
"Bagaimana persiapannya?" Paksi berbicara pada Laksana yang merupakan wakil patih Majasari sekaligus komandan resimen tangan besi.
"Semua pasukan sudah bergerak ke posisi masing masing tuan, semua siap menunggu perintah anda". Laksana berbicara pelan.
Paksi mengangguk pelan sambil memutar kipas bambu yang selalu berada ditangannya.
"Ingat baik baik, jangan pernah bergerak tanpa perintahku. Kita akan bergerak jika pasukan pengecoh sudah memberi tanda".
"Baik tuan, beberapa Pendekar dari Racun selatan akan ditempatkan di sini untuk menjaga anda kuharap anda tak usah khawatir".
"Lalu apakah mereka sudah bergerak dari hutan itu?".
"Sampai saat ini belum tuan namun beberapa pasukan mereka telah menyebar ke arah keraton Saung galah". Ucap laksana pelan.
"Wardhana memang selalu berhati hati seperti biasanya namun kali ini aku selangkah didepanmu". Paksi tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya "Kau sudah melakukan yang aku minta?".
"Sudah tuan, beberapa pendekar racun selatan telah kutempatkan di perbatasan Rogo geni".
"Bagus, Wardhana bersama pasukannya akan mati matian merebut Kadipaten Rogo geni karena ini kesempatan mereka satu satunya. Kalian membutuhkan pendekar pengguna racun terbaik untuk melumpukan pengguna Naga api itu. Dan satu lagi yang aku minta padamu, aku ingin kau memerintahkan pasukan pengecoh untuk tidak mundur satu langkahpun dari Rogo geni apapun yang terjadi".
Raut wajah Laksana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar perkataan Paski.
"Tapi tuan, bukankah mereka hanya pasukan pengecoh?".
"Kau pikir Wardhana akan mudah tertipu dengan siasatku? aku ingin semua terlihat wajar".
"Tapi jika mereka bertempur dengan pasukan yang ada.....". Belum selesai Laksana berbicara Paksi sudah memotong pembicaraannya.
"Butuh pengorbanan untuk memenangkan pertempuran tuan Laksana. Anggaplah pasukan pengecoh berkorban demi kemenangan Majasar, jika ada yang mencoba mundur bunuh mereka".
"Kau". Laksana mengepalkan tangannya menahan amarah. Pasukan pengecoh hanya terdiri dari beberapa prajurit biasa dan pendekar dari golok setan dan racun selatan. Tugas mereka hanya sebagai pengecoh setelah itu melarikan diri ke hutan terdekat sambil mengulur waktu pasukan utama menyerang Saung galah. Jika mereka tak boleh mundur Mereka akan dibantai dengan mudah oleh pasukan Saung galah. Itu sama saja Laksana mengorbankan prajuritnya sendiri.
"Kau tau perintah yang mulia padaku? Menang dengan cara apapun. Apakah kau ingin melawan perintah Rajamu?". Paksi menatap tajam Laksana.
"Akan kupastikan mereka tidak mundur tuan". Laksana bersingut kesal kemudian pergi meninggalkan Paksi yang tersenyum licik.
"Perang hanya mengenal menang dan kalah tak perduli berapa nyawa melayang Laksana". Paksi tersenyum dingin.
***
Wardhana masih mematung saat Lembu sora masuk keruangannya. Wajahnya terlihat letih menandakan matanya belum terpejam sedetikpun.
"Tuan, ada tidak tidur semalaman?". Lembu sora menyapanya sambil membawa beberapa buah ditangannya dan memberikannya pada Wardhana.
"Aku hanya memastikan tidak ada celah dalam rencanaku, lawan yang kita hadapi adalah ahli siasat terbaik saat ini". Wardhana mencoba tersenyum pada Lembu sora untuk menyembunyikan rasa lelahnya.
__ADS_1
"Anda jangan terlalu khawatir tuan, kami percaya pada anda seperti Yang mulia mempercayai anda".
Wardhana tersenyum kecut mendengar ucapan Lembu sora "Terakhir kali aku dipercaya Yang mulia Malwageni runtuh saat itu".
"Anda harus melupakan masalah itu tuan, saat itu keadaannya berbeda dan bukan sepenuhnya kesalahan ada ditangan anda. Bukankah Yang mulia memerintahkan anda untuk pergi saat itu demi hari ini? Jika anda masih larut dalam penyesalan Yang mulia Sabrang akan bernasip sama dengan Yang mulia raja.
Kami tidak sedikitpun meragukan anda tuan, mari kita tebus kesalahan dimasa lalu".
Wardhana terdiam mendengar perkataan Lembu sora, entah kenapa setelah mendengar Lembu sora berbicara ada energi semangat mengalir ditubuhnya.
"Terima kasih sora". Wardhana tersenyum lembut.
"Jika anda sudah bisa menguasai diri bisakah kita pergi sekarang? Yang mulia telah menunggu dikamarnya".
"Baik, katakan pada pasukan angin selatan untuk bersiap. Aku akan menjemput Yang mulia dikamarnya".
"Baik tuan". Lembh sora melangkah keluar dengan wajah lega.
***
Wardhana berjalan cepat menuju kamar Sabrang, terlihat Arkadewi telah menunggu didepan pintu kamar.
"Nona". Wardhana menundukan kepalanya sambil tersenyum pada Arkadewi.
"Anda yakin ingin ikut pertempuran ini? bukankah Mata elang selalu mengambil posisi netral selama ini".
"Sejak kejadian di Pulau tengkorak kami selalu diburu oleh Majasari, aku ingin memberi mereka pelajaran sekali kali".
"Maaf atas kejadian di pulau tengkorak nona, saat itu aku tidak mempunyai pilihan".
"Lupakan, saat itu bukan salahmu".
Wardhana mengangguk pelan kemudian mengetuk pitu kamar Sabrang.
"Yang mulia, sudah saatnya kita pergi". Wardhana berkata pelan. Tak lama pintu kamar terbuka, terlihat Sabrang dengan topeng diwajahnya dan pedang dipunggungnya mengangguk pelan.
"Ayo kita pergi". Ucap Wardhana setelah menundukan kepalanya memberi hormat pada Sabrang.
Sabrang berjalan paling depan diikuti Wardhana dan yang lainnya.
"Hormat pada Yang mulia". Kertapati dan Lembu sora menundukan kepalanya yang dibalas anggukan oleh Sabrang.
***
"Hormat pada Yang mulia, semoga anda panjang umur". Wijaya berlutut dihadapan Mahawira, Raja dari kerajaan Saung galah.
__ADS_1
Mahawira mengangguk pelan sambil mempersilahkan Wijaya untuk duduk.
"Jadi kau adalah orang kepercayaan kakang Dwipa?".
Wijaya menganggukan kepalanya "Yang mulia raja sering menceritakan tentang anda, suatu kehormatan bagi hamba bisa bertemu dengan anda Yang mulia". Wijaya menundukan kepalanya.
"Dia sudah ku anggap kakakku sendiri, ada beberapa hal yang membuatku diam saat kalian diserang Majasari". Terlihat guratan penyesalan raut wajah Mahawira.
"Yang mulia Raja pasti mengerti, mohon anda tidak menyalahkan diri sendiri".
"Kakang Dwipa tidak salah memilihmu sebagai orang kepercayaannya". Mahawira tersenyum lembut.
"Lalu mengenai rencanamu" Mahawira menarik nafas sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. "Maaf jika aku mengajukan syarat yang berat padamu".
"Hamba dapat memahaminya Yang mulia, mohon jangan terlalu dipikirkan. Hamba akan berusaha sekuat tenaga agar rencana Majasari hancur berantakan namun hamba ingin meminta sesuatu jika Yang mulia berkenan".
"Katakanlah". Ucap Mahawira sambil menatap Wijaya penasaran.
"Jika kami berhasil merebut Kadipaten Rogo geni, hamba ingin sementara waktu Rogo geni berada dibawah Saung galah Yang mulia. Dengan kekuatan kami saat ini akan sulit untuk mempertahankan Rogo geni jika Majasari berusaha merebut kembali".
Mahawira tersentak kaget mendengar permintaan Wijaya.
"Kau yakin dengan keputusanmu itu? bagaimana jika kelak aku tidak ingin menhembalikan Rogo geni pada Malwageni?". Mahawira tersenyum kecil.
"Hamba tidak berani berburuk sangka pada anda Yang mulia, hamba yakin kebaikan hati anda tidak akan kalah oleh nafsu kekuasaan. Itu yang hamba dengar dari Yang mulia raja dulu".
Mahawira tertawa keras setelah mendengar jawaban Wijaya. Walau Wijaya terkesan menyanjungnya namun tersirat ancaman dalam ucapan Wijaya padanya.
"Kau memang pintar Wijaya".
"Hamba mohon menghadap yang mulia". Tiba tiba terdengar suara dari luar.
"Masuklah". Jaladara yang dari tadi diam berbicara pada prajurit yang ada diluar.
Tak lama seorang prajurit masuk dengan hati hati lalu berlutut dihadapan Mahawira.
"Utusan dari kerajaan Majasari dan beberapa sekte aliran putih telah tiba Yang mulia". Prajurit itu menundukan kepalanya.
"Baiklah, bawa mereka ke kamarnya masing masing dan katakan pada mereka nanti malam aku akan menjamu di ruang jamuan".
"Baik Yang mulia". Prajurit itu kembali menundukan kepalanya sebelum melangkah keluar.
"Mereka sudah datang, ku harap kau memastikan kembali semua persiapan rencanamu".
"Baik Yang mulia, hamba mohon diri".
__ADS_1