
"Tapak es Dewa Abadi," Tongkat Cahaya Putih mengeluarkan aura dingin dan menyelimuti tubuh Sabrang dengan cepat. Tak lama aura dingin itu berubah menjadi bongkahan es dan membekukan seluruh tubuh Sabrang.
"Tuan Panca, bantu aku menggunakan segel bayangan untuk mengentikan pergerakannya," teriak Sekar Pitaloka yang muncul dari pepohonan bersama Tungga Dewi dan Mentari.
Mentari berhenti di dekat Rubah Putih dan menempelkan lengannya ke tanah.
"Kekuatannya benar benar menakutkan, sebaiknya mereka cepat menggunakan segel itu karena kita tak akan mampu menahannya terlalu lama," ucap Siren saat melihat bongkahan es Mentari mulai retak.
"Kalian benar benar bodoh! Pusaka itu akan menghancurkan dunia jika bangkit, aku berniat membantu tapi kalian justru menyerangku," teriak Sabrang bersamaan dengan hancurnya bongkahan es Mentari.
"Berhasil!" teriak Ken Panca saat segel bayangannya berhasil mengunci Sabrang kembali.
Sekar dan Mentari bergerak bersamaan membentuk dinding es kembali dan mengurung Sabrang.
"Apa Ciha belum datang?" teriak Sekar Pitaloka.
"Ciha?" Lingga mengernyitkan dahinya.
"Wardhana memintanya menyempurnakan segel kabut untuk menyegel gunung padang agar tidak terlihat. Tubuh Sabrang mulai terluka akibat menahan kekuatan Dewa api, kita harus menyegel sementara kekuatan Dewa api menggunakan segel kegelapan abadi dan saat ini hanya Ciha yang menguasainya," balas Sekar Pitaloka.
"Aku akan menjemput..." belum selesai Lingga bicara, bongkahan es yang menyelimuti Mentari meledak bersamaan dengan puluhan energi keris yang melesat kearah Sekar, Mentari dan Ken Panca.
"Sial dia semakin menggila," Lingga melesat dan menyambar tubuh Sekar Pitaloka, sedangkan Rubah Putih menggunakan ledakan tenaga dalamnya untuk menahan keris yang hampir menembus tubuh Ken Panca.
"Siren!" teriak Mentari sambil memutar kedua tangannya.
"Aku tau," Siren melindungi tubuh Mentari menggunakan energinya yang bercampur dengan serpihan es untuk menahan serangan energi keris.
"Dia sudah tidak terkendali lagi, kita harus meringkusnya," Rubah Putih bergerak menyerang bersamaan dengan bayangan Ken Panca yang mengikutinya dari belakang.
"Aku memiliki rencana, Dewi, Emmy bantu aku," ucap Sekar Pitaloka yang menyerang dari sisi berlawanan dengan Rubah Putih.
Mentari kembali menggunakan jurus es abadi untuk melindungi Sekar dan yang lainnya, dia menggerakkan bongkahan es yang tercipta disekitar Sabrang.
Pertarungan tampak seimbang karena gabungan kekuatan mereka mampu sedikit mengimbangi Sabrang. Kecepatan Lingga dan Rubah Putih serta pergerakan Sekar Pitaloka bersama dua wanita Sabrang berhasil menekan.
Dewa Api tampak marah melihat perlawanan sengit mereka semua, dia terus melepaskan energinya untuk menekan lawan.
"Kalian benar benar membuat kesalahan, kekuatan pedang Bilah Gelombang akan memusnahkan dunia persilatan dan hanya aku dan anak ini yang bisa menghentikannya sebelum bangkit," Sabrang memutar pedangnya sambil tersenyum dingin.
"Jurus ini? mundur!" teriak Lingga yang mengenali jurus yang digunakan Sabrang.
"Badai api neraka?" wajah Mentari berubah seketika. "Siren beri aku kekuatanmu," Mentari mencabut Tongkat cahaya putih dan melompat keatas pohon. Dia memutar tongkatnya sebelum melemparkannya di udara.
"Badai api Neraka," Sabrang memutar pedangnya sekuat tenaga.
"Apa kau sudah gila? kau benar benar keterlaluan!" Naga Api berusaha kembali menekan sisi gelapnya namun dia menarik kembali kekuatannya saat beberapa urat nadi Sabrang putus.
"Lakukan Naga Api, maka anak ini akan tewas seketika," balas sisi gelapnya sinis.
"Sial! apa yang harus aku lakukan?"
Kobaran api merah darah meluap dari pedang Naga Api dan membakar apa saja yang ada di sekitarnya.
"Andai aku bisa menggunakan jurus ruang dan waktu," Tungga Dewi melompat mundur bersamaan dengan yang lainnya untuk menghindari kobaran api itu.
Namun kecepatan Badai api neraka tak mampu dihindari dengan mudah, api berwarna itu mendekati mereka semua dengan cepat dan berusaha membakarnya.
Saat kobaran api itu hampir membakar Tungga Dewi dan yang lainnya, cahaya putih tiba tiba menyelimuti tubuh mereka semua.
Sabrang mengernyitkan dahinya saat cahaya putih itu melindungi tubuh lawannya dari kobaran api, dia menoleh kearah Mentari sambil tersenyum.
"Siren, kau berani menentangku?" tubuh Sabrang menghilang dan muncul di dekat Mentari.
"Yang Mulia?" Mentari berusaha menghindar namun Sabrang lebih dulu mencengkram lehernya.
"Gawat, Tari dalam bahaya," Sekar Pitaloka bergerak cepat untuk membantu Mentari tapi tubuhnya terpental saat aura Dewa Api menghantam tubuhnya.
Kobaran api muncul di sekeliling Sabrang membuat mereka semua tak bisa mendekat.
"Ibu Ratu, terlalu berbahaya," ucap Emmy sambil berlari mendekati Sekar Pitaloka.
"Tari," ucap Sekar Pitaloka lirih.
"Yang mulia, sadarlah, bukankah anda sudah berjanji untuk menjagaku?" ucap Mentari terbata bata.
"Percuma saja kau bicara, saat ini kesadarannya terkurung oleh kekuatanku. Siren, kau seharusnya sadar seberapa mengerikannya Bilah Gelombang," balas Sabrang.
"Menghentikan pusaka itu tidak harus dengan mengorbankan tuanmu, apa yang kau lakukan ini tidak lebih dari ambisimu untuk membalas dendam," jawab Siren yang terus mengalirkan energinya untuk melindungi tubuh Mentari.
"Kau salah, satu satunya cara mencegah Bilah Gelombang bangkit adalah menghancurkannya sebelum dia menemukan tuan yang baru dan menjadi lebih kuat," balas Dewa Api.
"Naga Api, apa kau akan diam saja melihat selir kesayangan tuanmu yang sedang mengandung dibunuh?" bentak Siren kesal, tenaganya mulai habis karena terkuras saat melindungi Sekar Pitaloka dan yang lainnya dari badai api neraka.
"Mengandung?" Naga Api tersentak kaget.
"Tak ada yang bisa menghentikan ku, dan aku harus melakukan ini," Sabrang menarik pedangnya dan bersiap menghujamkan pedangnya ke tubuh Mentari.
__ADS_1
"Hentikan! kau sudah sangat keterlaluan," Naga Api melepaskan aura untuk menekan sisi gelapnya.
"Percuma Naga Api, kau sudah terlambat karena aku sudah menguasai tubuh ini sepenuhnya," Sabrang mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Gawat!" Rubah Putih melesat cepat menggunakan ledakan tenaga dalam, dia berusaha menembus kobaran api yang mengelilingi Sabrang.
"Yang mulia, jika memang membunuhku mampu membuat anda sadar maka aku akan dengan senang hati mati ditangan anda," Mentari menarik kembali energi cahaya putih yang melindungi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan bodoh?" teriak Siren terkejut.
"Maafkan aku Siren, semua yang kita lakukan tak ada yang berhasil termasuk menguncinya dengan bongkahan es cahaya putih, inilah satu satunya cara," balas Mentari sambil memejamkan matanya.
Semua mata tertuju pada Mentari yang seolah tak melakukan perlawanan sama sekali, sedangkan Rubah Putih memang berhasil menembus kobaran api merah itu namun secepat apapun dia bergerak, semua terlambat, pedang Naga Api sudah hampir menyentuh tubuh Mentari.
"Naga Api apa yang sebenarnya kau lakukan? kenapa kau diam saja saat situasi seperti ini?" umpat Rubah Putih kesal.
Naga Api terus menekan energi sisi gelapnya walau dia melihat tubuh Sabrang sudah mencapai batasnya, dia mulai menyesal dari awal ragu untuk menekan sisi gelapnya.
Naga Api merasa terbunuhnya Mentari akan jauh lebih berbahaya dari pusaka Bilah Gelombang sekalipun karena dia tau Sabrang sangat mencintai gadis itu. Dengan segala bakat dan darah dua trah Masalembo dalam tubuh Sabrang, Naga Api tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tuannya itu lepas kontrol dan menggunakan seluruh kekuatannya.
"Sial, tidak sempat!" umpat Naga Api menyesal.
Ketika pedang yang mengandung tenaga dalam besar itu menyentuh kulit Mentari, tubuh Sabrang tiba tiba kaku.
"Yang mulia?" Mentari membuka matanya saat tak terjadi sesuatu dengan tubuhnya.
"Berani kau menyentuhnya, akan kubunuh kau berkali kali," Sabrang berhasil mengambil separuh kesadarannya dan menggunakan Ajian Inti Lebur Saketi untuk menarik energi Siren melalui tangannya.
"Aku akan melindungimu Tari," ucap Sabrang sambil mengalirkan energi Siren keseluruh tubuhnya.
"Kau sejak awal mengincarku mendekati gadis ini bukan? apa yang kau rencanakan?" Dewa Api menekan kesadaran Sabrang.
"Naga Api, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan? tak perlu khawatir, aku sudah meminjam energi Siren untuk melindungi tubuhku," ucap Sabrang pelan sambil melempar tubuh Mentari menjauh.
Rubah Putih yang melihat Sabrang melempar Mentari langsung menyambar tubuh gadis itu, dia membawanya menjauh karena sadar sesuatu akan terjadi.
"Kau memang bodoh, aku hampir membunuhmu," balas Naga Api kesal sambil melepaskan energinya.
"Apa kau pikir dengan kekuatanmu bisa dengan mudah menekan ku?"
"Kau salah bodoh, aku tak berniat melawan mu sendiri karena bukan hanya aku pusaka yang mengikutinya," balas Naga Api saat aura hitam pekat masuk kedalam energinya.
"Tak boleh ada yang menyentuh anak ini," teriak Anom.
"Dia melepaskan nyonya selir? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Candrakurama bingung.
"Tapi bagaimana bisa? bukankah matanya tadi menunjukkan dia sepenuhnya telah dikuasai?" sahut Lingga.
"Mentari, hanya dia yang bisa menyadarkan Yang mulia," jawab Tungga Dewi lega.
"Anak itu sangat mencintai Tari lebih dari apapun," ucap Sekar dalam hati.
"Kehadiran nyonya selir bagai dua sisi mata pedang, jika dia bisa menyadarkan Yang Mulia dari kerasukan berarti dia bisa mengendalikannya namun aku pernah mendengar Yang Mulia membunuh hampir separuh anggota sekte Kelelawar hijau saat mereka meracuni nyonya selir," balas Lingga.
Mereka semua perlahan mundur saat kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang semakin membesar, terlihat aura hitam perlahan masuk dan merubah warna api itu menjadi kehitaman.
"Bahkan Keris penguasa kegelapan ikut membantunya, bagaimana dua pusaka terkuat bisa memilihnya sebagai tuan?" ucap Ken Panca takjub.
"Kalian benar benar melakukan kesalahan, pusaka Bilah Gelombang akan bangkit jika tidak dihentikan sekarang," ucap Dewa Api kesal.
"Dengar, akulah Naga Api sesungguhnya, dan jika tubuh anak ini telah siap, seratus Bilah gelombang pun akan kuhancurkan!" balas Naga Api.
Kobaran api di rubuh Sabrang tiba tiba meledak dan membumbung tinggi di udara membentuk tubuh naga sebelum dihisap kembali tubuhnya dengan cepat.
"Apakah sudah berakhir?" tanya Sekar Pitaloka pelan.
Sabrang menoleh kearah Sekar Pitaloka dan berjalan mendekatinya.
"Syukurlah ibu baik baik saja," baru dua langkah Sabrang berjalan, dia roboh ketanah.
"Yang mulia," teriak Tungga Dewi dan Emmy bersamaan.
Rubah Putih bergerak mendekat dan memeriksa tubuh Sabrang.
"Tak perlu khawatir, tubuhnya hanya kelelahan, tak lama lagi dia akan siuman. Saat ini yang harus kita pikirkan adalah bagaimana masuk ke dalam jalur rahasia itu?" ucap Rubah Putih sambil menatap reruntuhan tebing yang menutupi sumur tua.
"Apa terjadi sesuatu?" Wardhana muncul bersama Wulan dengan wajah bingung. Mereka menatap hutan disekitarnya yang separuhnya sudah terbakar api.
"Wardhana, kau datang tepat waktu," ucap Sekar Pitaloka lega.
"Ibu ratu, syukurlah anda sudah kembali," balas Wardhana sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Jika kau sudah berada di sini berarti Saung Galah?" Paksi berjalan mendekati Wardhana.
"Guru, Saung Galah sudah jatuh, kita hanya perlu menangkap Jaladara, aku sudah memerintahkan Sora untuk menangkapnya.
" Akhirnya, sudah saatnya Malwageni menguasai tanah Jawata," balas Paksi lega, dia kemudian menceritakan situasinya pada Wardhana.
__ADS_1
"Jadi benar sumur itu adalah jalan rahasianya," Wardhana berjalan mendekati sumur itu.
"Yang mulia?" ucap Wardhana terkejut saat melihat Rubah Putih mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Sabrang.
"Dia akan baik baik saja, percayalah," balas Rubah Putih.
Wajah Wardhana tampak lega, dia mendekati sumur itu dan memeriksanya.
"Aku yakin tuas kelima menunjukkan jalur rahasia lain yang kemungkinan berhubungan dengan jalur ini namun aku tidak mau ambil resiko pusaka itu ditemukan, aku harus mencari jalan lain," ucap Wardhana dalam hati.
"Mereka meledakkan gerbang ini tanpa rasa ragu saat teman temannya masih didalam, Guntur Api memang gila," ucap Paksi pelan.
"Ada yang masih di dalam?" balas Wardhana terkejut yang dibalas anggukan Paksi.
"Apa mungkin mereka telah mengetahui tuas kelima? tidak, tidak mungkin, aku yakin tuas itu belum bergeser saat aku tiba di puncak gunung," gumam Wardhana dalam hati.
Wardhana menatap puncak gunung dan melihat dengan jelas lima teras berundak di puncak gunung padang.
"Tunggu, sepertinya teras berundak itu bukan hanya berfungsi sebagai petunjuk lima arah mata angin, apa mungkin?" Wardhana melihat sumur tua itu dan Puncak gunung bergantian.
Wardhana menajamkan matanya seolah sedang menarik garis lurus antara sumur tua dengan teras pertama gunung padang.
"Wulan, bisakah kau membantuku naik ke pohon tertinggi itu?" tanya Wardhana sambil menunjuk pohon yang paling tinggi didekatnya.
"Bersiaplah," Wulan merangkul Wardhana sebelum melompat naik.
"Wulan? sejak kapan dia memanggilnya nama?" ucap Lingga bingung.
Rubah Putih yang mendengar ucapan Lingga tersenyum kecil.
"Menarik ditunggu bukan keturunan mereka berdua? darah Tumerah bercampur kepintarannya, sepertinya kita akan memiliki pasukan baru yang lebih kuat," balas Rubah Putih sambil terkekeh.
"Jadi begitu, mereka benar benar membangun Nagari siang padang dengan sangat sempurna. Ayo kita turun, aku sudah tau bagaimana masuk kedalam jalur rahasia itu," ucap Wardhana.
Wulan mengangguk dan kembali melompat turun.
"Ibu ratu hamba sudah mengetahui jalan untu masuk ke jalur rahasia namun kita harus kembali kepuncak gunung," ujar Wardhana pelan.
"Ke Puncak gunung?"
"Hamba akan jelaskan dalam perjalanan, saat ini yang terpenting kita sampai di puncak gunung secepatnya," jawab Wardhana.
"Baik, Rubah putih, Dewi, kalian tinggal disini sampai Sabrang dan Tari sadar, kami akan naik lebih dulu," ucap Sekar memberi tanda untuk bergerak.
"Baik ibu ratu," jawab Tungga Dewi cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cerita di luar PNA
Saat Rubah Putih terus mengalirkan tenaga dalam untuk menyadarkan Sabrang, Naga Api dan Siren memutuskan keluar dari tubuh Sabrang menuju warung kopi yang berada tepat di kaki gunung Padang, kebetulan beberapa pendekar yang tidak memiliki bakat dan masa depan di dunia persilatan memutuskan berbisnis warung kopi untuk menyambung hidup.
Warung itulah yang saat ini dikunjungi Siren dan Naga api yang menyamar dalam wujud manusia.
"Lo tau gak Siren, empet gw PNA selalu di posisi 6 besar terus, mau naek lima besar aja susah banget, bahkan periode ini PNA turun posisi 8," ucap Naga Api sambil menyeruput kopi hitam buatan bu Tejo yang sudah diaduk delapan belas kali searah jarum jam.
"Astagaa, ni kopi enak banget, yakin gw kalo Aura kasih lewat pake rok mini gak bakal gw tengok," umpat Naga Api.
"Lebai lo Keramik kelurahan, kopi dimana mana sama rasanya, pait kayak kenangan sama mantan yang pernah ngomong "Aku tidak bisa hidup tanpamu" tapi sekarang masih idup!" balas Siren.
Naga api hanya tertawa sambil kembali nyeruput kopi buatan bu Tejo yang merupakan mantan pendekar sekte Tumis Kangkung.
"Enggak beneran, kira kira apa yang bikin PNA susah masuk lima besar menurut lo?" tanya Naga Api kembali.
"Mungkin aja reader PNA pada sibuk jadi gak sempet ngajalanin misi MT buat ngumpulin poin," balas Siren.
"Sibuk? lo tau gak ren, 90 persen reader PNA itu jomblo, sibuk apa mereka? punya mantan aja kagak!" balas Naga Api.
Siren tampak berfikir sejenak sambil meminum kopi yang mulai dingin di gelasnya.
"Pantes aja enak ni kopi, ini kopi lampung pi. Gw pernah pesen sama Ricky pake C," Siren mulai menganalisa rasa kopi sambil mengangkat gelas dan menatap kamera.
"Minum Kopi lampung sambil baca PNA, nikmat manalagi yang kau dustakan," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Siren lalu mengeluarkan sebuah kitab kuno dari sakunya.
"Ini kitab Segel jodoh. Kalo ada reader yang gaVote, segel aja pake ini biar Jomblo seumur hidup, karatan karatan dah tu pusakanya," ucap Siren melanjutkan.
"Kitab sakti segel jodoh ciptaan sekte Tuna Asmara? dari mana lo dapetnya?"
"Gak perlu tau dari mana gw dapet, pokoknya yang gak vote segel aja biar kayak amoba sendirian dan membelah diri," jawab Siren.
Naga Api mengangguk cepat, dia mulai membayangkan vote akan mengalir.
"Dah yuk balik, kayaknya Sabrang udah sadar," ucap Naga api sambil menulis di buku bon yang disediakan bu tejo.
"Bu ngutang dulu, ntar gw bayar kalo Malwageni udah jaya," ucap Naga Api memelas yang dibalas tatapan sinis bu Tejo.
__ADS_1
"Katanya pusaka terkuat, ngopi aja ngutang," ucap bu Tejo dalam hati...