Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di Sekte Tapak Es Utara


__ADS_3

Tungga Dewi tersentak kaget saat melihat kobaran api membakar sebuah bagunan yang cukup besar dihadapannya. Suara benturan logam menggema disetiap sudut sekte Tapak es utara membuat malam itu makin mencekam.


“Bibi, Tapak es utara diserang”. Ucap Tungga dewi terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak akan percaya Sekte Tapak es utara diserang jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, mengingat kehebatan Mantili sebagai salah satu dari sepuluh pendekar terkuat cukup disegani didunia persilatan. Tungga dewi merasa tidak ada sekte yang cukup bodoh sengaja berurusan dengan tapak es utara namun kali ini apa yang dilihatnya begitu nyata, Sekte Tapak Es utara benar benar dihancurkan.


Lasmini tak kalah terkejutnya melihat Tapak es utara yang bahkan ditakuti oleh Sudarta selama ini hampir hancur oleh serangan pendekar misterius.


“Dewi, berhati hatilah karena siapapun yang berani menyerang sekte Tapak es utara mereka cukup yakin dapat mengalahkan tetua Mantili”. Ucap Lasmini sambil memberi perintah pada pendekar lainnya untuk menyebar dan membantu tapak es utara.


“Baik bi, aku akan mencari para pendekar aliran putih lainnya, bibi bawa beberapa orang untuk membantu mengevakuasi yang selamat”. Tungga Dewi bergerak bersama beberapa orang pendekar kearah pertarungan yang sedang terjadi tak jauh dihadapannya.


Lasmini mengangguk pelan “Ayo kita pergi”. Ucap Lasmini pada pendekar rajawali emas yang mengikutinya.


Dilain pihak, Suliwa terlihat menghadapi empat Pedekar Pilar langit bersama ki Ageng, walau kalah kecepatan namun Suliwa mampu menutupinya dengan pengalaman bertarung yang dimiliki selama puluhan tahun didunia persilatan. Para pendekar Pilar langit yang awalnya itu begitu percaya diri pada kemampuan mereka kini sedikit terkejut dengan kemampuan pendekar tanah jawata.


Suliwa melepaskan hawa panas menandakan dia menggunakan jurus api abadi yang dikuasainya namun serangan serangan tidak terlalu mematikan saat dia menggunakan pedang Naga api.


“Guru, anda terlalu memaksakan diri, jurus api abadi tingkat VI akan menguras tenaga anda lebih cepat”. Ki Ageng yang bertarung bersama Suliwa sedikit khawatir melihat gurunya terlihat tidak menghemat tenaga dalamnya.


“Kau juga paham bukan, jika kita tidak bertarung dengan seluruh tenaga dalam yang dimiliki maka mereka akan melumpuhkan kita dengan cepat”. Ucap suliwa sambil terus berusaha menekan pendekar yang menyerangnya. Gerakan pedang Suliwa yang mulai terlihat lambat akibat usianya yang mulai menua tetap mampu merepotkan lawannya. Terlihat dari beberapa kali serangannya mampu memgenai lawannya cukup telak.


Ki Ageng hanya terdiam mendengar ucapan Suliwa, bagaimanapun apa yang dikatakan Suliwa semua benar. Walaupun para pendekar pilar langit ini usianya begitu muda namun kemampuan ilmu kanuragan mereka jauh diatas rata rata anak seusianya. Ki Ageng bahkan harus mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk melumpuhkan mereka.


Dipihak Pendekar Pilar langitpun sebenernya cukup terkejut dengan kemampuan para pendekar tanah jawata. Setelah mendengar Suku iblis petarung terkubur di Dieng mereka mengira akan mudah menghadapi para pendekar tanah Jawata kecuali Pengguna naga api namun nyatanya banyak pendekar pendekar hebat yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.


Rasa terkejut mereka makin menjadi ketika sesosok gadis yang masih terlihat sangat muda tiba tiba muncul dengan kecepatan yang mengerikan dan menyerang mereka. Salah satu pendekar langit bahkan meregang nyawa karena tak mampu mengindari tarian Rajawali milik Tungga dewi.


“Tetua anda baik baik saja?” Tungga Dewi menoleh kearah Suliwa dan Ki Ageng.


Suliwa menatap wanita cantik dihadapannya dengan takjub.


“Ah nona Tungga Dewi, gerakan anda semakin baik. Aku yakin dalam beberapa tahun kedepan anda akan sejajar dengan pendekar hebat lainnya. Aliran putih beruntung memiliki anda”. Suliwa tersenyum kecil.


Sangat berbeda dengan Suliwa yang mulai bisa tersenyum setelah mendapat bala bantuan, wajah beberapa Pendekar langit begitu buruk. Mereka dapat melihat gerakan pedang Tungga dewi begitu mematikan.


“Kita harus segera menghabisi mereka dan merebut kitab itu sebelum semakin banyak bantuan datang”. Ujar salah satu dari mereka setengah berbisik.


Salah satu pendekar pilar langit terlihat meniupkan sesuatu dimulutnya. Suara yang menyerupai kicauan burung itu menggema keras dimalam yang hening itu.


“Gawat! Mereka memanggil bantuan”. Suliwa berusha menyerang pendekar itu namun semua sudah terlambat. Puluhan pendekar lainnya terlihat berdatangan dan mulai mengepung mereka semua.

__ADS_1


"Jangan biarkan mereka lolos! bunuh semua pendekar yang ada ditempat ini". Teriak salah satu pendekar memberi perintah.


“Berapa orang yang anda bawa nona?”. Tanya Suliwa pelan. Dia ingin menganalisa lawan dan menghitung kesempatan menang yang mereka miliki. Mereka mungkin sedikit unggul dalam pengalaman bertarung namun akan sangat menguras stamina jika terus bertarung seperti ini.


“Ada dua puluh orang tetua termasuk bibi Lasmini, saat ini anggotaku sudah menyebar dan membantu yang lainnya”. Tungga dewi menyilangkan pedangnya didepan pertanda siap kembali menyerang.


Suliwa menggeleng pelan, dia merasa tidak akan cukup untuk menghadapi pada pendekar ini. Sekte Tapak es utara terkenal paling susah menerima murid karena tidak mudah menguasai perubahan tenaga dalam menjadi Es sehingga Saat ini jumlah murid tapak es utara tidak terlalu banyak dan sudah sibuk dengan lawannya masing masing.


“Apa kau melihat muridku selama perjalanan kemari?”. Tanya Suliwa tiba tiba.


Tungga dewi mengernyitkan dahinya "Maksud ada Pangeran Sabrang?".


Suliwa mengangguk cepat.


“Aku melihatnya diperbatasan wilayah Tapak es utara, harusnya tak lama lagi dia akan muncul”. Jawab Tungga dewi pelan. Dia masih merasa kesal ketika memikirkan Mentari yang selalu ada disampingnya.


Suliwa tersenyum lega mendengar ucapan Tungga dewi karena saat ini hanya Sabrang yang mampu menutupi kekurangan jumlah yang mereka alami. Tenaga dalam tak terbatas yang dimiliki Sabrang dan naga api akan sangat berguna untuk menekan para pendekar Pilar langit itu.


***


“Apa kau mendengar sesuatu?”. Sabrang berusahan menajamkan pendengarannya, dia cukup yakin seperti mendengar benturan logam yang sangat keras hingga terdengar didalam lorong rahasia Tapak es utara.


“Hei kalian tidak mendengarnya?”. Tanya Sabrang kembali, Dia cukup yakin sempat mendengar suara pertarungan yang berasal dari atas.


“Aku tidak mendengar apa apa, mungkin anda salah tuan muda. Saat ini hanya Iblis hitam yang ilmu kanuragannya mampu menandingi tetua Mantili, tak akan ada yang begitu gila menyerang sekte terkuat dunia persilatan”. Ucap Mentari sambil terus menyalin tulisan dibatu tulis.


Namun belum lama Mentari mencoba menenangkan Sabrang tiba tiba suara Ledakan tenaga dalam terdengar cukup besar. Arung dan Mentari yang awalnya tenang kini terlihat gusar karena pemilik tenaga dalam itu pasti bukan pendekar sembarangan.


“Aku akan pergi lebih dulu untuk mencari bibi Mantili, setelah kalian selesai menyalin tulisan itu bantu aku secepatnya”. Sabrang melesat cepat kearah lorong keluar.


“Kita harus cepat membantunya, aku yakin pemilik tenaga dalam ini bukan dari daratan Jawata”. Ucap Arung khawatir.


***


Tungga Dewi terlihat menggigit bibirnya saat dua pendekar berhasil melukainya, Dia terdorong mundur beberapa langkah.


"Nona Ketua". Ageng bernian membantu Tungga dewi namun diapun dalam keadaan yang sama tidak baiknnya. Dia terlihat dikepung empat pendekar yang tak berniat membiarkanya bergerak bebas. Begitu juga yang terjadi pada Suliwa, tenaga dalamnya yang mulai habis membuat gerakannya makin lambat.


"Sial!". Umpat Tungga dewi dalam hati, dia semakin lama semakin terdesak. Luka ditubuhnya semakin banyak dan menyakitkan, saat dia hampir mencapai batasnya sesosok tubuh mematahkan pedang yang hampir mengenai tubuhnya. Pendekar itu menarik tubuhnya dan menggendongnya menjauh dari para pendekar yang terus menyerangnya.

__ADS_1


Beberapa dinding es dibuat oleh Sabrang untuk memberinya kesempatan menyelamatkan Tungga Dewi terlebih dahulu.


Tungga dewi hanya diam dalam pelukan Sabrang sambil menatap mata biru Sabrang yang semakin bersinar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika matanya tak berkedip melihat wajah pemuda yang selama ini ada didalam pikirannya.


"Sepertinya bantuan yang kutunggu telah datang". Suliwa terkekeh.


"Maksud anda?". Ki Ageng mengernyitkan dahinya. Dia memang melihat sesosok pendekar membantu mereka namun gelapnya malam membuatnya sulit mengenali pendekar itu. Hanya matanya yang berwarna biru yang terlihat jelas oleh Ageng.


"Kau memang bodoh Ageng, apa kau tidak mengenali anak yang kau urus dari kecil?".


"Sabrang? Bagiamana kekuatanya begitu besar?". Ki Ageng tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Simpan rasa terkejutmu karena dia akan terus berkebang seiring dengan makin banyak pertarungan yang dilewatinya. Itulah keistimewaan tubuh 7 Bintang". Ucap Suliwa pelan.


"Tarian Rajawali". Sabrang menghalau beberapa pendekar yang berhasil lolos dari perisai esnya. Gerakannya yang sedikit melambat karena menggendong Tungga dewi tak membuat pedangnya berhenti membakar pendekar yang terus mencoba mendekatinya.


"Anom". Sabrang sedikit memutar tubuhnya ketika Keris penguasa kegelapan muncul diudara. Telapak tangannya mendorong keris itu dengan tenaga dalam membuat Keris penguasa kegelapan melesat cepat kearah para pendekar pilar langit.


"Berhati hatilah pada pusaka itu". Teriak salah satu pendekar.


Sabrang memanfaatkan kesempatan itu untuk menurunkan Tungga dewi.


"Kau baik baik saja?". Tanya Sabrang khawatir.


Tungga dewi hanya mengangguk pelan sambil membuang mukanya. Dia tidak ingin Sabrang melihat wajahnya yang memerah.


Sabrang bernafas lega "Tunggulah disini, aku akan membantu kakek sebentar". Ucap Sabrang setelah mengalirkan sedikit tenaga dalamnya ketubuh Tungga dewi.


"Anom". Sabrang memanggil anom kembali, Dia bergerak kearah keris yang melayang mendekatinya sebelum bergerak kearah Suliwa dengan kecepatan tinggi.


***


"Tenaga dalam apa ini?". Dehen tersentak kaget ketika merasakan ledakan tenaga dalam yang jauh lebih besat dari miliknya.


"Kesalahan terbesarmu adalah menganggapku sebagai orang terkuat disekte ini, kini kau akan melihat betapa mengerikannya calon ketua Tapak es utara selanjutnya". Mantili meningkatkan kecepatannya untuk menekan Dehen yang masih terkejut dengan ledakan tenaga dalam itu.


"Lebih kuat darimu?". Gumam Dehen dalam hati. Konsentrasinya kini sedikit terpecah karena ledakan tenaga dalam tadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Berikan Vote jika ingin PNA tetap berada di 20 Besar Novel terbaik.


__ADS_2