
"Bagaimana kau bisa sekuat ini nak?". Ki Ageng berbicara pelan di ruangannya. Ki Ageng memang menyadari jika Sabrang memiliki bakat yang luar biasa namun dia tidak menyangka Sabrang akan sekuat ini dalam Waktu singkat.
Saat merasakan tenaga dalam yang besar sebelum kedatangan Sabrang dia mengira itu tenaga dalam milik Kertasura namun ternyata itu tenada dalam Sabrang.
"Ceritanya panjang kek, banyak hal telah kulalui selama ini". Sabrang menceritakan semuanya pada Ki Ageng termasuk menemukan jurus api abadi yang telah disempurnakan di dalam sebuah jurang. Juga tentang Keris penguasa kegelapan yang kini dimilikinya.
"Lalu apakah urusan mu sudah selesai?". Tanya Ki Ageng.
Sabrang menggeleng pelan "Tiga purnama lagi pintu Dieng akan terbuka kek, aku ingin mengunjungi makam ibu sebelum mempersiapkan semuanya. Selain itu aku ingin bertemu Kakek guru untuk memberitahukan hal ini". Ucap Sabrang.
Ki Angeng terdiam mendengar ucapan Sabrang, dia menatap Sabrang sesaat. Ada rasa bangga dalam hatinya, anak yang dulu selalu membuat masalah kini telah tumbuh menjadi pendekar pilih tanding bahkan mungkin telah melewatinya.
"Kau benar benar ingin masuk ke Dieng nak?". Ki Ageng menghela nafasnya.
Sabrang mengangguk "Aku harus masuk kesana kek, ada sesuatu yang sepertinya menarikku kesana dan aku ingin memastikan apa itu".
Ki Ageng memejamkan matanya sesaat.
"Sebelum ibumu tiada dia melarangku untuk mengajarimu ilmu kanuragan namun aku sepertinya gagal melaksanakan amanat Yang mulia Ratu. Kau seperti di takdirkan untuk terjun kedunia persilatan". Ucap ki Ageng.
"Maaf kek". Ucap Sabrang pelan sambil menundukan kepalanya. Dia ingat betul ki Ageng berusaha sekuat tenaga merayunya untuk tidak mempelajari ilmu kanuragan namun Sabrang selalu menolak dan memaksa ki Ageng mengajarkannya ilmu kanuragan.
"Kau tidak salah nak, sudah jalanmu menjadi seorang pendekar. Kakek hanya berpesan padamu untuk menggunakan kekuatanmu sebaik mungkin". Ki Ageng tersenyum lembut.
Saat mereka sedang asik berbicara tiba tiba pintu ruangan terbuka.
"Sudah kuduga kau yang membuat keributan tadi". Suliwa muncul dari balik pintu bersama Wulan sari.
"Guru". Ki Ageng menundukan kepalanya.
"Bagaimana kakek guru bisa tau aku telah kembali?". Sabrang berkata pelan.
"Mudah saja, Aku merasakan energi keris penguasa kegelapan yang mendekat dan hanya keturunan trah Dwipa yang bisa menaklukan keris itu. Kau sepertinya bertambah kuat nak". Suliwa tersenyum lembut.
Namun senyum Suliwa tak bertahan lama saat menatap Mata Sabrang begitu juga dengan Wulan sari.
"Jadi kau benar benar membangkitkan mata bulan ya?". Raut wajah Suliwa berubah serius.
"Mata bulan?". Ki Ageng yang kini terkejut setelah mendengar ucapan Suliwa.
Suliwa terlihat menarik nafas panjang "Sebagai pemilik tubuh 7 bintang aku sudah memprediksi kau akan membangkitkan mata itu namun aku tidak menyangka akan secepat ini".
"Apakah mata ini sangat berbahaya?". Sabrang bertanya setelah menyadari raut wajah Suliwa berubah.
"Mata bulan biasa disebut sebagai mata kutukan karena mata itu menyerap energi kehidupan pemilik tubuh 7 bintang. Dia akan memberimu kemampuan melihat beberapa detik kedepan namun sebagai bayarannya dia akan merubahmu pelan pelan. Sifatmu akan menjadi pemarah karena yang ada dipikiranmu hanya bertarung. Kau beruntung memiliki Naga api didalam tubuhmu, aku yakin dia akan sekuat tenaga menekan efek mata itu karena dia juga mengincar tubuhmu".
__ADS_1
Sabrang menganggukkan kepala, dia juga merasakan setelah menguasai ilmu api abadi tingkat sempurna perlahan dia mudah tersinggung.
"Apa tidak ada cara untuk mengatasinya guru?". Ki Ageng bertanya pelan. Dia cukup khawatir setelah melihat sendiri bagaimana kejamnya Sabrang membantai para prajurit Majasari tadi.
"Aku tidak yakin namun konon sesuatu yang ada di Lembah merah Dieng bisa menetralkan mata itu. Tapi sekali lagi aku tidak yakin karena semua hanya cerita". Suliwa menatap Sabrang sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Nak, aku pernah bertemu dengan ayahmu, dia adalah orang yang baik. Aku sempat berfikir ayahmulah pemilik tubuh 7 bintang namun ternyata bukan. Ayahmu pernah berkata padaku jika boleh memilih dia tidak ingin dilahirkan sebagai keturunan trah Dwipa. Ada sejarah kelam di masa lalu trahmu, ku harap kau benar benar menahan efek Mata bulan itu atau sejarah itu akan terulang kembali".
"Sejarah kelam?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak bisa cerita saat ini, kau akan mengetahuinya saat kita masuk Dieng".
"Lalu apa yang kau temukan di sekte Bintang langit?". Suliwa mencoba mengalihkan pembicaraan memgenai mata bulan karena takut Sabrang banyak bertanya. "Belum saatnya kau mengetahuinya nak". Gumamnya dalam hati.
Sabrang kemudian menceritakan semuanya yang dia ketahui termasuk tentang gerbang Dieng yang terbuka hanya sekali dalam setahun.
"Tiga purnama lagi ya. Sepertinya waktu yang cukup bagiku untuk membuat sedikit persiapan". Ucap Suliwa.
***
Sabrang melangkah pelan menyusuri lereng gunung bersama ki Ageng. Pikirannya melayang entah kemana, ini pertama kalinya dia mengunjungi makam ibunya.
"Di sini aku menemukan Yang mulia Ratu sedang terluka saat aku sedang mencari kayu bakar. Aku sangat menyesal terlambat menemukannya nak". Ucap ki Ageng pelan.
Tangannya mengepal menahan amarah dan tanpa dia sadari aura hitam pekat mulai menyelimuti tubuhnya.
"Ingatlah pesan kakek gurumu". Ki Ageng memperingatkan Sabrang untuk menahan amarahnya.
"Maaf kek". Sabrang mengangguk pelan, dia menarik kembali aura hitam ditubuhnya.
"Sangat sulit mengendalikan mata ini, aku harus hati hati". Ucap Sabrang dalam hati.
"Itukah makam ibu?". Sabrang menunjuk sebuah gundukan tanah yang terawat dengan baik tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ki Ageng mengangguk "Pergilah, aku akan menunggu di sini".
Sabrang melangkah mendekati makam ibunya, hatinya serasa bergetar ketika menatap makam itu.
"Ibu, aku datang untuk menjengukmu". Air mata menetes dari matanya.
"Apakah ayah bersamamu bu? Jika dia bersamamu tolong katakan padanya apa yang harus aku lakukan bu?. Aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan".
"Kakek bisa tinggalkan aku sendiri? aku akan bermalam di sini malam ini, besok sebelum matahari terbit aku akan kembali". Ucap Sabrang lirih.
"Baik nak".
__ADS_1
***
Saat Sabrang mulai bisa mengendalikan diri dia mulai menyadari ada yang aneh dengan makam ibunya. Beberapa ikat bunga berwarna ungu terlihat di makam ibunya.
"Bunga ini? Apa kakek yang menaruhnya disini". Dia seperti pernah melihat bunga berwarna ungu itu.
"Dimana aku pernah melihatnya?". Sabrang berusaha mengingat ingat.
"Sekte Bintang Langit". Sabrang akhirnya ingat jika dia pernah melihat bunga itu tumbuh di Sekte bintang langit. Tak lama dia mengernyitkan dahinya bingung. Bunga ungu itu hanya tumbuh di bukit Cetho.
"Siapa yang membawanya kesini?". Tiba tiba raut wajah Sabrang berubah saat dia teringat percakapan terakhirnya dengan Lingga maheswara beberapa saat sebelum meninggalkan sekte Bintang Langit.
"Aku harus pergi kesuatu tempat sebelum kembali ke sekte Iblis hitam. Berhati hatilah, aku akan menunggumu di kaki bukit Cetho 3 purnama lagi".
Sebuah senyuman terbentuk di bibir Sabrang kala mengingat kata kata itu.
"Terima kasih". Ucap Sabrang pelan.
***
Semua yang ada diruangan tersentak kaget mendengar permintaan Sabrang. Mereka tidak habis pikir Sabrang akan meminta sesuatu yang tidak masuk akal.
"Nak disana tidak ada apa apa kecuali kegelapan. Lagipula dasar Lembah sukma ilang adalah tempat yang sakral bagi kelompok Teratai merah, disana adalah tempat penobatan ketua baru kelompok teratai merah. Aku takut tidak dapat mengabulkannya". Ucap Wulan sari.
"Nek aku mohon untuk kali ini saja". Sabrang masih berusaha merayu Wulan sari.
"Apa yang sebenarnya akan kau lakukan disana?". Tanya Wulan sari.
"Aku ingin berlatih selama beberapa purnama disana tanpa gangguan siapapun sebelum gerbang Dieng terbuka. Aku harus meningkatkan kekuatanku nek, kita tidak tau apa yang akan kita temui di Dieng".
Wulan sari menarik nafas panjang sambil menatap Suliwa meminta persetujuan.
"Baiklah, Tantri akan mengantarmu ke dasar lembah. Tapi kau harus Ingat tiga purnama lagi gerbang itu akan terbuka, jangan terlambat untuk naik atau kau akan ditinggal".
"Terima kasih nek, aku akan berisiap". Sabrang berjalan cepat keluar dengan wajah senang.
Sabrang menghentikan langkahnya tepat didepan pintu ketika melihat Mentari yang menatapnya sedih.
"Aku harus melakukan ini". Ucap Sabrang pelan.
"Aku tau". Jawab Mentari pelan.
"Tinggalah di sini bersama kakek, dua purnama lagi aku akan menjemputmu". Ucap Sabrang sambil tersenyum hangat.
"Baik tuan muda, berhati hatilah".
__ADS_1