
Pertarungan Sabrang dengan Ahsan dan sepuluh pendekar kilat hitam Masalembo cukup sengit, walau Sabrang yakin bisa mengalahkan mereka semua namun nyatanya tak mudah menghadapi mereka sekaligus.
Sepuluh pendekar kilat hitam memang setingkat berada dibawah dewa penjaga Masalembo namun kemampuan mereka tak terlalu jauh dibawah Ahsan.
Sabrang sedikit menyesal tidak membunuh Ahsan lebih dulu. Niat Sabrang untuk menghemat tenaga dalamnya terpaksa harus dilupakan karena dia bisa terluka jika menahan kekuatannya.
"Bukan mustahil untuk mengalahkannya jika matanya bisa kita lukai karena mata itu yang membuatnya bisa membaca semua serangan kita. Fokuskan penyerangan ke mata bulannya," ucap Ahsan setengah berbisik.
Para pendekar kilat hitam mengangguk sambil terus menekan Sabrang dengan formasinya, Ahsan ikut menyerang disela sela formasi mereka.
Salah satu pendekar berhasil mendekat dan berusaha menyerang mata bulan Sabrang namun beruntung gerakannya sempat terbaca sehingga Sabrang mampu menghindar.
Sabrang menjauhkan wajahnya sambil menarik energi keris untuk menghalau serangan yang terarah padanya.
Saat pendekar itu mencoba menghindar, Sabrang merubah posisi pedangnya.
"Pedang jiwa tingkat II : Tarian pelebur sukma," Sabrang langsung menyerang sambil mengarahkan energi keris ke pendekar lainnya yang mencoba mengambil kesempatan menyerang.
Sebuah tebasan tajam tepat mengenai pendekar itu, dia berusaha mundur untuk mengobati lukanya namun gerakan Sabrang lebih cepat. Dia menggunakan ilmu ruang dan waktu untuk berpindah tempat dan menusukkan pedang naga api ke tubuh pendekar itu.
Satu pendekar kilat hitam meregang nyawa, membuat yang lainnya murka. Mereka terus berusaha menyerang walaupun Sabrang bisa menghindari dengan sempurna.
"Sial, mereka mengincar mataku, jika terus seperti ini maka tenaga dalamku akan habis," umpat Sabrang.
"Apa kau takut menggunakannya?" ejek Naga api dalam pikiran Sabrang.
"Maksudmu jurus tingkat 5 dari Pedang jiwa? aku bahkan belum bisa menguasai pengendalian energi alam, jika aku salah sedikit saja, bukan hanya tubuhku yang hancur namun ledakan pedang jiwa akan membunuh hampir separuh orang disini," balas Sabrang pelan sambil terus menyerang.
"Kau hampir membunuh satu sekte saat gadis racun itu hampir mati di sekte Kelelawar hijau, bukankah kau sudah sering mengambil resiko seperti ini? mereka buka lawan yang mudah dihadapi.
Aku yakin kau mampu mengalahkan mereka dengan cara seperti biasa namun saat kau akan kehabisan tenaga dalam dan kita tidak tau apa yang kita hadapi didepan sana.
Semua orang kini tergantung padamu, kau harus menunjukkan sesuatu yang membuat mereka yakin akan memenangkan pertarungan ini."
Sabrang kembali terpental mundur setelah serangan kombinasi lawan mampu mengambil celah yang dia tinggalkan.
Sabrang tersenyum kecil sesaat sebelum kembali menghilang dari pandangan dengan jurus ruang dan waktu.
"Kau tau Naga api, kekuatan pedang jiwa sangat mengerikan, jika aku terlalu sering menggunakan jurus itu maka pedang ini akan hancur. Itulah sebabnya aku hanya akan menggunakan disaat yang cukup genting," ucap Sabrang.
Dia muncul kembali diantara pendekar kilat hitam dan langsung menyerang kembali.
"Matanya benar benar menyulitkan namun mau sampai kapan dia bisa menggunakan secara terus menerus. Pertahankan formasi dan terus menekan, aku yakin celah akan terbuka seiring dengan habisnya tenaga dalamnya," perintah Ahsan.
"Jika pedang ini hancur, kau masih bisa menggunakan kekuatanku dengan pedang lainnya namun kau tak akan bisa mencari pengganti wanitamu," ucap Naga api pelan.
"Wanitaku?" Sabrang mengernyitkan dahinya sambil menoleh kearah pertarungan Tungga dewi dan Mentari.
Mereka tampak mulai terdesak karena kekuatan Anrika jauh di atas Gendis yang mereka kalahkan di Hujung tanah.
Sabrang tampak terkejut dan baru menyadari pertarungan Tungga dewi sudah memasuki tahap akhir, dia terlalu berkonsentrasi dengan lawan yang dihadapinya.
"Kau memang paling pintar memaksaku Naga api, baiklah ayo kita hancurkan mereka," Sabrang menggunakan Cakra manggilingan untuk menarik seluruh energi alam dan mengalirkannya keseluruh tubuhnya.
Suasana Masalembo tiba tiba mencekam, aura hitam seolah menyelimuti seluruh area daratan tersebut sebelum masuk kedalam tubuh Sabrang dengan cepat.
Aura yang menyelimuti tubuh Sabrang seolah menyerap semua yang ada disekitarnya. Ahsan dengan cepat memerintahkan para pendekar petir untuk mengambil jarak.
Kuntala, komandan dewa penjaga Masalembo yang berada diruang utama dan jauh dari area pertempuran pun merasakan aura besar itu.
"Aura ini? ada yang tidak beres di gerbang utama," gumam Kuntala dalam hati.
"Kanagara, kumpulkan semua dewa penjaga Masalembo dan pasukannya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan gerbang utama," perintah Kuntala.
"Baik komandan, hamba akan memeriksa keadaan gerbang utama," Kanagara menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi."
"Auranya sangat mirip dengan Naraya, apa mungkin keturunan Dwipa datang kemari? jika benar dia ada disini berarti hilangnya Umbara dan Gendis terjawab sudah. Aku terllau meremehkannya," ucap Kuntala khawatir.
Anrika mengambil jarak setelah memukul mundur Mentari dan Tungga dewi, perasaannya tampak gelisah setelah merasakan aura Sabrang terus meluap.
"Bagaimana tubuhnya bisa kuat menerima tekanan tenaga dalam sebesar ini?" ucap Anrika bingung.
Anrika menoleh kearah Ahsan yang wajahnya juga memburuk, dia mengira Sabrang sudah mencapai batasnya namun perkiraannya salah. Kekuatan Sabrang seolah tak ada batasnya.
Ahsan memperkirakan kekuatan Sabrang kini jauh di atas Naraya yang dulu pernah mereka kalahkan.
__ADS_1
"Pergilah dan bantu paman Wardhana, aku akan membereskan mereka sebelum menyusul kalian," perintah Sabrang pada Mentari dan Tungga dewi.
"Baik Yang mulia," jawab Mentari dan Tungga dewi bersamaan.
Anrika tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Sabrang, dia merasa Sabrang terlalu meremehkannya.
"Apa kau pikir aku akan membiarkannya pergi?," ucap Anrika sambil melepaskan aura ditubuhnya.
"Jika aku bilang pergi maka tak ada yang bisa mencegahnya walau seratus dewa Masalembo menghandangku," Sabrang mengarahkan lengannya kearah Anrika.
"Gawat," Anrika mencoba menghindar namun tubuhnya tiba tiba terhisap lengan Sabrang.
Anrika membentuk perisai dari bebatuan yang ada disekitarnya untuk melindungi tubuhnya.
Dua pendekar kilat hitam yang mencoba menyerang Sabrang terpaksa mundur saat sebuah energi ruang dan waktu berusaha menghisapnya.
Sabrang menghentakkan kakinya untuk membuat puluhan batu melayang disekitarnya dan disaat bersamaan merapal jurus tinju kilat hitam.
"Aku tak bisa menggerakkan tubuhku," ucap Antika pucat, dia terus mengalirkan tenaga dalamnya ke perisai batu yang terbentuk didepan tubuhnya.
"Kau pikir batu itu bisa melindungimu?" Sabrang bergerak maju dan melepaskan tinju kilat hitamnya kearah perisai batu.
Ledakan tenaga dalam membuat baru itu hancur berkeping keping dan berbalik menyerang Anrika yang membuat tubuhnya terdorong beberapa langkah.
Saat Anrika berusaha mengatur ulang kuda kudanya, Sabrang telah berada cukup dekat dengannya dan langsung menyerangnya.
"Pedang jiwa tingkat III : Energi perusak jiwa," Energi pedang Naga api solah menembus tubuh Anrika dan memotong tubuh semua pendekar yang dilewatinya sebelum berakhir didinding gerbang Masalembo yang menimbulkan ledakan besar.
"Aku baik baik saja?," ucap Anrika bingung saat tidak merasakan sakit apapun, padahal dia cukup yakin sesuatu tadi menembus tubuhnya.
Namun semua tersentak kaget saat tubuh Anrika terbelah menjadi dua beberapa saat kemudian.
"Kau beruntung menjadi orang pertama yang merasakan jurusku," Sabrang menarik pedangnya dan menaruh dipundaknya.
Dia menatap sekitarnya dan melihat pasukan Lingga sudah bergerak maju.
"Sepertinya semua sesuai rencana paman Wardhana, aku harus cepat atau akan tertinggal jauh," Sabrang mengarahkan pedangnya ke para pendekar kilat hitam.
"Jangan pernah berfikir untuk lari karena aku tak berniat menyisakan satupun pendekar Masalembo," ancam Sabrang seolah tau isi hati mereka yang mulai bimbang setelah melihat kekuatannya.
Ahsan sadar hanya gabungan kekuatan seluruh dewa penjaga Masalembo yang mampu menghentikan Sabrang namun sampai saat ini tak terlihat satupun anggota dewa penjaga yang datang membantu.
"Aku harus mencari cara melarikan diri dan melaporkan ini pada komandan," gumam Ahsan dalam hati, dia bertekad mencari celah untuk melarikan diri walaupun akan sangat sulit lepas dari mata bulan Sabrang.
"Bakar mereka semua Naga api," Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi sambil terus melepaskan auranya.
Para pendekar kilat hitam terlihat mengumpat dan bersiap menyambut serangan mematikan itu. Mereka sadar hanya bertahanlah yang dapat membuat nyawanya selamat walau sangat kecil kemungkinan menang.
"Pertahankan formasi," teriak Ahsan saat kobaran api mendekati mereka.
"Tarian iblis pedang," Sabrang tiba tiba menggunakan jurus milik Iblis hitam itu dan mendaratkan serangannya pada salah satu pendekar yang terlihat tidak siap.
"Arghh," tubuh pendekar itu roboh dengan lengan terputus.
Pendekar lainnya yang melihat temannya roboh mencoba menjaga jarak namun Sabrang tak membiarkannya.
Dia melepaskan aura yang jauh lebih besar sambil bergerak mendekati mereka.
"Apa yang kalian lakukan? pertahankan formasi," umpat Ahsan.
"Saatnya mengirim kalian semua ke neraka," Sabrang merubah sedikit gerakannya dan merapal sebuah jurus.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," Sabrang merasakan tubuhnya hampir meledak saat energi alam seolah berbenturan dengan energi naga api dan Anom.
Namun akibat benturan tenaga dalam itu, tubuhnya mengalami peningkatan kecepatan yang mengerikan.
Gagang pedang Naga api yang bergambar kepala Naga tampak bersinar di bagian matanya.
Hampir seluruh pendekar Masalembo tak bisa melihat kecepatannya. Satu persatu tubuh mereka roboh ketanah dan terbakar hangus saat merasakan angin melewati mereka.
"Jurus pedang jiwa? harusnya aku menyadari dari awal jika dia menggunakan jurus milik Naraya", Ahsan menggeleng pelan sambil berusaha melarikan diri.
"Tidak, jurusnya jauh lebih kuat dari Naraya. Bagaimana ini bisa terjadi? harusnya hanya Naraya yang bisa menguasai jurus ini karena darah yang mengalir dalam tubuhnya masih asli milik trah Dwipa.
Darah anak ini telah bercampur dengan orang biasa dan aku sudah memastikan jika ibunya tak memiliki riwayat pendekar hebat dari leluhurnya namun bagaimana dia bisa jauh lebih kuat dari pemilik darah asli Dwipa?" langkah Ahsan terhenti ketika sebuah angin seperti menghantam tubuhnya.
__ADS_1
Ahsan masih dapat melihat pedang Naga api menembus tubuhnya.
"Kecepatan jurus pedang jiwa sangat mengerikan, bahkan tak ada rasa sakit pada tebasannya, aku benar benar tidak mengerti bagaimana anak itu bisa lebih kuat dari leluhurnya," Ahsan roboh ketanah dengan tubuh terbelah.
Sabrang masih mematung sambil mengatur nafasnya, menggunakan jurus pedang jiwa tingkat lima membuat organ dalamnya seperti hancur.
Darah segar keluar dari mulut Sabrang, dia memutuskan duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalamnya.
"Tak kusangka jurus ini memiliki daya rusak yang cukup besar bagi penggunanya," gumam Sabrang pelan.
Dia mengernyitkan dahinya saat melihat retakan yang cukup besar di Pedang Naga apinya.
"Bahkan pedang Naga api tak mampu menahan efek jurus ini."
Saat Sabrang sedang mengalirkan tenaga dalamnya tiba tiba tubuhnya terpental jauh akibat benturan energi yang tepat mengenai tubuhnya.
"Dewa penjaga Malalembo? gawat tubuhku belum pulih benar," ucap Sabrang sambil memperhatikan seorang kakek tua berbaju lusuh berdiri dihadapannya.
"Tak kusangka ada yang mampu menarik energiku," umpat kakek itu sambil menatap tajam Sabrang.
"Auranya kuat sekali," gumam Sabrang dalam hati.
Kobaran api kembali menyelimuti tubuh Sabrang, dia bermaksud menekan kakek tua itu.
"Naga api? kau pikir mainan kecilmu bisa melawanku?" ujar kakek itu sinis.
"Kau boleh berkata apapun namun akan kupastikan kau merasakan kekuatan Naga api," ancam Sabrang.
"Sepertinya pikiranmu salah anak muda, bukan Naga api yang membuatmu kuat namun kau yang membuat Naga api kuat, mahluk lemah sepertinya hanya akan menjadi besi berkarat tanpa tubuhmu," ejek pria tua itu.
"Akan kubakar mulut besarmu orang tua," ancam Naga api tiba tiba.
Sabrang bangkit dan bersiap menyerang.
"Kau beruntung hanya berhasil menarik sebagian kecil energiku karena jika tidak maka saat ini tubuhmu sudah hancur saat menerima seranganku."
"Biarpun aku harus hancur berkali kali namun kau tak akan bisa menghalangiku menghancurkan Masalembo," ucap Sabrang sambil bergerak menyerang namun tubuhnya kembali terpental terkena aura aneh kakek itu.
"Trah dwipa memang mengerikan namun aku tak menyangka kau sudah tak memiliki darah asli Dwipa bisa jauh lebih kuat dari Naraya. Sebagai rasa terima kasih telah menunjukkan sesuatu yang menarik, aku akan membantumu walau hanya sedikit energiku yang bisa kau gunakan," ucap pria tua itu.
"Membantuku? siapa anda sebenarnya?," tanya Sabrang terkejut.
"Kau boleh memanggilku Eyang wesi Megantara, mahluk terkuat penjaga tanah Jawata," jawab Eyang wesi.
"Megantara? pusaka dalam ramalan," Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau mengetahuinya? aku telah membuat perjanjian dengan Naraya untuk menghancurkan musuh yang kau lawan saat ini. Aku sempat berfikir kau adalah orang dalam ramalan itu namun aku ragu bisa membantumu saat ini.
Naraya menyegel ku dengan segel khusus karena Masalembo juga mengincarku untuk menyempurnakan rencana mereka. Segel itu tak bisa dibuka oleh siapapun dan akan hilang sendiri sesuai waktu yang ditentukan Naraya.
Aku cukup terkejut kau mampu menembus segel itu walau hanya bisa menarik energiku sedikit, untuk itu aku akan tetap membantumu walau dengan energiku yang terbatas."
"Jadi kau adalah Megantara, aku mengerti sekarang kenapa tubuhku tadi terasa hampir meledak, kau benar benar sulit dikendalikan"
"Tak semua orang mampu menerima energiku dan aku sempat yakin tubuhmu pun tak akan mampu namun kau membuktikan bukan pendekar sembarangan.
Jurus pedang jiwa bukan ilmu yang bisa dikuasai sembarangan, jurus itu akan merusak tubuhmu perlahan namun kau tak perlu khawatir energiku akan melindungi tubuhmu dari efek pedang jiwa.
Senang bertemu pendekar hebat sepertimu, kelak siapapun tuanku akan kukatakan jika pernah ada seorang pendekar muda terhebat yang mengguncang Masalembo dengan ilmu kanuragannya," tubuh Eyang wesi Megantara perlahan berubah menjadi aura merah dan masuk kedalam tubuh Sabrang dengan cepat.
Sabrang merasakan energi besar mengalir dalam tubuhnya, mata birunya perlahan bercampur warna merah khas energi Megantara.
"Ini sudah cukup kek, bersama Naga api dan Anom akan kupastikan Masalembo menjadi abu," ucap Sabrang sesaat sebelum melesat pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini hampir 3 chapter saya gabung jadi satu, selamat membaca.
Ada yang bertanya, apakah Naga api akan tamat dalam beberapa hari kedepan?
saya jawab belum... Sabrang masih harus merebut Malwageni dan menikahi 3 bidadari yang selalu bersamanya.. Agak susah membuat adegan bagaimana mereka bisa akur dan saling menerima (Ahhh andai Author bisa menemukan 3 wanita yang mau saling berbagi wkwkwkwk)
Terakhir mbang
Author bukan mengemis Vote namun tolong berikan dukungan jika kalian merasa novel ini pantas didukung.
__ADS_1
Selamat akhir pekan....