Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pelajaran Berharga dari Sebuah Kegagalan


__ADS_3

"Kau... Bagaimana kau bisa kembali?" tanya Brama terkejut.


Sabrang hanya menoleh sekitarnya dan tidak menjawab apapun, wajahnya sedikit berubah saat gubuk yang dia buat untuk Mentari hancur akibat pertarungan.


"Kalian benar benar merusak bangunan ini," ucap Sabrang sambil menggeleng pelan.


Sabrang tidak menyangka selama dia berada di sisi gelap alam semesta, keadaan Trowulan menjadi sangat kacau, walau dia sedikit lega saat melihat Minak Jinggo dan Wicaksana bertarung bersama.


"Jika dia bisa kembali ke tubuhnya, maka Iblis Air itu..." Brama tak melanjutkan ucapannya saat melihat aura hitam meluap dari tubuh Sabrang dan menekannya.


"Jadi kalian berhasil nak, lalu dimana Naga Api?" tanya Anom pelan.


"Naga Api sedang bertemu teman lamanya, mungkin tak lama lagi dia akan kembali. Sekarang saatnya membereskan semua kekacauan ini," Sabrang tiba tiba bergerak menyerang membuat Brama sedikit terkejut, dia terlihat berusaha menghindari serangan Sabrang yang semakin cepat.


Aura membunuh yang menekan area pertarungan tiba tiba memaksa semua yang sedang bertarung menjauh, tidak perduli pihak Sabrang maupun para pendekar Lembayung langsung bergerak menjauh. Mereka jelas tidak ingin mati konyol karena terkena efek serangan kedua pendekar itu.


Keris penguasa kegelapan tampak berputar di atas kepala Sabrang seolah ingin melindungi tuannya.


Ledakan demi ledakan terus terdengar saat kedua pusaka beradu, gesekan dua tenaga dalam besar membuat bebatuan disekitarnya melayang dan beterbangan ke segala arah.


"Kekuatannya sangat mengerikan, bagaimana bisa tubuhnya mampu menampung energi sebesar ini?" ucap Minak Jinggo takjub saat melihat Sabrang mulai mendesak Brama.


Ledakan ledakan besar yang terus terdengar sempat membuat konsentrasi Minak Jinggo dan Wicaksana sedikit terganggu sehingga membuat mereka berdua tersudut.


Dalam kepungan lawannya, mereka yang saat ini beradu punggung berusaha mengatur kembali kuda kuda.


"Apa tawaran kerjasama terbatas itu masih berlaku? kita akan kehilangan muka jika kalah disini," ucap Wicaksana sebelum kembali menyerang.


"Kita tidak boleh kalah, setidaknya dihadapan orang itu karena dia akan semakin kejam menghukum kita. Aku akan merusak gerakan mereka, kau yang menghabisi." Suhu udara disekitarnya naik dengan cepat saat Minak Jinggo menggunakan jurus pedang Api abadi.


Melihat Minak Jinggo bergerak maju, Wicaksana langsung mengurangi kecepatan, dia memutar pedangnya untuk melindungi Minak Jinggo. Gerakan mereka tiba tiba berubah dan saling melengkapi, hukuman mengisi air dalam wadah yang berlubang secara tidak sadar membuat dua pendekar muda itu bisa membaca arah gerakan masing masing dan saling menutupi.


"Sekarang!" Minak Jinggo menebaskan pedangnya sekuat tenaga ke arah dua pendekar yang ada dihadapannya.


Wicaksana langsung merubah gerakannya, dia melompat di udara dan melesat kearah dua pendekar yang mencoba menghindari serangan Minak Jinggo.


"Jurus pedang Angin biru tingkat dua : Tebasan angin utara," dua pendekar yang tidak menyangka Wicaksana akan mengincar mereka tak mampu berbuat banyak saat serangan cepat itu menghantam tubuh mereka.


Dua pendekar itu terlempar beberapa langkah sebelum roboh di tanah.


"Kau liat sekarang Yang mulia? bukan hanya dirimu yang kuat di dunia persilatan," ucap Minak Jinggo dalam hati.


Sabrang yang sempat menoleh dan melihat serangan kedua pendekar itu tampak tersenyum bangga.


"Mereka berkembang sangat cepat, sepertinya hancurnya gubuk itu cukup setimpal," ucap Sabrang sambil meningkatkan kecepatannya.

__ADS_1


Brama yang sudah terpojok sejak awal semakin sulit untuk mengimbangi kecepatan Sabrang, dia merasa semua gerakannya terbaca oleh mata bulan. Hal itu menyulitkannya untuk menyerang balik.


"Mata itu seolah mampu membaca semua serangan pedangku. Jika terus seperti ini, aku bisa mati," umpat Brama kesal.


Brama mencoba membuat jarak dengan Sabrang, dia sadar lawannya itu begitu kuat saat bertarung jarak dekat namun saat dia hendak bergerak mundur, Sabrang menghilang dari pandangan.


"Jika kau begitu ingin menjaga jarak pertarungan, aku akan membantumu," tebasan pedang yang sangat cepat menghantam tubuh Brama tanpa bisa dihindari.


Tubuhnya terlempar beberapa meter sebelum menghantam pohon besar.


"Tidak mungkin... aku yakin kecepatannya sudah mencapai batasnya..." ucap Brama tak percaya.


"Kau lama sekali Naga Api," ucap Sabrang saat merasakan tubuhnya diselimuti kobaran api.


"Kau terlalu cerewet, aku langsung kembali setelah mengalahkan Iblis itu," jawan Naga Api pelan.


"Jadi dia sudah hancur?" tanya Sabrang cepat.


"Tidak juga, tapi setidaknya dia tidak akan bisa mengganggumu sementara waktu. Saat ini suasana hatiku sedang buruk, biarkan aku membantumu menghancurkan dia," kobaran api di tubuh Sabrang tiba tiba membesar, terlihat kobaran api itu membumbung tinggi keatas membentuk seekor Naga sedang memegang pedang.


Semua langsung menghentikan pertarungan saat tubuh mereka seperti terbakar, nafas mereka tersengal ketika merasakan tekanan aura yang sangat besar.


Brama yang berada cukup jauh dari Sabrang pun merasakan tubuhnya lemas, dia menatap kobaran api itu cemas.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan? aku sudah hampir mengalahkannya."


"Aku hanya ingin membantumu menyelesaikan pertarungan dengan cepat, ayo kita hancurkan mereka," balas Naga Api.


"Baik, untuk kali ini aku kabulkan keinginanmu," jawab Sabrang sebelum kembali bergerak.


Melihat Brama dalam bahaya, para pendekar Lembayung yang sedang bertarung langsung bergerak untuk melindunginya, mereka membentuk formasi untuk menghentikan gerakan Sabrang.


"Menjauh!" teriak Brama keras, namun semua terlambat karena para pendekar itu sudah berada dihadapannya.


"Bagus, berkumpul lah agar aku bisa menghancurkan kalian semua dengan satu serangan," ucap Naga Api dingin.


Sabrang bergerak mendekati mereka semua sebelum mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


"Jurus pedang serbuk bunga penghancur Iblis," kobaran api yang membumbung tinggi di udara ikut bergerak mengikuti ayunan pedang Sabrang dan membakar semua pendekar Lembayung termasuk Brama yang tak sempat menghindar dalam sekejap.


Semua yang berada di sekitar Area pertarungan hanya diam sambil menelan ludahnya saat melihat kekuatan Naga Api.


"Guru benar, walau aku tidak suka mengakuinya tapi dia sangat kuat," ucap Minak Jinggo dalam hati.


Semua pendekar muda itu terlihat larut dalam pikirannya masing masing, hari ini mereka melihat sendiri seberapa kuatnya orang yang akan menjadi pemimpin Hibata kelak.

__ADS_1


"Ayo kembali ke Air terjun Lembah pelangi, banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menghadapi musuh yang mungkin jauh lebih kuat dari mereka," ucap Sabrang pelan yang hanya dibalas anggukan cepat.


***


"Kegagalan seharusnya bisa membuatmu menjadi kuat untuk memastikan tidak terulang lagi dilain waktu, bukan justru terpuruk dan menjadikanmu manusia tidak berguna." Golok Rubah Putih hampir saja memotong leher Wijaya andai dia tidak cepat menghindar.


Wijaya terlihat mundur beberapa langkah sebelum menyerang balik saat melihat celah pertahanan Rubah Putih.


Rubah Putih langsung menangkis serangan Wijaya sambil menggunakan ledakan tenaga dalam iblis miliknya untuk menekan kembali.


Pertarungan yang tidak seimbang itu berlangsung cukup sengit, walau kalah dalam segala hal, Wijaya nyatanya mampu sedikit mengimbangi Rubah Putih.


Latihan berat yang disusun Rubah Putih membuat ilmu kanuragan Wijaya meningkat pesat, hanya masalah dalam pikirannya yang terkadang masih menghambat kemampuan terbaiknya keluar.


Rubah Putih sebenarnya cukup terkejut dengan perkembangan Wijaya, walau tidak sepintar Wardhana namun dibeberapa latih tanding, mantan patih kepercayaan Arya Dwipa itu mampu membaca alur pertarungan dan memanfaatkan kelebihannya itu untuk menekan.


Andai Wijaya sedikit saja memiliki bakat Sabrang, mungkin dia sudah diperhitungkan di dunia persilatan.


"Kegagalan harusnya membuatku kuat?" ucap Wijaya dalam hati.


"Untuk menjadi kuat, kau harus melewati penempaan yang sangat berat dan menjadikan kegagalan sebagai senjata utama untuk memperbaiki diri, tanpa itu pengampunan Sabrang padamu akan menjadi sia sia," Rubah Putih merubah arah goloknya dan mengayunkan sekuat tenaga.


"Cepat sekali," merasa kali ini tak mampu menghindar, Wijaya terpaksa menangkis serangan cepat itu.


"Keputusan keputusan yang kau ambil selama bertarung membuatku menyadari jika kau adalah pendekar yang mampu membaca arah pertarungan dari berbagai sudut. Hal yang membuatmu lemah dan menghambat perkembangan Ilmu kanuragan selama ini adalah rasa bersalah dimasa lalu. Buang semua pikiran itu dan terus menjadi kuat agar kau bisa berguna bagi rajamu," Rubah Putih menghantam tubuh Wijaya dengan tangan kiri yang membuatnya terdorong mundur beberapa langkah.


"Apa aku mampu?" jawab Wijaya sebelum tubuhnya roboh ke tanah.


"Jika merasa tak mampu lalu kenapa kau memutuskan belajar ilmu kanuragan dan menjadi patih Malwageni? pikiranmu yang membuat semuanya tak mampu," Rubah Putih menancapkan golok besar itu di tanah dan mengambil sesuatu di balik pakaiannya.


"Semua dasar ilmu kanuragan sudah kuberikan padamu, walau aku cukup terkejut dengan perkembanganmu yang cepat tapi mulai saat ini semua akan tergantung dirimu sendiri. Selama melatih dirimu di tempat ini, aku menyadari satu hal, kau memiliki bakat yang unik dan itu semua bisa dimaksimalkan jika hatimu terbebas dari rasa bersalah.


"Jangan terlalu percaya diri dengan menganggap semua yang terjadi adalah salahmu karena kau hanya bagian kecil dari Malwageni, teruslah menjadi kuat dan buktikan jika Wijaya belum habis. Itu pesan yang ingin disampaikan Sabrang saat memberimu pengampunan," Rubah Putih melempar sebuah kitab yang diambil dari balik pakaiannya pada Wijaya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Ini adalah salah satu kitab golok yang aku ciptakan saat terkurung di dimensi ruang dan waktu, jika kau mampu menguasai separuh saja jurus yang ada di dalamnya, aku yakin suatu saat kau bisa memimpin Hibata."


"Kitab Golok penghancur gunung? apakah aku harus mengganti pedangku?" tanya Wijaya cepat.


"Apa yang bisa diharapkan dari besi tipis itu? daya hancur seranganmu akan semakin kuat jika kau menggunakan golok sebagai senjata. Pergilah ke bukit menoreh dan temui Mpu Sedayu, katakan padanya aku meminta golok pusaka yang dulu pernah dipesan," jawab Rubah Putih.


Wijaya memandang pedang dalam genggamannya, ada rasa ragu untuk mengganti pedang yang sudah lama menemaninya bertarung hidup dan mati.


"Terkadang untuk menjadi kuat kau harus mengorbankan apa yang paling berharga bagimu. Awalnya aku memesan golok itu untuk melatih jurus baru tapi hari ini kuserahkan pusaka itu padamu. Tunjukkan padaku jika kau pantas menerima golok itu," ucap Rubah Putih.


"Aku akan berusaha guru," ucap Wijaya sambil berlutut dihadapan Rubah Putih.

__ADS_1


__ADS_2