
"Mau kemana kalian malam malam begini?" Salah satu penjaga membentak Mada.
"Itu.... itu...." Mada berbicara terbata bata.
"Kau mau melarikan diri lagi? Kau tidak pernah belajar dari pengalamanmu kemarin ya. Tangkak dia dan jebloskan ke ruang isolasi".
"Tunggu tuan" Ronggo memberanikan diri berbicara "Biarkan dia pergi tuan, aku yang mengajaknya kali ini".
"Tidak anak itu tidak tau apa apa, aku yang merencanakan semua ini" Mada menatap tajam Ronggo.
"Kau tidak usah ikut campur! bawa mereka pergi" Sesaat sebelum para penjaga menangkap Mada tiba tiba Mada menyerang para penjaga dengan kayu yang di pegangnya.
Terjadi pertarungan antara Mada dan pasukan penjaga namun tak berlangsung lama, beberapa saat kemudian Mada dapat dibekuk oleh para penjaga.
"Bugggggh". tubuh Mada terkena pukulan para penjaga yang membuatnya tak sadarkan diri.
"Tuan" Ronggo menggeleng pelan melihat Mada tak sadarkan diri. "Bukankah sudah ku katakan usahamu akan sia sia, di mana Malwageni yang selalu kau agungkan di saat seperti ini".
Salah satu penjaga mendekati Ronggo dengan tatapan sinis "Kau tidak perlu berusaha melarikan diri, akan ada yang menjemputmu hari ini".
Ronggo terdiam sesaat "Menjemputku?".
Dalam kegelapan malam mereka dibawa ke sebuah penjara yang menjadi tempat penyiksaan bagi orang yang berusaha melarikan diri.
Pikiran Ronggo kembali beberapa tahun sebelum Malwageni runtuh, saat itu tiba tiba puluhan prajurit Malwageni mengepung rumahnya.
"Keluarlah Browo, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada Malwageni. Yang mulia memerintahkan untuk memberikan hukuman mati pada pemberontak sepertimu!" Salah satu pemimpin pasukan Malwageni berteriak pada Browo.
Browo tersenyum sinis "Kalian benar benar busuk memanfaatkan Yang mulia Raja demi kepentingan pribadi kelompok kalian. Kau pikir aku tidak tau kalian bermain mata dengan Majasari?".
"Buggggh" Sebuah pukulan tepat mendarat di perutnya membuat tubuh Browo hilang keseimbangan.
Sepasang mata menatap dari kejauhan tanpa berani mendekat. Tubuh Ronggo bergetar hebat menatap ayahnya akan di hukum mati.
"Kenapa Yang mulia raja ingin menghukum ayah? bukankan ayah orang kepercayaan Yang mulia?".
Ronggo hanya bisa menatap ayahnya dari jauh tanpa berani mendekat. Ayahnya telah memerintahkan dirinya untuk tidak muncul dan ikut campur apapun yang terjadi.
Ronggo hanya bisa menatap kepergian Ayahnya yang diseret oleh beberapa prajurit Malwageni.
"Lalu apa gunanya selama ini ayah setia Pada Yang mulia raja jika balasannya seperti ini?.
***
"Kita sudah sampai Pangeran" Wardhana berkata pelan pada Sabrang yang sedang bermeditasi.
Sabrang sedang berlatih Cakra manggilingan, dia merasa perlu terus berlatih menggunakan Ilmu itu untuk memaksimalkan tenaga dalamnya.
Sabrang membuka matanya perlahan, tangannya mengambil kain yang tak jauh dari tempatnya dan melilitkan dikepalanya.
"Ayo paman".
Mereka melangkah keluar dari kapal, terlihat hamparan daratan yang dibeberapa titik dijaga beberapa pendekar.
Hanya ada satu bangunan yang sedikit besar yang menyambut mereka. Mata Sabrang sempat bertemu dengan tatapan Arkadewi beberapa saat sebelum Arkadewi melangkah ke arah bangunan yang kemudian di sambut ramah beberapa penjaga.
__ADS_1
"Inikah pulau tengkorak paman?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Wardhana mengangguk pelan "Dulu pulau ini menjadi tempat Yang mulia raja bersemedi dan meminta petunjuk sebelum mengambil keputusan besar. itu adalah pos penjagaan, di dalam hutan terdapat satu Desa yang dulu dihuni banyak orang namun kini Desa itu menjadi tempat tahanan Majasari yang diasingkan".
"Maaf tuan kami ingin mengunjungi tuan Mada" Wardhana menghampiri para penjaga yang menatapnya tidak bersahabat, sangat berbeda dengan sambutan mereka pada Arkadewi.
"Ada perlu apa kau dengannya?" Penjaga itu sedikit membentak Wardhana.
"Kami adalah teman lamanya tuan, sudah lama sekali kami tidak mengunjunginya".
"Kembalilah beberapa hari lagi, kami tidak menerima kunjungan hari ini".
"Tapi tuan" Wardhana mencoba meyakinkan
"Kau tuli? Kami tidak menerima kunjungan, Pergilah!!".
Wardhana mencoba berbicara kembali namun dicegah Sabrang.
"Sudah paman, kita pikirkan cara lainnya nanti" Sabrang setengah berbisik.
"Maaf tuan apakah tidak ada penginapan sekitar sini? bukankah jadwal keberangkatan kapal esok pagi".
"Kau pikir ini penginapan? Kau bisa bermalam di hutan sana banyak pepohonan rindang".
Wardhana kembali hendak menjawab namun ditahan oleh Sabrang.
"Baik tuan terima kasih" Sabrang berjalan ke arah hutan di belang pos penjagaan diikuti Wardhana.
"Pangeran.....".
***
"Ada yang ingin bertemu denganmu" Suara seorang prajurit mengagetkan Ronggo. Prajurit tersebut membuka kunci tempat Ronggo dan Mada ditahan.
"Ikuti aku" Ronggo sempat menoleh ke arah Mada sesaat sebelum dia mengikuti prajurit penjaga tersebut, terlihat Mada mengangguk pelan memberi tanda agar Ronggo mengikuti prajurit tersebut.
"Anda tuan Ronggo?" Arkadewi berdiri dan menundukan kepalanya memberi hormat.
Ronggo hanya mengangguk dan menatap wanita yang ada dihadapannya, dia merasa tidak pernah mengenalnya.
"Adipati Ametung meminta kami membawa anda ke Joyo geni, bersiapah" Arkadewi berbicara pelan.
Ronggo sedikit terkejut mendengar nama Ametung, dia sangat membenci nama itu. Ametung adalah salah satu orang kepercayaan ayahnya saat menjadi adipati di Joto geni namun Ametung berkhianat dan ikut menjebak ayahnya hingga akhirnya dihukum mati oleh Malwageni.
"Oh dia kini telah menjadi Adipati?" Ronggo tersenyum sinis. "Kalian pergilah aku tidak akan keluar dari pulau ini".
"Anda harus ikut dengan kami tuan" Arkadewi sedikit memaksa.
"Berapa mereka membayar kalian untuk nyawaku?".
Arkadewi tersenyum sinis menatap Ronggo "Jika tuan Adipati tidak memintaku membawamu sudah ku robek mulutmu". Suara Arkadewi meninggi, wajah Brojoseno pun mulai mengeras dan menatap tajam Ronggo.
"Kalian pikir aku takut mati? aku sudah mati sejak diasingkan di pulau ini".
"Kau tidak memiliki hak untuk menolak" Arkadewi menatap tajam Ronggo.
__ADS_1
"Kau ingin membuat kekacauan di pulau ini?, Walaupun Ametung adalah seorang adipati tapi kalian lupa dia hanya kaki tangan Majasari, apa kalian pikir Majasari akan diam saja melihat kalian membawa tahanannya pergi secara paksa?".
"Kau memang keras kepala". Tiba tiba Arkadewi menghilang dari pandangan Ronggo dan muncul dibelakangnya.
"Duagggh" Satu pukulan Arkadewi mengenai tengkuk Ronggo membuatnya tak sadarkan diri.
"Ikat dia, besok kita pergi dari sini" Arkadewi menatap Brojoseno.
"Baik ketua".
***
"Tidak ada jalan lain Pangeran" Wardhana berusaha meyakinkan Sabrang.
Sabrang terlihat berfikir sejenak namun tetap menggeleng.
"Jika kita membuat kekacauan disini bukankah Majasari akan curiga?".
Wardhana terlihat tersenyum sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Hamba mengerti kegelisahan Pangeran namun jika yang membuat kekacauan bukan kita mereka tidak akan mencurigai pergerakan kita".
"Maksud paman?" Sabrang terlihat bingung.
"Mata elang berada disini pasti mempunyai suatu alasan dan aku cukup yakin mereka pun sedang mencari seseorang di Pulau ini. Para penjaga itu menganggap kita adalah bagian dari Mata elang.
Kita akan menerobos masuk secara cepat menyelamatkan tuan Mada dan melimpahkan kesalahan pada mereka. Majasari akan mengira ini perbuatan Mata elang, Majasari tidak pernah membiarkan para tahanannya keluar dari pulau ini, aku yakin oknum pejabat Majasari yang membayar mereka untuk mengeluarkan atau membunuh seseorang dari sini demi kepentingan mereka sendiri".
Sabrang terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
"Kita tidak punya waktu lagi Pangeran, hanya hari ini penjagaan di pulau ini longgar dan kita sangat membutuhkan bantuan tuan Mada untuk menyusun rencana kita".
"Baiklah paman, aku ikuti rencana paman" Sabrang menganggukan kepalanya.
"Namun hamba ingin meminta sesuatu dari anda jika berkenan".
Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Mohon Pangeran jangan menggunakan Pedang Naga api dan jurus Api abadi karena mereka akan langsung mengerti jika itu anda".
"Baiklah aku tak akan menggunakan pedang ini" Sabrang mengambil ranting pohon yang seukuran pedangnya.
"Ayo kita cari Tuan Mada".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
Karyakarsa. com /RickypakeC
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***
__ADS_1