
Seiring dengan mulai tenggelamnya matahari di ufuk barat kobaran api merah pun perlahan menghilang dari tubuh Sabrang. Bau darah dan daging terbakar menyambut gelap yang mulai tampak di Sekte bintang langit.
Semua masih terdiam memandang seorang pemuda yang perlahan mulai turun ke tanah.
"Kau lihat akibat perbuatanmu? jika kau terus seperti ini apa yang dikatakan Rakuti akan menjadi kenyataan". Anom mendendengus kesal.
Sabrang hanya terdiam tak menjawab ucapan Anom, perlahan di merasakan sesuatu menetes dari matanya. Saat tangannya menyeka dia sedikit terkejut karena darah keluar dari matanya.
"Mata itu akan menyerap energi kehidupanmu setiap kau menggunakannya, kau harus menahan untuk tidak menggunakannya terlalu sering". Anom menjelaskan pada Sabrang.
Sabrang mengangguk pelan, dia masih merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya. Dia merasa sangat bersemangat saat bertarung tadi walaupun dalam hati kecilnya dia merasa itu salah namun perasaan itu tak mampu dibendungnya. Setelah mengetahui efek yang ditimbulkan sangat besar dia merasa harus berhati hati lain kali.
"Anda baik baik saja tuan muda?". Mentari memberanikan diri menghampiri Sabrang, walau sempat dicegah oleh Lingga dan memintanya untuk menunggu sampai Lingga memastikan Sabrang aman didekati.
Sabrang menoleh kearah Mentari sambil mengangguk pelan.
"Kau tidak takut mendekatiku?". Sabrang memperhatikan Ciha dan yang lainnya terlihat mengambil jarak darinya.
"Tidak sama sekali tuan, aku percaya anda dapat mengendalikan kekuatan yang ada ditubuh anda". ucap Mentari pelan, walau sebenarnya dalam hatinya ada sedikit rasa takut saat melihat cara bertarung Sabrang tadi.
Sabrang tersenyum lega mendengar ucapan Mentari. "Terima kasih".
"Sepertinya memang hanya gadis itu yang bisa mengendalikannya". Ada sedikit rasa lega dalam diri Lingga.
***
"Tuan Muda sudah waktunya, tuan Birawa dan yang lainnya telah menunggu anda". Mentari mengetuk pintu kamar Sabrang.
Sabrang membuka matanya dan menyudahi meditasinya. "Baik aku segera kesana". Sabrang berkata pelan.
Setelah Sabrang mengalahkan Daniswara, Astaguna dibantu Ciha dan murid Lintang gubuk membebaskan Birawa di ruang tahanan Lintang Wakulu. Awalnya beberapa murid Lintang wakulu masih bertahan untuk tidak memberi jalan pada Astaguna namun Lingga memaksa masuk dengan kekuatannya.
Mereka sangat terkejut setelah menemukan Andaru yang dikatakan Daniswara melarikan diri dari sekte bintang langit ternyata ditahan bersama Birawa. Beberapa murid Lintang wakulu ditahan karena terbukti ikut membantu Daniswara sedangkan yang lainnya hanya mengikuti perintah ketuanya.
Beberapa hari kemudian setelah membereskan semua persoalan yang diakibatkan oleh Daniswara, Birawa kembali diangkat menjadi ketua sekte Bintang langit.
Setelah menjadi ketua sekte, Birawa memimpin rapat 3 kelompok besar untuk menyikapi masalah perjanjian dengan Naga api dan hasilnya semua setuju untuk menepati perjanjian itu.
Sabrang memasuki Aula utama bintang langit bersama Mentari saat semua sudah berkumpul diruangan itu termasuk Lingga. Dia menundukan kepalanya memberi hormat pada semua yang hadir diruangan.
"Masuklah". Ciha menyambut Sabrang dengan senyum ramah. Tidak ada lagi raut wajah takut yang dia perlihatkan beberapa hari lalu.
"Jadi dia orang yang dipilih oleh Naga api, umurnya masih sangat muda". Birawa bergumam dalam hati.
"Silahkan duduk tuan". Birawa menyambut Sabrang dengan senyum ramah, begitu juga dengan tiga ketua lainnya.
__ADS_1
Suasana sedikit canggung karena kejadiab beberapa hari ini. Bagaimanapun Bintang langit hampir mencelakai Sabrang beberapa hari lalu.
"Aku atas nama Bintang langit memohon maaf pada anda semua, namun seperti yang sudah anda ketahui semua sempat terjadi masalah beberapa hari lalu". Ucap birawa pelan.
"Kami dapat memakluminya ketua". Ucap Sabrang singkat.
"Syukurlah tuan anda dapat memahaminya, lalu mengenai perjanjian dengan Naga api ratusan tahun lalu kami akan menepatinya tuan namun.....". Birawa tak melanjutkan ucapannya.
"Apa ada masalah?". Lingga kali ini ikut bicara.
"Sebenarnya bukan masalah tuan namun sesuai perjanjian ada yang harus kami pastikan, jika boleh kami ingin meminta berbicara pada Naga api". Birawa berkata hati hati. Dia sudah mendengar cerita kehebatan Sabrang dari Astaguna akan sangat berbahaya jika Sabrang tersinggung.
"Bukankah itu permintaan yang mengada ada?". Suara Lingga meninggi.
"Tidak apa apa, aku bisa mengabulkannya". Sabrang memberi tanda pada Lingga untuk menahan amarahnya.
"Naga api". Sabrang bicara dipikirannya.
"Aku tidak yakin Anom mengizinkanya". Naga api menoleh kearah anom. Namun jawaban Anom diluar perkiraannya, dia mengangguk tanda setuju.
"Kau". Naga api menatap heran Anom karena selama ini anom tidak pernah setuju Naga api merasuki Sabrang.
"Tunggu apa lagi? kau ingin aku berubah pikiran?". Anom tersenyum mengejek.
Beberapa saat kemudian suhu udara diruangan naik dengan cepat diikuti kobaran api merah menyelimuti tubuh Sabrang. Tiba tiba Pedang naga api keluar dari sarungnya dan melayang diudara dengan kobaran api menyelimuti pedang itu.
"Tak kusangka Naga api begitu menakutkan bahkan segel pelindung masih belum bisa menahan hawa panas. Bagaimana tubuh anak itu tidak terbakar api sepanas itu?". Andaru bergumam dalam hati.
"Kalian hampir membuatku membakar semua tempat ini Birawa". Suara Sabrang tiba tiba berubah serak. Suara itu begitu menakutkan dan memekakkan telinga semua yang mendengar.
Birawa langsung tau jika itu Naga api, dia melihat mata biru Sabrang telah berubah menjadi merah darah.
"Aku mohon maaf naga api, Daniswara yang merencanakan ini semua. Bintang langit akan selalu memegang janji yang kami buat termasuk dengan anda dan tuan Panca".
Lingga mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka jika pedang naga api benar benar memiliki roh.
"Aku datang menagih janji kalian untuk membawanya ke Dieng, jika kalian mengingkari sedikit saja aku akan membakar habis bintang langit tanpa sisa".
"Aku tau, namun aku ingin memastikan sesuatu sebelum mengantarnya ke Dieng". Birawa berkata pelan.
"Katakan! Aku tak punya banyak waktu!". Naga api menghardik Birawa.
"Jadi dia tuan yang telah kau janjikan pada kami ratusan tahun lalu?". Tanya Birawa.
"Kau meragukan pilihanku atau meragukan keturunan Batarajaya Dwipa?".
__ADS_1
"Anak ini?". Birawa hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tii.. tidak tentu saja tidak namun ini berkaitan dengan Lembah siluman. Aku beberapa kali menemukan jejak manusia saat memperbaharui segel di gerbang kedua Dieng dan aku yakin hanya murid tuan panca yang mampu masuk kesana dan membuka segelku dengan mudah. Dia membentuk Lembah siluman untuk menguasai pusaka di gerbang kegelapan. Saat ini mereka sedang mengumpulkan 4 pusaka terkuat untuk membuka gerbang itu salah satunya adalah anda
Beberapa pusaka Iblis yang biasa terlihat di gunung Dieng telah hilang saat terakhir aku kesana, aku yakin dia sedang membangun kekuatan ". Ucap birawa terbata bata.
"Apa kau menemukan pedang pusaran angin disana? Aku sempat merasakan kekuatannya beberapa saat sebelum kembali menghilang".
"Sayangnya tidak, apa mungkin Lembah siluman sudah memilikinya?". tanya Birawa.
"Tidak, aku beberapa kali berhadapan dengan pendekar Lembah siluman dan tidak merasakan hawa pedang itu. Aku yakin seseorang menyembunyikannya untuk maksud tertentu".
"Maksud anda?". Birawa mengernyitkan dahinya.
"Aku takut Lembah siluman hanya awal dari bencana yang mengintai dunia persilatan ini. Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak ratusan tahun lalu. Aku sempat merasakan aura seseorang yang kukenal saat terkubur sebelum Suliwa menemukanku. Kekuatannya jauh lebih kuat dari Lembah siluman sekalipun jika dia bangkit kembali".
"Aura siapa yang sempat anda rasakan?". Birawa masih tidak mengerti penjelasan Naga api.
"Aku tidak yakin namun yang terpenting saat ini adalah mempersiapkan semuanya sebelum terlambat. Aku ingin kau mengantarku ke Dieng, Aku akan mengajak anak ini ke lembah merah sebelum membuat perjanjian dengannya di gua kabut".
Birawa yang dari tadi mendengarkan tersentak kaget mendengar lembah merah bahkan Anom tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya?". Anom menatap tajam Naga api.
"Bukankah lembah merah ada di gerbang ketiga? kami bintang langit hanya diperbolehkan sampai gerbang kedua. Aku tidak dapat membantu anda setelah melewati gerbang itu, lagipula kami tidak memiliki kunci segel di gerbang ketiga". Birawa terlihat khawatir.
"Tidak apa apa aku akan mengurusnya setelah itu".
"Tapi anda hanya mempunyai waktu beberapa hari sebelum gerbang itu tertutup kembali".
"Itu sudah cukup. Satu lagi aku ingin kalian mencari tau tentang segel langit dan bumi secepatnya".
"Segel langit dan bumi? jangan jangan dia berniat membebaskan banaspati?". Andaru menelan ludahnya. Dia tidak tau apa yang direncanakan Naga api namun yang dia tau Banaspati adalah iblis yang sangat kuat.
Naga api tidak lagi menunggu jawaban Birawa, tak lama kemudian kobaran api mulai menghilang dan mata Sabrang kembali berwarna biru muda.
Nafas Sabrang tersenggal setelah kembali sadar, dia benar benar merasakan sakit luar biasa ketika Naga api masuk kepikiriannya.
Birawa hanya mematung sambil menatap Sabrang yang masih terlihat mengatur nafasnya. Dia terlihat ingin bicara namun sedikit ragu.
"Apa anak ini benar benar bisa menanggung beban berat dipundanknya atau akan bernasib sama seperti tuan Bratajaya dulu yang lebih memilih moksa karena tidak kuat dengan semua tekanan". Beberapa kali Birawa menggelengkan kepalanya.
"Tiga purnama lagi, saat bulan purnama mencapai puncaknya dan angin laut sedang kencang akan terjadi surut selama 4 hari dan gerbang pertama Dieng akan tersingkap secara alami. Hanya 4 hari yang kalian miliki untuk kembali sebelum alam kembali menutup gerbang itu, Jika kalian terlambat kalian akan terkurung didalam Dieng sampai tahun depan saat gerbang itu kembali terbuka dan aku tidak yakin ada manusia yang bisa bertahan selama itu di Dieng". Birawa akhirnya menepati janjinya pada Naga api.
"Tiga purnama ya.....". Tubuh Lingga bergetar hebat, Entah harus senang atau takut, tempat yang selama ini dicari oleh semua orang dunia persilatan sudah ada didepan matanya.
__ADS_1
"Datanglah kembali kesini beberapa hari sebelum purnama mencapai puncaknya, aku akan mengajari kalian segel pelindung untuk melindungi tubuh kalian selama disana". Ada rasa lega dalam diri Birawa karena telah menepati janjinya pada Naga api namun ada juga rasa takut apa yang akan terjadi pada Sabrang saat sampai di Lembah merah.
"Pada akhirnya takdirlah yang menuntunnya kembali kesana, anda pasti bangga melihat keturunan anda meneruskan perjanjian kita untuk menjaga Dieng tuan Bratajaya Dwipa". Birawa menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. Semua orang terdiam dan larut dalam pikirannya masing masing.