
"Apa tidak ada yang bisa kau katakan selain salah paham?". Sabrang menatap tajam Hara yang terlihat pucat pasi.
"Maaf tuan mohon ampuni aku". Suara Hara memelas, keringat dingin menetes ditubuhnya saat melihat pisau es berkilau terkena sinar matahari.
"Apa yang membuatku harus melepaskanmu?". Gertak Sabrang.
"Aku punya informasi penting untukmu tuan, Jika anda melepaskanku akan kuberi tahu pada Anda?".
Sabrang terkekeh mendengar tawaran Hara. "Kau pikir aku bodoh? informasi apa yang bisa diberikan olehmu yang bahkan tidak mengenalku".
"Maaf tuan, saat ini yang menggunakan pusaka dari api hanya satu orang didunia persilatan dan aku yakin anda orangnya". Jawab Hara pelan.
Sabrang mulai tertarik dengan arah pembicaraan Hara, dia penasaran informasi apa yang dimiliki penjahat sepertinya.
"Kau mulai membuatku tertarik, katakan apa yang kau tau. Jika informasimu membuatku tertarik maka aku akan melepaskanmu". Pisau es mulai menghilang dari tangan Sabrang.
"Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan dua pendekar misterius di penginapan ini. Dia menanyakan letak sekte Tapak es utara padaku dengan imbalan yang sangat besar. Kudengar anda masih ada hubungan dengan tetua Mantili, sebaiknya kau cepat. Dua pendekar itu sepertinya mempunyai niat buruk pada sekte Tapak es utara".
"Dua pendekar misterius?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Benar tuan, ada aura aneh yang menyelimuti tubuhnya. Sepertinya aku belum pernah merasakan aura seperti itu".
"Aura aneh ya, seperti yang kurasakan tadi". Gumam Sabrang dalam hati.
"Aku yakin mereka orang yang sama dengan yang menekanmu tadi". Ucap Naga api pelan.
"Sepertinya memang mereka, aku harus bergegas menuju tapak es utara, aku takut bibi dalam bahaya". Ucap Sabrang sambil melepaskan kuncian es ditubuh Hara.
"Kali ini kau kubebaskan namun jika lain kali kau kembali membuat keonaran maka apapun informasi yang kau miliki aku tetap akan membunuhmu!".
"Aku tidak akan mengulangi lagi tuan". Ucap Hara terbata bata.
"Orang sepertimu ini yang sebenarnya paling ingin kubunuh". Jantung Hara serasa berhenti saat mendengar ancaman Sabrang.
"Ayo kita pergi". Ucap Sabrang pada Mentari.
"Baik tuan". Mentari mengikuti langkah Sabrang.
"Anak semuda itu tapi kemampuannya sangat tinggi, sama seperti dua pendekar muda kemarin. Sepertinya saat ini tak ada tempat lagi bagi pendekar tua sepertiku didunia persilatan". Hara menggeleng pelan.
***
Suliwa dan Wulan sari terlihat menyusuri hutan menuju utara, mereka akan menghadiri undangan Tapak es utara untuk membahas masalah hancurnya sekte Kelelawar hijau oleh pendekar misterius.
"Anda sepertinya lebih banyak diam kali ini, apa ada yang menggangu pikiranmu?". Tanya Wulan sari penasaran. Sepanjang perjalanan kali ini Suliwa terus larut salam pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Aku hanya merasa seperti mengulang kejadian ini, terakhir kali kita bertemu di sekte tapak es utara saat itu, Lembah siluman bangkit dan kini kita akan bertemu kembali namun kurasa kali ini akan lebih berbahaya". Ucap Suliwa pelan.
"Lebih berbahaya?".Tanya Wulan sari.
Suliwa menganggukan kepalanya pelan "Siapapun yang menghancurkan kelelawar hijau pasti bukan pendekar sembarangan. Jika mereka menyerang saat ini aku yakin dunia persilatan akan hancur. Kondisi kita sekarang sangat lemah akibat pertarungan di Dieng.
Kertasura terluka parah akibat serangan Iblis petarung dan sampai saat ini dia belum bisa menyembuhkan luka dalamnya. Anda pun sedang dalam kondisi pemulihan dan aku yakin Sabrang pun demikian".
"Apa ini masih ada hubungan dengan Dieng?".
"Itu yang aku takutkan, Jika semua ini berhubungan dengan tempat itu maka situasinya akan semakin runyam. Kabar yang kudengar bahwa mereka membawa sebuah kitab dari sekte kelelawar hijau". Suliwa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Kukira dengan terkuburnya tempat itu semua masalah dunia persilatan akan terurai perlahan tapi sepertinya aku salah".
Wulan sari memahami kekhawatiran Suliwa, setelah peristiwa Dieng kini kekuatan dunia persilatan lebih berimbang setelah Kertasura terluka parah. Lingga yang diharapkan bisa menjadi penganti sepadan Kertasura memilih mundur sementara dari dunia persilatan sedangkan Sabrang yang merupakan pendekar terkuat saat ini tidak bisa dikatakan mewakili sekte tertentu.
Walaupun dia adalah murid sekte Pedang Naga api namun Sabrang cenderung memposisikan diri sebagai Pangeran Malwageni.
"Dengan berimbangnya kekuatan dunia persilatan saat ini maka pertarungan dan peperangan untuk memperebutkan pengaruh didunia persilatan hanya menunggu waktu saja. Dunia persilatan butuh pendekar kuat untuk keseimbangan dunia persilatan dan Sabranglah orang yang paling tepat saat ini". Suliwa menghela nafas panjang.
"Bagaimana dengan sekte Rajawali emas? bukankah mereka masih yang terkuat?".
Suliwa menganggukan kepalanya "Ku dengar sejak kematian Ajisaka mereka menunjuk Tungga Dewi sebagai ketua sekte yang baru. Anak itu memang berbakat namun masih butuh waktu untuknya membuktikan diri sebagai pemimpin sekte terbesar dunia persilatan. Situasi semakin rumit karena kesalahpahaman mereka pada Sabrang".
"Kesalahpahaman?". Tanya Wulan sari tak mengerti.
"Mereka sepertinya belum mengetahui jika Ajisaka berhasil merebut tubuh Sudarta. Saat ini mereka menjadikan Sabrang sebagai musuh utama, bahkan mereka memutus hubungan dengan Sekte Pedang naga api karena menganggap Sabrang yang membunuh Sudarta".
"Benar, aku sudah bicara pada Ageng. Aku bermaksud menjadikan Sabrang sebagai ketua sekte Pedang naga api". Ucap Suliwa pelan.
Langkah mereka pun terhenti saat melihat sebuah desa yang cukup ramai.
"Perutku lapar sekali, ayo kita cari penginapan dan makan sepuasnya". Suliwa terlihat bersemangat sambil memegangi perutnya.
Sebuah penginapan kecil terlihat tepat didekat kerumunan banyak orang.
"Sepertinya ada keributan" Wulan sari menajamkan penglihatannya kearah kerumunan dipinggir jalan desa. Mereka berjalan mendekari kerumunan itu dan melihat seorang pendekar dikepung belasan pendekar.
"Mereka dari sekte Rubah siluman". Suliwa tersenyum sinis. Sekte Rubah siluman adalah salah satu sekte menengah aliran hitam yang selalu berbuat onar dimana mana. Kertasura pernah mengusir Rubah siluman dari aliansi aliran hitam karena bertindak sesuka hati namun bukan itu yang membuat Suliwa tertarik.
Dia lebih tertarik pada pendekar berpakaian agak mencolok yang menjadi lawan rubah siluman. Pendekar itu terlihat dengan mudah memojokan para pendekar rubah siluman.
"Siapa pendekar muda ini? jurus jurusnya pun terasa asing dimataku". Suliwa terus menatap pertarungan itu.
Rasa penasaran Suliwa semakin menjadi saat pendekar itu mencabut pusakanya. Aura merah langsung menyebar keseluruh area pertarungan.
"Pedang Bara Sangihe? Dia pendekar dari daratan Celebes, apa yang dia lakukan disini?". Suliwa mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Daratan Celebes?".
"Ada sebuah daratan yang dipisahkan oleh lautan luas, aku belum pernah kesana namun dari beberapa keterangan di batu tulis para leluhur menggambarkan beberapa daratan yang jauh lebih indah dari tempat kita ini dan salah satunya adalah Daratan Celebes".
"Apa mungkin para leluhur kita sudah mempunyai ilmu pengetahuan setinggi itu jika saat inipun kita masih kesulitan menemukan daratan itu. Lautan itu sangat ganas dan mengerikan, Ombak ombak aneh akan menelan kapal kapal kecil".
"Itulah yang ingin aku ketahui, sepertinya ilmu pengetahuan leluhur kita dulu sangat maju. Mereka berhasil membangun peradaban yang sangat tinggi, dan jawaban atas rahasia dunia masa lalu sepertinya ada di kitab Paraton".
"Kitab paraton? Bukankah itu kitab milik suku Iblis petarung?". Tanya Wulan sari pelan.
"Iblis petarung sepertinya hanya menemukan kitab itu bukan sebagai penulis kitab itu. Siapa yang menulis kitab itu masih belum ada yang tau namun aku yakin kali kita benar benar menghadapi masalah besar. Munculnya beberapa pendekar misterius dari daratan lain menandakan mereka sudah mendengar keberadaan kitab paraton. Yang akan kita hadapi kali ini bukan hanya pendekar dari tanah Jawata namun para pendekar terkuat dari daratan lainnnya".
Suliwa menghentikan ucapannya saat melihat pendekar dari daratan Celebes mengeluarkan jurus aneh yang langsung membunuh belasan pendekar Rubah siluman dalam satu tebasan.
"Jurus itu? dia seolah menghilang dan berubah menjadi puluhan pedang terbang. Ilmu yang digunakannya benar benar mengerikan". Suliwa menelan ludahnya.
"Sepertinya mata anda sangat tajam tuan". pendekar misterius itu tiba tiba sudah berada didekat Suliwa dan Wulan sari sambil tersenyum ramah, sementara belasan pendekar rubah siluman sudah terkapar tak bernyawa ditanah. Umurnya masih sangat muda mungkin hanya lebih tua beberapa tahun.
"Anak muda dengan kemampuan yang sangat tinggi, Sepertinya aku harus cepat mundur dari dunia persilatan". Ucap Suliwa sambil tertawa.
"Anda bisa saja tuan, perkenalkan namaku Arung". Arung menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Aku Suliwa, kau boleh memanggilku apa saja".
"Sebenernya ada yang ingin kutanyakan pada anda tuan". Arung tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
"Jika aku bisa membatu anak muda yang sopan sepertimu pasti akan kubantu. Katakanlah apa yang bisa kubantu".
"Apakah tuan mengenal seorang pendekar pengguna Naga api?".
Raut wajah Suliwa tiba tiba berubah saat mendengar pertanyaan Arung.
"Pengguna Naga api?". Suliwa masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan kaki :
Dikutip dari Wikipedia Celebes adalah sebuah nama pulau di Nusantara jaman dulu yang sekarang dikenal sebagai pulau Sulawesi. Sedangkan Pedang Bara Sangihe kalau Author tidak salah adalah salah satu senjata tradisional Sulawesi Utara (Koreksi Jika salah).
Kali ini Author munculkan tokoh dari Pulau Sulawesi yang entah akan menjadi lawan atau kawan Sabrang Damar (Masih rahasia)
Kenapa Author mulai memunculkan pendekar pendekar dari Pulau lain karena PNA kini akan berkembang menjadi konflik Para pendekar terhebat diseluruh penjuru Nusantara.
Halo Sulawesi Aga kareba?
__ADS_1
Vote tetap ditunggu ya kawan kawan....
Terakhir tentang Api di Bumi Majapahit akan saya Update setiap hari namun mungkin karena Novel baru jadi masa reviewnya lebih lama.. jadi harap bersabar kalau ada keterlambatan di Review