Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kebangkitan Naga Api II


__ADS_3

"Cepat sekali" Bahadur melompat mundur dan meletakan tubuh Mentari di bawah.


Sabrang berjalan mendekati Bahadur "KU BUNUH KAU".


"Ternyata memang susah melarikan diri dari Naga Api" Bahadur menggelengkan kepalanya.


"Tetua apa yang akan kita lakukan sekarang?" Sulis melompat mendekati Bahadur.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan".


"Apa yang terjadi disini?" Seseorang muncul bersama beberapa pendekar lainnya.


"Tetua Darma" Bahadur mengenali pendekar yang mendekatinya. Darma adalah salah satu wakil ketua Kelelawar hijau saat ini.


"Ah ketua? Anda masih hidup? dari mana saja anda selama ini?". Darma terkejut melihat Bahadur.


"Ceritanya nanti saja tetua, tolong bawa nona ini pergi dan berikan padanya penawar racun kelelawar".


"Mundur" Bahadur kembali melompat mundur menggendong Mentari diikuti Darma saat pedang berbentuk api melesat menyerang mereka.


"Siapa dia ketua" Darma menatap ngeri tubuh Sabrang yang diselimuti api merah.


"Iblis paling berbahaya". Darma mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Bahadur.


"Naga api telah bangkit, kita tidak akan bisa melawannya, ungsikan semua murid menjauh dari sini dan tolong bawa nona ini setelah kalian memberikan penawarnya. aku akan mencoba menahannya semampuku". Bahadur meminjam pedang salah satu muridnya.


"Andai ilmuku tidak dimusnahkan penghianat itu mungkin aku bisa sedikit menahannya".


"Kalian bawa nona ini dan pimpin semua orang untuk menjauh dari sini, aku akan membantu ketua". Darma memerintahkan salah satu muridnya untuk membawa Mentari menjauh.


"Tetua dia sangat berbahaya" Bahadur mencoba memperingatkan Darma.


"Bagaimanapun anda masih ketua kami, aku akan membantu sebisaku".


Mereka kembali menghindar saat Sabrang kembali menyerang.


"Apakah ini kekuatan manusia?" Darma dapat merasakan tekanan aura menekan tubuhnya.


"Di belakangmu ketua" Darma melesat ke arah Bahadur.


Sabrang tiba tiba muncul tepat beberapa jengkal dibelakang Bahadur.


"Jurus Pedang Halilintar".


"Duarrr" Serangan Darma menghantam pedang yang hampir mengenai Bahadur.


Beberapa saat kemudian Darma dan bahadur terpental terkena efek benturan serangan.


"Bahkan pedang halilintar tak mampu menembus api itu".


"Anda tidak apa apa ketua" Darma berkata pelan.


"Gawat! sudah tidak sempat...." belum selesai Darma berbicara tubuh Sabrang telah muncul dihadapannya dengan puluhan api berbentuk pedang melesat menyerang mereka.


"KU BUNUH KAU"

__ADS_1


"Inikah kekuatan Naga Api?" Bahadur memejamkan matanya pasrah, bahkan jika dengan ilmunya yang dia miliki tak akan mampu menghindar serangan itu.


"Duaarrrr" Sabrang terpental mundur selangkah, pedangnya menghantam aura biru yang menyelimuti tubuh seseorang yang muncul tepat beberapa saat sebelum pedangnya menghantam Bahadur.


"Tameng Dewa perang pun hanya mampu membuatnya mundur selangkah, kalian benar benar membuat kesalahan besar". Seorang pria tua berambut putih menoleh ke aran Bahadur.


"Anda....." Bahadur mengenali pria yang menyelamatkannya tadi.


"Mundur jangan lengah" Pria itu kembali mengeluarkan jurus tameng dewa perangnya untuk menangkis serangan Sabrang.


Bahadur melompat mundur diikuti pria itu beberapa saat kemudian.


"Bukankah segel kegelapan abadi menahan Naga api? bagaimana segel itu kini mulai menipis? Harusnya kubunuh anak ini saat di Sekte Serigala Hitam" Pria itu menggeleng pelan.


"Anda adalah tetua Brajamusti? Salah satu pendekar terkuat dari Sekte Angin biru".


"Bukan saatnya berkenalan, Iblis ini masih menguasai tubuh anak itu".


Brajamusti merapal sebuah jurus, dia menggigit jari telunjuk kanannya dan menuliskan sebuah mantra di telapak tangan kirinya.


"Ajian Mencengkram Langit" Telapak tangan kiri Brajamusti menghantam tanah, beberapa saat kemudian tiba tiba tanah bergetar hebat dan muncul puluhan tangan terbuat dari tanah mencengkram kaki Sabrang. Aura biru menyelimuti tanah berbentuk tangan tersebut.


"Ku kira ajian ini telah musnah ternyata tetua Brajamusti menguasainya" Bahadur menatap kagum.


Sabrang berusaha menebas tanah yang mencengkram kakinya dengan pedang namun tidak berhasil.


"Waktu kita tidak banyak, bantu aku melepaskan pedang dari tangannya" Brajamusti melesat cepat mendekati Sabrang dan kembali merapal sebuah jurus.


"Ajian tapak pelebur sukma" Serangan Brajamusti mengarah ke lengan Sabrang namun tiba tiba puluhan batu beterbangan membentuk perisai melindungi Sabrang.


"Dia menguasai Rengkah jiwa?" Brajamusti mengernyitkan dahinya.


Tanah yang mencengkram kaki Sabrang mulai terlihat retak tak mampu menahan kekuatan Sabrang.


"Ajian mencengkram langit sudah mencapai batasnya, padahal baru 60% Kekuatan yang berhasil dikeluarkan Naga Api, aku harus cepat". Brajamusti kembali menyerang Sabrang namun lagi lagi perisai batu menghalangi serangannya.


"Perisai itu merepotkan sekali" Brajamusti menggelengkan kepalanya.


"Tetua aku ingin minta tolong pada mu" Bahadur yang dari tadi mengamati berbicara pada Darma.


"Ada apa ketua?" Darma mengernyitkan dahinya.


"Gunakan Jurus pedang Kilat untuk menyerang perisai itu, kita harus membantu tetua Brajamusti menyingkirkan batu itu. Sepertinya perisai batu itu tidak sekuat tadi, tubuh anak itu hampir mencapai batasnya menerima tekanan kekuatan Naga Api".


"Tapi tetua bukankah anda melarang kami menggunakan jurus terlarang itu?".


"Aku tau namun kita tidak punya pilihan lain, jika ilmu ku tidak dimusnahkan Batara aku yang akan menggunakannya sendiri".


Darma mengernyitkan dahinya, dia baru sadar jika Batara tidak terlihat dari tadi dan apa yang dimaksud dengan memusnahkan ilmu milik Bahadur.


Namun dia sadar ini bukan saatnya bertanya "Baiklah ketua aku akan mencobanya".


Tubuh Darma melesat ke arah Sabrang dan merapal sebuah jurus


"Pedang Kilat" Aura putih menyelimuti pedang Darma sesaat sebelum menghantamkan pedangnya pada Sabrang.

__ADS_1


Brajamusti melompat mundur menyadari aura besar pada pedang Darma.


"Tak kusangka kelelawar hijau mempunya ilmu pedang yang mengerikan ini".


Serangan Darma menghantam Perisai Batu yang melindungi Sabrang dan menghancurkan perisai tersebut, namun pedang Dharma pun ikut hancur berkeping keping.


"Pedang ini tak mampu menahan kekuatan jurus Pedang kilat, sisanya kuserahkan pada anda tetua". Darma tersenyum sesaat sebelum tubuhnya terpental terkena aura Naga api.


"Aku sudah mencapai batasku, Pedang kilat benar benar ilmu yang mengerikan". Tubuh Darma ambruk dan perlahan kesadarannya mulai menghilang.


"Ini sudah cukup, terima kasih pendekar". Brajamusti melesat cepat dan menyerang Sabrang melalui celah yang dibuat oleh Darma.


Serangan Brajamusti tepat mengenai lengan Sabrang membuat pedang Naga api terlepas dari tangannya. Kobaran api merah di tubuh Sabrang perlahan mengecil.


Brajamusti mundur beberapa langkah setelah menyerang Sabrang.


Dia bernafas lega dan siap mengambil pedang yang tergeletak di tanah namu tiba tiba pedang tersebut melayang dan mengeluarkan kobaran api besar. Pedang itu berputar putar diudara dan bergerak ke arah Sabrang.


"Bagaimana mungkin anak itu memanggil kembali Naga api? ini Gawat" Brajamusti melesat ke arah Pedang yang masih melayang di udara.


Namun kobaran api tiba tiba menyerangnya, dia melompat mundur menghindari api yang menyerangnya.


"Gawat" Sesaat sebelum Pedang naga Api menyentuh tangan Sabrang sesosok tubuh mendekat dengan cepat.


"Cakar besi pheonix" Pedang Naga api terpental jauh, sosok tersebut melesat kearah pedang naga api terlempar dan memegangnya.


Kobaran api mulai membesar kembali seolah tidak ingin di sentuh orang tersebut.


"Kau mau membakarku? kau lupa kekuatanmu masih tersegel oleh Segel Kegelapan abadi".


Aura hitam mulai menyelimuti tangan Kumbara, dia berusaha menekan api yang semakin besar.


"Ledakan tenaga Dalam" Dalam hitungan detik aura hitam berhasil menekan Naga api dan tak lama kemudian api tersebut menghilang.


"Segel kegelapan abadi" Kumbara merapal sebuah jurus dan tangan kanannya menyentuh pedang Naga api.


Cahaya biru mulai masuk kedalam pedang Naga api sebelum menghilang sesaat kemudian.


Kumbara menoleh kearah tubuh Sabrang yang telah tumbang di tanah.


"Akhhhh" Kumbara sedikit menjerit memegang dadanya. tubuhnya jatuh berlutut di tanah dan Darah keluar dari hidungnya beberapa saat kemudian.


"Kau tidak apa apa Singa emas?" Brajamusti mendekat ke arah Kumbara.


"Aku baik baik saja tetua, kekuatan Naga api sangat mengerikan bahkan Ledakan tenaga dalam ku hampir tak bisa menekan Naga api yang bahkan hanya menggunakan 70% kekuatannya".


Kumbara mengatur nafasnya dan mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya.


"Bagaimana Naga api bisa merasukinya?".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote.


Ranking PNA kembali merosot mohon bantuan teman teman jika memang dirasa Novel ini menarik untuk dibaca.

__ADS_1


Terima kasih dan semoga sukses untuk kita semua***


__ADS_2