Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Janji Sang Patih


__ADS_3

Aula Pertemuan Sekte Iblis Hitam terlihat ramai. Mereka sedang berkumpul merencanakan sesuatu. Tak lama Kertasura muncul di Aula pertemuan bersama beberapa tetua lainnya. Semua yang hadir di ruangan itu menahan nafas. Tekanan aura yang berasal dari tubuh Kertasura benar benar mengintimidasi mereka. “ Inikah kekuatan ilmu Pedang langit? Sangat mengerikan” gumam Lingga maheswara menelan ludah.


Lingga maheswara bukan pendekar sembarangan, dia telah mencapai tingkat pendekar Dewa. Sedikit orang yang dapat mengintimidasinya. Tetapi dihadapan Kertasura seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.


Setelah duduk di tempatnya, Kertasura memandang semua yang hadir di tempat itu. “Aku mendapat kabar bahwa Pedang Naga Api telah muncul kembali di dunia persilatan. Namun yang membuatku terkejut adalah pengguna Pedang Naga Api bukan si tua Suliwa. Menurut informasi dari Lembah Tengkorak penggunanya adalah seorang pendekar muda”. Kertasura Berkata pelan.


“Kita semua tau kehebatan Pedang itu, butuh gabungan beberapa Sekte untuk dapat memukul mundur Suliwa saat itu. Masalah ini akan menjadi kerikil dalam rencana kita selama ini”.


Lingga maheswara menatap kertasura “Tetua, kehebatan Pedang Naga Api memang mengerikan, namun melihat penggunanya seorang pendekar muda aku yakin dia belum mampu menguasai sepenuhnya pedang itu. Ijinkan aku untuk menyingkirkan kerikil itu”.


Kertasura menggeleng pelan. “Lingga, aku mempunyai tugas khusus untukmu. Pergilah ke keraton Majasari dan sampaikan pada yang mulia bahwa Sekte Pedang Naga Api mulai memberontak. Aku ingin yang mulia mengirim pasukan dan menekan Sekte Pedang Naga Api agar mereka tidak dapat bergerak leluasa”.


Lingga maheswara mengangguk mendengar perintah Kertasura.

__ADS_1


“Ki Dongkel, aku ingin kau pergi ke Hutan Kematian. Selidiki di mana letak padepokan Teratai Merah. Mereka mulai menampakan diri di dunia persilatan, akan sangat merepotkan jika akhirnya mereka memilih bergabung dengan Pedang Naga Api. Aku ingin mereka hancur sebelum tumbuh menjadi lebih kuat. Bawalah beberapa pendekar untuk menemanimu, aku tidak ingin mendengar kau gagal”.


Ki Dongkel membungkuk pelan “ Baik tetua, aku tak kan mengecewakan anda”.


.............................................


Puluhan kilometer dari Gunung merapi tepatnya di sebuah Padepokan kecil tampak seorang pria tengah bermeditasi melatih tenaga dalamnya. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya, wajahnya sedikit kecewa "Belum cukup, tenaga dalamku belum dapat menandingi mereka. Aku akan mati konyol seperti dulu jika terus begini". Pria tersebut kemudian membuka topengnya, wajahnya tampak mengalami kerusakan akibat sayatan pedang. Dia kemudian memejamkan matanya sejenak "Yang mulia ratu aku harap anda bersama gusti pangeran selamat". Terlihat kesedihan mendalam dirasakannya.


Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendekat, pria tersebut kembali memakai topengnya. "Istirahatlah sejenak kau terlalu memaksakan diri Wijaya" Seorang pria tua menghampirinya.


"Kau telah menguasai semua jurus Sekte Elang Putih, ku harap itu dapat sedikit membantumu".


"Aku sangat berterima kasih atas kemurahan hati guru mau menerimaku menjadi murid. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku andai saat itu guru tidak menolongku". Pikiran Wijaya kembali saat dia mengawal ratu Malwageni menuju Sekte Pedang Naga Api. Puluhan pendekar aliran hitam mengepung rombongannya. Pertarungan menjadi tidak seimbang karena beberapa pendekar yang mengepungnya telah mencapai tingkat pendekar ahli. Masih jelas dalam ingatannya seluruh Pasukan angin selatan di bantai tanpa tersisa.

__ADS_1


Dia pun saat itu terluka parah bahkan sudah di anggap mati oleh mereka. Yang membuatnya sedikit lega adalah Sekar Pitaloka bersama Pangeran berhasil melarikan diri. Saat Wijaya sudah merasa bahwa akhir hidupnya telah tiba secercah harapan mendatanginya. Ki Laksono menemukannya terluka parah. Wijaya kemudian di bawa ke Sekte Elang putih dan mengobati lukanya. Kemudian Ki Laksono memutuskan mengangkatnya menjadi murid Elang Putih.


"Apa kau benar benar akan pergi besok? " Ki Laksono menatap Wijaya hangat. Wijaya mengangguk pelan "Aku harus mencari yang mulia ratu dan gusti pangeran guru, karena itu adalah tanggung jawabku. Ku harap mereka selamat".


Wijaya memejamkan matanya, dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menepati janjinya pada yang Arya Dwipa untuk menjaga ratu dan pangeran. "Aku akan singgah di sekitar Keraton Malwageni untuk melihat keadaan sebelum menuju Sekte Pedang Naga Api guru. Ku harap masih banyak Prajurit maupun rakyat Malwageni yang tetap setia pada Yang mulia raja". Ki Laksono mengangguk pelan. Dia kagum pada Wijaya yang masih memegang janji setia pada Malwageni setelah puluhan tahun berlalu sejak Malwageni jatuh di tangan Majasari.


"Berhati hatilah di jalan, aku harap kau menemukan yang kau cari. Aku menyesal Sekte Elang putih tidak dapat banyak membantumu, namun kau dapat menghubungi kenalanku di Malwageni untuk membantumu melakukan penyamaran". Ki Laksono mengambil sebuah kotak kecil dan menyerahkannya pada Wijaya. "Carilah Penginapan Jati Agung di sekitar keraton Malwageni dan tunjukan kotak ini padanya, dia akan membantumu semampunya. Namanya Sastra wijaya, dia pemilik penginapan Jati agung. Jika urusanmu sudah selesai ku harap kau kembali ke Padepokan Elang Putih".


Wijaya menerima kotak kecil itu kemudian mengangguk pelan "Terima kasih guru atas semua kebaikan mu selama ini. aku tak kan pernah melupakan kebaikan guru".


***SELAMAT SIANG DAN TERIMA KASIH ATAS SEGALA DUKUNGANNYA TERHADAP NOVEL PEDANG NAGA API. SUDAH 3 HARI SEJAK NOVEL INI TERBIT DAN SAYA SANGAT TERKEJUT DENGAN BESARNYA DUKUNGAN PADA NOVEL PEDANG NAGA API.


IZINKAN SAYA MEMINTA SESUATU, JIKA MENURUT KALIAN CERITA NOVEL INI MENARIK SAYA MINTA BANTUAN UNTUK MEMBAGIKANNYA AGAR SEMAKIN BANYAK YANG MEMBACA.

__ADS_1


SEKALI LAGI TERIMA KASIH ATAS SEGALA DUKUNGANNYA....


SELAMAT BERAKHIR PEKAN***..........


__ADS_2