"Dimana sekarang anak itu berada?" tanya Hanggareksa.
"Aku beluk tau, kabar yang kudengar dia tewas di reruntuhan Gunung padang namun aku yakin itu hanya siasatnya. Mungkin saat ini dia bersembunyi di suatu tempat sambil menjalankan rencananya."
"Bersembunyi? kita akan lihat apa dia bisa bersembunyi dari segel langit milikku. Pergilah, jangan ikut campur urusan kelompok pendekar Kalang karena aku sendiri yang akan membunuh anak itu. Tapi, jika kau membohongiku maka kau yang akan kubunuh," ucap Hanggareksa.
Agam mempercepat langkahnya saat kabut putih kembali muncul dan saat dia menoleh, Kuil Khayangan yang tadi berdiri megah hilang seketika. Hanya danau purba yang ada dihadapannya.
"Sepertinya tugasku sedikit ringan kali ini berkat bantuan pendekar Kalang," ucap Agam sambil melangkah keluar hutan.
"Anda percaya padanya tuan?" ucap salah satu pendekar Kalang pada Hanggareksa setelah Agam pergi.
"Aku tidak tau tapi apa yang dikatakannya benar, kita memiliki tanggung jawab karena keserakahan adikku yang membawa lari kitab itu. Cepat, gunakan segel langit untuk mencari tau dimana Dewa api berada, kita harus mengambil kitab itu kembali," perintah Hanggareksa.
"Baik tuan," pendekar itu kemudian duduk dan mulai memejamkan matanya.
Kabut putih tampak membumbung di udara sebelum menyebar dengan cepat terbawa angin. Setelah cukup lama bersemedi, pendekar itu membuka matanya.
"Air terjun, aku merasakan energi Dewa api berada di dekat air terjun yang tertutup oleh suatu segel tuan," ucap pendekar itu.
"Apa kau tau di mana letaknya?" tanya Hanggareksa cepat.
Pendekar itu mengangguk cepat, "Sepertinya di sebuah hutan yang sangat rimbun."
"Baik kita pergi sekarang, bawa beberapa pendekar Kalang Api. Sepertinya pertarungan kali ini akan sedikit sulit karena lawan kita adalah Dewa Api," ucap Hanggareksa cepat.
"Baik tuan."
***
"Apa terjadi sesuatu kek?" tanya Sabrang bingung saat Darin tiba tiba menghentikan pertarungan mereka.
"Untuk sesaat, aku seperti mencium bau belerang yang menyengat. Cukup aneh karena tempat ini jauh dari gunung Api," jawab Darin pelan, dia terus memperhatikan sekitarnya.
"Bau belerang? aku tidak mencium apa apa?"
"Tidak aku yakin menciumnya, sepertinya ada yang tidak beres. Untuk sementara kita hentikan dulu latihannya karena kau sudah menguasai jurus pedang Sabdo Palon tingkat empat. Besok pagi kita lanjutkan kembali," Darin bergegas pergi keluar Air terjun lembah pelangi untuk memeriksa keadaan.
__ADS_1
Sabrang hanya menatap kepergian Darin bingung sambil berusaha mencium sesuatu.
"Bau belerang?" ucapnya bingung.
"Maaf Yang mulia, kami harus kembali ke keraton untuk mempersiapkan pertemuan dengan utusan Arkantara," ucap Arung pelan.
"Kalian akan pergi semua?" tanya Sabrang saat melihat Emmy, Candrakurama ikut berpamitan.
"Maaf Yang mulia, aku ingin melihat pangeran Sutawijaya dan mengunjungi Gusti ratu sebentar, mungkin besok atau lusa sudah kembali kesini. Anda tak perlu khawatir karena tetua Wulan yang akan menjaga paman sementara aku pergi," jawab Emmy pelan.
"Baik, berhati hatilah dan jangan sampai terlihat utusan Arkantara karena wajahmu sudah dikenali," balas Sabrang.
"Kami mohon diri Yang mulia," ucap mereka bersamaan sebelum melangkah pergi.
Setelah kepergian mereka, Sabrang memutuskan bersemedi di dekat air terjun untuk memulihkan tenaganya setelah berlatih bersama Darin.
Satu yang akhirnya di sadari Sabrang setelah berlatih ilmu pedang Sabdo Palon tingkat empat, semakin tinggi tingkatan jurus pedang itu semakin membutuhkan tenaga dalam yang besar.
"Jangan terlalu dipaksakan atau tubuhmu akan terluka, kau sudah menggunakan terlalu banyak energiku dalam latihan tadi," ucap Naga Api dalam pikiran Sabrang.
"Benarkah? jawab Sabrang bingung, dia tidak sadar telah menggunakan energi Naga api sedikit berlebihan karena setiap gerakan pedang dari kitab Sabdo Palon seolah membiusnya dan memaksanya untuk terus bergerak.
Ketika malam semakin larut dan tenaga dalamnya mulai pulih, Sabrang merasakan ada sesuatu yang mendekat.
"Ada yang mendekat," ucap Anom tiba tiba saat merasakan energi besar di kejauhan.
"Jadi kau merasakannya juga Anom, sepertinya bau belerang yang tadi dikatakan kakek Darin berasal dari orang itu," Sabrang menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat satu untuk menarik energi Naga Api kembali dan bersiap dengan segala kemungkinan.
"Gawat, di tempat ini hanya aku dan guru Wulan dan tetua Darin yang tersisa," ucap Sabrang khawatir.
Bukan dirinya yang dikhawatirkan Sabrang saat ini, tapi jika pendekar misterius itu berniat tidak baik, dia memikirkan kondisi Wardhana.
"Semoga mereka bukan para pendekar kuil suci."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kuil Khayangan adalah tempat fiktif yang saya buat karena terinspirasi dari CANDI Borobudur. Kenapa saya tidak menyebutkan langsung nama candi itu? karena Candi Borobudur adalah peninggalan sejarah. Jadi jika saya memasukkan nama borobudur saya tidak bisa terlalu leluasa mengeksplor tempat yang ditinggali oleh Pendekar Kalang.
Jadi jika kalian ingin mendapatkan gambaran tentang bentuk Kuil khayangan kalian bisa membayangkan candi borobudur.
Letak dan bentuknya saya buat hampir mirip dengan Candi borobudur yang konon berada di tengah danau purba.
Sedikit gambaran tentang Candi borobudur yang menjadi inspirasi saya.
Ada banyak ahli yang menduga dulu di sekitar Candi Borobudur terdapat sebuat danau besar. Nah di tengah danau ada gundukan semacam gunung yang kemudian dibangun Candi Borobudur. Karena jika diamati secara jeli memang posisi candi tersebut tidak seperti candi pada umumnya.
Borobudur diperkirakan dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (869 ft) dari permukaan laut dan 15 m (49 ft) di atas dasar danau purba yang telah mengering.
Borobudur diperkirakan dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur).
Danau purba itu hilang diperkirakan karena terkubur oleh abu dan muntahan Magma gunung merapi. (Sumber : Google)
Nah PNA terinspirasi dari megahnya bangunan Candi Borobudur dalam memunculkan Kuil Khayangan sebagai tempat yang menyembunyikan rahasia besar atau inti cerita dari Trilogi Naga Api.
Terakhir, di malam yang penuh penderitaan bagi para pendekar tuna asmara ini gua mau kasih pantun spesial buat para Jomblo
Naik delman duduk di Muka
Pulangnya beli kuaci
Hei Jomblo yang hatinya sering terluka
Itu hati apa pepesan tahu basi? kok gak pernah ada yang ngisi?
Chapter Bonus malam ini tergantung lamanya Review dari MT .... jadi Vote aja dulu....
__ADS_1