Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Awal Pengembaraan di Dunia Persilatan


__ADS_3

Setelah berlatih selama beberapa tahun dibawah bimbingan Ageng, Sabrang akhirnya memutuskan terjun ke dunia persilatan. Walau Ageng berusaha membujuknya karena khawatir akan keselamatannya namun tekad Sabrang sudah bulat.


Sabrang melangkah menyusuri hutan, ini pertama kalinya dia keluar dari Sekte Pedang Naga Api. Sudah satu hari dia berjalan menyusuri hutan dan dia masih belum tau kemana arah tujuannya. Dia hanya mengikuti kakinya melangkah.


Pikirannya melayang memikirkan Dataran Tinggi Dieng, sebuah tempat yang selama ini dianggap legenda dan tidak nyata. Di tempat yang digambarkan sebagai pusat kekuatan ini menyimpan banyak misteri. Bahkan tidak ada yang mengetahui pasti apakah tempat itu benar benar ada.


Tiba tiba hujan turun membuat Sabrang berjalan lebih cepat, ia ingin segera mencari penginapan untuk beristirahat dan menghangatkan tubuhnya.


"Ah sepertinya di depan ada cahaya, semoga itu adalah penginapan" gumam Sabrang sambil berjalan cepat.


Suasana penginapan itu sedikit ramai, beberapa pendekar terlihat keluar masuk penginapan. Ini dapat dipahami karena mungkin hanya penginapan ini satu satunya didaerah tersebut. Sabrang masuk dalam penginapan dan langsung menuju salah satu meja kosong. Tak lama seorang pelayan mendatanginya.


"Apakah tuan ingin menginap? Atau hanya singgah untuk makan malam?" Wanita tersebut tersenyum ramah.


"Aku akan menginap nona, berikan satu kamar untukku. Namun sebelum itu tolong berikan aku makanan untuk menghangatkan tubuhku". Pelayan tersebut mengangguk lalu pergi menyiapkan makanan pesanan Sabrang.


Disudut ruangan tampak seorang gadis makan dengan lahap seolah telah beberapa hari belum makan. Sabrang sempat menyipitkan matanya melihat gadis tersebut makan.


Tak lama kemudian beberapa pendekar menghampirinya. Salah seorang pendekar duduk dihadapan gadis tersebut, dia memukul meja dihadapannya membuat gadis tersebut tersentak kaget.


"Kemana saja kau!! Apa kau sudah berani melawan ku?". Raut wajah gadis tersebut berubah setelah melihat pria yang ada dihadapannya.


"Tuan aku sudah memutuskan keluar dari kalajengking hitam. Tolong lepaskan aku, aku ingin mencari keluargaku". Gadis tersebut menyudahi makannya. Matanya mulai berarir seperti memendam sesuatu.


"Aku tak akan pernah mengijinkanmu keluar dari kelompok Kalajengking Hitam. Sekali kau masuk tak akan pernah kau bisa keluar dari kalajengking hitam".


"Ikut denganku baik baik atau akan kuseret kau dengan paksa". Gadis tersebut menatap pria tersebut dengan tatapan tajam, ada dendam dalam tatapannya.


"Tuan ijinkan aku mencari ibuku terlebih dahulu, setelah itu aku berjanji akan kembali pada Kalajengking Hitam".


Pria dihadapannya tertawa keras mendengar perkataan gadis itu. Dia menatap tajam gadis tersebut.


"Kau membuatku tertawa Mentari, Bawa dia sekarang". Pria tersebut memerintahkan beberapa pendekar menyeret gadis tersebut.


Gadis tersebut melompat menjauhi mereka dan mengeluarkan pedangnya.


"Tolong tuan untuk kali ini saja aku memohon pada anda"


"Kau!!! Berani mengarahkan pedang padaku? Seret dia dari sini".

__ADS_1


Beberapa pendekar lainnya menyerang Mentari, terjadi pertarungan tidak seimbang diantara mereka. Beberapa menit kemudian Mentari sudah berhasil dilumpuhkan pendekar dari Kalajengking hitam.


Beberapa orang pelayan terburu buru menjauh ketakutan. Mereka sadar akan sangat merepotkan jika berurusan dengan Kalajengking Hitam, sebuah gerombolan perampok paling ditakuti di sini.


"Bukankah sangat memalukan mengeroyok seorang perempuan bagi para pendekar" Sabrang berkata santai, matanya menatap tajam kearah mereka.


Seorang pendekar mendekati Sabrang dengan wajah masam.


"Kau bicara sesuatu nak? Coba katakan lagi?" Pria tersebut menggebrak meja.


Sabrang tersenyum sinis "Paman tidak mendengar yang ku katakan? Aku bilang paman memalukan".


"Kau!!!" Pria tersebut berniat mencabut pedangnya. Belum sempat mencabut pedangnya pulukan Sabrang sudah menghantam wajahnya. Dia terpental beberapa langkah.


Mengetahui temannya terjatuh terkena pukulan mereka siap menyerang bersamaan namun tiba tiba Sabrang menghilang dari pandangan dan muncul hanya beberapa jengkal dihadapan mereka.


Pukulan Sabrang menghantam mereka semua hingga terjatuh. Raut wajah mereka berubah seketika mengetahui kemampuan Sabrang.


Saat mereka mencoba bangkit Pedang Naga Api sudah ada dileher salah satu dari mereka.


"Kau beruntung pedang ini masih berada didalam sarungnya. Jika mata pedang ini yang ada dilehermu maka kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu".


"Pergilah dan tinggalkan nona ini, aku akan melupakan kejadian hari ini". Sabrang menarik pedangnya dari leher pria tersebut. Dia berjalan kembali ke mejanya dan melanjutkan makannya. Gerombolan Kalajengking hitam keluar dari penginapan dengan wajah jengkel.


Gadis tersebut mendekati Sabrang dengan hati hati dan tersenyum lembut.


"Terima kasih tuan atas bantuan anda". Sabrang mengangguk pelan sambil melanjutkan makannya.


Setelah beristirahat semalaman Sabrang berniat melanjutkan perjalanannya. Dia melangkah keluar penginapan pagi pagi sekali. Tak jauh dari pintu keluar gadis yang ditolongnya kemarin sudah menunggunya.


Sabrang mengernyitkan dahinya melihat gadis tersebut.


"Ada apa nona? Apakah aku berhutang sesuatu?".


Gadis tersebut menggeleng pelan "Ijinkan aku mengikutimu sementara waktu tuan, aku takut mereka mengincarku lagi. Saat kita sudah jauh dari wilayah ini aku berjanji tak akan mengikutimu lagi".


"Baiklah kalau itu membuat nona merasa tenang" Sabrang tersenyum hangat.


....................................

__ADS_1


"Kita harus bagaimana guru? Apakah kita akan tunduk pada mereka? Bukankah semua orang tau jika Iblis Hitam sangat kejam" Seorang pemuda bertanya pada kakek tua dihadapannya.


Kakek tua itu menggeleng pelan, raut wajahnya datar seolah menanggung beban yang sangat berat dipundaknya.


"Pantang bagi Sekte Harimau buas tunduk pada aliran hitam. Kita akan melawannya sampai titik darah penghabisan".


Wajah pemuda itu berubah mendengar jawaban gurunya. Dia merasa tindakan gurunya konyol jika harus melawan Iblis hitam.


"Guru bukan saatnya kita memutuskan dengan emosi, mengalah bukan berarti kalah guru kita hanya mengukur kemampuan kita".


"Diam kau Gibran!! apa gurumu ini pernah mengajari menjadi pengecut?" Suara kakek tua itu meninggi. Dia bangkit kemudian pergi meninggalkan pemuda itu seorang diri.


"Dasar tua bangka sialan, jika kau ingin mati, matilah sendiri. Aku tak akan mau mati bersama sekte kecil ini". Pemuda itu mengumpat dalam hati.


Kakek tua itu mematung di kamarnya, dia memandang kosong ke atas ada rasa bersalah dalam hatinya mengingat kejadia beberapa puluh tahun lalu saat Malwageni meminta bantuannya.


"Yang mulia Raja maafkan aku saat itu tidak dapat membantumu, aku terlalu pengecut untuk berhadapan dengan Iblis Hitam. mungkin ini karma yang kuterima karena membalas kebaikan yang mulia dengan penghianatan".


Tapi kali ini dia telah membulatkan tekadnya menebus kesalaham dimasa lalu. Beberapa hari yang lalu utusan Iblis Hitam mendatangi sekte nya dan meminta mereka tunduk dibawah Kerajaan Majasari. mereka diberi waktu tiga hari untuk memberi jawaban. sudah dua hari ini terjadi pertentangan di Sekte Harimau buas apakah akan menyerah atau melawan sampai mati.


Beberapa tetua Sekte menginginkan mereka menyerah tetapi ametung tidak ingin mengulangi kesalahannya beberapa tahun yang lalu. Dia sudah memutuskan untuk melawan.


"Besok adalah batas tiga hari yang mereka katakan, aku akan melawan mereka seperti Yang Mulia Raja melawan dengan gagah melawan Iblis Hitam demi melindungi Malwageni".


Ametung berjalan menuju tempat penyimpanan pusaka Sektenya. dia mengambil pedang yang tersimpan dalam lemari penyimpanan.


"Maafkan aku leluhur sepertinya Sekte Harimau Buas akan berakhir saat aku memimpin. semoga para leluhur mengerti jika yang kulakukan demi nama baik Sekte Harimau Buas".


................................................


"Nona sudah lama berada disini bukan" Sabrang bertanya kepada Mentari. Dia sedang mencari tempat menginap karena sepanjang jalan sejak keluar dari penginapan sebelumnya dua hari lalu dia belum menemukan penginapan lainnya. Mentari mengangguk pelan


"Jika tuan mencari penginapan di sekitar sini anda tidak akan menemukannya. masih butuh dua hari perjalanan sampai ke penginapan selanjutnya".


Sabrang menggaruk kepalanya "Jauh sekali, sepertinya kita akan menginap di Hutan lagi nona".


"Tetapi tuan, setengah hari perjalanan dari sini kalau tidak salah ada Sekte Harimau Buas, bukankah tuan juga pendekar aliran putih? Ku rasa mereka akan menerima kita jika hanya minta ijin menginap satu malam".


Sabrang mengangguk pelan dia setuju pendapat gadis tersebut.

__ADS_1


"Baiklah kita akan menginap di Sekte Harimau Buas".


__ADS_2