Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gerbang menuju Tanah Para Dewa


__ADS_3

"Tuan ada yang ingin bertemu dengan anda". Seorang prajurit menundukan kepala memberi hormat pada Adipati Rogo geni yang baru.


"Ingin bertemu denganku? aku baru ditunjuk kemarin oleh Yang mulia, siap yang sudah ingin bertemu denganku?".


"Seorang pendekar wanita dari Kelompok teratai merah tuan".


"Teratai merah? mungkinkah tetua Wulan sari". Dia mengernyitkan dahinya.


"Biarkan dia masuk".


"Baik tuan". Prajurit itu melangkah keluar.


"Tuan Wardhana, anda terlihat gagah dengan seragam adipati itu". Wulan sari muncul dari balik pintu kemudian menundukan kepalanya memberi hormat.


Wardhana tersenyum kecil sambil menyambut Wulan sari sopan, bagaimanapun Wulan sari adalah guru dari Sabrang.


Wardhana memang di tunjuk menjadi Adipati Rogo geni setelah Kadipaten itu jatuh ke tangan Saung galah. Awalnya Sabrang menunjuk Wijaya untuk menduduki posisi adipati namun Wijaya menolak halus karena dia ingin berkonsentrasi meningkatkan ilmu kanuragannya setelah mendengar Lembah siluman muncul kembali.


Bagaimanapun selain posisinya adalah patih Malwageni dia adalah murid dari sekte elang putih yang baru saja dihancurkan oleh Lembah siluman.


Butuh waktu lama bagi Sabrang untuk merayu Wardhana sampai dia bersedia menjadi adipati Rogo geni.


Untuk sementara sesuai dengan perjanjian yang disepakati antara Saung galah dan Sabrang Kadipaten Rogo geni berada di bawah kekuasaan Saung galah dengan beberapa hak istimewa yang dimiliki Rogo geni.


Perjanjian akan berakhir jika Malwageni berhasil direbut kembali namun jika mereka tidak berhasil merebut Malwageni Kadipaten Rogo geni tetap berada di bawah Saung galah dengan segala keistimewaan yang dimilikinya.


"Apakah tetua ingin bertemu dengan Yang mulia?". Wardhana bertanya pada Wulan sari.


"Ah iya tuan sebenarnya aku ingin bertemu dengan kalian berdua".


"Denganku?". Wardhana terlihat bingung.


Wulan sari hanya tersenyum sambil mengangguk.


Wardhana memanggil prajurit yang berjaga di depan pintu masuk.

__ADS_1


"Tolong panggilkan Yang mulia, katakan tetua Teratai merah ingin bertemu".


"Baik tuan".


***


"Kau bertambah gagah nak". Wulan sari menyapa Sabrang yang berjalan masuk. Wardhana bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Sabrang untuk duduk di kursinya.


"Ah nenek apa kabar?". Sabrang menundukan kepalanya memberi hormat.


"Gurumu menitipkan salam untukmu". Wulan sari tersenyum lembut menatap Sabrang.


"Lalu ada perlu apa nenek jauh jauh datang kemari? apakah ada masalah?"Sabrang terlihat khawatir. Bagaimanapun jarak dari Kelompok Teratai merah ke Rogo geni cukup jauh, dia yakin ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Wulan sari.


"Sebenernya aku ingin meminta bantuan tuan Wardhana". Wulan sari menoleh kearah Wardhana.


"Bantuanku?".


Wulan sari menganggukan kepalanya, dia mengambil gulungan yang disimpan di pakaiannya dan menyerahkannya pada Wardhana. Gulungan itu terlihat rapuh sehingga Wardhana membukanya dengam hati hati.


Mereka akhirnya memutuskan menjadi pendekar dan mendirikan Kelompok teratai merah. Namun ada yang aneh setelah mereka keluar dari Dieng. Mereka terlihat sangat ketakutan ketika ada yang menyebut nama Dieng seolah mereka melihat hal yang sangat menakutkan di sana hingga akhirnya mereka bersumpah untuk tidak memberitahukan letak Dieng pada siapapun termasuk anak cucunya.


Itu adalah catatan perjalanan mereka saat itu, leluhurku terbiasa mencatat dan menggambarkan setiap mereka singgah di tempat baru namun entah ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa menulis atau bagaimana sehinga catatan itu terputus di tengah jalan".


Wardhana terlihat membaca catatan itu sambil sesekali mengernyitkan dahinya.


"Tuan Wardhana terkenal akan kepandaiannya, aku ingin meminta anda melihat cacatan itu siapa tau kita mendapat petunjuk tentang keberadaan Dieng". Ucap Wulan sari melanjutkan.


"Nenek ingin pergi ke Dieng?". Sarbang mengernyitkan dahinya.


Wulan sari menganggukkan kepalanya "Suliwa yakin jika kebangkitan Lembah siluman hanya awal dari hal mengerikan yang akan terjadi kelak. Kami bersama Kertasura ingin memastikan sesuatu di Dieng, jika perkiraan Suliwa benar kita akan menghadapi para pendekar yang mempunyai tubuh abadi nak. Ini akan menjadi bencana besar bagi dunia ini, kami ingin menghentikan sebelum terlambat".


"Pendekar bertubuh abadi?".


"Lembah siluman telah hancur ratusan tahun lalu, namun kabarnya mereka telah menemukan letak Air kehidupan sebelum mereka dihancurkan oleh pengguna Naga api terdahulu. Jika mereka benar telah meminum air abadi itu aku yakin kini mereka sedang bersembunyi disuatu tempat. Aku tidak tau apa yang membuat mereka belum menampakan diri di dunia persilatan namun perkiraan suliwa saat ini mereka sedang berusaha melepaskan diri dari pengaruh air kehidupan.

__ADS_1


Kita harus menghentikan mereka sebelum pengaruh air kehidupan dapat mereka kendalikan atau mereka akan menjadi sangat kuat".


"(Kami menemukan tempat yang indah namun sangat berbahaya tapi kami harus menunggu beberapa purnama untuk masuk ke tempat itu, aku sudah tidak sabar melihat tempat itu)". Wardhana membaca penggalan kalimat terakhir di gulungan catatan perjalanan milik Teratai merah itu sambil memejamkan matanya.


"Ada yang anda temukan dari catatan itu tuan". Wulan sari terlihat antusias mendengarnya.


Wardhana menggeleng pelan "Jika melihat cacatan ini mereka menyebut bahwa (perjalanan kami melewati jalan sempit dan mengerikan namun hamparan laut yang menyambut membuat kami melupakan betapa berbahayanya perjalanan ini sebelum kami menemukan sebuah tempat tinggi yang berbatu), Jika perkiraan ku tidak salah hanya ada satu tempat yang mirip dengan gambaran mereka ini yaitu di Kadipaten Karang sari, wilayah kekuasaan Majasari. Di sana ada sebuah tebing tinggi yang menjulang menghadap lautan lepas.


Jalan sempit dan mengerikan ya". Wardhana terus memutar otaknya.


"Aku yakin gulungan ini menggambarkan Kadipaten Karang Sari karena hanya disana satu satunya tempat yang mempunyai tebing tinggi menghadap laut lepas namun aku masih belum mengerti kaliamat terakhirnya. (Kami harus menunggu beberapa purnama untuk masuk ketempat itu).


Mengapa mereka harus menunggu begitu lama untuk masuk jika mereka telah menemukan pintu masuk ke Dieng?. Apa ada sesuatu yang menghalangi pintu masuk itu?".


"Apa mungkin karena gerbang itu disegel?". Wulan sari menatap Wardhana yang masih memejamkan matanya.


"Menurutku bukan itu tetua, jika memang gerbang itu disegel bukankah mustahil bagi para pedagang untuk membukanya walaupun menunggu ratusan purnama? mereka bahkan tidak menguasai ilmu kanuragan.


Aku pernah mendengar kabar dari tuan Kumbara jika gerbang dieng sebenarnya ada tiga lapis. kemungkinan mereka hanya sampai di gerbang pertama seperti tuan Kumbara. Segel khusus kemungkinan ada di gerbang ke dua dan ketiga namun kenapa leluhur anda harus menunggu begitu lama". Wardhana menggelengkan kepalanya kesal.


"Tidak mungkin laut menghalangi mereka, seharusnya mereka bisa berenang atau menggunakan kapal jika pintu masuk ada diseberang lautan". Wulan sari ikut menebak nebak letak gerbang Dieng itu.


"Benar air laut". Wardhana tiba tiba berteriak membuat Sabrang terkejut.


"Maksud paman?". Sabrang bertanya penasaran.


"Bukan laut yang menghalangi mereka namun air laut Yang mulia. Jika perkiraan ku benar di bawah tempat tinggi berbatu yang mereka tulis di buku catatan ini terdapat sebuah gua yang terhubung dengan lautan. Saat hari hari biasa air laut akan menenggelamkan tempat itu sehingga tidak ada tau jika disana terdapat sebuah gua. Mereka menunggu beberapa purnama sampai air laut surut dan gua itu terlihat.


Mereka tidak dapat masuk kegua itu sebelum air laut surut".


Wajah Wulansari terlihat bersemangat setelah mendengar penjelasan Wardhana.


"Jadi gerbang pertama dieng ada di sana?".


"Jika kita menelusuri tebing tinggi itu aku yakin kita dapat menemukan gua itu namun masalahnya kita tidak tau kapan air laut di sana sedang surut. Jika kita mencari saat air laut sedang tinggi kita tidak akan menemukan apa apa". Wardhana tersenyum kecut.

__ADS_1


"Bahkan alampun berusaha menyembunyikan tempat itu, apa yang sebenarnya ada di dalam tempat itu". Sabrang berkata pelan.


__ADS_2