
"Kau terlambat," ucap Rubah putih sedikit kesal saat melihat Sabrang melesat kearahnya dengan cepat.
Rubah putih tampak duduk di atas batu di puncak air terjun sambil bersila, sinar bulan malam itu membuat rambutnya semakin mencolok.
"Maaf kek, kami diserang oleh Sorik marapi saat berada di hutan lali jiwo," balas Sabrang pelan.
"Sorik marapi? sudah kuduga mereka mulai bergerak," jawab Rubah putih terkejut. Dia menatap Sabrang cukup lama seperti memastikan sesuatu.
"Aku tak perlu menanyakan bagaimana hasilnya karena kau sudah berada disini, lalu dimana Wulan?"
"Dia akan tinggal sementara di keraton Malwageni untuk berbicara dengan paman Wardhana dan mengobati Mentari."
Wajah rubah putih tampak lega, melihat gerakannya selama ini sepertinya Wulan sudah melupakan dendam masa lalunya pada Naraya.
"Duduklah, ada yang ingin kubicarakan padamu," ucap Rubah putih sambil memberi tanda pada Sabrang untuk duduk disebelahnya.
"Guru tadi mengatakan, kakek ingin mengajakku ke suatu tempat, apa tidak sebaiknya kita cepat? mengingat mereka mulai bergerak," jawab Sabrang.
"Tak perlu buru buru, aku mengajakmu sekarang pun percuma kau tak akan mampu," jawab Rubah putih sambil tersenyum.
"Tak mampu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau tau nak, alam diciptakan dengan sejuta misteri yang sampai saat ini tidak ada yang tau pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang pencipta dengan misterinya.
Dunia yang kita tempati ini tak sesederhana yang kau pikirkan, jika daratan Masalembo diciptakan dengan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi, tempat yang akan kita kunjungi murni ciptaanya tanpa campur tangan manusia. Apa kau pernah mendengar sisi gelap alam semesta?" tanya Rubah putih.
Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum menggeleng pelan.
"Sisi gelap alam semesta adalah sebuah tempat yang indah namun misterius. Udara ditempat itu sangat sedikit yang akan membuatmu kesulitan bernafas dan membuat organ tubuhmu hancur.
Tempat itu juga sangat berbeda dari daratan lainnya, saat kau masuk ke sana tubuhmu akan langsung merasakan tekanan yang sangat besar, tubuhmu seolah mendapat tekanan aura yang sangat besar. Semua keanehan itu bukan berasal dari tenaga dalam energi seseorang atau sesuatu namun alam yang menciptakannya sendiri.
Berlatih ditempat itu akan membuat tubuhmu menjadi kuat secara alami akibat tekanan udara dan meningkatkan tenaga dalam berkali kali lipat.
Namun tak mudah untuk masuk ke tempat itu, kau akan kehabisan nafas dan tulang tulang ditubuh mu akan hancur jika datang ketempat itu tanpa persiapan."
"Jadi apa yang harus kulakukan terlebih dahulu," tanya Sabrang penasaran.
"Kau harus berlatih pernafasan dan juga membiasakan tubuhmu dalam tekanan dan tempat yang paling cocok adalah sungai," ucap Rubah putih menunjuk ke arah sungai.
"Sungai?"
"Sungai itu cukup dalam, jika kau menyelam dan duduk didasar sungai maka tubuhmu akan terkena tekanan air itu sendiri. Selama beberapa minggu aku ingin kau berada di dasar sungai itu," jawab Rubah putih.
"Bagaimana aku bisa tinggal didasar sungai? apa ada manusia yang bisa bernafas didalam air?" jawab Sabrang kesal.
"Apa aku memintamu tinggal didasar sungai selama beberapa minggu? aku ingin kau duduk di dasar sungai sampai nafas mu hampir habis. Lakukan berkali kali sampai kau bisa menahan nafas cukup lama, mudah bukan? jika aku sudah merasa cukup maka kita akan pergi."
"Jadi aku hanya perlu menahan nafas?"
Rubah putih terkekeh seketika saat mendengar jawaban polos Sabrang.
"Kau pikir mudah menahan nafas didasar sungai dengan tekanan air yang cukup besar? kau boleh mencobanya sekarang," jawab Rubah putih mengejek.
Merasa apa yang diucapkan Rubah putih cukup mudah, Sabrang langsung melompat dan menyelam ke dasar sungai.
Namun tak lama dia muncul kembali dengan wajah pucat dan nafas yang tersenggal.
"Aku bahkan belum sempat memejamkan mataku kau sudah muncul kembali, jika saat ini kita berada di sisi gelap alam semesta mungkin kau sudah tewas," Rubah putih kembali mengejek.
Sabrang terdiam dan tak membalas ejekan Rubah putih. Sungai di air terjun lembah pelangi cukup dalam, saat awal dia menyelam tak ada masalah apapun, Sabrang masih bisa mengatur nafasnya namun semakin dalam dia menyelam, tekanan yang dirasakan tubuhnya semakin besar yang mengakibatkan dia tak bisa terlalu lama menahan nafas.
"Berlatihlah terus sampai kau bisa menahan nafas cukup lama, aku akan istirahat sejenak," Rubah putih merebahkan tubuhnya di atas batu sambil menatap bulan.
__ADS_1
"Sisi gelap alam semesta ya? sudah lama sekali aku tidak ketempat itu," gumamnya dalam hati.
***
Wardhana terlihat menulis sesuatu sambil menatap gulungan yang diberikan Wulan padanya. Tak lama dia meletakkan kuas ditangannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya.
"Anda sudah semalaman tidak tidur, sebaiknya istirahatkan tubuh anda sejenak," sapa Ciha saat memasuki ruangan itu.
"Teka teki ini memaksaku tidak tidur," balas Wardhana sambil tersenyum kecut.
Ciha tertawa keras mendengar jawaban Wardhana.
"Apa pendekar itu memberi anda teka teki sulit?"
"Pendekar itu?" Wajah Wardhana berubah seketika.
"Aku yang mengajari anda segel udara, anda tidak berfikir aku tak merasakan kehadirannya bukan? aku sempat khawatir saat merasakan kehadirannya, namun sikap tenang yang anda tunjukkan membuatku yakin anda memiliki suatu rencana," jawab Ciha.
Wardhana tersenyum kecil, sambil menunjuk tulisan yang ada dimeja.
"Damalung?" Ciha mengerutkan keningnya.
"Apa kau tau arti Damalung?" Wajah Wardhana berubah seketika.
"Damalung adalah nama sebuah gunung yang berada di pinggiran hutan sowo, tak banyak para pendekar yang ingin ke sana.
seluruh sisi tebing gunung yang sangat curam membuat siapapun yang ingin ke puncak gunung Damalung berfikir ribuan kali, itulah kenapa Damalung dikenal juga sebagai gunung punggung naga.
Sekte Bintang langit pernah beberapa kali berusaha naik ke puncak gunung karena konon ada beberapa tanaman obat yang sangat berkhasiat di sana namun tak pernah ada yang berhasil. Apa ada sesuatu dengan gunung itu?" tanya Ciha.
Wajah Wardhana menjadi bersemangat setelah mendengar penjelasan Ciha, dia menunjukkan gulungan yang diberikan Wulan padanya.
"Gulungan ini diberikan Naraya pada Wulan jauh sebelum kematiannya, seperti perkiraanku sikap hati hati Naraya membuatnya memecah pesannya ke beberapa orang, namun ada yang aneh dengan tulisannya. Tulisan ini sangat berbeda dengan tulisan yang ada di gua hujung tanah.
Kau baca tulisan ini, (Air membawa jalan kehidupan, kematian merubah siang menjadi malam, batu kehidupan dan Damalung), Aku menyalin tulisan ini dari catatan ayah, tak ada yang tau apa maksud kata kata itu karena saat aku mencoba datang ke Damalung hanya hamparan rumput hijau yang terlihat."
"Jika perkiraanku benar, ada sesuatu yang disembunyikan di di Damalung oleh Masalembo. Aku sudah memikirkan hal ini cukup lama sejak para pemimpin dunia terungkap, bukankah sangat aneh jika tiga trah itu memiliki kekuatan yang jauh dari manusia biasa.
Aku yakin ada sesuatu yang memicu mereka memiliki kekuatan sebesar itu," ucap Wardhana pelan.
"Tapi bukankah aneh tuan jika memang Damalung menyimpan rahasia mereka, mengapa dia dengan ceroboh menulis dalam catatannya yang sangat besar kemungkinan dilihat orang, bukankah beberapa kata itu tak sulit diingat tanpa harus di catat?" jawab Arung.
"Aku masih belum tau mengenai masalah itu namun untuk beberapa orang seperti diriku, mencatat sesuatu akan memudahkan jika suatu saat diperlukan dalam keadaan darurat," balas Wardhana.
Ciha terdiam, bagaimanapun dia masih merasa ada yang janggal dari sikap Lakeswara.
"Saat ini kita hanya bisa menduga apa yang sedang terjadi, satu satunya cara untuk mendapatkan jawabannya adalah datang langsung ketempat itu."
"Anda yakin akan datang ketempat itu? jika aku berada diposisi mereka, untuk tempat sepenting itu tak mungkin kutinggalkan begitu saja tanpa penjagaan," balas Ciha.
"Bagaimana jika seperti Dieng? tempat yang hanya bisa didatangi saat purnama mencapai puncaknya dan itu hanya satu tahun sekali?"
"Maksud anda?"
"Dalam catatan ini Naraya jelas mengatakan saat aku mencoba datang ke Damalung hanya hamparan rumput hijau yang terlihat. Untuk orang sepintar Naraya, tipuan kecil seperti gua Hujung tanah tak akan berguna untuknya. Jika benar dia tidak menemukan apa apa di Damalung maka satu satunya jawaban adalah tempat itu tak bisa dimasuki setiap saat," jawab Wardhana.
"Batu Marjan," ucap Wulan yang muncul tiba tiba dari balik pintu.
"Dia?" Ciha tampak terkejut sambil menoleh kearah Wardhana karena tidak mengenali wajah Wulan.
Wardhana hanya mengangguk pelan, sambil memberi tanda pada Ciha untuk tetap tenang.
"Batu Marjan?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Pada Zamanku, ada sebuah legenda batu kehidupan yang berasal dari dalam dasar laut terdalam. Batu itu disebut sebagai batu kehidupan karena memiliki aura yang mampu meregenerasi sel tubuh dengan cepat.
Mungkin batu itu yang dimaksud dalam catatan Lakeswara," jawab Wulan.
"Jika memang seperti itu, kita tinggal memecahkan beberapa misteri lagi untuk menemukan apa yang selama ini disembunyikan," balas Wardhana bersemangat.
"Tidak sesederhana itu tuan patih, batu Marjan tak benar benar ada, batu itu hanya legenda leluhur kita," ucap Wulan.
"Legenda? maksud anda seperti Masalembo dan tiga trah besar? bagi kami kekuatan besar dan ilmu pengetahuan yang tinggi hanya sebuah legenda sebelum beberapa waktu lalu kami menemukan daratan itu lengkap dengan gedung gedung menjulang.
Walau tidak semuanya benar, menurutku legenda adalah pesan untuk menyampaikan sesuatu yang tersembunyi dan aku percaya batu Marjan itu benar benar ada," jawab Wardhana tegas.
Wulan terdiam sambil menatap patih kepercayaan Sabrang itu, dia tampak kagun dengan semua analisa Wardhana.
Wulan bukan orang sembarangan, dia adalah keturunan trah Tumerah yang merupakan salah satu trah besar Masalembo, kepintaran leluhurnya jelas dimiliki Wulan namun dia selalu dibuat takjub dengan pemikiran Wardhana yang cepat dan tajam hanya mengandalkan petunjuk yang sangat sedikit.
"Lalu apa rencanamu?" Wulan mencoba memancing kembali analisa Wardhana.
"Besok kita pergi, Ciha akan menjadi petunjuk jalan karena dia sedikit banyak sudah mengetahui keberadaan gunung itu. Kita pergi dengan kelompok kecil untuk menyamarkan gerakan kita dari pengamatan Masalembo.
Aku akan mengajak Candrakurama dan tentu saja anda tetua. Mengapa catatan itu diberikan Naraya pada anda? aku yakin ada maksud tersembunyi kenapa tidak diberikan pada orang lain," jawab Wardhana.
"Menyamarkan gerakan dari Masalembo? apa kau pikir mereka sedang mengamati kita? mereka bahkan tidak mengetahui aku masih hidup atau sudah mati," ucap Wulan.
"Jika aku adalah Masalembo maka hal pertama yang akan kupastikan adalah menutup semua informasi mengenai mereka, anda dan rubah putih adalah orang pertama yang harus kulenyapkan.
Sekuat apapun Yang mulia tana informasi dari anda maka beliau hanya seperti singa yang kuat namun mudah diringkus. Anda tadi malam bercerita mengenai penyerangan di hutan lali jiwo bukan? apa mereka akan menunggu sepanjang tahun ditengah hutan hanya demi menyerang anda?
Aku yakin kemarin adalah hari yang penting, itulah sebabnya anda memutuskan mengunjungi makam itu bukan?."
Wulan terdiam sesaat, wajahnya tampak berubah seketika.
"Hari lahir ayahku," jawab Wulan bergetar.
"Dugaan ku tepat, mereka mungkin belum menemukan anda, tapi mereka mempelajari kebiasaan anda dulu. Satu yang bisa kupastikan, aku tak mungkin memburu orang yang jelas sudah mati. Jika Masalembo mulai memburu anda itu artinya mereka yakin anda masih hidup," ucap Wardhana pelan.
"Kau benar benar mengerikan tuan," jawab Wulan sambil tersenyum.
"Anda terlalu memujiku tetua, aku hanya memperkirakan apa yang kuamati. Ada satu lagi yang ingin ku sampaikan, tadi malam segel udara milikku merasakan energi lainnya setelah kita bicara walau hanya sesaat. Anda tidak sendirian tetua."
Wulan tampak tersentak kaget setelah mendengar ucapan Wardhana.
"Ada yang mengikutiku? kenapa kau tidak meringkusnya? akan sangat berbahaya jika dia adalah salah satu pendekar Masalembo."
"Tak mudah meringkus seseorang yang berhasil menyembunyikan hawa kehadiran dari anda tetua, selain itu jika mereka memang sudah bergerak tak ada tempat bagi kita untuk bersembunyi.
Jika mereka ingin mencari informasi mengenai Malwageni maka akan kuberikan dengan senang hati, ular akan memberikan makanan sebelum membunuh mangsanya seketika," jawab Wardhana sambil tersenyum penuh makna.
"Kau lagi lagi membuatku kagum tuan, Masalembo sepertinya akan menemukan lawan yang seimbang kali ini," gumam Wulan dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan kaki :
Kali ini ada beberapa hal yang akan saya jelaskan agar kalian sedikit memahami beberapa hal di Chapter ini.
Gunung Damalung adalah sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama gunung Merbabu. Menurut Wikipedia dulu gunung merbabu dikenal dengan nama Gunung Damalung.
Merbabu sendiri berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.
Batu Marjan (Bukan sirup ya wkwkkw)
Batu Marjan adalah batu permata berwarna merah yang sangat terkenal, berasal dari dasar laut bersifat keras dan kering. Termasuk batu karang (coral) yang merupakan kombinasi unsur besi dan calsium carbonate.
__ADS_1
Jika umumnya batu permata berasal dari batu dari dalam tanah, akan tetapi batu Marjan berasal dari air. Layaknya seperti sangkar lebah yang terikat pada batuan didasar lautan dan tumbuh. (Kompasiana)
Oke sekian dulu.. jangan Lupa Vote Jika menarik.