
"Tidak salah lagi itu jurus pedang bayangan". Lingga sedikit menahan nafasnya. Dia tidak menyangka jika jurus yang pernah menghancurkan puluhan sekte itu muncul kembali di dunia persilatan.
Lingga mencoba menangkis serangan pedang bayangan dengan pedangnya. Beberapa jurus pedang Batara mampu sedikit mendesak dan memaksa Lingga bertahan tanpa mampu menyerang balik.
Saat Lingga menemukan celah untuk menyerang dia tidak menyianyiakan kesempatan. Tubuhnya bergerak cepat menyerang titik lemah Batara.
Batara tidak tinggal diam dia mengeluarkan jurusnya untuk menahan gerakan Lingga.
"Jurus pedang bayangan". Sebuah energi pedang melesat cepat kearah Lingga.
Pengalaman bertarung yang dimiliki Lingga membuatnya tetap tenang. Mengetahui jika serangan Batara tidak dapat di sambut secara langsung Lingga memutuskan menghindarinya dengan melompat ke samping sambil bersiap mengeluarkan jurus pedangnnya.
"Sudah kubilang pengalaman bertarungmu tidak ada". Lingga melompat kesamping dan siap menyerang balik.
"Crasss" Tubuh Lingga tiba tiba terkena sabetan energi pedang milik Batara. Tubuhnya sedikit terhuyung tak siap menerima serangan itu.
"Bagaimana bisa serangannya mengenaiku?" Lingga melompat mundur dengan wajah mengeras.
"Bukankah aku sudah menghindarinya? jurusnya seperti berbelok sendiri di saat terakhir".
Batara kembali menyerangnya dengan cepat membuat Lingga tidak sempat berpikir. Kecepatan yang ditunjukan Batara benar benar mendesak Lingga. Beberapa kali pedang Batara mengenai tubuhnya.
"Jurusnya selalu berubah di detik terakhir, bagaimana dia melakukannya". Lingga mengalirkan tenaga dalam keseluruh tubuhnya, beberapa luka sayatan pedang membuatnya tidak bebas bergerak.
Saat dia memutuskan untuk menyerang, tiba tiba tubuh Batara menghilang dari pandangannya dan muncul tepat di sisi kanannya. Lingga berhasil menangkis serangan yang terarah padanya namun lagi lagi jurus itu berbelok dan mengenai lengannya.
"Kemana perginya kesombonganmu tadi". Pukulan Batara berhasil mengenai tubuh Lingga yang pikirannya terfokus pada perubahan gerak pedang bayangan. Tubuhnya terpental beberapa meter dan membentur salah satu pohon besar.
Lingga menatap tajam Batara yang tersenyum melihatnya terdesak.
"Apakah ilmuku berhasil membuatmu menarik pedang".
Lingga tersenyum kecil "Kau benar benar membuatku marah. Akan kutunjukan padamu mengapa aku dijuluki 10 pendekar terkuat dunia persilatan".
Tubuh Lingga mulai diselimuti aura hitam membentuk seperti serat pelindung.
"Akhirnya kau mulai serius" Ucap batara sambil mempersiapkan tenaga dalamnya untuk serangan berikutnya.
__ADS_1
***
"Kita harus cepat nona". Sabrang melesat diantara pepohonan mengikuti Arkadewi yang berada tak jauh didepannya.
"Jadi tujuanmu datang kemari untuk mengambil pusaka Malwageni?". Ucap Arkadewi sambil tetap memandang kedepan. Gerakan lincahnya melompat diantara pepohonan menandakan ilmu meringankan tubuhnya cukup tinggi.
Sabrang hanya terdiam dan terus melompat mengikuti Arkadewi. Perasaannya kini sedikit gugup membayangkan pusaka yang selama ini selalu menemani ayahnya akan jatuh di tangannya.
"Anom telah melindungi Malwageni sejak leluhurmu mulai mendirikan kerajaan Malwageni ratusan tahun lalu". Ucap Naga api seolah mengetahui kegelisahan yang dirasakan Sabrang.
"Apa yang kau ketahui tentang hubungan anom dengan leluhurku?". Sabrang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Aku tidak mengetahui secara pasti karena sejak pencipta kami menyegel gerbang kegelapan dia memisahkan 4 pusaka terkuat ke berbagai penjuru dunia. Namun yang bisa kukatakan saat ini adalah jika leluhurmu bisa membuat perjanjian dengan Anom berarti leluhurmu pernah menginjakkan kaki di Dieng".
Sabrang tersentak kaget mendengar penjelasan Naga api.
"Maksudmu leluhurku pernah pergi ke Dieng?".
"Untuk dapat membuat perjanjian dengan 4 pusaka terkuat Dieng kau harus datang ke gua kabut. Di gua kabut kau harus meneteskan darahmu pada pusaka itu sebagai tanda kau meminta perjanjian sebelum memulai pertapaan untuk menyatukan kekuatanmu dengan pusaka Dieng. Jika kau beruntung maka kekuatan pusaka Dieng akan menyatu dengan tubuhmu namun jika pusaka itu menolak mengikutimu maka jiwamu akan diserap oleh pusaka itu dan kau akan mati mengenaskan.
"Apakah setiap menggunakan pusaka terkuat Dieng harus melalui perjanjian itu?".
"Tidak juga, kau masih bisa menggunakan pusaka Dieng tanpa harus membuat perjanjian di gua kabut, seperti saat ini kau menggunakanku namun kekuatan yang bisa kau gunakan hanya separuh dari kekuatan pusaka itu. Kau bisa menggunakan seluruh kekuatan anom tapi tidak denganku karena kita tidak terikat perjanjian".
Sabrang mengernyitkan dahinya "Jadi aku harus pergi ke Dieng untuk membuat perjanjian denganmu?".
Naga api terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau jangan pernah bermimpi untuk membuat perjanjian denganku, dari awal aku diciptakan sampai detik ini aku tidak akan pernah sudi membuat perjanjian dengan manusia". Suara Naga api meninggi.
Sabrang terkekeh mendengar amarah Naga api "Jika benar benar membenci manusia kenapa saat ini kau mau mengikutiku?"
"Aku hanya menunggu kesempatan untuk merasukimu, jika Anom tidak menyegelku dengan segel 4 unsur hidupmu sudah berakhir saat ini".
"Kau adalah pusaka yang aneh Naga api" Sabrang kembali tertawa mengejek.
"Apa maksudmu?" Naga api menghardik Sabrang.
__ADS_1
"Kau tau, saat ini aku bisa merasakan tenaga dalam berkat Energi bumi. Saat kau merasukiku di Sekte kelelawar hijau kau bisa saja memakan jiwaku namun tidak kau lakukan.
Bahkan saat Anom menyegelmu dengan segel 4 unsur kau bisa saja menghanguskan Anom dalam sekejap karena kekuatanmu saat itu jauh di atas Anom namun kau seperti membiarkan Anom menyegelmu.
Aku tidak tau apa tujuanmu berbuat demikian namun satu hal yang harus kau tau setelah aku berhasil menemukan anom aku akan pergi ke Dieng dan memaksamu membuat perjanjian denganku".
"Kau tidak bisa mengukur kemampuanmu bocah, Jika pendekar yang kalian sebut Pendekar dalam legenda saja tidak bisa memaksaku apalagi kau yang kemampuannya jauh di bawahnya. Kuperingatkan kau untuk membuang jauh pikiran membuat perjanjian denganku atau aku akan memakan jiwamu saat berada di gua kabut".
"Mungkin saat ini kemampuanku jauh di bawahnya namun aku memiliki tekad Malwageni dan Anom disisiku. Aku akan terus bertambah kuat walau harus menyeretmu ke Dieng". Sabrang tersenyum penuh makna.
"Apa yang tua bangka itu sampaikan padamu?"
"Tidak banyak namun dia sempat menyebut nama Noah".
"Berani kau menyebut nama itu lagi aku akan membakarmu". Kobaran api tiba tiba menyelimuti tubuh Sabrang membuat Arkadewi terkejut dan sedikit menjauh.
"Tak kusangka kau memiliki nama yang bagus Naga api". Sabrang tersenyum melihat reaksi Naga api.
"Anom terlalu banyak bicara, akan kubunuh jika bertemu dengannya".
"Kau tau, aku mulai menyukaimu Naga api". Sabrang tersenyum lembut.
"Kau!!" Naga api terdiam mendengar perkataan Sabrang, perlahan kobaran api di tubuh Sabrang menghilang.
Sabrang menghentikan langkahnya saat melihat Arkadewi memberinya tanda untuk berhenti.
"Tuan muda" Raut wajah Arkadewi terlihat khawatir.
Sabrang mengangguk sambil tangannya memegang pedang Naga api yang ada di punggungnya.
"Mereka bukan pendekar biasa nona kita harus berhati hati".
Pandangan Sabrang tertuju pada pertarungan yang ada dihadapannya. Terlihat Batara sedikit terdesak oleh jurus jurus cepat Lingga.
"Letak gua keramat ada di depan tuan, tak jauh dari sini ada sebuah sungai yang besar. Gua keramat terletak dibawah batu besar di sisi kanan sungai namun jalan kita terhalang oleh mereka tuan". Arkadewi mendengus kesal.
"Apa yang dilakukan pendekar Iblis hitam disini? Apakah mereka mengincar Keris penguasa kegelapan juga?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
__ADS_1