Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tanah Para Dewa III


__ADS_3

Mentari mendekati Lingga Maheswara yang memutuskan kembali bermeditasi setelah pertarungan selesai. "Kau tidak menyentuh makananmu?". Mentari menatap makanan dihadapannya.


"Apa ada manusia yang masih bernafsu makan setelah pertarungan berdarah seperti tadi?". Lingga menjawab dingin.


Mentari tidak menjawab pertanyaan Lingga, tangannya hanya menunjuk kearah Sabrang yang sedang makan dengan lahapnya. Bahkan perbekalan milik Mentari ikut di makannya.


"Kalau dia tidak mau makan biarkan saja, bawa saja bagiannya kesini". Ucap Sabrang dengan makanan masih penuh dimulutnya.


"Dia bukan manusia". Lingga menggeleng pelan, bagaimana bisa Sabrang masih memiliki nafsu makan setelah membunuh puluhan orang.


"Kalian mengenali para pendekar yang menyerang tadi?". Ciha mendekati perapian tempat Mentari dan Lingga berbicara.


"Secara langsung tidak namun aku yakin mereka dari sekte racun selatan. Bagaimana si tua itu memiliki keberanian untuk mendekati Dieng, aku yakin ada yang melindungi mereka". Lingga berkata pelan.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? aku beberapa kali ikut ketua masuk Dieng namun tidak semenakutkan ini perjalanannya". Ciha menggeleng pelan. Jika biasanya perjalanannya begitu mulus tanpa hambatan saat menuju Dieng kini dia merasa semua begitu berbahaya.


"Perjalanan kali ini akan sangat berbeda dengan sebelumnya, kebangkitan Lembah siluman dan Pedang pusaka Naga api akan menimbulkan kekacauan di Dieng. Lembah siluman tak akan membiarkan siapapun mengusik tujuan mereka".


"Jadi maksudmu ini ulah Lembah siluman?". Mentari menatap Lingga.


Lingga mengangguk pelan "Aku yakin mereka dalang dibalik semua ini, berhati hatilah firasatku mengatakan penyerangan ini tidak akan berhenti sampai disini. Yang aku khawatirkan adalah gerbang itu hanya terbuka selama 4 hari, jika Lembah siluman mengerahkan semua pendekarnya aku yakin akan terjadi pertarungan berhari hari dan waktu kita untuk masuk ke Dieng semakin pendek". Lingga menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya dengan suara yang lebih kecil.


"Harus kuakui walaupun begitu menyebalkan namun harapan kita kali ini hanya anak itu. Dia bisa mengubah keadaan dengan kekuatannya".


Mentari terdiam sambil menoleh kearah Sabrang yang masih sibuk dengan makanannya.


"Siapa anda sebenarnya tuan muda? mengapa anda bisa memiliki struktur tubuh suku iblis petarung? Semakin lama dekat dengannya semakin banyak misteri yang tak kumengerti".


"Apa tidak ada jalan memutar untuk sampai ke tebing kelam?". Lingga khawatir perjalanan mereka akan terhambat.


"Ada satu jalan, kita bisa memutar melewati jalur lain namun membutuhkan waktu yang lebih panjang". Ucap Ciha mengingat ingat.


"Itu lebih baik, jika kita terus melewati jalur ini akan membutuhkan waktu berhari hari untuk membersihkan jalan. Beristirahatlah aku akan berjaga, sebelum matahari terbit kita memutar jalan".


"Baik tuan". Ciha terlihat merebahkan tubuhnya di dekat perapian. Tubuhnya benar benar lelah setelah berjalan seharian, bagi dia yang tak pernah mempelajari Ilmu kanuragan hal ini sangat menguras tenaganya.


"Malam ini terasa sangat panjang". Gumam Lingga dalam hati sambil menatap bintang dilangit.


***


Angin malam yang berhembus menusuk tulang di Kadipaten Wareng etan tak menggetarkan Kertasura memainkan pedang Langitnya. Belasan pendekar merengang nyawa dalam beberapa kali tebasan pedangnya.


Kertasura memutar pedangnya kearah kerumunan pendekar yang mencoba melarikan diri setelah menyadari perbedaan kekuatan diantara mereka.


"Tahan dia". Wikrama yang merupakan wakil tetua racun selatan memberi perintah pada anak buahnya untuk menahan Kertasura namun tidak ada yang mengindahkan perintah Wikrama. Mereka berlarian karena tak ingin mengantar nyawa pada ketua Sekte iblis hitam itu.


"Kalian pikir bisa lari setelah mengganggu perjalananku?". Kertasura melesat dengan kecepatan tinggi kearah kerumunan pendekar Racun selatan.

__ADS_1


Dalam beberapa tarikan nafas Pedang langit telah menghabisi hampir seluruh pendekar racun selatan.


Wikrama menelan ludahnya saat Kertasura menatapnya.


"Lama tak bertemu Wikrama?". Kertasura tersenyum dingin.


"Te..tetua mohon maafkan aku, sepertinya ada kesalahpahaman antara kita". Tubuh Wikrama bergetar hebat saat tatapan mata mereka bertemu.


"Kesalahan? mungkin". Kertasura melangkah mendekati Wikrama yang mematung tak jauh darinya.


"Katakan siapa yang memerintahkanmu menghalangi jalanku?. Jika kau berkata jujur mungkin aku akan mengampunimu".


"Lembah siluman tetua, beberapa hari yang lalu seorang pendekar bernama Maruta menawarkan kerjasama dengan sekteku dan ketua menyetujuinya, aku.. aku hanya menjalankan perintah". Ucap Wikrama terbata bata.


"Kerjasama dalam bentuk apa?". Kertasura mengernyitkan dahinya.


"Menghalangi semua orang yang mencoba mendekati Bukit tebing kelam".


"Saprana benar benar kurang ajar, akan kupastikan kalian semua mati ditanganku". Ucap Kertasura dingin.


"Tetua bukankah kau berjanji mengampuniku jika aku berkata jujur?". Raut wajah Wikrama berubah setelah mendengar ucapan Kertasura.


"Aku berubah fikiran setelah mendengar nama Lembah siluman". Kertasura mengayunkan pedangnya dengan cepat kearah Wikrama.


Belum sempat bereaksi dengan serangan tiba tiba itu kepala Wikrama telah terpisah dari tubuhnya.


***


"Hei nona bangunlah". Sabrang membangunkan Mentari dengan suara setengah berbisik.


Mentari membuka matanya dan sedikit terkejut karena suasana menjadi gelap. Perapian yang mereka buat sore hari sudah mati.


Saat dia ingin bertanya, Sabrang dengan cepat menaruh jari telunjuk di bibirnya sebagai tanda untuk tidak bicara.


"Kita harus pergi sekarang, puluhan pendekar bergerak kearah sini". Sabrang menunjuk kearah Lingga dan Ciha yang sudah bersiap pergi.


Mereka melesat mengikuti arah Ciha berlari.


"Kau yakin ini arahnya?". Lingga bertanya pelan.


Ciha mengangguk pelan, matanya masih terasa ngantuk setelah dibangunkan tiba tiba oleh Sabrang.


"Aku pernah memutar jalan bersama tuan Birawa untuk menghindari pendekar yang mengejar kami dulu".


Lingga mengangguk, mereka bergerak cepat diantara pepohonan. Ilmu meringankan tubuh yang mereka gunakan seolah meredam suara pijakan kaki mereka.


Sesosok bayangan tiba tiba muncul dan menyerang Mentari dari sisi kiri. Sabrang menarik tubuh Mentari dan memutar tubuhnya diudara sambik menahan serangan pedang yang terarah padanya dengan keris penguasa kegelapan yang muncul tiba tiba ditangannya.

__ADS_1


Pendekar itu terpental mundur beberapa langkah sedangkan Sabrang yang tidak memiliki pijakan menancapkan keris itu di pohon besar untuk menahan tubuhnya.


Lingga menghentikan langkahnya saat mendengar logam beradu.


"Mereka seolah tidak ada habisnya". Sabrang mendengus kesal.


"Pergilah aku akan membereskan mereka sebentar, kita akan terlambat jika terus berhenti". Sabrang menyilangkan keris itu didepannya.


Dia merasa benturan cepat tadi mengandung kekuatan yang sangat besar. Sabrang yakin siapapun yang menyerangnya bukan pendekar sembarangan.


Tiba tiba puluhan jarum beracun melesat cepat kearah Sabrang. Sabrang dengan cepat mengeluarkan pelindung api hitam untuk menahan serangan itu. Puluhan jarum itu meleleh seketika ketika menyentuh api hitam tanpa bisa menyentuh tubuh Sabrang.


"Tuan muda....". Mentari sedikit ragu untuk meninggalkan Sabrang.


"Cepat pergi, aku akan menyusul dibelakangmu". Sabrang melesat kearah puluhan pendekar yang bersiap menyerang mereka.


"Kejar mereka". Langgeng berteriak dari atas pohon. Tubuhnya masih bergetar akibat benturan dengan Sabrang tadi.


"Kalian pikir bisa pergi dariku". Sabrang terlihat menggenggam kobaran api yang perlahan membentuk sebuah pedang berkepala naga, dia merapal Jurusnya sambil bergerak kearah pendekar yang mencoba mengejar Lingga dan lainnya.


"Jurus pedang pemusnah raga". Saat Sabrang mulai bergerak waktu disekitarnya seolah berhenti beberapa detik.


Langgeng menelan ludahnya saat melihat kobaran api hitam membakar para anak buahnya tanpa memberikan waktu mereka bereaksi. Semua pendekar kelas atas itu seolah terdiam menunggu Sabrang menyayunkan pedangnya kearah mereka.


Kekuatannya sangat mengerikan, Darahku benar benar mendidih". Langgeng tersenyum dingin memandang Sabrang yang sedang bertarung dengan para pendekar.


"Jurus ini benar benar hebat, semua terasa bergerak lambat disekitarku".


Sabrang memutar pedang naga api dan mengarahkan pada Langgeng yang ada di atas pohon.


"Kau berikutnya". Sesaat setelah Sabrang tersenyum dingin tubuhnya menghilang dan muncul tepat dibelakang Langgeng dan mengayunkan pedangnya dengan cepat.


"Kecepatannya luar biasa?". Langgeng tersentak kaget saat sebuah serangan menghantam tubuhnya dari belakang. dia cukup yakin jika beberapa saat lalu Sabrang menghunuskan pedangnya dari tempat yang cukup jauh darinya.


Langgeng berhasil mendarat dengan baik ditanah dan bersiap memasang kuda kuda, dia tidak ingin kembali terkena serangan.


"Sudah seharusnya pengguna Naga api sehebat ini, aku benar benar ingin mengalahkanmu". Langgeng kini mengambil inisiatif menyerang, dia merasa jika serangan Sabrang tadi mengenainya karena dia belum siap.


Serangan tiba tiba Langgeng sebenarnya cukup cepat karena dia menggunakan seluruh kekuatannya namun Sabrang tetap bisa menangkisnya dengan tenang. Tubuhnya yang diselimuti api merah darah secara alami menjadi pelindung dari serangan Langgeng.


Ketika jarak antara mereka cukup dekat Sabrang seolah membiarkan celah pertahanannya terbuka. Hal ini tidak disiasiakan Langgeng. Dia menyalurkan tenaga dalam ke pedangnya dan menyerang celah pertahanan Sabrang.


Saat pedangnya hampir mengenai Sabrang tiba tiba Sabetan pedang mengenai punggungnya. Wajahnya berubah dengan cepat saat menoleh kebelakang dan melihat Sabrang tersenyum dingin.


"Bagaimana dia berpindah tempat begitu cepat". Langgeng terpental beberapa menter akibat serangan Sabrang.


"Aku tak punya banyak waktu". Sabrang berjalan santai kearah Langgeng.

__ADS_1


__ADS_2