Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sebuah Pernyataan Cinta


__ADS_3

Sabrang masih belum menarik auranya, dia justru terus melepaskan aura yang jauh lebih besar untuk memperingatkan Krisna dan puluhan murid sekte Api daj Angin untuk tidak bergerak dari tempatnya.


Bebatuan mulai melayang disekitarnya, bahkan beberapa pahatan batu yang ada dipinggir sungai ikut tercabut.


Semua terdiam tak bergerak, bahkan beberapa murid sekte Api dan angin yang tidak kuat menerima tekanan aura Sabrang kehilangan kesadarannya dan roboh ketanah.


Arung, Mentari dan yang lainnya ikut terkena efek tekanan aura itu, mereka terus mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh untuk meringankan efek tersebut.


"Tubuhku bahkan terasa bergetar untuk pertama kalinya saat berhadapan dengan musuh" gumam Krisna sambil memberi tanda yang lainnya untuk tidak menyerang. Menyerang Sabrang hanya akan mengantarkan mereka pada kematian.


"Tak ada sedikitpun keraguan dalam diriku untuk membunuh kalian semua detik ini juga namun aku juga tak ragu untuk bicara baik baik" ancam Sabrang sambil menciptakan ribuan energi keris didekat mereka semua. Sabrang hanya perlu menggerakan satu tangannya untuk melubangi mereka semua.


"Apa yang ingin anda bicarakan denganku?" balas Krisna. Dia memutuskan untuk mengikuti kemauan Sabrang demi menghindari korban berjatuhan.


"Paman bicaralah" perintah Sabrang.


Wardhana melangkah maju dengan canggung, situasi yang dihadapinya belum dapat dikatakan mereda. Pertempuran bisa terjadi kapan saja jika dia salah bicara.


Wardhana menundukkan kepalanya sebelum mulai bicara.


"Kami datang hanya untuk menghentikan sesuatu yang mengerikan, Telaga khayangan api atau kitab paraton hanya permainan mereka untuk memgalihkan perhatian kita. Kuharap anda dapat bekerja sama karena kita bisa menjadi teman andai situasi ini bisa kita kendalikan bersama".


"Mereka?" Krisna mengernyitkan dahinya.


Wardhana mulai menceritakan tentang Masalembo dan permainan mereka selama ini yang menggunakan suku Iblis petarung dan pendekar langit merah untuk menciptakan misteri telaga khayangan api demi menutup daratan Masalembo.


"Awalnya tujuan kami memang mencari Telaga khayangan api namun aku menyadari sesuatu saat berada di Celebes. Kita semua dipermainkan dengan rencana sempurna mereka. Anda bisa memilih ikut permainan mereka atau membantu kami menghentikan kebangkitan para penguasa dunia, pilihan ada di tangan anda.


Kami akan melawan mereka dengan atau tanpa kalian, Malwageni tak akan pernah sudi tunduk pada siapapun karena itu yang dilakukan oleh leluhur Yang mulia".


"Jadi leluhurnya?," tanya Krisna pelan.


"Tuan Naraya Dwipa yang pertama kali membongkar Masalembo dan menyegel mereka saat mereka akan bangkit, dan kini tugas kami untuk menghancurkan mereka".


Krisna terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana. Dia tidak menyangka jika sektenya juga masuk dalam rencana mereka. Pertemuan dengan pendekar misterius saat terjadi kekacauan di Jawata juga merupakan rencana mereka.


Bangkitnya Banaspati oleh Suku Iblis Petarung juga rencana untuk mempersiapkan kebangkitan para penguasa dunia.


"Jadi selama ini kami tanpa sadar menjaga tempat ini untuk mereka?."


Wardhana mengangguk "Apa kalian akan diam jika ada yang menyerang sekte kalian?. Mereka memberikan kalian tempat ini untuk bersembunyi sekaligus menjaganya".

__ADS_1


"Jadi apa rencana kalian?" tanya Krisna setelah mendengar penjelasan Wardhana.


Wajah Wardhana terlihat mulai lega setelah mendapat jawaban dari Krisna. Dia bukan takut pada sekte Api dan Angin karena yakin Sabrang mampu mengalahkan mereka semua dengan beberapa kali serangan saja namun kemampuan Api dan angin mampu


menutupi kekurangan pasukan untuk menghadapi Masalembo.


"Di suatu tempat di sekte ini aku yakin ada ruang rahasia yang mereka gunakan untuk menutupi rahasia mereka, bantu kami temukan ruang rahasia itu dan kita hancurkan Masalembo".


"Baik kali ini aku akan membantumu namun bisakah kau minta Rajamu untuk menarik auranya? muridku banyak yang tak sadarkan diri.


Sabrang menoleh sesaat kearah Candrakurama yang sedang terluka parah sebelum menarik semua auranya.


"Kemampuanmu sangat mengerikan, tak banyak pendekar yang terluka mampu bertahan dari tekanan auraku. Aku seperti melihat diriku yang dulu dalam dirimu, terlalu cepat puas dengan kemampuanmu. Berlatihlah terus jika masih ingin menantang ku" ucap Sabrang sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Candrakurama bangun


Candrakurama tersenyum sinis "Aku biasanya tak pernah mau menerima masukan, namun bagi orang yang mengalahkan ku dalam hitungan menit aku anggap pengecualian," dia menyambut uluran tangan Sabrang.


"Ayo ikut denganku" ajak Krisna setelah situasi mereda.


Mahawira terlihat memapah tubuh kakak seperguruannya itu.


"Jangan terlalu dipikirkan kakang, aku yakin suatu saat kakang bisa mengalahkannya," Mahawira mencoba menghibur.


"Mengalahkannya?, dia bahkan hanya menggunakan separuh kekuatannya saat menghadapi ku. Bakat alami yang dimilikinya tak akan bisa kita kejar walau berlatih ribuan tahun namun kau tak perlu khawatir, aku menerima kekalahanku dari pendekar terkuat Nuswantoro. Pilihanmu mengajaknya berdamai sudah tepat, aku semakin yakin kau orang yang paling pantas menggantikan guru suatu saat".


"Beristirahatlah sebentar, nanti malam aku akan menemui kalian untuk membicarakan masalah ruang rahasia itu" Krisna menunjukkan beberapa kamar untuk mereka beristirahat.


"Terima kasih tuan" balas Wardhana sambil mendekati Sabrang.


"Mari ku antar ke kamar anda Yang mulia?" ucap Wardhana sopan.


Sabrang menggeleng pelan "Terima kasih paman, biar Mentari yang mengantarku. Ada yang ingin kubicarakan dengannya".


Mentari langsung mendekati Sabrang setelah mendengar ucapan Sabrang dan mengikutinya.


"Baik Yang mulia," jawan Wardhana kemudian.


Setelah masuk kedalam kamar, Sabrang mempersilahkan Mentari duduk.


"Maaf membuatmu terganggu, ada yang ingin aku katakan padamu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat namun aku harus mengatakannya sekarang karena mungkin pertarungan kita kali ini akan sangat berbahaya. Aku hanya ingin perasaan


"Mohon Yang mulia jangan berkata seperti itu, hamba tidak pernah merasa terganggu sama sekali".

__ADS_1


Sabrang mengangguk pelan, dia berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan sesuatu.


"Ibu telah menjodohkan ku dengan Tungga dewi, amanat ibu tak bisa aku tolak" Sabrang menghentikan ucapannya sesaat, wajahnya memerah dan seluruh tubuhnya terasa mau meledak. "Aku ingin kau mengetahui masalah ini karena aku sangat mencintaimu".


"Yang mulia" Wajah Mentari ikut memerah karena ini pertama kalinya Sabrang menyatakan cinta padanya.


"Kau marah padaku?" tanya Sabrang sambil menyentuh dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya.


Mentari menggeleng pelan "Hamba tak pernah marah pada anda Yang mulia karena Hamba sudah mengetahui latar belakang anda. Keegoisan hamba sebagai wanita biasa yang membuat hamba hilang akal dan mencintai Yang mulia".


Sabrang menggeleng pelan "Aku besar di sekte Pedang Naga Api, kita sama sama manusia biasa. Jangan pernah berfikir seperti itu padaku".


Air mata Mentari mulai mengalir dari matanya, dia merasa hari ini begitu bahagia. Orang yang sangat dicintainya membalas perasaannya tanpa perduli latar belakangnya.


"Aku sudah berfikir beberapa hari ini, saat mengetahui perjodohan itu aku sempat memikirkan jika Tungga dewi akan menjadi ratu Malwageni namun wasiat ibu hanya memintaku menikahinya," Sabrang memberanikan diri mengelus rambut Mentari. "Jadilah Ratuku", ucap Sabrang.


Mentari tersentak kaget saat mendengar ucapan Sabrang, dia benar benar tidak menyangka kata kata itu keluar dari mulut Sabrang.


Mentari menggeleng pelan "Hamba tidak berani Yang mulia, gaun yang anda berikan sudah cukup bagi hamba untuk membuktikan bahwa anda mencintai hamba".


"Tidak, aku sudah memutuskan kau akan menjadi Ratu Malwageni".


"Yang mulia, mohon anda mengerti. Hamba sudah memutuskan untuk mengabdi pada anda sebagai selir. Hamba hanya meminta Yang mulia tetap mencintai hamba selamanya, hanya itu yang wanita biasa ini minta dari Yang mulia".


"Tapi aku sudah memutus....." belum selesai Sabrang bicara Mentari sudah memeluk tubuhnya. Gadis itu menangis sejadi jadinya dipelukan Sabrang.


"Biarkan semua berjalan apa adanya Yang mulia, hamba hanya ingin selalu berada di samping anda. Mohon kabulkan permohonan hamba".


Sabrang membalas pelukan Mentari sambil mengelus rambut indah gadis itu.


"Jika kau sudah memutuskan aku bisa apa namun satu yang harus kau tau, hanya Mentari yang menjadi Ratu dihatiku".


"Terima kasih tuan Sabrang" Mentari terus menangis di pelukan Sabrang. "Sudah lama hamba ingin memanggil anda dengan nama itu karena saat pertama kali bertemu dengan anda, hamba memanggil seperti itu".


"Kau boleh memanggilku dengan nama apapun yang kau sukai", balas Sabrang.


"Terima kasih untuk semuanya Yang mulia".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Agak lama saya menulis chapter ini karena saya tidak terlalu bisa menulis romance jadi mohon maaf jika ada keterlambatan.

__ADS_1


Saya hanya ingin mengendurkan sedikit otot kalian yang tegang sebelum pertempuran melawan Umbara.


Terima kasih atas dukungannya selama ini dan mulai terjawab apa yang ada di Api di Bumi Majapahit kenapa Mentari menjadi selir.


__ADS_2