Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sisi Lain Sabrang II


__ADS_3

Tungga dewi terlihat menyerang Brajamusti dengan cepat, permainan pedangnya terlihat makin matang sejak dibimbing Brajamusti namun bukan itu yang berbeda dari Tungga dewi kali ini.


Aura putih yang menyelimuti tubuh Tungga dewi membuat gerakannya makin cepat.


"Jurus yang kau gunakan adalah jurus pedang angin biru, jurus yang seharusnya kuturunkan pada ibumu". Brajamusti menarik pendangnya dan memutar sedikit sebelum menyerang balik.


"Dia sudah mampu menggunakan energi murni dalam tubuhnya" gumam Brajamusti sambil terus menekan.


Brajamusti tiba tiba menghentikan serangan saat seorang murid Tapak es utara berlari mendekatinya.


Tungga Dewi menyarungkan pedangnya dan memberi hormat pada Brajamusti yang kini menjadi gurunya.


"Tetua, anda ditunggu diruang pengonatan sekarang juga oleh guru". ucap murid itu sambil mengatur nafasnya.


"Ruang pengobatan?" Brajamusti mengernyitkan dahinya.


"Rombongan tuan Wardahan telah kembali namun tuan Wardhana dan Pangeran sepertinya terluka parah" jawab murid itu.


"Terluka" Tungga dewi tersentak kaget saat mendengar ucapan pemuda itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi". Brajamusti berjalan cepat diikuti Tungga dewi dibelakanganya.


"Anda baik baik saja kan Yang mulia" gumam Tungga dewi dalam hati.


Ruang pengobatan di sekte Tapak es utara tampak ramai kali ini. Beberapa pendekar tapak es utara tampak berjaga untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.


Hanya segelintir orang yang diperbolehkan masuk mengingat Sabrang kini menjelma menjadi pendekar terkuat di Nuswantoro.


Jika kabar Sabrang terluka parah tersebar didunia persilatan maka dunia persilatan akan sedikit kacau. Mantili takut pendekar langit merah akan mengambil keuntungan dengan menyerang mereka karena mengetahui Sabrang terluka.


Tungga dewi masuk ruangan bersama Brajamusti dan menemukan Mentari bersama Emmy sudah berada didalam.


Raut wajah mereka begitu sedih sampai meneteskan air mata.


"Apa yang terjadi?" tanya Tungga dewi pelan.


Mentari tak menjawab, dia hanya menunjuk seorang pemuda yang kedua lengan dan kakinya terikat rantai yang sudah dialiri segel kehidupan.


Tungga dewi terbelalak menatap Sabrang yang belum sadarkan diri terbelenggu diatas tempat tidur.

__ADS_1


"Mengapa dia harus dirantai?" protes Tungga dewi.


Setah semua berkumpul, Ciha mulai menjelaskan semua kejadian yang mereka alami di Balidwipa sampai fakta mengenai masa lalu trah Dwipa.


Ciha memperkirakan apa yang dialami Sabrang saat ini adalah sisi gelap yang sudah menjadi bagian dari trah Dwipa sejak menjadi bahan percobaan para penguasa dunia.


"Aku sangat menyesal namun satu satunya cara saat ini adalah mengikatnya seperti itu sampai tuan Wardhana sadar dan mencari cara untuk membantunya. Jika dia sampai mengamuk seperti diatas kapal, aku tak yakin kita bisa menghentikannya".


Semua terdiam mendengar penjelasan Ciha, tak pernah terbayang oleh mereka jika ada manusia yang dengan tega menjadikan sesama manusia sebagai alat percobaan.


"Boleh aku memeriksannya?" tanya Brajamusti.


Ciha mengangguk pelan sambil memberi jalan pada Brajamusti.


Brajamusti memegang pergelangan tangan Sabrang dan beberapa bagian tubuh lainnya.


"Dia sangat beruntung energi murni melindunginya jika tidak maka sisi gelapnya sudah mengambil tubuhnya".


Brajamusti menatap Tungga dewi sesaat sebelum berdiri dan membisikkan sesuatu pada Ciha.


"Saat ini energi kehidupannya semakin menipis, aku takut tubuhnya akan dikuasai jika menunggu Wardhana sadar. Dia masih selamat karena energi murni yang diturunkan ibunya menekan mahluk itu.


"Lakukan apapun untuk menyelamatkannya tetua, jika sampai dia terjadi apa apa padanya aku tak akan memiliki muka untuk bertemu adikku kelak".


Brajamusti mengangguk pelan "Aku akan mencoba berbicara dengan Naga api namun aku membutuhkan bantuan nona Mentari".


"Bantuanku?" Mentari mengernyitkan dahinya.


"Energi Naga api bukan energi yang bisa masuk kedalam tubuh dengan mudah, hanya pemilik tubuh tujuh bintang yang mampu menerima energinya. Aku bisa saja mencoba menyerapnya namun itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan Sabrang tak memiliki waktu sebanyak itu. Satu satunya cara adalah menggunakan Ajian lebur sukma milik anda untuk menyerap energi Naga api dan menyalurkannya kealam bawah sadar Sabrang.


Ajian lebur sukma tidak mengalirkan energi Naga api kedalam tubuh namun mengikatnya pada tenaga dalam anda, itu jauh lebih aman daripada memasukkan terlebih dahulu kedalam tubuh".


"Aku akan melakukannya tetua" jawab Mentari cepat.


"Ikut denganku, ada yang harus kuajarkan terlebih dulu padamu sebelum kita memulainya. Tetua, bolehkan aku meminjam ruang latihan anda?".


Mantili mengangguk pelan " Aku akan mengantar kalian, ikut denganku". Mantili menoleh kearah Tungga dewi dan Emmy sebelum melangkah pergi. "Aku ingin kalian menjaganya sementara waktu, tak ada yang boleh menemuinya tanpa seizinku" ucap Mantili pada gadis dihadapannya itu.


Tungga Dewi dan Emmy mengangguk serempak.

__ADS_1


"Aku mohon selamatkan dia" ucap Tungga dewi lirih.


"Pasti" balas Mentari sambil tersenyum hangat.


***


"Apa kau pikir bisa mengalahkanku? aku hampir saja menguasai ayahmu namun dia terlalu pengecut dengan membunuh dirinya sendiri" Seorang pria tampak muncul dihadapan Sabrang.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sabrang pelan.


"Aku adalah dirimu namun dalam bentuk yang jauh lebih kuat. Sebaiknya kau menyerahkan tubuh itu padaku, aku sudah memberimu kesempatan namun kau gagal. Bahkan kau tidak mampu merebut kerajaan ayah tanpa bantuan Wardhana".


"Kau adalah diriku? bukan. Kau adalah mahluk hasil ujicoba para Masalembo".


"Kau yakin? bagaimana jika ternyata kaulah mahluk itu?".


Sabrang menggeleng pelan "Aku tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu. Kau lah mahluk yang membunuh ayahku". Sabrang berusaha mengeluarkan Naga api ataupun Anom namun tak berhasil.


"Percuma, dialam bawah sadarmu aku yang berkuasa". Mahluk itu memunculkan energi keris diudara dan mulai menyerang Sabrang.


"Anom?" ucap Sabrang sambil melompat mundur.


"Sudah saatnya aku mengambil alih tubuhmu, kau terlalu lemah". Mata mahluk itu bersinar biru, dia kembali meningkatkan kecepatannya.


Perbedaan kekuatan yang cukup jauh membuat Sabrang mudah terdesak, ditambah semua gerakannya terbaca oleh mata bulan mahluk itu membuatnya semakin kesulitan menyerang balik.


"Akulah Sabrang damar yang sebenarnya". Mahluk itu memutar sedikit tubuhnya dan menarik energi keris diudara.


Sabrang tersentak kaget sesaat sebelum tubuhnya berlubang.


"Biarkan aku yang merebut Malwageni dan menguasai dunia persilatan". Mahluk itu mengeluarkan bongkahan es dikedua tangannya sebelum menempelkan telapak tangannya ketubuh Sabrang. "Membusuklah ditempat ini".


Dalam sekejap tubuh Sabrang membeku oleh jurus Dewa es abadi.


"Bagaiman dia bisa menguasai semua ilmu kanuraganku" ucap Sabrang pelan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jika kalian merasa cerita PNA cukup menarik, bantu Sabrang memperbaiki posisi PNA yang terus merosot dengan memberikan Vote.

__ADS_1


__ADS_2