Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Inti dari Ilmu Kanuragan


__ADS_3

"Tiga purnama?" Wardhana tampak terkejut setelah mendengar ucapan Sabrang, dia menoleh kearah Arung yang berdiri dibelakang Sabrang sambil mengangkat bahu.


"Maaf Yang mulia namun jika anda pergi selama itu, Malwageni akan sedikit kacau. Saat ini seluruh elemen kerajaan sedang membutuhkan keputusan keputusan anda," jawab Wardhana pelan.


"Aku tau paman namun aku benar benar harus melakukan ini," Sabrang menarik nafasnya sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku dan Arung bertemu Rubah putih tadi malam."


"Rubah putih?" Wajah Wardhana tampak berubah seketika.


"Aku bertemu dengannya di suatu tempat, dan paman tau apa yang terjadi? aku dikalahkannya dengan sangat mudah, bahkan pedang jiwaku tak terlalu berarti dihadapannya.


Kita beruntung dia bukan lawan kita, aku tidak tau siapa dia sebenarnya namun yang pasti musuhnya juga Masalembo.


Masalembo tak akan membiarkan kita hidup setelah menghancurkan daratannya dan kekuatanku saat ini tak akan sanggup melindungi kalian. Aku harus terus menjadi kuat atau Malwageni akan hancur," jawab Sabrang.


"Tapi Yang mulia, bagaimana jika hamba ingin bertemu dengan anda? hamba bisa mengatur beberapa kegiatan Malwageni namun ada hal hal yang harus anda yang memutuskan."


Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum menoleh kearah Arung.


"Sampaikan saja pesannya ada Arung, dia akan mengantarkannya padaku atau jika paman sangat mendesak harus bertemu denganku, Arung yang akan mengantarkannya," jawab Sabrang pelan.


Wardhana mengangguk pelan, walau dia masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Sabrang namun dia tau apa yang dilakukan Sabrang kali ini demi Malwageni.


"Rahasiakan ini dari semuanya, aku tidak ingin ada kehebohan didalam istana. Katakan pada mereka jika aku sedang bertapa brata untuk mempelajari jurus baru, dan pastikan ratuku meminum habis ramuan yang kuberikan."


"Hamba akan mengingat semua pesan anda Yang mulia," jawab Wardhana.


"Kuserahkan sementara Mawlageni, paman bisa berkonsultasi dengan Dewi karena bagaimanapun dia adalah ratuku. Aku ingin kepergian ku kali ini dirahasiakan paman, untuk beberapa pertemuan besar laksanakan pada malam hari agar aku bisa muncul." ucap Sabrang pelan.


"Hamba menerima perintah Yang mulia," jawab Wardhana.


Sabrang mengangguk pelan, dia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar.


"Arung tolong jaga ratu selama aku pergi," ucap Sabrang pelan sesaat sebelum tubuhnya menghilang.


"Baik Yang mulia," Arung menundukkan kepalanya.


***


Air terjun Lembah pelangi adalah sebuah air terjun tersembunyi di hutan larangan yang terletak di gunung Tidar yang sering disebut sebagai paku bumi.


Letak air terjun lembah pelangi sebenarnya berada diantara hutan larangan dan Telaga khayangan api namun tak ada yang bisa menemukannya karena ditutupi oleh segel kabut.


Dalam gelapnya malam yang hanya diterangi oleh sinar bulan, Wulan tampak duduk bersila tepat dipinggir aliran sungai.


Tubuhnya tampak diselimuti aura berwarna kuning emas, untuk beberapa saat rambutnya tampak sedikit memutih sebelum Wulan menarik kembali ajian Inti lebur saketi.


"Aku paling membenci ajian ini, untuk apa memiliki ilmu kanuragan tinggi jika aku tampak tua seperti rubah putih," umpat Wulan kesal.


Wajahnya makin kesal saat dia berjalan mendekati aliran sungai dan melihat pantulan wajahnya di air, beberapa rambutnya tampak memutih.


"Hormat pada bibi," ucap Sabrang yang muncul tiba tiba didekat Wulan.


"Bibi?" Wulan menatap tajam Sabrang,

__ADS_1


"Ah Wulan maksudku, maaf aku sedikit terlambat," Sabrang mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia benar benar dibuat bingung oleh sikap Wulan, tak mungkin dia menyebut namanya langsung karena terkesan kurang sopan namun dewi kematian berkeras ingin dipanggil dengan nama langsung.


"Duduklah, ada yang ingin kukatakan padamu," ucap Wulan pelan.


"Trah Tumerah memilik keistimewaan yang sebenarnya jauh lebih besar dari dua trah besar lainnya. Kita memiliki energi murni yang sangat besar dan tidak terbatas namun semua itu justru menjadi kelemahan kita," ucap Wulan menjelaskan.


"Kelemahan?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Trah tumerah berbeda dengan Dwipa yang memiliki tubuh istimewa tujuh bintang yang mampu menampung kekuatan sebesar apapun. Walau kami memiliki energi murni yang sangat besar namun tubuh kami cenderung lemah sehingga belum ada yang benar benar bisa memaksimalkan energi murni termasuk aku.


Berbeda dengan energi iblis api dan Megantara yang ada ditubuhmu, energi murni jauh lebih padat dan kadang dapat merusak tubuh penggunanya. Energi murni sebenarnya paling cocok digunakan oleh trah Dwipa yang memiliki tubuh istimewa.


Kau bisa membayangkan bagaimana mengerikannya jika trah dwipa memiliki energi murni? tubuh tujuh bintang akan mampu memaksimalkan energi murni. Itulah awal dari larangan pernikahan diantara trah besar Masalembo."


Wulan membuka gulungan yang sudah disiapkannya, gulungan lusuh yang sebenarnya hampir dilupakannya.


"Kau memiliki darah terlarang dan aku yakin kau mampu memaksimalkan energi murni Tumerah yang selama ini hanya bisa dilakukan olehnya namun walaupun kau memiliki tubuh tujuh bintang bukan berarti tanpa resiko.


Saat kau mampu memaksimalkan energi murni dalam tubuhmu, tubuh tujuh bintang akan bereaksi ketika kekuatan besar mencoba meluap keluar. Sebagai akibat dari reaksi tubuh yang sedang beradaptasi rambutmu akan memutih seluruhnya dan jika kau salah mengendalikannya maka organ dalammu akan hancur akibat tekanan yang berlebihan. Apa kau siap menerima semua resiko itu?"


"Apakah kakek Rubah putih juga mempelajari ajian ini?"


Wulan menggeleng pelan, "Dia sedikit istimewa, konon rambutnya sudah memutih sejak lahir karena kekuatannya dibawa sejak lahir. Kelak kau akan mengetahui siapa dia sebenarnya namun untuk saat ini ada beberapa hal yang membuat dia merahasiakan jati dirinya," balas Wulan.


"Jadi rambut putih anda juga karena mempelajari..." Sabrang menghentikan ucapannya saat menyadari kesalahannya.


"Cukup katakan kau siap atau tidak menerima semua resiko mempelajari ajian inti lebur saketi?" bentak Wulan kemudian.


"Aku akan menerima semua resikonya asalkan bisa melindungi Mawageni," jawab Sabrang cepat saat Wulan mulai tersulut emosinya.


"Mendekatlah," ucap Wulan sambil mengalirkan energi murninya ke ujung jari telunjuk.


"Trah Tumerah mempunya energi murni yang tersimpan di beberapa bagian tubuhmu. Saat aku melihatmu pertama kali aku sempat merasakan energi murni mu sesaat karena tertutupi oleh energi Iblis api. Bersiaplah, ini akan sedikit sakit," ucap Wulan sambil memegang kepala Sabrang.


Cakra energi murni yang paling besar tersimpan di puncak kepala ubun ubun," Wulan menekan ubun ubun Sabrang sambil mengalirkan tenaga dalam murninya.


"Kemudian titik dahi diantara dua alismu," Wulan terus menotok beberapa bagian tubuh Sabrang dengan cepat.


Efek totokan Wulan mulai terlihat, mata bulan seolah bereaksi tanpa perintah Sabrang. Mata biru itu hampir memindahkan Wulan kedalam ruang dan waktu andai dia tidak cepat bereaksi.


Wulan menutup mata Sabrang dengan tangan kirinya sambil menekannya dengan energi murni.


"Mata bulan bereaksi dengan energi murni?" Wulan tampak terkejut, dia tidak menyangka mata itu hampir mengurungnya di dimensi ruang dan waktu.


Setelah dia dapat mengendalikan mata bulan itu, Wulan melanjutkan totokannya.


"Pusar sebagai pusat kehidupan sekaligus pengendali seluruh organ tubuhmu," tepat setelah dia menotok bagian pusar, energi kuning meluap dari tubuh Sabrang membuat Wulan terdorong mundur.


"Energi murninya sedikit berbeda? apa mungkin efek campuran darah trah Dwipa?" Wulan mengernyitkan dahinya.


"Alirkan energi murni keseluruh tubuhmu secara perlahan, jangan sampai menumpuk di satu titik atau kau akan terluka."


Wulan terus memperhatikan Sabrang dengan wajah cemas, membuka titik tersimpannya energi murni adalah saat yang paling berbahaya sebelum mempelajari ajian Inti lebur saketi. Jika penggunanya tidak mampu mengendalikannya maka tubuhnya akan hancur perlahan.

__ADS_1


Wulan melompat mundur sambil melepaskan energi murninya saat merasakan energi ruang dan waktu muncul didekatnya. Dia menciptakan dinding energi untuk melindungi tubuhnya dari hisapan ruang dan waktu.


"Kendalikan matamu," teriak Wulan sambil terus menatap sekitarnya.


Mata bulan Sabrang kembali bereaksi tanpa perintah akibat efek energi murni. Tubuh Sabrang bergetar hebat, dia terus berusaha mengendalikan energi dalam tubuhnya dengan bantuan Naga api.


Perlahan namun pasti rambutnya mulai memutih dan mata bulannya berangsur normal.


Sabrang terlihat mengangkat kedua tangannya sebelum melepaskan seluruh energi dari tubuhnya.


Ledakan besar tiba tiba terjadi dan hampir merusak seluruh area hutan disekitar Air terjun lembah pelangi.


Wulan terpaksa kembali menggunakan jurus ruang dan waktunya untuk menghindari efek ledakan tenaga dalam murni.


"Bagaimana energi murninya bisa sebesar ini?" ucap Wulan setelah muncul kembali didekat Sabrang.


"Apakah sudah cukup?" Sabrang menoleh kearah Wulan yang masih menatapnya takjub.


"Cukup? kau baru mampu menarik separuh energi murni dalam tubuhmu. Jika menguasai energi murni trah Tumerah semudah ini maka kalian keturunan Dwipa sudah hancur dari dulu.


Ini baru tahap awal untuk mempelajari Ajian inti lebur saketi namun kabar baiknya adalah tahap yang paling berbahaya dan sudah memakan banyak nyawa sudak kau lewati.


Kau harus lebih berkonsentrasi kali ini, tadi kau sedikit melakukan kesalahan dengan menumpuk energi murni di matamu, jika bukan karena tubuh tujuh bintang kau mungkin sudah mati.


Kali ini aku masih memakluminya karena mungkin kebiasaanmu bertarung dengan memaksakan mata bulan tapi aku tak ingin melihatmu melakukan kesalahan kedua. Apa kau pikir mata itu begitu spesial? mata itulah yang membuatmu lemah dan mengubur potensimu," ucap Wulan tajam.


"Mengubur potensiku? apakah salah aku menggunakan kelebihan trah dwipa seperti kau memanfaatkan energi murni Tumerah?" protes Sabrang.


Dia tidak dapat menerima jika kelebihannya justru dianggap sebagai kelemahan terbesarnya.


Wulan menggeleng pelan melihat tingkah Sabrang yang begitu mendewakan matanya.


"Kau tau inti dari ilmu kanuragan? tubuhmu bodoh! Rubah putih tidak akan menjadi sangat kuat jika hanya mengandalkan salah satu anggora tubuhnya, dia bisa menjadi pendekar yang paling ditakuti Masalembo karena bisa memaksimalkan seluruh potensinya.


Naraya mati karena terlalu percaya diri akan kekuatan trah Dwipa dan matanya dan kau ingin mengulanginya? itulah yang membuatku sangat membenci Trah Dwipa," bentak Wulan.


Sabrang terdiam, dia mencoba mencerna ucapan Wulan padanya.


"Kau memang bodoh!" umpat Wulan kesal sambil mengambil ranting dan bergerak cepat memukul kepala Sabrang.


Sabrang tampak terkejut setelah serangan Wulan tepat mengenainya, tubuhnya tidak mampu bereaksi apapun walau sebenarnya gerakan Wulan tidak terlalu cepat.


"Apa kau sudah paham? selama ini kau terbiasa bereaksi terhadap tenaga dalam berkat bantuan Iblis api dan mata bulanmu.


Aku menyerang mu dengan tidak menggunakan tenaga dalam sama sekali dan kau lihat hasilnya? tubuhmu tidak bereaksi apapun. Itulah kekuatanmu saat mata bulan dan iblis api tidak membantumu.


Kau begitu lemah tanpa mata bulan dan Iblis api dan itu bukan ilmu kanuragan, kau hanya kuat karena bantuan iblis api.


Inti dari Ilmu kanuragan adalah memaksimalkan semua potensi dan tubuhmu. Rubah putih adalah contoh paling nyata, dia sangat kuat walau tanpa iblis api ditubuhnya dan tugasku adalah membuat pikiran bodohmu terbuka."


"Jadi selama ini aku melakukan kesalahan?" tanya Sabrang pelan.


"Tidak ada yang sia sia dalam berlatih ilmu kanuragan, minimal kau sudah mulai melatih otot tubuh dan instingmu sebagai dasar mempelajari Inti lebur saketi.

__ADS_1


Mata bulan mu adalah anugrah namun akan menjadi kelemahan jika kau hanya mengandalkannya tanpa memaksimalkan potensi lainnya. Kenali seluruh jengkal tubuhmu termasuk matamu, itulah yang akan kulatih selama satu purnama ini."


__ADS_2