
Tim yang dipimpin Lingga bergerak sedikit memutar untuk mencari tempat mereka menyimpan tubuh para pemimpin dunia yang hendak mereka bangkitkan kembali.
Tak ada halangan berarti selama mereka bergerak karena tim Lingga terdiri dari para tetua sekte aliran putih seperti Suliwa, Mantili, Brajamusti dan Wulan dari yang memang sudah memiliki nama di dunia persilatan.
Langkah mereka semakin mulus berkat kecerdasan Emmy menjalankan strategi yang diberikan Wardhana padanya.
"Apa kau sudah memiliki gambaran dimana mereka menyimpan tubuh para pemimpin dunia? akan sangat menyulitkan mencari diantara ratusan bangunan ini," tanya Brajamusti pada Lingga.
Lingga menggeleng pelan, "Wardhana hanya memberi petunjuk untuk mencari bangunan yang dijaga ketat karena dia yakin tempat itu pasti dijaga sangat ketat," balas Lingga sambil terus bergerak.
Suliwa yang berada dibelakang Lingga terlihat memperhatikan Mantili yang kali ini terlihat banyak diam.
"Anda baik baik saja tetua?" tanya Suliwa pelan.
"Aku merasakan dua kekuatan sedang bertarung saat ini dan aku yakin salah satunya adalah Sabrang tapi tenaga dalamnya sedikit aneh. Energi Naga api terlihat sedikit lemah dan tertutupi oleh suatu energi yang tidak kukenali," jawab Mantili cemas.
"Energi aneh? bagaimana ada energi lain yang jauh lebih besar dari Naga api?" Suliwa mengernyitkan dahinya.
Suliwa jelas terkejut dengan apa yang diucapkan Mantili, dia tau benar seberapa besar kekuatan Naga api setelah Sabrang berhasil menyerap energi Banaspati dan kini Mantili mengatakan energi Naga api seperti tertekan oleh energi lain yang ada ditubuh Sabrang.
"Aku tidak tau bagaimana anak itu bisa mendapatkan energi itu namun aku sampai berkeringat saat merasakannya, bagaimana tubuh anak itu bisa bertahan dari energi mengerikan itu. Muridmu selalu membuatku takut Suliwa," balas Mantili.
Suliwa terdiam menanggapi pujian Mantili, dia kembali teringat saat pertama bertemu Sabrang. Dia pun sempat ragu untuk memberikan pedang Naga api pada Sabrang saat itu, bakat besar yang dimiliki Sabrang bisa menjadi bumerang bagi dunia persilatan andai salah memilih jalan.
Sabrang bisa menjadi penyeimbang dunia persilatan disaat seperti ini namun dia juga bisa menjadi malapetaka jika menggunakan ilmunya dijalan yang salah.
"Semoga keputusanku saat itu tepat," ucap Suliwa pelan.
"Kau tak perlu risau, ibunya adalah orang baik, walaupun trah Dwipa memiliki sejarah kelam tapi aku masih yakin anak itu akan mengambil keputusan tepat karena dia adalah keturunan Sekar pitaloka."
Suliwa mengernyitkan dahinya saat Lingga tiba tiba menghentikan langkahnya.
"Apa ada yang salah?" tanya Suliwa pelan.
Lingga tak menjawab pertanyaan Suliwa, dia terus menatap keatas.
Suliwa mengikuti kemana arah pandangan Lingga dan dia tampak terkejut setelah tau apa yang dilihat Lingga.
"Kertasura?" Suliwa mengernyitkan dahinya saat melihat Kertasura berdiri di atas sebuah gedung.
"Dia bukan ketua lagi," ucap Lingga sambil menunjuk mata Kertasura yang memerah.
"Apa yang dilakukan Masalembo padanya?" balas Suliwa.
"Aku tidak tau namun sepertinya sama dengan yang dilakukan pada mereka," Suliwa kembali menunjuk puluhan prajurit abadi yang berlari kearah mereka.
Brajamusti terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia mengenali beberapa prajurit abadi yang berlari kearah mereka.
"Mereka para pendekar yang hilang secara misterius di hutan larangan maupun yang hilang tiba tiba di sektenya masing masing, ternyata mereka sudah lama berada di dunia persilatan," ucapnya pelan.
"Tetua aku ingin memohon sesuatu pada anda, biarkan aku yang melawan guruku," ucap Lingga dingin.
"Kau yakin?," balas Brajamusti.
Lingga mengangguk "Tak ada yang boleh membunuh guruku, biarkan aku yang menyelesaikannya."
"Baik jika kau memaksa, berhati hatilah," Brajamusti memberi tanda untuk bersiap menyambut serangan musuh.
"Emmy periksa bangunan merah itu, temukan apapun petunjuk didalamnya, setelah itu bantu yang lainnya. Aku akan mencoba menghadapi guruku," Lingga melesat cepat keatas bangunan tempat Kertasura berdiri.
"Baik ketua," Emmy bergerak masuk kedalam bangunan yang ditunjuk Lingga bersama dua pendekar Taring emas.
***
Pertarungan Sabrang dan Wanapati masih terus berlangsung dan tak ada yang berniat berhenti menyerang.
Sabrang beberapa kali berhasil melukai Wanapati namun dia juga tak luput dari serangan Lawannya.
Wanapati jelas lawan terberat yang pernah dihadapi Sabrang sampai saat ini, mata bulannya walaupun hanya tiruan namun mampu merepotkan Sabrang.
Goresan demi goresan terlihat ditubuh Sabrang yang langsung dibalas menggunakan jurus pemusnah raga.
__ADS_1
"Apa kau terkejut? mata bulanku tak kalah dari mata yang kau sebut asli itu," ucap Wanapati penuh keyakinan.
Hal yang wajar jika Wanapati cukup yakin karena sampai saat ini mereka terlihat berimbang, diluar dugaan mata bulannya mampu menyulitkan pergerakan Sabrang yang terkenal cepat. Di tambah luka Sabrang pada pertarungan sebelumnya sedikit memberi keuntungan bagi Wanapati.
Sabrang tak menjawab pertanyaan Wanapati, dia terus menyerang sambil mengamati kebiasaan bertarung Wanapati. Semua direkamnya dalam kepala dan sesekali Sabrang membuat simulasi serangan walau akhirnya masih terbaca mata bulan lawan.
"Sebaiknya kau gunakan jurus pedang jiwamu atau kau akan terus terluka, masih banyak lawan yang harus kau hadapi," ucap Naga api.
"Ternyata kau tidak hanya lemah namun juga bodoh," ejek Eyang wesi Megantara.
"Kau!" Naga api terlihat menahan amarah.
"Tuanmu bukan dalam keadaan terdesak namun dia sedang mengamati kebiasaan bertarung lawan. Dia bisa saja menghabisi lawannya dengan pedang jiwa namun pedang rapuh itu tak akan bisa bertahan jika dia menggunakan beberapa kali jurus pedang jiwa.
Dia lebih pintar dari yang kau pikirkan, aku tak segan menyebutnya sebagai pendekar jenius yang pernah ada, andai dia tuanku maka saat ini seluruh dunia akan takluk dikakinya".
Wajah Naga api menjadi masam setelah diremehkan Eyang wesi megantara namun dia mengakui jika energi Eyang wesi memang jauh diatasnya.
"Jika kau bisa membuatnya pendekar terkuat kenapa kau tidak menjadikannya tuan?" balas Naga api kesal.
"Jika aku bisa maka saat ini kalian telah terserap oleh energiku namun dia sepertinya menganggap kalian bukan sekedar senjata, berterima kasihlah padanya."
"Apa maksud anda?" Anom kini ikut bertanya.
"Tak sulit bagiku untuk menyerap energi kalian walau hanya sedikit kekuatanku saat ini namun tanpa kuduga anak ini tak mengijinkanku melakukannya, dia menekan energiku dan berusaha mengendalikanku. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya, anak ini benar benar menarik perhatianku, sebagai rasa kagumku akan ku ukir namanya dipedangku kelak agar semua tau jika pernah ada pendekar jenius yang mungkin tak akan pernah ada lagi yang bisa menandinginya."
Anom dan Naga api saling berpandangan tak mengerti.
Sabrang kembali melepaskan serangannya saat berada didekat Wanapati namun lagi lagi serangannya dapat dipatahkan seperti biasa.
Wanapati yang melihat celah, merendahkan sedikit lengannya dan menyerang balik namun pedangnya menebas udara saat jurus ruang dan waktu muncul dihadapannya.
Wanapati tersenyum sinis sesaat sebelum bergerak maju, mata bulannya dapat mengikuti setiap gerakan Sabrang.
Sabrang menarik energi keris dan melemparkannya untuk menahan gerakan Wanapati, dia melompat mundur sebelum menyambut serangan Wanapati.
"Jurus api abadi tingkat VI," kedua pedang kembali beradu yang menimbulkan percikan api, Sabrang bergerak cepat seolah menghilang dan melepaskan serangan beruntun yang sebagian berhasil mengenai Wanapati.
Sabrang memutar pedangnya dengan cepat sambil menarik energi keris. Kombinasi jurus api abadi dan energi keris terus memojokkan Wanapati.
Kedua pedang kembali beradu sesaat sebelum lengan kiri Sabrang menjangkau tubuh Wanapati.
"Cakar dewa bumi," teriak Sabrang yang membuat Wanapati tersentak kaget, gerakan cepat lengan Sabrang luput dari mata bulannya. Tubuh Wanapati terhemoas jauh dan membentur salah satu bangunan.
"Jurus tiruannya memakan korban lagi," ucap Candrakurama pelan yang mulai bisa mengimbangi Amurti. Candrakurama mulai bisa mengendalikan kecepatannya sesuai petunjuk Sabrang, kini serangannya jauh lebih efektif dan mematikan. Sesuatu yang luput selama ini dari pengamatan Candrakurama.
Tungga dewi yang sedang bertarung dengan prajurit abadi pun sempat melihat Wanapati tersungkur untuk pertama kalinya.
"Apa hanya perasaanku saja jika Yang mulia akan semakin kuat jika bertemu lawan yang kuat juga," ucapnya kagum.
"Kau liat, tuanmu mulai meruntuhkan semangat bertarung lawannya secara perlahan. Semoga dia masih hidup saat aku bangkit nanti," Eyang wesi tak berhenti merasa kagum pada Sabrang.
Raut wajah Wanapati sedikit masam saat beberapa luka berhasil dibuat Sabrang.
"Mataku tak bisa membaca beberapa gerakannya? atau dia hanya perasaanku saja?" gumam Wanapati bingung.
Sabrang kembali menekan, kali ini dia sedikit meningkatkan kecepatannya.
"Tidak, tak mungkin mata bulanku tak bisa membaca gerakannya, ini hanya kebetulan," Wanapati mengalirkan tenaga dalam kepedang yang ada digenggaman nya.
Rasa percaya dirinya goyah saat mata kebanggaannya mulai kesulitan membaca serangan pedang Sabrang. Dia ingin segera mengakhirinya untuk mengembalikan rasa percaya diri yang selama ini dibangunnya.
Mata bulan Wanapati bersinar terang, beberapa tetes darah mulai keluar dari matanya. Wanapati seolah tidak perduli jika saat ini matanya terasa sangat sakit, yang ada dipikirannya adalah membaca seluruh gerakan Sabrang dan mengalahkannya.
Sabrang seolah mengerti jika lawannya mulai goyah, dia tersenyum kecil sambil menarik pedangnya kedepan.
"Bukan mata bulanmu yang salah namun tubuhmu yang tak mampu memaksimalkannya, mata bulan akan terus menyerap energi kehidupanmu tapi tidak bagi pemilik tubuh tujuh bintang. Kami bisa leluasa menggunakannya.
Kau memiliki potensi menjadi pendekar terkuat andai bisa memaksimalkan bakatmu namun kalian sepertinya benar benar bergantung dari semua penelitian, akan kutunjukkan bakat alami yang tidak bisa ditiru oleh ilmu pengetahuan kalian."
Sabrang bergerak maju menyambut serangan yang terarah padanya, dia mengalirkan energi Megantara kematanya.
__ADS_1
"Aku pasti menang, tak ada yang salah dengan mataku," gumam Wanapati.
"Jurus pedang seribu tebasan tingkat akhir : Penghancuran mutlak," Aura Wanapati meluap dengan cepat dan menekan seluruh area pertempuran, beberapa bangunan bahkan retak akibat tekanan aura milik Wanapati.
Sabrang terus mengalirkan tenaga dalam ketubuhnya untuk menekan aura itu.
"Jika kau merasa kagum padaku maka buatlah aku kagum pada kekuatanmu kek, berikan kekuatanmu dan serahkan sisanya padaku."
"Dengan senang hati nak," jawab Eyang wesi Megantara.
Tubuh Sabrang seperti terbakar saat energi Eyang wesi menyebar ke seluruh tubuhnya, Naga api dan Anom bahkan mulai berkeringat dingin saat merasakan tekanannya.
"Teruslah membuatku kagum, terkubur jutaan tahun membuatku bosan," teriak Eyang wesi.
Sabrang mengangguk pelan dan merapal jurus, ketika jurus pedang seribu tebasan hampir mengenai tubuhnya, Sabrang tanpa diduga menggunakan lengan kirinya untuk mematahkan serangan itu.
Wanapati yang merasa direndahkan terus menyerang tanpa menyadari masuk jebakan Sabrang. Semua jurus pedangnya kini terlihat lambat dimata biru Sabrang. Energi Eyang wesi membuat matanya kembali berevolusi tanpa batas.
"Dia benar benar membaca gerakan ku," umpat Wanapati yang berusaha menjauh setelah suhu udara meningkat cepat.
"Jurus api abadi tingkat akhir," Sabrang muncul tepat didekatnya sambil mengayunkan pedangnya.
"Aku kalah?" gumam Wanapati, dia terus berusaha menghindar sesaat sebelum lengan kiri Sabrang menembus punggungnya dan membuat tubuh nya berhenti bergerak.
Darah segar mengalir dari tubuhnya, semua menatap kekalahan salah satu dewa penjaga terkuat milik Masalembo.
"Mata milikmu semakin mirip dengan Yang mulia pemimpin dunia, trah Dwipa memang selalu membuatku kagum. Akan sangat menarik jika bisa menyaksikan dua mata terkuat saling bertarung," ucap Wanapati sebelum tubuhnya hangus menjadi abu.
"Kau bisa melihatnya dari neraka saat aku menghancurkan seluruh pemimpin dunia," ucap Sabrang pelan.
Ratusan prajurit abadi kembali muncul dan mengepung Sabrang, Wijaya yang melihat rajanya dikepung ratusan prajurit abadi berusaha membantu namun lengan Sabrang menghentikan langkahnya.
"Fokus pada lawanmu paman, bukankah itu perintahku?."
"Baik Yang mulia," jawab Wijaya sedikit gemetar. Sekilas dia tadi melihat tatapan mata Sabrang yang seolah mengancamnya.
"Kalian bebar benar tak memberikanku waktu beristirahat," Sabrang menggeleng pelan.
Dia menancapkan pedangnya ketanah sambil merapal jurus api abadi.
"Jurus api abadi tingkat 10 : Aura pedang penghancur", Sabrang menarik pedangnya ditanah sebelum melepaskan aura besar dari dalam pedang Naga api.
Aura merah khas Megantara yang bercampur dengan aura Naga api membuat ratusan prajurit abadi yang mengepungnya dengan formasi andalannya tiba tiba melayang di udara tanpa tau penyebabnya.
Belum selesai rasa terkejut mereka Sabrang sudah muncul dihadapan mereka dan membakar semua yang ada dalam jangkauannya.
Sabrang terlihat menari di udara dengan pedangnya. Dalam sekejap puluhan tubuh prajurit abadi jatuh ketanah dengan kepala terpenggal ataupun terbakar sampai menjadi abu.
Pemandangan mengerikan itu bahkan membuat Candrakurama takut, Sabrang seolah menjadi iblis pencabut nyawa saat itu.
Tebasan terakhirnya membakar satu pendekar tersisa sebelum dia mendarat dengan pedang menancap di tanah dan dia dalam posisi jongkok.
"Aku harus melakukannya karena kita gak bisa lama lama disini, masih banyak yang harus kita kerjakan," ucap Sabrang seolah tau jika Mentari yang melihatnya sedikit protes dengan kekejamannya.
"Mereka bukan lagi manusia dan sudah lama mati, saat ini yang ada di hadapanmu adalah iblis yang menguasai tubuh mereka. Singkirkan belas kasihmu sementara waktu."
"Baik Yang mulia." ucap Mentari pelan.
Amurti mulai hilang konsentrasinya saat melihat kakak seperguruannya mati di tangan Sabrang, terlihat dari serangan serangannya yang mulai mudah dibaca.
Candrakurama yang memiliki pengamatan bagus memanfaatkannya dengan baik.
Dia menggunakan serangan terbaiknya untuk membuat Amurti roboh ketanah.
Kehadiran Sabrang menbuat semangatnya berlipat, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan pendekar yang sangat dikaguminya itu.
Enam dewa masalembo telah mereka kalahkan, hal ini membuat mereka semakin optimis akan memenangkan pertempuran ini.
"Beristirahatlah sebentar untuk memulihkan kondisi kalian, kita akan bergerak setelah paman Wardhana muncul," perintah Sabrang pada Wijaya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Gasken...... Vote.....