
Ken Panca menunjukkan tumpukkan gulungan yang sebagian dia dapatkan dari Wardhana pada Sabrang dan Rubah Putih.
"Gulungan ini sebagian aku pinjam dari tuan Wardhana yang berisi catatan perjalanannya bersama kalian dan sisanya adalah milikku. Aku pernah begitu terobsesi oleh suku Iblis petarung dan telaga khayangan api yang kemudian diketahui sebagai peninggalan peradaban Masalembo.
Aku berkeliling Nuswantoro hanya untuk mencari petunjuk keberadaan mereka, dan dalam pencarian itulah aku tanpa sengaja menemukan hal yang menarik," ucap Ken Panca pelan.
"Hal yang menarik?" tanya Rubah Putih penasaran.
"Puncak kenteng songo, gunung padang dan satu lagi kemungkinan sebuah kuil yang konon berada di tengah danau adalah kunci dari semua rahasia ini," jawab Ken Panca.
"Kuil Khayangan, hanya tempat itu yang berada di tengah sebuah danau," sahut Sabrang tiba tiba.
"Kuil Khayangan? kau tau di mana tempatnya?" ucap Ken Panca cepat.
Sabrang mengangguk pelan, "Saat ini paman Wardhana sedang berada di sana bersama para pendekar Kalang."
"Tuan Wardhana sudah pulih?" tanya Ken Panca.
"Para pendekar Kalang itulah yang mengobati paman," ucap Sabrang sambil menjelaskan semua kejadian di Air terjun lembah pelangi dan hubungannya dengan kuil khayangan.
"Pendekar Kalang ya..." Ken Panca mencoba mengingat ingat nama itu tapi tidak berhasil, dia sangat yakin dari semua catatan yang ditemukan tidak pernah menyebut nama pendekar kalang.
"Lalu apa hubungan ketiga tempat itu dengan kitab Sabdo Loji?" tanya Rubah Putih.
"Apakah kuil khayangan itu berada di dekat bukit setumbu?" tanya Ken Panca.
"Benar, menurut cerita mereka tidak jauh dari kaki bukit setumbu dulunya adalah sebuah danau purba yang perlahan hilang akibat letusan gunung merapi," jawab Rubah Putih.
"Bagaimana kakek bisa tau letak kuil Khayangan?" tanya Sabrang bingung.
"Benar dugaanku," Ken Panca membuka salah satu gulungan yang ada di hadapannya dan menunjukkan pada mereka.
"Aku sudah menggambar letak gunung Damalung dan Nagari siang padang serta kemungkinan dimana kuil misterius itu berada. Kalian tau apa persamaan dari tiga bangunan yang cukup berjauhan ini? Letaknya!" ucap Ken Panca sambil menunjuk tiga buah lingkaran yang dia buat.
"Maksud kakek?" tanya Sabrang bingung.
"Ketiga tempat ini dikelilingi oleh air, Kenteng songo berada di puncak gunung Damalung yang di kelilingi sungai, begitu juga dengan Nagari siang padang dan jika perkiraanku tepat kuil misterius yang kau sebut sebagai Kuil Khayangan juga berada di tengah danau bukan?
Apa ini adalah suatu kebetulan? mungkin saja, tapi kita lihat posisi matahari terbit dari ketiga tempat ini. Semuanya menghadap ke matahari terbit dengan ciri khas sama, punden berundak. Apa tiga buah bangunan yang saling berjauhan dengan ciri sama masih sebuah kebetulan? semua ciri ini menunjukkan jika bangunan itu dibuat untuk memuja dewa matahari," jawab Ken Panca.
"Jadi menurut anda ketiga bangunan ini di buat oleh orang yang sama?" Rubah Putih tampak terkejut setelah mendengar penjelasan Ken Panca.
"Benar, lebih tepatnya di buat oleh peradaban yang sama. Beberapa hari setelah runtuhnya Gunung padang, tuan Rubah Putih datang padaku dan memberitahu beberapa catatan yang dia baca di dinding gerbang kelima gunung padang," Ken Panca kemudian membaca kembali catatan itu.
"Kami hidup dengan memuja dewa matahari yang agung, dengan petunjuknya, kami membangun kehidupan yang maju dari tiga penjuru dan bangunan ini sebagai pusatnya. Tuan Agung bersama Dewa Matahari akan memimpin tanah kehidupan ini. Aku bertugas mencatat semua kepemimpinan tuan Agung."
"Tiga penjuru yang dikatakan catatan ini sepertinya menggambarkan tiga tempat yang kukatakan tadi, Puncak Kenteng Songo, Kuil misterius dan gunung padang sendiri.
Lalu, ada yang aneh dengan catatan ini, yang menulis ini jelas mengatakan jika dia bertugas mencatat semua kepemimpinan tuan agung tapi catatan ini seolah terputus, apakah ini tulisan terakhirnya atau terjadi sesuatu dengan merek?" ucap Ken Panca melanjutkan.
"Mungkin dia menulis catatan ini sebelum peradaban itu hancur," timpal Rubah putih.
"Anda yakin? Dieng hancur terkubur setelah kalian masuk, begitu juga dengan Masalembo yang hancur akibat pertarungan kalian. Jika terjadi sesuatu pada peradaban itu harusnya bangunan mereka bernasib sama dengan Masalembo.
Kenteng Songo masih bisa ditinggali oleh Gropak Waton bahkan sampai kalian menemukan tempat itu. Nagari Siang padang? semua tuas kunci masih berfungsi dengan baik sebelum kalian menghancurkannya dan Kuil khayangan juga di tempati oleh pendekar Kalang sampai detik ini bukan?" ucap Ken Panca sambil menatap Rubah Putih.
"Jadi maksud anda?" Rubah Putih mulai mengerti kemana arah ucapan Ken Panca.
"Peradaban apapun yang membangun ketiga tempat itu jelas sangat maju dan bukan hancur oleh perang atau serangan apapun. Mereka meninggalkan bangunan itu tidak dengan terpaksa karena suatu alasan dan mungkin sampai saat ini mereka hidup di suatu tempat. Hanya itu yang bisa menjelaskan mengapa peninggalan mereka tidak hancur," jawab Ken Panca yakin.
Sabrang dan Rubah Putih tersentak kaget setelah mendengar jawaban Ken Panca, tak pernah terfikir sedikitpun oleh mereka peradaban yang menurut Pendekar Kalang adalah peradaban terlarang sengaja meninggalkan bangunan bangunan megah itu atas keinginan sendiri, terlebih ada kemungkinan sampai saat ini mereka masih hidup.
"Tidak, sepertinya tidak mungkin. Jika ilmu pengetahuan dan kanuragan mereka tinggi, bagaimana anda menjelaskan kita tidak pernah bertemu dengan mereka," Rubah Putih masih tidak percaya dengan yang didengarnya.
__ADS_1
"Apa dunia persilatan tau jika di dalam puncak kenteng songo ada bangunan megah dan suku Gropak Waton sebelum kalian menemukannya? Apa anda pernah berfikir gunung Padang yang menjulang tinggi terdapat ruangan besar dengan ilmu pengetahuan tinggi?
Kita bahkan tidak berani berfikir gunung padang adalah sebuah kuil pemuja dewa matahari sebelum melihat dengan mata kepala sendiri bukan? mengapa anda tidak berfikir seperti itu terhadap peradaban ini?
Nagari Siang Padang, Kuil Khayangan dan kenteng songo bukan diciptakan oleh alam, itu semua dibuat oleh manusia, pasti ada penjelasan siapa yang membuat tempat itu. Suku Tengger dan Gropak waton hanya secara tidak sengaja menemukan kedua tempat itu dan menetap di sana.
Lalu siapa yang membuat bangunan bangunan megah itu? aku yakin peradaban misterius yang disebut Sabrang sebagai peradaban terlarang yang membuat semuanya dan mungkin semua ilmu kanuragan dan pengetahuan yang ada di Kitab Sabdo Loji adalah catatan kecil kehidupan mereka," tutup Ken Panca.
"Apa kakek bisa menebak apa sebenarnya rencana mereka sehingga meninggalkan bangunan itu dan bersembunyi?" tanya Sabrang semakin penasaran.
Ken Panca menggeleng pelan, "Aku tidak tau tapi mungkin jawabannya ada di kuil Khayangan karena dari ketiga tempat ini hanya kuil itu yang dijaga."
"Begitu ya, semoga paman Wardhana bisa menemukan sesuatu," ucap Sabrang dalam hati.
"Nak, sebaiknya kau pergi menyusul tuan Wardhana dan katakan masalah ini padanya, akan jauh lebih mudah menyelidiki kuil itu saat ini karena dia sedang berada di sana. Aku akan mengajak tuan Rubah Putih ke Gunung Padang, ada yang harus aku pastikan lagi," ucap Ken panca.
Sabrang mengangguk cepat, "Baik kek."
***
Kabut tebal yang menyelimuti danau purba malam itu membuat suhu udara sangat dingin, Wardhana yang sedang duduk di dalam kamarnya terlihat menggigil saat angin malam menyusup kedalam kamarnya dari celah kecil.
Wajah Wardhana tampak berbeda dari biasanya, ketegangan yang bercampur penasaran terlihat jelas.
"Malam ini, akan ku bongkar siapa yang sebenarnya di curigai Arda Sukma ingin menguasai kitab Sabdo Loji," ucap Wardhana dalam hati.
Tangannya terlihat sibuk membuka setiap lembaran kitab Sabdo Loji sambil sesekali menajamkan telinganya.
Sudah dua hari Wardhana berada di Kuil Khayangan untuk menyusun jebakan, Ajidarma kemudian memanggil semua pendekar Kalang dan mengatakan jika Wardhana adalah keturunan Arda Sukma.
Kemunculan tiba tiba Wardhana membuat sebagian pendekar Kalang tak percaya begitu saja, mereka bahkan menuduh Wardhana hanya mengaku untuk mencari keuntungan.
Namun mereka tidak bisa berbuat apa apa saat Ajidarma meminta untuk menghormati Wardhana karena dia adalah keturunan orang yang dulu hampir menggantikan posisinya.
Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum jika Arda Sukma adalah murid kesayangan Ajidarma namun mereka tak pernah menyangka jika pemimpin tertinggi mereka itu begitu mudah mengizinkan Wardhana meminjam kitab Sabdo Loji selama beberapa hari dengan alasan mencari tau alasan Arda Sukma membawa lari kitab itu.
Saat Wardhana sedang asik membaca kitab itu, sesosok tubuh melesat dari arah luar dan mendekati kamarnya.
"Akhirnya kau datang juga setelah dua hari kutunggu, sepertinya kau sangat berhati hati," Wardhana langsung merebahkan tubuhnya seolah sedang tertidur sambil menggenggam pedang yang dia sembunyikan di bawah tempat tidurnya.
Suara pintu berdecit membuat jantung Wardhana berpacu, dia menggenggam erat gagang pedang saat terdengar langkah kaki mendekat.
Kitab Sabdo Loji palsu yang dia letakkan di atas meja menjadi tujuan pendekar misterius itu.
Saat pendekar itu hendak menyentuh kitab Sabdo Loji dan membuka beberapa lembar seolah sedang mencari sesuatu, Wardhana bangkit dari tidurnya dengan pedang terarah pada lawannya.
"Kudengar pertahanan di Kuil Khayangan sangat ketat karena dilindungi oleh segel aneh tapi kau bisa masuk dengan begitu mudah. Kemungkinannya hanya dua, kau memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi atau kau adalah salah satu diantara kami," ucap Wardhana tenang.
Pendekar itu tersentak kaget sampai menjatuhkan kitab Sabdo Loji di tangannya, dia sangat yakin Wardhana seharusnya tidak akan bangun walaupun terdengar teriakkan.
"Kau, bagaimana mungkin?" ucap pendekar yang mengenakan penutup wajah itu.
"Apa kau terkejut aku masih sadarkan diri?" Wardhana mengambil wadah air di atas meja dan menumpahkan dihadapan pendekar itu.
"Racun Mawar hitam memang sangat mematikan karena tidak akan memiliki rasa jika di campur kedalam air tapi aku sudah sangat mengenal racun itu dengan baik, ada perubahan bau dari air jika kita jeli," ucap Wardhana pelan.
Wardhana memang sangat mengenal racun itu karena Mentari adalah pengguna racun Mawar Hitam, dia beberapa kali mengamati perubahan bau air ketika Mentari menyentuh air minum.
Pendekar itu menarik pedangnya ketika mulai bisa menguasai rasa terkejutnya, dia terpaksa menggunakan ilmu kanuragan sambil mencoba melarikan diri.
"Jadi kau menjebakku?" pendekar itu bersiap menyerang.
"Jika aku menjadi dirimu, sebaiknya kau letakkan pedang itu karena aku bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang," Wardhana memukul tempat tidur beberapa kali saat pendekar itu menyerang.
__ADS_1
Ketika serangan pendekar itu hampir mengenai Wardhana, Hanggareksa muncul dan menangkis serangan itu dengan mudah.
Dia memutar pedangnya dan menggunakan ujung pedang untuk memaksa pendekar misterius itu mundur.
"Jurus pedang kegelapan? jadi benar ada pengkhianat di diantara pendekar Kalang. Sekarang tunjukkan siapa dirimu?" teriak Hanggareksa geram.
Wajah Pendekar itu tampak pucat, dia benar benar tidak menyangka Wardhana membuat jebakan untuknya.
"Percuma kau berusaha melarikan diri, aku tak akan melepaskan pengkhianat, menyerah lah dan tunjukkan siapa kau sebenarnya?" ucap Hanggareksa saat melihat pendekar itu menoleh sekitarnya seolah bersiap melarikan diri.
Pendekar itu terdiam, dia bukan tidak berhati hati, sudah beberapa kali dia mengamati pergerakan Wardhana sebelum memutuskan mengambil kitab Sabdo Loji. Tak ada yang mencurigakan, Wardhana bahkan hanya mengurung diri di kamar beberapa hari ini dan tidak bertemu siapapun kecuali saat makan.
Hal yang paling mengejutkan pendekar itu adalah kepintaran Wardhana mengikuti semua rencananya, dia bahkan terlihat meminum air yang sudah di campur racun dihadapan semua pendekar Kalang saat makan malam.
Pendekar misterius yang juga makan bersama Wardhana sore tadi, jelas melihat perubahan warna mata yang sedikit memerah akibat efek dari racun Mawar Hitam namun dia tidak habis pikir bagaimana Wardhana bisa selamat.
"Kau baik baik saja? aku sangat khawatir kau benar benar meminum air beracun itu," ucap Hanggareksa tanpa menurunkan sedikitpun kewaspadaannya.
"Jebakan ini tak akan berhasil andai aku tidak mengambil resiko, dia mungkin tidak terlalu pintar tapi sangat mengenal kebiasaan kalian semua. Saat aku bertanya padamu apa kebiasaan kalian ketika makan bersama orang luar dan kau menjawab jika makanan tamu selalu di pisah karena itu adalah bentuk penghargaan pendekar Kalang. Saat itu aku semakin yakin dia akan melakukan sesuatu padaku saat makan.
Aku sempat melihat disekitar tempat ini banyak di tumbuhi mawar hitam ketika pertama kau mengajakku masuk, dan aku langsung yakin kalian adalah pengguna racun mawar Hitam karena tumbuhan itu tidak bisa tumbuh sendiri.
Mawar Hitam adalah tumbuhan racun yang harus dirawat dengan baik. Aku mulai berfikir dia akan menggunakan sesuatu untuk mengambil kitab Sabdo Loji karena tidak mungkin memintanya langsung padaku dan saat makan adalah waktu yang paling tepat untuk dia mempersiapkannya semua.
Beruntung nyonya selir memberiku penawar racun itu. Mungkin tindakan ini gila bagi anda tapi jika aku tidak meminum racun itu dia akan tau jika aku sedang merencanakan sesuatu," ucap Wardhana tenang.
Pendekar misterius itu tampak takjub, dia merasa apa yang dilakukan Wardhana bukan hanya sekedar gila tapi penuh dengan perhitungan setelah melihat situasi hanya dalam satu hari.
Pendekar itu menggeleng pelan, dia sudah tidak memiliki keinginan untuk bertarung karena melawan Hanggareksa hanya akan membuatnya terbunuh. Yang ada dipikirannya saat ini adalah melarikan diri.
"Jadi kau memutuskan melawan sampai mati?" ucap Hanggareksa saat melihat lawannya bersiap menyerang.
Saat Hanggareksa bergerak menyerang, pendekar itu tiba tiba mengarahkan pedangnya keatas.
"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Ledakan energi pedang."
"Sial, dia berniat melarikan diri," Hanggareksa melompat mundur saat atap kamar Wardhana roboh.
Pendekar itu langsung menerobos keluar dan melarikan diri.
"Mau melarikan diri? jangan bermimpi," Hanggareksa berlari keluar dan langsung mengejar bersama Wardhana dan beberapa pendekar Kalang yang terbangun saat mendengar ledakan.
Pendekar itu terus berlari diantara hujan yang mulai turun sambil mengumpat dalam hati, dia benar benar tidak menyangka jatuh kedalam perangkap Wardhana.
Sesekali pendekar itu melihat kebelakang untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya.
Ketika dia sudah merasa lolos, sebuah pedang milik Hanggareksa melesat kearahnya.
Pendekar itu menarik pedangnya dan menangkis serangan itu sambil melompat menghindar.
Pedang Pusaka milik Hanggareksa berubah arah setelah terkena benturan pedang pendekar misterius itu sebelum menancap di bongkahan es yang tiba tiba terbentuk dalam gelap.
"Jurus es?" pendekar itu tersentak kaget.
Hanggareksa yang baru tiba tak kalah terkejut saat melihat pedangnya menancap di dinding es.
"Apa kalian tidak bisa bertarung tanpa melibatkan orang lain?" Sabrang menghancurkan dinding es miliknya sambil mengumpat, hampir saja pedang itu mengenai tubuhnya andai tidak cepat membentuk dinding es.
\=\=\=\=\=\=
Vote
Jangan lula mampir juga di Pedang Naga Api versi audio book.. suaranya keren....
__ADS_1
Note
Buat yang mau vote bisa lewat tulisan biru di bawah vote ya... masuk juga ke vote mingguan plus bisa memenangkan lomba... terima kasih