
Sepanjang perjalanan menuju puncak gunung Damalung, Wardhana tampak lebih banyak diam, hal ini membuat suasana menjadi sedikit canggung.
Tak ada satupun yang berusaha menegurnya karena mereka yakin saat ini Wardhana sedang berfikir keras mengenai misteri yang ada di gunung Damalung.
Suasana makin mencekam saat hujan mulai turun dan suhu udara semakin dingin. Kondisi tanah di tebing gunung Damalung yang sedikit gembur menambah sulit perjalanan mereka. Petir datang silih berganti diiringi suara ledakan dari arah langit.
Wardhana berjalan mendekati sebuah pohon rindang untuk berteduh sementara, dia membuka gulungannya dan mengamati daerah sekitarnya untuk beberapa saat.
Walau belum mencapai puncak tertinggi gunung Damalung, daerah disekitarnya tampak mulai sedikit datar.
"Sepertinya ini puncak kedua tertinggi," gumamnya dalam hati.
Melihat Wardhana berhenti, Wulan dan yang lainnya memilih beristirahat sejenak sambil memulihkan tenaga.
"Apakah kita akan beristirahat lagi?" tanya Candrakurama heran, karena baru beberapa waktu lalu mereka beristirahat.
"Biarkan saja, dia pasti memiliki alasan berhenti dititik ini," balas Wulan sambil memandang puncak tertinggi yang masih cukup jauh.
"Hujan ini seolah melarang kami membuka sesuatu yang seharusnya tidak dibuka," gumam Wulan dalam hati.
Wardhana memejamkan matanya sesaat sambil menyimpan kembali gulungannya, dia seolah sedang mendengarkan suara petir dan angin yang bertiup sangat kencang.
Wardhana kemudian menoleh ke atas pohon dan menajamkan pandangannya, munculnya kabut dan langit yang gelap membuat suasana siang itu gelap dan jarak pandang menjadi terganggu.
Wardhana melompat tiba tiba keatas pohon dan terus bergerak naik, dia ingin mengamati situasi dari atas.
"Sial, apa yang dilakukannya? dengan kondisi pohon yang licin akibat hujan, dia bisa tergelincir dan masuk jurang kapan saja," Wulan langsung bergerak kearah Wardhana, begitu juga Candrakurama.
Posisi pohon yang dinaiki Wardhana memang tepat berada di sisi jurang, jika sampai terpeleset sedikit saja dia akan langsung masuk kedalam jurang.
Apa yang mereka berdua takutkan akhirnya menjadi kenyataan, kondisi pohon yang licin ditambah kabut yang semakin tebal membuat pandangan Wardhana sedikit terganggu, saat berada hampir di puncak pohon, dia salah berpijak membuatnya tubuhnya hilang keseimbangan dan tergelincir.
"Sial" umpat Wardhana, dia berusaha meraih ranting yang ada didekatnya namun kondisi angin yang cukup kencang dan bobot tubuhnya membuat ranting itu tak mampu menahan beban.
"KRAKKK," tubuh Wardhana jatuh dengan cepat.
"Hei, berikan aku pijakan sedikit untuk melompat," teriak Wulan sambil meningkatkan kecepatannya, dia mengalirkan energi murni keseluruh tubuhnya.
"Pijakan?" Candrakurama melesat ke pohon besar disebelahnya sambil mengeluarkan pedang pusakanya.
"Jurus pedang Penghancur Naga tingkat II : Putaran angin Naga" Candrakurama mengayunkan pedangnya sekuat tenaga membuat pohon besar itu tumbang seketika dan rubuh kearah Wulan dan Wardhana bersamaan dengan suara petir yang terus menggema di langit.
Wulan melompat keatas pohon sebelum terjun dan menyambar tubuh Wardhana.
"Semoga sempat," Wulan merubah posisi tubuhnya di udara untuk menjangkau batang pohon yang disiapkan Candrakurama.
Namun kondisi angin yang sangat kencang dan beban tubuh Wardhana membuat gerakan Wulan sedikit melambat, dia hanya mampu menjangkau ujung batang pohon yang membuat lompatannya tidak maksimal.
"Gawat! tubuhnya terlambat bereaksi," Wulan mencoba mencengkram sisi jurang namun kondisi tanah yang licin membuat cengkraman nya terlepas.
Candrkurama melesat cepat dan memengang lengan Wulan, lengan kanan Candrakurama menancapkan pedangnya ke bibir jurang untuk menahan tubuh mereka.
"Syukurlah aku tidak terlambat," ucap Candrakurama lega, dia menoleh kebawah sambil tersenyum kearah Wulan yang bergelantung ditangannya. Namun wajah leganya berubah seketika saat tanah jurang mulai retak.
Pedang Candrakurama menancap terlalu pinggir membuat tanah disekitarnya tak kuat menahan bebannya. Saat tubuh mereka hampir meluncur kedalam jurang, Ciha muncul dan menangkap lengan Candrakurama.
"Kalian benar benar sudah gila!" Ciha menggelengkan kepalanya dengan wajah pucat.
Ciha merebahkan tubuhnya saat berhasil menarik mereka semua keatas, dia sempat melihat sisi jurang yang sangat dalam itu, tak ada yang bisa dilihatnya kecuali kegelapan.
"Anda sebaiknya berhati hati tuan, tak akan ada keberuntungan dua kali bagi kita," ucap Wulan pelan.
"Ini tempatnya, disinilah anda melihat sinar terang itu," jawab Wardhana pelan.
Wulan menatap Wardhana sambil mengernyitkan dahinya.
"Saat kita bergelantungan di jurang tadi, aku melihat kebawah, jika perkiraan ku tepat maka disinilah tempat yang kita lihat dari bawah tadi," ucap Wardhana sambil bangkit dan melihat sekelilingnya.
"Cahaya terang, dari mana asalnya cahaya itu?" gumamnya pelan.
Pandangannya terhenti saat melihat susunan batu tak jauh darinya, Wardhana segera mendekati batu itu dan membersihkannya dari cipratan tanah akibat air hujan.
Sebuah tulisan kecil tampak terukir disalah satu batu, cukup lama Wardhana menatap batu itu namun dia tak mengerti aksara yang digunakan.
"Itu aksara jawata kuno, saat zamanku pun aksara itu sudah tidak digunakan lagi," ucap Wulan sambil menatap tulisan itu.
"Kenteng songo," ucap Wulan tiba tiba.
"Anda mengerti tulisan ini?" tanya Wardhana pelan.
"Aku pernah mempelajari bahasa ini saat berada di ruang arsip Malalembo, jika aku tidak salah kenteng songo berarti sembilan lubang," jawab Wulan.
"Sembilan lubang?" Wardhana membersihkan seluruh batu bersusun itu dan mencoba menghitungnya.
"Hanya ada empat," Wardhana terus menatap sekitarnya mencoba mencari batu lainnya namun tak berhasil, hanya empat batu bersusun itu yang ada di puncak kedua gunung Damalung.
__ADS_1
"Apa anda tidak salah mengartikannya?" tanya Wardhana kembali.
"Tidak mungkin aku salah, kenteng songo memang berarti sembilan lubang," jawab Wulan sambil ikut berfikir.
"Tunggu, aku tidak tau ini hanya kebetulan atau tidak namun sesuatu yang berhubungan dengan Masalembo juga berjumlah sembilan. Dewa penjaga Masalembo berjumlah 9, organisasi Sorik marapi juga ada sembilan orang, apakah menurutmu ini hanya kebetulan?" tanya Wulan.
Wardhana terdiam setelah mendengar ucapan Wulan, dia terus berfikir ditengah guyuran hujan dan kilatan petir yang seolah ingin menyambar mereka.
"Apa mungkin lima batu berlubang lainnya sudah dipindahkan oleh mereka untuk mencegah ada yang menemukan tempat ini?" balas Ciha.
Wardhana menggeleng pelan, "Tidak mungkin, jika ada batu yang dipindahkan atau rusak aku yakin ada bekasnya. Sejak awal batu kenteng songo memang hanya ada empat yang tertanam disini, lalu dimana lima batu lainnya?"
"Tuan, jika memang puncak ini adalah tempatnya sebaiknya kita beristirahat sejenak. Aku akan mencoba membuat tempat berlindung dan menyalakan api, dengan suhu yang sangat dingin ini, kita akan mati kedinginan," ucap Candrakurama yang dibalas anggukan Wardhana.
"Ciha, bantu aku mengumpulkan kayu untuk membuat gubuk kecil, sepertinya pohon besar itu bisa melindungi kita dari angin kencang," ajak Candrakurama.
"Mati ya? suhu udara akan membuat tubuh kita kaku dan mati perlahan. Bukankah itu ironi? tubuhku mungkin hampir abadi namun udara dingin akan membunuhku perlahan. Alam seolah memberiku teguran jika tak ada yang abadi di dunia ini," ucap Wulan sambil tersenyum kecut.
"Kematian? merubah siang menjadi malam?" wajah Wardhana berubah seketika, dia seperti mengetahui sesuatu.
"Sepertinya kau menemukan sesuatu?" Wulan tersenyum kecil.
"Kematian akan merubah siang menjadi malam, Suhu udara dingin puncak gunung ini akan membuat siapapun mati dengan cepat dan kabut membuat siang seolah menjadi malam. Sepertinya aku mulai mengerti arti tulisan itu, kabut tebal khas gunung Damalung akan menjadi kunci membuka tabir rahasia yang tersembunyi selama ini namun yang belum ku mengerti adalah apa fungsi kabut ini?"
"Jadi arti kematian akan merubah siang menjadi malam adalah kabut ini?"
"Sepertinya seperti itu tapi aku masih belum mengerti sinar terang yang ada lihat. Aku sempat berfikir jika sinar itu adalah pantulan air disini, untuk itulah aku meminta beberapa dedaunan besar untuk menampung air namun sudut puncak ini sangat sulit ditembus sinar bulan, lalu bagaimana sinar itu dapat memantul?" ucap Wardhana sedikit kesal.
Wulan menatap Wardhana sesaat, untuk pertama kalinya dia melihat patih Malwageni itu sedikit tergesa gesa dan menampakkan emosinya.
"Aku dapat mengerti rasa kesal yang kau rasakan namun tak semua sesuai perkiraan kita bukan? Aku akan menemanimu duduk di bawah guyuran hujan sampai kau menemukan sesuatu.
Melihatmu beberapa hari ini, aku jadi paham jika kekuatan terbesarmu terletak pada ketenangan dalam berfikir, dinginkan kepalamu dan coba berfikir seperti biasa," ucap Wulan sambil duduk dihadapan Wardhana.
"Berfikir seperti biasa?" Wardhana tiba tiba teringat pesan Paksi saat mengajarinya ilmu siasat perang.
"Tak ada yang menjamin semua rencana akan sesuai perkiraanmu karena lawan juga memiliki rencana sendiri untuk mematahkan kita, tapi satu yang harus kau ingat Wardhana, jika pikiranmu sudah mencapai batasnya maka istirahatkan sejenak dan lihatlah masalah dari sudut pandang yang berbeda.
Kau mungkin memiliki kepintaran yang luar biasa namun harus diingat kau juga manusia biasa, kau tak akan bisa berfikir jernih saat suasana hatimu kacau, itulah kelemahan terbesar manusia," ucap Paksi sambil memukul kepala Wardhana.
Wardhana menoleh kearah Candrakurama dan Ciha yang sedang membangun gubuk kecil untuk berteduh.
"Sebaiknya kita istirahat sebentar tetua," ucap Wardhana sambil bangkit dari duduknya.
"Apa kau menyerah?" tanya Wulan pelan.
***
"Maaf Yang mulia?" Paksi terlihat terkejut saat Arya Dwipa memperkenalkan Wardhana padanya.
"Aku ingin kakang membimbing dan mengangkatnya menjadi murid," jawab Arya dwipa.
"Tapi Yang mulia, siasat tempur tak sama seperti ilmu kanuragan yang hanya mengikuti gerakan yang diajarkan. Tak ada yang pasti dalam siasat perang, kita harus pintar membaca situasi dan kadang terpaksa merubah rencana dengan cepat ketika lawan melakukan gerakan.
Hamba bukan meragukan penilaian anda terhadapnya namun kita butuh orang yang bisa berfikir cepat dan melihat situasi dari segala sisi Yang mulia," jawab Paksi sambil menoleh kearah Wardhana yang menunduk.
"Kakang, beri waktu satu purnama pada anak itu untuk membuktikan kemampuannya, jika menurut kakang dia mengecewakan maka aku akan menaruhnya di pasukan angin selatan," ucap Arya dwipa pelan.
Paksi tampak sedikit keberatan dengan keputusan Arya dwipa namun dia tetap mengangguk pelan.
"Jika itu keinginan Yang mulia, hamba akan mencoba mengajarinya," balas Paksi sambil menundukkan kepalanya.
"Terima kasih kakang," Arya dwipa tersenyum kecil sambil menatap Wardhana.
"Dengarkan aku nak, aku mungkin bukan orang baik namun aku berusaha menjadi lebih baik dengan kemampuanku.
Seseorang pernah mengatakan padaku, urip kudu urup, kau harus hidup untuk sesama. Setiap manusia mempunyai kelebihan masing masing, mungkin kau sama denganku dan juga kakang Paksi yang tak memiliki bakat tinggi ilmu kanuragan.
Gunakan kepala dan hatimu untuk merubah sesuatu yang salah, belajarlah pada kakang Paksi semua yang bisa kau pelajari, kuharap kau bisa melengkapi kepingan yang selama ini hilang," ucap Arya dwipa pada Wardhana.
"Merubah sesuatu yang salah?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Tuan?" Suara Ciha membangunkan Wardhana dari tidurnya.
Wardhana tampak sedikit gelagapan karena dibangunkan tiba tiba.
"Sudah berapa lama aku tidur?" tanya Wardhana sambil mengucek matanya.
"Cukup lama untuk membuatmu sedikit beristirahat," balas Wulan yang baru datang.
"Hujannya telah berhenti?" tanya Wardhana.
Wulan mengangguk pelan, "Cuaca disini sulit ditebak."
Wardhana bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati batu kenteng songo. Cukup lama Wardhana berdiri sambil menatap sekitarnya.
__ADS_1
Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat sinar bulan kecil berada didekat kakinya.
"Sinar bulan? sinar ini memantul dari batu itu," ucap Wardhana sambil melihat batu hitam pekat di pinggir jurang.
"Jika tujuan batu itu dibuat untuk memantulkan sinar ke batu kenteng songo ini kenapa sinarnya bisa meleset?" Wardhana terlihat berfikir.
"Pohon itu merubah jalur sinar bulan," ucap Wardhana sedikit berteriak, dia berlari kearah batu yang memantulkan sinar bulan diikuti Ciha dan yang lainnya.
"Sepertinya dia menemukan sesuatu," ucap Wulan sambil berlari.
"Harusnya batunya tidak hanya satu," Wardhana menatap kesekelilingnya dan menemukan empat batu lainnya yang semuanya tepat berasa dipinggir jurang.
Batu itu seolah batu biasa karena letaknya yang tidak beraturan, siapapun yang melihatnya tak akan menyangka jika batu itu seperti dipersiapkan untuk sesuatu karena menemukan batu besar di atas gunung adalah hal biasa.
"Tuan," ucap Ciha.
"Aku sudah tau jawaban teka teki itu, Ciha taruh dedauan yang kuminta di empat titik batu itu," pinta Wardhana cepat.
"Batu kenteng songo?" tanya Ciha.
"Bukan, empat batu yang ada di pinggir jurang itu," tunjuk Wardhana.
"Biar kubantu," Wulan menyambar satu dedaunan dan melesat kearah batu yang ditunjuk Wardhana.
"Apa batunya ada sedikit cekungan dan guratan kebawah sebagai jalan air?" tanya Wardhana.
"Tepat seperti yang kau katakan tuan," balas Wulan pelan.
"Letakkan daun dibawah guratan jalan air itu," perintah Wardhana kemudian.
Ciha dan Candrakurama berlari ke tiga batu lainnya, setelah meletakkan dedaunan dan menahannya dengan batu kecil agar daun tidak terbang mereka kembali mendekati Wardhana.
"(Air membawa jalan kehidupan) dapat diartikan jika kita membutuhkan air untuk membuka jalan kehidupan. Dia atas gunung ini cukup sulit mencari air untuk itulah empat batu itu ditaruh di sana.
Kemudian (Kematian merubah siang menjadi malam), kalimat ini mengarah pada kabut dan suhu dingin, dengan kabut tebal seperti ini dan suhu yang sangat dingin sama saja berarti kematian bukan? namun kabut ini jugalah yang akan memberikan kita air.
Pesan ini berarti meminta kita mencari air dari kabut melalui batu itu. Batu yang terlihat tidak beraturan itu digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan Embun," ucap Wardhana menjelaskan.
"Jadi sinar bulan itu?" Ciha tampak sedikit mengerti.
"Jika perkiraanku benar, batu ini sebagai pemantul sinar bulan yang akan mengarahkan ke empat batu kenteng songo itu untuk menunjukkan sesuatu pada kita," jawab Wardhana cepat.
"Jadi begitu, semua mulai terjawab," balas Wulan yang tampak kagum pada analisa Wardhana.
"Benar tetua, batu kenteng songo memang ada sembilan sejak awal, empat batu utama yang ada ditengah itu, lima sisanya adalah batu besar yang ada di pinggir jurang. Kecuali batu pemantul ini, empat batu lainnya memang ditempatkan tak beraturan karena hanya sebagai penampung embun dan untuk menyamarkan mata semua orang.
Sinar yang anda lihat kemungkinan dari pantulan batu pemantul itu," ucap Wardhana sambil menoleh kearah Wulan.
"Tapi yang kulihat sinar itu begitu terang," balas Wulan yang melihat sinar pantulan di batu utama yang tampak redup.
"Itulah sebabnya tempat ini dipilih," jawab Wardhana.
"Maksud anda?" Wulan mengernyitkan dahinya.
"Seperti yang aku katakan tadi, gunung damalung dipilih bukan tanpa alasan, cuaca yang selalu berubah sangat mendukung formasi teka teki ini.
Jika batu ini terus kering maka setiap malam akan muncul sinar terang dari atas gunung bukan? dan itu akan memancing keingintahuan orang untuk datang.
Cuaca di gunung ini tak menentu dan sering hujan, air hujan akan meredam pantulan sinar dan memfokuskan sinar bulan hanya pada batu kenteng songo yang ada ditengah itu, dengan kata lain cuaca gunung ini ikut menyembunyikan apa yang tersimpan didalam sini."
Wardhana kemudian melangkah menuju empat batu kenteng songo yang tersusun ditengah puncak kedua dan membersihkannya dari cipratan bekas air hujan.
"Kita hanya perlu menunggu batu itu menampung air embun dan memasukkannya kedalam empat batu ini. Jika perkiraanku benar, batu pemantul akan memantulkan sinar bulan ke empat batu klenteng songo yang sudah terisi air embun kemudian batu ini akan memantulkan kembali sinar bulan kesuatu tempat. pantulan sinar itulah tujuan kita datang kemari, semoga hujan tak lagi turun," ucap Wardhana pelan.
"Bukankah akan lebih mudah menampung air hujan?" tanya Candrakurama.
"Tidak, air embun jauh lebih jernih dari air hujan dan sinar bulan yang sangat lemah membutuhkan air yang sangat jernih agar bisa dipantulkan kembali," jawab Wulan sambil tersenyum kecil.
"Sepertinya pertaruhan mu berbuah manis Arya dwipa, sekarang kami hanya tinggal menunggu apa yang sebenarnya disembunyikan di tempat ini," gumam Wulan dalam hati.
"Candrakurama, bisakah kau singkirkan pohon besar didekat batu pemantul? aku tadi melihat sinarnya sedikit meleset dari tempatnya, pohon itu tumbuh alami didekat batu utama, sepertinya alam pun mencoba menyembunyikannya," pinta Wardhana.
"Baik tuan," jawab Candrakurama cepat.
"Ciha, seperti perkiraanku bukan? tempat ini tak bisa didatangi kapan saja, butuh dukungan alam untuk masuk kedalam," ucap Wardhana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Oke kali ini Author meminjam puncak kenteng songo Merbabu sebagai latar misterinya.
bagi yang belum tau...
Puncak kenteng songo merupakan puncak yang berada di antara tiga puncak Merbabu. Pemandangannya sungguh indah, benar-benar bikin rindu untuk segera menginjakkan kaki kembali di sini. Terlihat amat fantastis dengan banyak pegunungan di sekitarnya. Mulai dari Sindoro, Merapi, Sumbing, hingga Andong.
Di puncak kenteng songo hanya terdapat 4 Watu Kenteng (batu berlubang), tidak sesuai dengan namanya yang harusnya ada sembilan batu berlubang.
__ADS_1
Masyarakat percaya jika lima batu lainnya hanya bisa dilihat dengan indra keenam, tidak ada yang tau benar atau tidak, PNA hanya meminjam cerita ini sebagai misterinya.
Hari ini saya update 3 chapter sekaligus yang saja jadikan satu sebagai bonus untuk kalian, jadi izinkan saya meminta Vote mengingat saat ini PNA terlempar dari 10 besar...