Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gerbang Nagara Siang Padang


__ADS_3

Emmy tiba tiba melompat ke atas batu yang tegak berdiri paling tinggi untuk mengamati situasi, wajahnya berubah saat melihat ada yang aneh dengan struktur gunung itu.


Lingga yang duduk bersama Binatara dan beberapa pendekar Hibata mengernyitkan dahinya saat melihat Emmy melompat ke atas batu.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Lingga penasaran.


"Belum, tapi aku menyadari satu hal, puncak gunung ini sepertinya berhubungan dengan angka lima," jawab Emmy sambil terus memperhatikan sekitarnya.


"Berhubungan dengan angka lima?"


"Aku mulai menyadari saat kita menaiki batu bersusun itu untuk sampai ke puncak ini. Puncak gunung padang memiliki lima teras berundak yang dihubungkan oleh lima tangga batu ke teras berikutnya.


Dan anda lihat bukit bukit yang mengapit gunung padang di seberang lembah itu? jumlah bukit itu berjumlah empat namun sebenarnya lima karena titik ke lima adalah gunung padang sendiri, dan yang paling mengejutkan adalah empat bukit itu sejajar dengan empat mata angin, jika ditarik garis lurus maka titik pertemuan keempat garis itu tepat di puncak ini.


Struktur batuan gunung padang jelas tidak terbentuk secara alami karena setiap kemiringan sisinya sama persis, siapapun yang membuat bangunan ini aku yakin lebih pintar dari suku Gropak Waton sekalipun. Andai tuan Wardhana sudah sampai di puncak ini, dia pasti sudah bisa memecahkan misteri ini," jawab Emmy pelan.


Emmy sekali lagi memastikan letak empat bukit yang mengapit Gunung padang sesuai dengan arah mata angin sebelum melompat turun.


(Ilusrtasi Lima teras di puncak Gunung padang, foto : Mbah Google)




"Apa mungkin yang membuat bangunan ini penduduk desa Tengger sebelum mereka mengubur warga yang terkena wabah itu?" tanya Lingga.


"Aku tidak yakin, aku sudah memeriksa reruntuhan bekas desa Tengger dan tak ada bangunan yang istimewa, sama seperti desa lainnya. Apa mungkin desa dengan bangunan biasa bisa membuat tempat sebesar ini?" balas Emmy.


"Lalu siapa yang membuat bangunan ini?" sahut Biantara penasaran.


"Aku tidak tau, namun yang pasti penduduk Tengger sepertinya tidak sengaja menemukan tempat ini dan setelah masuk, mereka memutuskan untuk mengubur orang orang yang sudah terkena wabah itu. Aku benar benar tak habis pikir, ketika satu misteri terungkap, misteri lainnya muncul," jawab Emmy pelan.


"Hari mulai gelap nyonya, sebaiknya anda beristirahat, hamba sudah menyiapkan tempat untuk anda di dekat batu besar itu," ucap Candrakurama sambil menunjuk batu besar yang berada di tengah puncak.


Emmy terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan, dia merasa perlu mengistirahatkan pikirannya sambil menunggu kedatangan Wardhana.


Misteri yang menyelimuti Gunung Pandang benar benar rumit dan Emmy merasa tidak akan mampu memecahkannya sendiri dengan petunjuk yang sangat sedikit.


"Semoga anda cepat datang tuan Patih," Emmy melangkah mengikuti Candrakurama namun baru beberapa langkah mereka berjalan, hembusan angin kencang datang, dan alunan musik dari susunan bebatuan di dekat sumur tua terdengar kembali.


Emmy menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu, dia berlari mendekati batu itu sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya sebagai tanda untuk diam.


"Jadi suara suara indah itu memang berasal dari susunan batu itu yang tertiup angin?" gumam Biantara dalam hati.


Emmy berhenti tepat ditengah batu sambil memejamkan matanya, dia ingin berkonsentrasi mendengarkan nada nada indah yang dikeluarkan batu itu.


"Ada beberapa nada sumbang?" Emmy membuka matanya saat mendengar suara aneh diantara suara indah, dia menoleh kearah beberapa batu yang tadi mengeluarkan suara aneh.


Emmy menatap batu itu sebelum melihat kearah bukit yang mengelilingi Gunung padang.


"Susunan empat batu sumbang ini sejajar dengan bukit bukit itu, apa ini hanya kebetulan?" Emmy mendekati salah satu batu dan memukulnya dengan gagang pedang.


"*S**uara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang*. Suara alam? apa mungkin batu ini berfungsi sebagai tuas?" Emmy mencoba menggeser batu itu namun tak berhasil.


"Apa aku salah?" ucap Emmy bingung.


"Nyonya, apa anda tidak merasa aneh dengan empat batu yang anda pegang itu?" ucap Candrakurama.


"Aneh?" Emmy mengernyitkan dahinya.


Bukankah posisinya terlalu menjorok keluar dari batu lainnya, atau mungkin memang disengaja?" balas Candrakurama.


"Menjorok keluar?" Wajah Emmy berubah kembali saat menyadari sesuatu, selama ini dia terlalu fokus pada Sumur tua dan bunyi bebatuan itu tanpa menyadari jika empat batu yang mengeluarkan suara sumbang letaknya sedikit menjorok keluar.


"Tidak mungkin jika empat batu ini sengaja di taruh menjorok keluar, sangat kebetulan jika letak keempat batu yang menjorok sama persis dengan letak empat bukit yang mengelilingi Gunung Padang. Kemungkinan terbesar adalah...," Emmy berjongkok di dekat salah satu batu yang menjorok keluar dan menyentuh tanahnya yang sedikit berbeda karena tidak ada rerumputan yang tumbuh di dekat batu itu.


"Seseorang telah menggesernya lebih dulu dari kita," ucap Emmy melanjutkan.


"Batu ini sudah di geser?" Lingga yang sejak awal diam memperhatikan ikut bicara.

__ADS_1


"Benar tuan, aku mengerti sekarang. Hanya di empat titik dekat batu yang menjorok keluar ini tidak ditumbuhi rumput, itu artinya beberapa waktu lalu ada sesuatu di atas tanah ini dan aku yakin disinilah letak awal empat batu yang mengeluarkan suara sumbang itu.


Aku yakin Gunung padang dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi, tidak mungkin mereka melakukan kesalahan sepele meletakkan batu yang membuat suara alam menjadi sumbang," balas Emmy.


"Jadi petunjuk yang ditemukan di sekte Angin Biru itu...?" tanya Lingga yang mulai mengerti.


"Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang.


kunci dari misteri ini berhubungan dengan angka lima. Lima teras berundak dan lima anak tangga yang menghubungkan antara teras adalah petunjuk jika ingin masuk kedalam gunung padang pecahkan misteri angka lima.


Selain teras berundak dan tangga batu itu apalagi yang berjumlah lima di gunung ini? hanya bukit yang mengelilingi Gunung padang inilah yang paling mungkin.


Namun mengapa hanya ada empat bukit dan bukan lima? karena sejak awal hanya ada empat bukit di tempat ini. Mereka kemudian membuat misteri menggunakan angka lima dan membangun gunung padang sebagai bukit kelima untuk menyembunyikan gerbang Nagari Siang Padang. Semua orang akan dibuat bingung mencari bukit kelima dan tidak akan menyadari jika bukit terakhir itu adalah Gunung padang.


Sejak awal mereka membangun Nagari Siang padang menyesuaikan dengan alam di sini. Mereka memanfaatkan semuanya dan menghubungkan dengan angka lima sebagai misteri Gunung Padang. Lima teras berundak dan tangga batunya dibuat sebagai petunjuk menuju gerbang Nagara Siang Padang," balas Emmy.


"Jadi seperti itu, empat bukit sebagai tanda cara membuka gerbang suci dan bukit kelima adalah letak kunci itu sendiri," ucap Biantara yang mulai memahami misteri Gunung Padang.


"Benar tuan, (Suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang) memiliki arti jika batu bunyi ini adalah kunci membuka gerbang suci dan kita hanya perlu memilih empat batu yang sejajar dengan bukit yang mengelilingi Gunung Padang.


Suara sumbang yang berasal dari empat batu ini menandakan lokasinya telah bergeser dari posisi semula dan itu artinya gerbang suci telah terbuka," balas Emmy sedikit khawatir.


Lingga terlihat menatap sekelilingnya, dia juga meminta pada pasukan Hibata untuk memeriksa puncak bukit padang dan mencari apa saja yang berbentuk lubang atau gua.


Setelah berpencar cukup lama untuk memeriksa mereka kembali ke titik semua tempat Emmy duduk.


"Tidak ada, semua sudah memeriksa setiap inci puncak gunung padang tapi tak ditemukan lubang, celah atau gua dan sejenisnya," ucap Lingga bingung.


"Apa aku salah? tuan Patih, dimana anda saat ini?" gumam Emmy lemas.


Emmy menundukkan kepalanya, dia benar benar dibuat pusing dengan semua misteri gunung padang. Semua analisanya sepertinya sudah benar dan sesuai petunjuk namun bagaimana mungkin gerbang suci tidak terlihat di puncak gunung.


"Ada yang datang, lindungi nyonya selir," Candrakurama mencabut pedangnya saat merasakan ada yang datang.


"Sial disaat seperti ini," Lingga bergerak mendekati Emmy untuk melindunginya.


"Yang Mulia," Candrakurama segera menyarungkan pedangnya dan berlutut dihadapan Sabrang.


"Sepertinya mereka juga tidak muncul disini, dimana jalan rahasia itu," ucap Paksi lemas.


"Jalan rahasia?" tanya Emmy cepat, dia bangkit dari duduknya dan memberi hormat pada Sabrang.


"Hormat Yang mulia," ucap Emmy sopan.


"Anda tadi mengatakan jalan rahasia?" tanya Emmy kembali pada Paksi.


"Benar, di luar dugaan Guntur Api ternyata membagi dua pasukannya, separuh pasukannya sedang bertarung bersama Wardhana di Lembah Penghisap Sukma, dan seharusnya separuh lagi bertemu dengan kami karena sejak awal hamba dan pasukan Angin selatan menunggu di kaki gunung padang.


Namun sampai kami naik ke puncak ini tidak ada satupun pendekar Guntur Api yang kami temukan, hamba yakin ada jalan rahasia dan mereka sedang melewatinya," jawab Paksi.


"Jalan rahasia," Emmy terlihat berfikir.


"Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang," gumam Emmy dalam hati.


Emmy menoleh sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang terlewat.


"Apa anda sudah memeriksa sumur itu?" tanya Paksi tiba tiba.


"Semua sudah kuperiksa dan tak ada yang aneh, hanya bentuk sumur itu yang membuatku bingung," jawab Emmy.


"Bentuk sumur?" tanya Paksi cepat.


"Sumur itu berbentuk setengah lingkaran, aku tidak tau apa tujuannya namun aku yakin itu disengaja," balas Emmy.


"Itu dia, seharusnya semua sumur berbentuk lingkaran penuh, jika itu hanya setengah lingkaran berarti mereka ingin memberitahukan jika ada sumur lainnya dan aku yakin sumur itulah jalan rahasia menuju Negara Siang Padang," ucap Paksi.


"Sepertinya aku tau dimana sumur itu," sahut Biantara.


"Kau yakin?" Lingga dan yang lainnya menoleh kearah Biantara bersamaan.

__ADS_1


"Tak jauh dari kaki gunung ada sebuah air terjun di sisi barat dan di sungai itu terdapat sebuah sumur tua. Aku mengetahuinya saat menyelidiki Gunung padang sebelum menyerang Malwageni," balas Biantara.


"Sisi barat?" Emmy berlari kearah batu bunyi itu dan menatap bukit yang ada di sisi barat Gunung Padang.


"Aku mengerti sekarang, sumur itu memang pintu gerbang menuju Nagara siang padang dan empat tuas batu ini adalah kunci dari masing masing pintu dibawah teras berundak gunung Padang, dan kunci yang di temukan tuan patih di danau purba Angin biru adalah kunci kelima atau kunci terakhir dari pintu ruangan tempat mereka menyegel Pagebuk Lampor. Ruangan kelima itu tepat berada dibawah tanah tempat kita berdiri," ucap Emmy menjelaskan.


"Jadi didalam gunung ini?" Candrakurama tampak masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ini bukan gunung biasa, jika perkiraanku tidak salah ada sebuah bangunan kuno yang sangat besar tersembunyi di dalam gunung padang," balas Emmy.


"Kita terlambat, jarak dari puncak gunung ini ke air terjun tempat sumur tua berada itu cukup jauh, walau kita menggunakan seluruh tenaga dalam untuk sampai ke sana, aku yakin mereka sudah lebih dulu membuka gerbang terakhir itu," wajah Biantara tampak pucat, sudah terbayang bagaimana Pagebluk Lampor akan memusnahkan semua manusia di Nuswantoro.


"Tidak, kita masih belum terlambat, Candrakurama bantu aku," Emmy tiba tiba memegang salah satu tuas batu yang berada di dekatnya.


"Jika melihat arah angin, ini adalah tuas pintu keempat, Barat adalah tuas pintu pertama, kemudian utara, timur dan Selatan. mereka mungkin sudah masuk kedalam tapi aku yakin mereka belum sampai di pintu keempat.


Tuas ini berfungsi untuk membuka dan menutup empat gerbang sebelum gerbang terakhir, jika kita bisa menutup gerbang keempat kita masih bisa mengulur waktu sambil mengejar mereka," Emmy mendorong tuas keempat bersama Candrakurama, saat batu itu kembali ke posisi semula, tanah yang mereka injak bergetar seperti ada batu bergeser didalam tanah.


"Pintu keempat telah tertutup," ucap Emmy lega.



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada hal menarik lainnya dari situs Gunung Padang, semua yang berhubungan dengan situs ini berjumlah lima.




Situs Gunung Padang diapit oleh lima sungai, yaitu S. Cipanggulaan, S. Cikuta, S. Ciwangun, S. Pasir Malang, dan S. Cimanggu. Sungai ini mengalir di tiap sisi di kaki bukit Gunung Padang.




Terdapat lima teras di Puncak bukit Gunung padang.




Tiap teras dihubungkan oleh lima lima anak tangga kecil.




Ternyata, sekitar 95% sudut batu itu adalah segi lima.




Dikelilingi oleh lima bukit, yaitu Karuhun, Pasir Emped, Pasir Malati, Pasir Malang, dan Pasir Batu. ("Pasir", bahasa Sunda, artinya "bukit").




Orientasinya tegak lurus ke lima gunung secara sejajar, yaitu Gunung Pasir Pogor, Gunung Cikencana, Gunung Pangrango, Gunung Gede, dan Gunung Batu.




Kebetulan? entahlah.... biar misteri tetap menjadi misteri....


Terakhir seperti akhir bulan kemarin.. Chapter bonus akan diberikan saat akhir pekan dengan catatan PNA berada di 7 besar seperti kemarin... jadi Monggo bantu Sabrang merangkak naik dengan Vote

__ADS_1


__ADS_2