Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Demi Sebuah Ambisi


__ADS_3

Rubah Putih akhirnya menyelam lebih dulu untuk melihat ujung dari jurang itu, pengalamannya berada di sisi gelap alam semesta membuatnya bisa menahan nafas cukup lama.


Setelah menyelam selama hampir dua puluh menit, Rubah Putih kembali muncul dengan wajah berseri.


"Apa kau melihat ujung jurang ini?" tanya Wulan penasaran.


"Aku bukan hanya melihat kemana jurang ini berakhir namun kalian tidak akan percaya dengan apa yang kulihat. Sebuah peradaban kuno yang sangat maju dan indah terhampar luas diujung jurang ini," jawab Rubah Putih yang membuat semuanya tampak bersemangat.


Perjuangan mereka selama ini seolah terbayar setelah mendengar ucapan Rubah Putih.


"Sebaiknya kalian mengambil nafas panjang, tepat didasar jurang ini ada sebuah lorong kecil yang akan membawa kita kesebuah sungai, tak ada tempat untuk mengambil nafas didasar sana," ucap Rubah Putih memperingatkan.


Setelah semuanya mengambil nafas yang cukup panjang, Rubah Putih mulai menyelam diikuti yang lainnya.


Mereka terus bergerak ke dasar jurang sampai sebuah lubang seukuran tubuh orang dewasa menyambut mereka. Rubah Putih menunjuk lubang itu sebelum masuk kedalamnya.


Wardhana mengikuti dibelakangnya sambil menatap sisi lubang yang berlapis emas dengan pahatan pahatan yang sangat indah.


"Jadi memang benar ada sebuah peradaban tersembunyi didalam jurang ini?" gumamnya dalam hati.


Setelah berenang cukup lama di dalam lubang itu, sebuah sinar tampak dari ujung lubang.


"Inilah saatnya, apa yang sebenarnya disembunyikan di dalam gunung ini," Wardhana muncul dari dalam air bersama yang lainnya, dia dan Ciha tampak terbatuk-batuk karena terlalu lama menahan nafas didalam air.


Semua tampak takjub melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka, tak ada satupun yang mencoba bicara untuk beberapa saat, semua seolah terbius dengan pemandangan indah yang terbentang.


Pepohonan hijau dan padang rumput tampak tersusun rapih diantara bangunan menjulang yang semuanya terbuat dari emas.


Sebuah tulisan GROPAK WATON yang sangat besar disalah satu bangunan yang paling tinggi terpampang jelas.


Namun pemandangan indah itu sedikit ternodai dengan tumpukan tulang manusia yang semuanya telah hancur.


Wardhana sedikit mengernyitkan dahinya sambil menatap bangunan tinggi dihadapannya.


"Posisi bangunan ini sama persis dengan gambar di dinding gua tadi," gumamnya dalam hati.


Wulan berjalan kearah tumpukan tengkorak yang berada tak jauh dari sungai.


"Sepertinya mereka semua dibantai dengan sangat kejam, tak ada satupun tulang mereka yang utuh, apa mungkin para pemimpin dunia yang melakukannya?" ucap Wulan pelan.


"Aku belum tau namun tempat ini benar benar menarik," Wardhana menatap kearah sinar matahari yang sudah berada di atas kepala mereka.


"Jika matahari ini sama dengan yang dilihat diluar sana, lalu dimana letak tempat ini sebenarnya? kita semua masuk kedalam gunung dan menyelam sampai sini," ujar Wardhana bingung.

__ADS_1


Saat yang lainnya sibuk dengan pikirannya masing masing, Wardhana tiba tiba berjongkok sambil menggambar sesuatu di tanah.


Dia menggambar lingkaran lingkaran kecil sambil sesekali menatap bangunan megah yang terbuat dari emas itu.


"Kalau tidak salah, sembilan bangunan yang rusak di dinding gua tadi adalah ini," Wardhana memberi tanda silang pada sembilan lingkaran yang dia gambar.


"Kenapa hanya sembilan bangunan ini yang rusak? apa ada yang merusaknya? lalu untuk apa?"


"Bangunan itu tidak menua sama sekali, tak ada sedikitpun yang rusak, semua seolah baru saja dibangun," gumam Rubah Putih kagum.


"Sebaiknya simpan dulu rasa kagummu, kita tidak tau apa yang sedang kita cari dan jika harus memeriksa seluruh bangunan ini akan memakan waktu lama," ucap Wulan pelan.


"Tak perlu mencari kesemua tempat ini tetua, hanya ada satu tempat yang sepertinya harus kita datangi," jawab Wardhana tiba tiba.


Wulan dan Rubah putih menoleh bersamaan dengan wajah bingung.


"Anda ingat gambar di dinding gua tadi? aku mencoba menggambarkan letak bangunan yang kuingat. Ada sembilan bangunan dalam gambar itu yang rusak, jika aku tidak salah ingat posisi sembilan bangunan ada disini dan jika semua bangunan itu digaris tarik lurus maka akan bertemu di titik ini," Wardhana mulai menarik garis penghubung diantara sembilan bangunan dan tepat ditengah antara bangunan itu seluruh garis itu bertemu.


"Jadi menurutmu gambar itu sebuah pesan?" tanya Rubah Putih.


"Benar, aku yakin seseorang membuat pesan itu untuk membimbing ke suatu tempat," ucap Wardhana.


"Kau benar benar menarik, jadi kita hanya perlu ketitik itu? silahkan tunjukkan jalannya," ucap Rubah Putih mempersilahkan Wardhana untuk jalan lebih dulu.


"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan namun selama itu untuk menghancurkan Masalembo aku akan diam. Aku masih mengingat ancaman yang kau katakan saat berada di atas jurang tadi, jika masalah dengan Masalembo selesai aku pastikan akan membongkar siapa kau sebenarnya," ucap Wardhana sambil berjalan.


"Aku akan menantikannya dengan senang hati," jawab Rubah Putih.


Wulan tampak memperhatikan gerakan dua orang itu yang sedikit aneh.


"Apa ada masalah?" tanya Wulan penasaran.


"Tidak ada sama sekali, kami hanya saling tertarik satu sama lain," balas Rubah putih sambil tersenyum.


***


"Kalian benar benar kejam, semua kebaikan yang kami berikan selama ini kalian balas dengan membantai seluruh penduduk kota. Apa salah mereka? jika kalian menginginkan semuanya ambilah!" teriak seorang pria sambil menatap tajam tiga orang pendekar yang mengepungnya.


"Kau pikir aku bodoh? jika aku melepaskan kalian semua, suatu saat kalian akan menjadi penghalang," jawab salah satu dari tiga pendekar itu.


"Kami tak pernah sedikitpun memiliki niat meninggalkan tempat ini, jika kau meminta semuanya baik baik maka akan kuberikan, tak perlu membunuh mereka semua," ucap pria itu geram.


Dia menoleh kesekelilingnya, terlihat tumpukkan mayat berserakan dimana mana. Wajahnya kembali mengeras saat melihat anak dan istrinya ada diantara tumpukan itu.

__ADS_1


"Tak ada niat katamu? kalian memiliki segalanya, ilmu pengetahuan, kitab kanuragan tingkat tinggi dan pusaka pusaka yang mengerikan, hanya masalah waktu sampai ambisi merasuki kalian.


Namun kami berbeda, kami akan gunakan seluruh ilmu pengetahuan dan kanuragan untuk memastikan dunia baru. Dunia yang tidak akan ada lagi permusuhan dan saling bunuh, kami akan memastikan semua tunduk pada aturan yang kami buat," jawab pendekar itu.


"Memastikan tidak ada lagi saling bunuh katamu? lalu apa yang kalian lakukan pada mereka?" teriak pria itu sambil menunjuk mayat mayat yang berserakan disekitarnya.


"Akan selalu ada pengorbanan untuk sebuah perubahan, termasuk orang tuaku yang dibunuh di hadapanku. Kalian harusnya bersyukur karena kematian kalian adalah awal dari dunia baru yang damai. Sebaiknya kau tidak melawan agar kematian yang kau terima tidak terasa sakit, bagaimanapun kau berjasa padaku saat menemukanku di gua itu," balas pendekar itu sambil memberi tanda pada dua temannya untuk bersiap.


"Kau benar benar sudah gila, akan kupastikan kau tidak keluar dari sini satu langkah pun," pria itu langsung bergerak menyerang dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Luka ditubuhnya membuat gerakannya sedikit melambat sehingga memudahkan lawannya melumpuhkannya.


Sebuah pedang tiba tiba menghujam tubuhnya sampai tembus ke punggungnya.


"Kau? bagaimana kau bisa menguasai jurus terlarang itu?" ucap pria itu tersentak kaget.


"Satu perbedaan diantara kita, kami memiliki bakat yang jauh lebih besar darimu. Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak melawan namun kau yang memaksaku. Sekarang matilah dengan tenang, aku berjanji untuk merubah semua tatanan hidup dunia persilatan demi dirimu, guru," ucap pendekar itu lirih sambil mencabut pedang pusakanya dari perut pria itu.


"Maafkan ayah nak, hiduplah demi Gropak Waton, aku yakin suatu saat akan ada seseorang yang akan menghentikan mereka semua, ayah percaya ramalan itu benar," gumam pria itu dalam hati sesaat sebelum nyawanya melayang.


Seorang anak kecil tampak menatap dari jauh sambil menahan tangis, lengannya menggenggam pedang kayu dengan erat.


"Ayah!" ucapnya pelan.


"Ayah!" seorang pria berpakaian lusuh dengan rambut panjang yang tidak terawat terbangun dari tidurnya. Dia menatap kosong sebuah ruangan pengap yang hanya diterangi api kecil disudut ruangan.


"Suatu saat akan ku bunuh kalian," ucapnya geram, dia bangkit sambil menyambar pedangnya dan melangkah keluar.


Namun tiba tiba dia menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu.


"Ada yang datang? bagaimana mungkin?" gumamnya dalam hati.


Pria itu langsung bergerak keluar perlahan dan dengan lincah menaiki sebuah bangunan yang cukup tinggi.


Wajahnya berubah seketika saat melihat lima orang berjalan mendekati bangunan yang selama ini dia tempati.


"Siapa mereka sebenarnya?" pria itu terlihat berfikir sejenak sebelum bersembunyi disebuah bangunan sambil terus mengamati tamu tak diundang itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Saya Mohon maaf jika dua hari ini update Pedang Naga Api sedikit terlambat karena beberapa hal.


Besok saya akan usahakan PNA update sore hari seperti biasanya...


Terima kasih atas semua dukungannya selama ini dan tetap VOTE novel kesayangan kita ini....

__ADS_1


__ADS_2