
"Kalian tidak akan percaya dengan apa yang kutemukan," Rubah Putih muncul bersama Kusna yang tangannya terikat.
Semua tampak tersentak kaget saat melihat Rubah Putih membawa seorang pria lusuh.
"Dari mana saja kau?" ucap Wulan dengan wajah marah.
"Saat kita berjalan masuk kedalam ruangan ini, aku merasakan kehadiran seseorang yang sedang mengamati kita. Aku memutuskan memeriksa dan menemukan dia," balas Rubah Putih.
"Lalu siapa dia? bagaimana seseorang bisa hidup setelah terkurung lama ditempat ini?" Wulan terus mengamati pria dihadapannya dengan wajah bingung.
Saat semua perhatian mereka tertuju pada pria misterius itu, Wardhana justru menatap Rubah Putih curiga.
"Kau bisa bahasa tulisan yang ada di dinding gua tadi kan? coba ajak dia bicara, beberapa kali dia bicara padaku namun aku tak mengerti," ucap Rubah Putih sambil melirik Kusna.
Kusna tampak menoleh kearah Rubah Putih sesaat sebelum memejamkan matanya, dia kembali mengingat percakapan terakhirnya dengan Rubah Putih.
"Sepertinya aku tau siapa yang membunuh semua suku Gropak Waton. Musuh kita sama, jika kau membantuku maka aku akan membantumu," ucap Rubah Putih sambil tersenyum.
"Musuh kita? jadi mereka masih hidup?," tanya Kusna.
"Bukan hanya masih hidup, mereka menggunakan semua yang didapatkan dari tempat ini untuk menguasai dunia, suka tidak suka kalian lah penyebab munculnya monster seperti mereka," jawab Rubah Putih.
Kusna terdiam sesaat, ada rasa penyesalan dihatinya setelah mendengar ucapan Rubah Putih.
"Apa yang kau minta dariku?" tanya Kusna pelan.
"Tak banyak, aku ingin kau membantuku menemukan siapa identitasku, sebelum semua terkuak jangan pernah katakan siapa aku," ucap Rubah Putih pelan.
"Siapa kalian sebenarnya?" suara Wulan membuyarkan lamunan Kusna.
"Kau mengerti bahasa kami?" Kusna tampak terkejut setelah mendengar Wulan bicara dengan bahasa Gropak Waton.
"Aku pernah mempelajarinya saat masih berada di Masalembo, katakan padaku siapa kalian sebenarnya?" Wulan kembali bertanya.
Kusna tampak ragu untuk menjawab, dia terus diam sebelum Rubah Putih sengaja menepuk pundaknya.
"Kami adalah suku Gropak Waton, dan aku adalah satu satunya yang tersisa," jawab Kusna pelan.
"Kau satu satunya yang tersisa? apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Wulan.
Kusna kemudian menceritakan kembali apa yang dia katakan pada Rubah Putih mengenai kemunculan tiga orang yang terluka sampai akhirnya mereka membunuh semua suku Gropak Waton.
Wajah Wulan tampak sedikit terkejut walau dia sudah memperkirakannya sejak awal.
"Jadi begitu ya, mereka mendapatkan semuanya ditempat ini lalu membunuh kalian semua," ucap Wulan bergetar.
"Tetua, bisakah kau jelaskan apa yang dia katakan?" tanya Wardhana penasaran.
"Apa yang kukatakan padamu kemarin benar, para pemimpin dunia mendapatkan semuanya disini, Ilmu pengetahuan dan kanuragan. Mereka membunuh semua suku Gropak Waton setelah mendapatkan apa yang mereka mau," balas Wulan menjelaskan.
"Jadi hanya dia yang tersisa?" timpal Wardhana.
Wulan mengangguk pelan, dia terus menatap Kusna iba.
"Bisakah anda membantuku untuk bicara dengannya? ada sesuatu yang ingin kupastikan," ucap Wardhana tiba tiba.
"Katakanlah," balas Wulan.
"Apa kau pernah mendengar kitab Keabadian Langit dan Bumi?" tanya Wardhana.
__ADS_1
"Kitab Keabadian Langit dan Bumi? bagaimana kau bisa tau kitab milik Lakeswara itu?" tanya Wulan terkejut.
Tak semua orang tau tentang kitab rahasia milik trah Dwipa itu, bahkan mungkin hanya Lakeswara yang telah membaca isinya.
"Tolong tanyakan dulu tetua, nanti akan aku jelaskan," balas Wardhana tak sabaran.
Wulan lalu menterjemahkan pertanyaan Wardhana pada Kusna.
Kusna tampak berfikir sejenak sebelum mengeluarkan sebuah kitab lusuh yang selalu dibawanya itu.
"Apakah maksudmu ini? aku tak pernah mendengar kitab keabadian langit dan bumi namun Gropak Waton memiliki kitab pusaka Langit dan Bumi yang diturunkan pada setiap raja terpilih," jawab Kusna sambil menyerahkan kitab itu kepada Wulan.
"Jika kitab ini adalah langit dan bumi lalu kitab yang dipegang Lakeswara?" tanya Wulan dengan wajah bingung.
"Tetua, bisakah anda membacakannya untukku?" pinta Wardhana.
"Paman, apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Sabrang yang dari tadi hanya diam memperhatikan.
"Maaf Yang mulia, ada sedikit yang mengganggu pikiranku. Catatan batu milik suku Iblis petarung yang ada di Dieng pernah membahas kitab ini, kemudian pendekar Langit merah pun sepertinya berhubungan dengan kitab ini. Aku merasa semua ada hubungannya," jawab Wardhana.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Wulan pelan.
"Ayahku adalah raja Gropak Waton sebelum tiga orang itu menghancurkan kami semua, dia memberikan kitab ini padaku sehari sebelum kematiannya. Jika benar kitab itu yang dimaksud temanmu maka kalian salah paham. Kitab langit dan bumi bukan sebuah kitab ilmu kanuragan ataupun tentang keabadian, kitab itu berisi catatan untuk membaca cuaca dan alam selain ramalan ramalan yang ditulis oleh tuan Agung. Kami menggunakannya sebagai panduan hidup untuk bersahabat dengan alam," jawab Kusna.
Wulan mulai membaca tulisan yang ada didalam kitab itu, sebagian dia lewati karena tak mengerti dengan simbol simbol aneh.
"Tak ada yang aneh dengan kitab ini, hampir semua tentang perhitungan rumit untuk menentukan waktu dan alam," ucapnya sambil membalik halaman terakhir.
Wulan mengernyitkan dahinya saat membaca halaman akhir kitab itu.
"Peradaban akan berakhir diawali dengan munculnya peradaban maja, hanya Megantara yang dapat menghentikan semua perubahan. Kemunculan Megantara ada dalam sosok seorang pendekar muda yang akan mengguncang dunia," Wulan menoleh kearah Wardhana dengan wajah bingung.
"Jadi ramalan itu berasal dari sini," ucap Rubah Putih tiba tiba.
Semua menoleh kearah Rubah Putih bersamaan kecuali Wulan yang memang sudah mengetahui tentang ramalan kemunculan pendekar terpilih.
"Ramalan?" tanya Wardhana.
"Ayah pernah cerita padaku jika dulu di Masalembo beredar sebuah legenda jika akan ada anak dalam ramalan yang akan menyelamatkan dunia dari kehancuran dengan pusaka Megantara namun entah sejak kapan cerita itu dilarang oleh para pemimpin dunia.
Aku sempat berfikir jika Sabrang lah anak dalam ramalan itu, tapi sepertinya tidak mungkin karena belum ada tanda tanda kemunculan peradaban Maja," ucap Wulan.
"Itu adalah ramalan yang sering dikatakan tuan Agung pada kami, dia merasa suatu saat jika melihat perhitungan alam peradaban akan berakhir diwaktu tertentu namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Dia selalu mengatakan jika semua sudah kehendak alam, cepat atau lambat sebuah peradaban akan hancur sekuat apapun kita mencoba mempertahankannya," ucap Kusna pelan.
Wulan lalu menjelaskan semua yang dikatakan Kusna.
"Perhitungan alam, peradaban berakhir?" Wardhana tampak berfikir sambil memejamkan matanya.
"Sepertinya ada yang aneh, catatan yang ditinggalkan suku Iblis petarung jelas mengatakan jika kitab keabadian Langit dan Bumi adalah kitab ilmu kanuragan tertinggi sedangkan kitab ini hanya berisi ramalan dan ilmu untuk membaca alam. Jika dua kitab ini berbeda mengapa cerita tentang ramalan kemunculan pendekar terpilih sama?" ucap Wardhana bingung.
***
Mentari yang sedang bermeditasi didalam kamar tiba tiba membuka mata saat merasakan kehadiran seseorang, dia berusaha meraih pedang yang berada di meja namun terlambat, seseorang yang mengenakan penutup wajah muncul dan menarik lengannya sebelum menotok di beberapa bagian tubuhnya.
Kedua tangan Mentari tiba tiba mengeluarkan bongkahan es dan berusaha membekukan lengan pendekar misterius yang mencengkram tangannya.
"Jurus es? bagaimana mungkin," ucap pendekar itu sambil melepaskan cengkeramannya dan sedikit menjauh.
__ADS_1
"Kau semakin cantik nak," ucap pendekar misterius itu pelan.
Wajah Mentari berubah seketika saat dia mengenali suara pendekar itu.
"Ayah?" ucap Mentari terkejut.
Pendekar itu terdiam sesaat sebelum membuka penutup wajahnya.
"Kau masih mengenali ayah," balas Guntoro sambil tersenyum.
"Aku tak akan pernah lupa pada laki laki yang membuang ku disebuah desa kecil," balas Mentari sinis.
"Ayah terpaksa menitipkanmu pada mereka karena terpaksa," balas Guntoro lirih.
"Menitipkan? ayah membuangku!" teriak Mentari kesal.
"Tak pernah ada orang tua yang tega membuang anaknya, bahkan ayah dan ibu angkat ku jauh lebih sayang padaku. Sebaiknya ayah pergi karena sejak saat itu aku sudah menganggap ayah mati," air mata Mentari perlahan keluar dari mata indahnya.
"Saat itu nyawa ayah sedang terancam, ayah tak mungkin melibatkan mu dalam bahaya, semua yang ayah lakukan demi kebaikanmu," balas Guntoro.
"Cukup! aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari ayah. Apa yang ayah lakukan di sini?
"Ada yang harus kita bicarakan nak tapi sebelum itu bisakah kau singkirkan jurus es itu, apa kau ingin membekukan ayahmu sendiri?" ucap Guntoro pelan.
Mentari segera menarik jurus es abadinya, sesaat sebelum Guntoro melepaskan totokan di tubuhnya.
"Ayah bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? dan sejak kapan ayah memiliki Ilmu kanuragan setinggi itu?"" ucap Mentari setelah lepas dari totokan ayahnya.
"Kau harus pergi dari sini nak, tempat ini bukan untukmu, ikut dengan ayah dan lupakan semuanya," ajak Guntoro pelan.
"Pergi dari sini? aku tidak bisa, aku sekarang adalah selir Yang mulia," balas Mentari dingin.
"Selir? kau tau siapa yang kau sebut Yang mulia? Trah Dwipa adalah musuh besar leluhur kita," balas Guntoro sedikit meninggi.
"Musuh leluhur kita? aku sudah katakan jika aku hanya memiliki orang tua yang bekerja sebagai petani, tidak ada yang lain! dan jangan pernah menghina Yang mulia, karena orang yang ayah sebut musuh besar itu adalah orang yang menyelamatkanku dari cengkraman perampok Kalajengking Hitam," balas Mentari.
Mentari terlihat memejamkan matanya sesaat, kebencian pada ayahnya masih tampak di wajah cantiknya.
Mentari masih ingat betul, dia dititipkan ayahnya pada sepasang petani di sebuah desa kecil saat berumur sepuluh tahun.
Mentari sampai menangis semalaman saat ayahnya pergi tanpa memperdulikan teriakannya.
"Sebaiknya ayah pergi sebelum aku memanggil prajurit kerajaan," ucap Mentari sambil melangkah pergi.
"Apapun yang terjadi ayah akan membawamu pergi," Guntoro melesat kearah Mentari.
"Sudah kukatakan untuk pergi," Mentari memutar tubuhnya dan melepaskan jurus es abadi untuk menahan gerakan Guntoro.
Sebuah ledakan besar terjadi saat lengan Guntoro menghantam bongkahan es yang memisahkan dirinya dengan Mentari.
"Maaf nyonya, kami mendengar sebuah ledakan, apa ada yang terjadi?" beberapa prajurit membuka pintu dengan wajah khawatir.
"Siapa kau? berani sekali menyusup kedalam keraton!" teriak salah satu prajurit sambil bersiap menyerang.
"Datanglah ke hutan di utara keraton ini, ayah akan menjelaskan alasan mengapa ayah menitipkanmu saat itu," ucap Guntoro sebelum melompat pergi, dia menggunakan bongkahan es sebagai pijakan dan menerobos langit langit ruangan sebelum melesat pergi dan menghilang di kegelapan malam.
Mentari hanya diam sambil menatap langit langit kamarnya yang sudah berlubang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Vote