
"Kau baik baik saja Naga api?". Anom mengernyitkan dahinya saat melihat gelagat tidak biasa yang ditunjukan Naga api.
"Aku baik baik saja". Jawab Naga api singkat.
"Kau tidak pandai menyembunyikan sesuatu Naga api". Gumam Anom dalam hati.
"Daratan Celebes tak seperti tanah Jawata, disini masih banyak tempat yang belum pernah terjamah, begitu banyak misteri mengenai daratan ini yang belum mampu kami pecahkan".
"Tempat yang paling tepat untuk menyembunyikan sesuatu yang besar". Ucap Wardhana pelan. Dia memandang kesekitarnya, keindahan alamnya benar benar membuatnya takjub. Pepohonan tinggi khas hutan hujan tropis yang menjulang tinggi dan menghalangi sinar matahari masuk membuat tempat itu menjadi lembab dan terkesan mencekam.
Suara burung bersaut sautan ditambah suara gemericik air terjun menyambut mereka dengan segala misterinya.
Arung menghentikan langkahnya saat menemukan sebuah gua disebelah air terjun yang sangat indah.
"Di gua itulah tetua menemukan tuan Panca, sempat terjadi ketegangan karena kami menganggapnya penyusup dari daratan Jawata namun sikap ramahnya dan pengetahuannya yang luas tentang Celebes membuat kami tertarik dan menerimanya dengan tangan terbuka".
"Dia mengenal tempat ini?". Ciha mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya ada beberapa keanehan saat kami menemukan tuan Panca". Arung mencoba mengingat ingat kejadian yang dia dengar dari para tetua.
"Pertama kami menemukannya, dia menunjukan kapal yang sangat besar kala itu yang bahkan belum bisa kami buat. Kapal yang kita gunakan tadi adalah replika kapal milik tuan Panca. Sampai saat ini kami belum tau dari mana dan bagaimana dia bisa memiliki kapal yang sangat megah itu. Saat itu ilmu pengetahuan masih sangat minim.
Yang kedua, untuk ukuran pendekar tanah Jawata pengetahuannya tentang daratan Celebes sangat mengagumkan. Dia seolah sering datang kemari namun saat itu kami tak terlalu memikirkannya karena yakin dia adalah orang yang baik".
"Yang kukatakan tadi sepertinya benar tuan, ada hubungan kuat antara Ken Panca dengan kumari kandam". Bisik Ciha pada Wardhanan.
Wardhana mengangguk pelan, dia merasa harus sedikit merubah rencananya karena fakta Ken Panca yang sepertinya memiliki hubungan dengan Kumari kandam.
"Apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan melalui tulisan yang anda tinggalkan ini tuan Panca". Gumam Wardhana dalam hati.
"Bisakah kita melihat sejenak gua itu?". Ucap Wardhana tiba tiba saat Arung hendak melanjutkan perjalanannya.
"Gua itu sudah kami kelilingi tuan, tak ada petunjuk apapun". Jawab Arung.
"Tidak apa apa, aku hanya merasa perlu untuk merekontruksi kedatangan tuan Panca untuk mencari tau sesuatu yang mengganggu pikiranku".
" Mengganggu pikiran anda?". Ciha mengernyitkan dahinya.
"Aku belum bisa mengatakannya karena belum tau apa yang mengganjal dipikiranku namun sejak berada didaratan ini aku merasa ada sesuatu".
"Ayo kita kesana". Ciha melangkah mendekati gua itu. Dia merasa apapun yang akan ditemukan Wardhana merupakan kunci masalah kali ini.
"Kami menemukannya saat dia sedang bermeditasi di batu itu". Arung menunjuk sebuah batu besar didalam gua.
Wardhana melangkah mendekati batu itu dan duduk diatasnya. Pandangan matanya menatap sekitarnya dan mencoba menebak apa yang dilakukan Panca saat itu.
Pandangan matanya berhenti disebuah titik sudut gua yang hanya bisa dilihat dari atas batu itu. Sebuah tulisan kecil dan beberapa gambar aneh terlihat.
" Ciha, tolong bacakan tulisan itu". Tunjuk Wardhana kesudut gua.
__ADS_1
"Sudut gua?". Ciha mengernyitkan dahinya karena merasa tidak melihat sesuatu.
"Tulisan itu ditulis disudut cekungan yang hanya bisa dilihat dari sini. Panca sepertinya menyembunyikan sesuatu dan dia ingin kita mengikuti kemana dia pergi".
Ciha segera melangkah cepat dan menemukan tulisan seperti yang dikatakan Wardhana. Dia menoleh kearah Wardhana sesaat dan kembali menatap tulisan itu.
"Ken Panca ingin kita melihat dari sudut pandang dia melihat". Gumam Ciha sambil membaca tulisan itu.
"(Kota tersembunyi merupakan pecahan peradaban yang hilang. Air dan angin akan menuntunmu. Temukan pohon Bambu embong bercabang tiga sebagai titik awal kota tersembunyi)".
"Air dan angin akan menuntunmu?". Wardhana terlihat berfikir sejenak.
"Bambu embong? aku tak pernah mendengar ada pohon seperti itu disini". Ucap Arung pelan.
"Itu wajar, karena bambu embong adalah jenis tanaman yang hanya tumbuh dipulau Jawata, yang membuatku bingung adalah mengapa dia menyebut mambu embong ditanah ini?".
"Apa Ken Panca salah mengenali tanaman disini?". Kali ini Ciha yang bertanya.
"Kemungkinan seperti itu, mungkin dia melihat tanaman yang mirip dengan bambu embong. Sekarang aku makin yakin jika kota emas itu memang ada".
Setelah memeriksa kembali dan yakin tidak ada yang terlewat, mereka kembali melanjutkan perjalanan membelah hutan Celebes.
***
Sementara itu lereng gunung lompobattang puluhan pendekar dari sekte Manca api berkumpul dijalan satu satunya menuju Sekte Naga langit. Lereng gunung yang sangat curam dikedua sisinya membuat hanya satu jalan yang dapat mencapai Sekte Naga langit.
"Hari ini ada pertemuan penting antara ketua dengan tua bangka dari Naga langit. Pastikan tidak ada satupun yang keluar atau masuk gunung ini selama pertemuan berlangsung. Bunuh siapapun yang mencoba melewati tempat ini". Perintah Maradika, salah satu wakil ketua Manca api.
"Sepertinya akan terjadi perang besar kali ini". Salah satu pendekar menggeleng pelan.
"Apa kau takut? Saat ini kemampuan pendekar kita jauh diatas Naga langit. Jika ingin menaklukan sekte Naga langit saat inilah waktu yang tepat". Sahut temannya.
Pendekar itu hanya terdiam setelah mendengar ucapan temannya. Ada rasa khawatir dalam dirinya karena selama ini Naga langit merupakan sekutu utama Manca api menghadapi Lereng merah darah. Jika kali ini mereka bertempur, dia takut Lereng merah darah memanfaatkan situasi saat ini untuk menyerang mereka.
Namun dia tidak dapat berbuat apapun karena Ambisi Ketuanya untuk menguasai daratan Celebes sangat besar. Dia harus mengikuti perintah sektenya atau mati.
"Bukankah kalian pendekar dari Manca api? apa yang kalian lakukan disini?". Suara Arung mengagetkan para pendekar yang sedang berjaga.
"Ah Arung? kau tidak berada di sekte? hari ini ada pertemua ketua sekte". Bahar menjawab canggung. Dia tidak mungkin menjawab jika mereka saat ini akan menyerang Naga langit pada sahabatnya sejak kecil itu.
Arung dan Bahar memang berteman sejak kecil dan selalu bersaing ilmu kanuragan. Walaupun Bahar setingkat diatasnya namun Arung tak pernah mempermasalahkannya. Dia terus berusaha menyusul Bahar dengan terus berlatih.
"Pertemuan para ketua sekte?". Arung mengernyitkan dahinya. Dia kembali terbayang penyerangan beberapa saat lalu yang ternyata dilakukan Manca api. Perasaannya langsung was was memikirkan guru dan semua kakak seperguruannya.
" Baiklah, Ayo kita pergi. Sekteku tak jauh lagi". Arung menunjuk puncak gunung lompobattang tempat sektenya berdiri.
Namun betapa kagetnya Arung saat Bahar mengarahkan pedangnya dihadapannya.
"Aku tak bisa membiarkanmu lewat kawan, aku diperintah untuk menjaga tempat ini sampai pertemuan selesai". Jawab Bahar pelan.
__ADS_1
"Aku rasa kau terlalu berlebihan, apa sekteku membutuhkan penjagaan kalian?". Arung terlihat tidak suka dengan sikap sahabatnya.
"Sebaiknya kita tunggu sampai pertemuan selesai. Aku benar benar tak ingin berurusan denganmu Arung".
"Apakah ini satu satunya akeses menuju sekte Naga langit?". Wardhana tiba tiba bicara.
Arung hanya mengangguk sambil menoleh pada Wardhana.
"Sumbat jalur kehidupannya maka kau akan memenangkan perang dengan mudah, itulah salah satu siasat perang yang sering kugunakan. Ketika kiriman makanan berkurang, secara tidak langsung akan mengurangi separuh kekuatan musuh". Jawab Wardhana sinis.
"Apa maksud ucapanmu? tak perlu ikut campur jika tak ingin menyesal". Bahar menatap tajam Wardhana.
"Sekte Naga langit berada di gunung yang sangat terjal, jika satu satunya akses kalian kuasai maka akan dengan mudah ditaklukan. Para pendekar yang saat ini bersembunyi mengamati kami sejak turun dari kapal menandakan kalian benar benar total menutup akses ke Naga langit. Aku yakin kau sudah mengetahui kedatangan kami dan menumpuk penjagaan disini. Kau bisa menipu mata orang lain tapi aku telah ratusan kali berhadapan dengan ahli siasat terbaik tanah Jawata. Jika perkiraanku benar saat ini kalian berusaha menaklukan sekte Naga langit". Jawab Wardhana tegas.
"Siapa kau sebenarnya?". Bahar mengepal tangannya menahan amarah. Dia benar benar terkejut Wardhana bisa menalasisa situasi dengan sedikit petunjuk yang dia dapatkan dengan begitu tajam.
"Apakah itu benar?". Tanya Arung dingin.
"Ada yang harus kita korbankan untuk tujuan yang lebih besar kawan, kita harus sedikit berkorban untuk keselamatan dunia persilatan". Wajah Bahah terlihat menyesal.
"Demi dunia persilatan? itu hanya ambisi kalian".
"Apapun yang kau katakan, aku tetap tidak bisa membiarkan kalian lewat". Bahar melepaskan aura hitam pekat untuk menekan Arung. Tangan kanannya memberi tanda untuk para pendekar Manca api keluar dari persembunyiannya.
Empat orang pendekar melesat kearah Sabrang dan langsung mengepungnya, pedang mereka terhunus kearah Sabrang. Begitupun dengan Lingga dan yang lainnya. Masing masing dari mereka dikepung empat pendekar kelas tinggi.
"Aku paling tidak suka ada senjata yang mengarah padaku". Sabrang mengarahkan tangannya keudara.
Tiba tiba keris penguasa kegelapan terbentuk diudara dan menyerang empat pendekar yang mengepungnya dengan cepat.
"Dari mana keris itu muncul". Salah satu pendekar mencoba menghindar namun terlambat. Empat pendekar yang mengelilinginya tiba tiba meregang nyawa tanpa tau apa yang menyerangnya.
Semua terbelalak menatap kecepatan Sabrang, matanya yang berwarna biru seperti meruntuhkan semangat tempur mereka.
Belum sempat rasa terkejut mereka selesai, Anom kembali muncul didekat Wardhana dan Ciha dan langsung menyerang. Sabrang sadar kemampuan Ciha dan Wardhana jauh dibawah para pendekar Manca api, dia harus melumpuhkan para pendekar itu secepatnya.
" Jauhi keris itu". Teriak salah satu pendekar.
Dua pendekar tiba tiba tumbang tak mampu menghindar.
"Sial! keris itu sangat menyusahkan". Pendekar itu melompat mundur namun tiba tiba gerakannya terhenti karena sebuah pedang yang diselimuti kobaran api menusuk punggungnya sampai tembus kedadanya.
"Bagaimana bisa?". Pendekar itu cukup yakin Sabrang tadi berada jauh didepannya namun tiba tiba sudah berada dibelakangnya.
"Paman, menjauhlah sedikit bersama Ciha. Aku akan membereskan mereka semua". Ucap Sabrang setelah tubuh pendekar itu hangus menjadi abu.
"Baik yang mulia".
Sabrang menoleh kearah Bahar dan menatapnya tajam. Dia sengaja melepaskan aura Naga api untuk menekan seluruh area hutan itu.
__ADS_1
Lingga hanya tersenyum sinis melihat Sabrang semakin kuat.
"Kau tau kawan, bukan aku yang harusnya kau takuti saat ini. Aku sudah melihat sendiri bagaimana mengerikannya mata biru itu. Ejek Arung pada Bahar.