
"Apa yang terjadi Laborombonga? mengapa kau tidak menyerap enegi Naga api?". Tanya Sakka dalam pikirannya.
"Aku bukan tidak menyerapnya Sakka namun setiap kuserap energi naga api, sesuatu kembali menarik energi itu bahkan energiku ikut terserap". Umpat Laborombonga.
"Energimu ikut terserap?". Sakka mengernyitkan dahinya.
"Benar, aku tidak tau apa itu namun sesuatu ditubuh anak itu yang menyerapnya".
Sakka mulai sedikit panik setelah mendengar ucapan Laborombonga. Selama ini dia selalu mengandalkan Laborombonga untuk menyerap energi lawannya.
"Tak kusangka kau telah menyempurnakan Ajian Cakra manggilingan nak. Saat ini kau bisa menyerap energi alam sekalipun". Anom berdecak kagum pada perkembangan Sabrang yang begitu cepat setelah pertarungan di Dieng.
"Simpan pujianmu setelah aku melumpuhkanya". Sabrang memutuskan menyerang lebih dulu, dia ingin memanfaatkan kebimbangan Sakka setelah pusakanya tak berhasil menyerap energi naga api.
Pertarungan kembali terjadi antara Sabrang dan Sakka. Dalam waktu yang cukup singkat mereka sudah bertukar puluhan jurus.
Beberapa goresan mulai terbentuk ditubuh Sakka namun dia belum sekalipun berhasil melukai Sabrang.
"Mata itu membuat semua gerakanku terbaca". Umpat Sakka sambil terus berusaha menjaga jarak.
Namun semakin dia berusaha menjaga jarak, jarak antara mereka semakin dekat.
Puluhan keris yang berputar diudara mulai melesat kearah Sakka. Konsentrasinya menjadi terpecah karena dia juga harus menghindari serangan cepat Anom.
Ketika mata bulannya melihat celah yang ditinggalkan Sakka, Sabrang tidak menyia nyiakannya.
Ayunan pedangnya menghantam tepat ditubuh Sakka. Untuk beberapa saat, kobaran api yang menyelimuti pedang Naga api terlihat terhisap oleh pedang milik Sakka namun tidak berlangsung lama. Pedang itu bergetar hebat ketika Ajian Cakra manggilingan menyerap kembali energi itu.
"Jangan pernah bermimpi memiliki energi Naga api". Sabrang kembali muncul didekat Sakka dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
Sakka memutar tubuhnya untuk menangkis serangan itu namun dia mendapatkan Sabrang menarik penarik pedangnya.
"Gawat". Gumam Sakka dalam hati saat melihat tangan kiri Sabrang seperti menarik sesuatu.
Anom melesat menembus tubuhnya tanpa bisa dihindari.
Namun yang terjadi berikutnya sangat mengagetkan Sabrang, luka ditubuh Sakka menutup dengan cepat.
Sabrang mengernyitkan dahinya bingung, bagaimana bisa luka itu menutup dengan sangat cepat. Jika menggunakan jurus regenerasi tubuhpun pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
"Kau pikir bisa dengan mudah mengalahkanku?". Sakka tertawa congkak.
Namun sebenarnya Sakka mengumpat dalam hati, menggunakan ajian rawa rontek membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar. Saat ini mungkin dia hanya bisa menggunakan ajian rawa rontek dua kali, artinya tubuhnya tidak akan bisa pulih jika dia terkena serangan ketiga.
"Dia menguasai Ajian rawa rontek, selama dia masih menginjak tanah dia tidak akan bisa mati". Ucap Anom.
"Bagaimana jika aku membakar tubuhnya tanpa sisa? apakah dia masih bisa meregenerasi tubuhnya?".
"Tak mudah membakar pengguna pedang Loborombonga nak, Cakra manggilingan memiliki batasan menyerap energi banaspati. Sedikit saja kau salah bertindak energi Naga api bisa diserapnya dan Loborombonga akan menjadi sangat kuat".
"Maka aku juga akan membakar Loborombonga". Sabrang kembali bergerak menyerang, kobaran api ditubuhnya semakin besar.
Sakka makin terdesak, jika bukan karena ilmu kanuragannya yang cukup tinggi mungkin dia sudah tumbang dari tadi.
__ADS_1
"Pendekar itu masih begitu muda namun ilmu kanuragannya jauh diatas salah satu pendekar terkuat Celebes namun yang membuatku bingung bagaimana dia bisa memiliki energi Banaspati". Malewa begitu takjub melihat ilmu kanuragan Sabrang.
Belasan energi keris mengarah ketubuh Sakka namun sesaat sebelum keris itu menyentuhnya, Sakka menghilang dari pandangan.
"Keris itu benar benar menyulitkanku". Belum selesai dia mengambil nafas, Sabrang sudah berada didekatnya dan menyerang bertubi tubi.
Namun tiba tiba Sabrang terpental mundur saat Laborombonga kali ini berhasil menyerap energi Banaspati dan menggunakannya untuk menyerang balik.
"Akhirnya aku bisa menyerap energinya, saatnya kau menyerang balik Sakka". Teriak Laborombonga.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan nak? seranganmu tadi membuatnya menjadi kuat". Ucap Anom sedikit khawatir.
Sabrang belum sempat menjawab saat serangan Sakka sudah hampir mengenainya. Sabrang memutar pedangnya untuk menangkis serangan itu.
Sabrang kembali terdorong mundur beberapa langkah, Dia menancapkan pedangnya ketanah untuk sedikit meredam dorongan.
Sakka kembali menyerang dengan cepat, dia tidak ingin memberi kesempatan Sabrang untuk bernafas. Setelah berhasil menyerap energi Banaspati, Laborombonga semakin bertambah kuat.
Kobaran api ditubuh Sakka sudah menyerupai api yang menyelimuti tubuh Sabrang. Dalam waktu sekejap Sabrang sudah mulai terpojok. Senyum kemenangan diwajah Sakka semakin mengembang karena merasa sudah memenangkan pertarungan, apalagi Laborombonga terus menyerap energi Banasati.
Satu yang Sakka tidak sadari, saat ini dia sudah masuk perangkap Sabrang. Bukan hal sulit bagi Sabrang untuk menyerang balik dengan mata bulannya namun dia menahan serangannya untuk merencanakan sesuatu.
Sementara dilain pihak Lingga dan yang lainnya mulai menguasai keadaan, kehebatan ilmu kanuragan Lingga dan Arung ditambah strategi Wardhana membuat para pendekar Manca api bertumbangan.
Tubuh Lingga bahkan sudah penuh dengan darah para pendekar Manca api. Ilmu pedang tunggal terbang kelangit yang sudah dikuasainya dengan sempurna benar benar menjadi momok musuh musuhnya.
"Anak itu terdesak? apakah Laborombonga sehebat itu?". Malewa terus mengamati pertarungan dua pendekar hebat itu.
"Tubuhnya benar benar keras, bahkan pedangku tak mampu melukainya". Sakka menatap heran Sabrang yang terpental mundur.
"Tenaga dalammu belum mampu melukainya, hanya dengan membakarnya kita bisa mengalahkan pengguna Naga api". Kobaran api ditubuh Sakka terus membesar bahkan jauh lebih besar dari kobaran api milik Sabrang.
"Naga api, mau sampai kapan kau diam? anak ini sudah terdesak". Bentak Anom.
"Apa kau pikir semudah itu mengendalikan energiku yang sudah menyatu dengan Banaspati? kau benar benar meremehkanku Anom".
Anom mengernyitkan dahinya "Apa maksudmu?".
"Hanya tubuh Anak ini yang bisa menjadi wadah energiku dan mengendalikan sesuka hatinya. Selain Sabrang, kau akan melihat apa yang akan terjadi jika memaksakan menggunakan energiku".
Sakka bergerak dengan kecepatan tinggi, kali ini dia ingin mengakhiri pertempuran dengan satu serangan. Energi Banaspati yang diserap Laborombonga membuatnya percaya diri bisa membunuh Sabrang.
Sabrang tersenyum dingin sesaat sebelum mengarahkan pedangnya kedepan untuk menyambut serangan Sakka.
"inilah saatnya Naga api, jangan pernah kau tahan sedikitpun kekuatanmu. Lepaskan semuanya!".
Sabrang bergerak menyambut serangan Sakka, setiap langkahnya membuat puluhan batu beterbangan disekitarnya. Puluhan energi keris terbentul diudara dan siap menerima perintah tuannya itu. Sabrang menajamkan matanya saat menatap gerakan cepat Sakka. Tanpa disadari Sakka semua gerakannya sudah terbaca mata biru itu.
Seperti mendapat komando, para pendekar yang sedang bertarung dengan Lingga dan yang lainnya menghentikan pertarungan sesaat dan menoleh kearah aura besar yang menekan setiap sendi tubuh mereka.
"Dia masih menyembunyikan kekuatan sebesar ini?". Malewa menelan ludahnya.
Laborombonga bahkan terkejut mendapat tekanan sebesar ini saat dia sudah yakin menyerap hampir seluruh energi Naga api.
__ADS_1
"Sebaiknya kau cepat habisi dia Sakka, aku memiliki perasaan yang buruk dengan aura ini".
Kedua pusaka kembali berbenturan diudara, setiap benturan menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
Sakka tersentak kaget karena kali ini dia benar benar terdesak, kecepatan Sabrang kali ini sulit diikuti matanya.
Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah kondisi tubuhnya. Darah mulai mengalir dari mata, hidung dan telinganya. Sakka cukup yakin serangan Sabrang tak mampu mengenainya, namun bagaimana mungkin tubuhnya terluka.
Kondisi Laborombonga tak kalah buruk, dia merasa energi Naga api mulai menekannya, dia merasakan tubuhnya hampir meledak.
"Apa yang terjadi denganku?". Gumam Laborombonga dalam hati.
"Apa kau merasa tersiksa Laborombonga?". Naga api tertawa mengejek.
"Apa yang kau lakukan padaku?". Bentak Laborombonga.
"Bukan aku tapi Banaspati, energinya sangat sulit dikendalikan bahkan aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyatu dengan energi Banaspati".
"Jika kau saja sulit mengendalikannya, bagaimana tuanmu dengan mudah mengendalikan energi itu?".
"Itulah alasanku memilih dia sebagai tuanku! kau akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri seberapa hebat orang yang kuakui menjadi tuanku. Mahluk lemah sepertimu tak akan mengerti bagaimana memilih orang yang pantas menjadi tuanku".
Puluhan energi keris melesat mengikuti setiap gerakan Sabrang. Beberapa keris bahkan sudah melubangi tubuh Sakka walaupun kembali menutup setelah dia menggunakan Rawarontek.
Kondisi tubuh Sakka yang semakin memburuk akibat tak mampu menampung energi banaspati membuatnya sedikit melambat.
Ajian Cakra manggilingan mulai menyerap energi yang sempat terserap Laborombonga.
Dua enegi keris kembali melesat cepat memaksa Sakka memutar pedangnya yang kini tak mampu menyerap energi Naga api. Saat pedang dan keris berbenturan diudara tiba tiba sebuah pedang menghujam tubuhnya dari belakang.
"Jika ilmu rawarontek bisa menyembuhkan lukamu, Aku ingin tau bisakah ajian itu menyembuhkanmu jika sudah menjadi abu".
"Bagaimana kau bisa membaca semua gerakanku?". Sakka menahan sakit akibat tusukan pedang yang tembus kedadanya.
"Kau terlalu percaya diri dengan semua kekuatanmu dan melupakan mataku, dari pertama kita bertarung kau tak pernah benar benar lepas dari pandangan mataku'". Kobaran api dipedang Naga api mulai membesar dan membakar Sakka dengan cepat.
Laborombonga sang iblis terkuat daratan Celebes ikut terbakar panasnya energi Banaspati.
Malewa hanya bisa mematung menyaksikan kehebatan seorang pendekar yang berasal dari tanah Jawata.
"Terbakarlah oleh apiku mahluk lemah!". Naga api tertawa congkak.
Sabrang kembali mengarahkan tangannya keudara. Kini Ratusan energi keris yang diselimuti api terbentuk diudara.
"Anom, sekarang giliranmu beraksi, hancurkan mereka semua".
Dalam hitungan detik ratusan energi keris meluncur kearah para pendekar yang sedang bertarung dengan Wardhana dan yang lainnya.
Dalam sekejap hampir seluruh pendekar Manca api yang tersisa tumbang ketanah tanpa bisa menghindar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas dukungan yang begitu besar pada PNA..
__ADS_1