
"Kau memiliki ilmu yang sangat berbahaya bocah, aku harus melenyapkanmu sebelum terlambat" Kumbara si Singa emas menatap tajam Sabrang.
Sabrang masih mematung sambil mengatur nafasnya, kali ini dia benar benar sudah mencapai batasnya.
Dadanya terasa sakit, akibat Cakar besi Pheonix milik Singa emas. Walaupun dia berhasil membuat Perisai es namun tidak dapat menahan semua efek dari cakar milik Singa emas.
"Tetua Kumbara aku mohon kebaikan hatimu" Ki Gandana berjalan perlahan, tubuhnya masih merasakan sakit akibat serangan Asoka.
Kumbara menoleh ke arah Ki Gandana "Siapa kau? Apa kau tau ilmu apa yang digunakan bocah ini?".
Ki Gandana mengangguk "Jurus terlarang Pemusnah Raga".
"Lalu kenapa kau menghentikan aku?". Kali ini tangan Kumbara diselimuti tenaga dalam yang sangat besar siap menyerang Sabrang.
"Mohon tetua berbaik hati pada murid ku" Ki Gandana menundukkan kepala memberi hormat.
"Murid mu? apa kau sudah gila?"Suara Kumbara meninggi.
"Aku tau jurus Pedang Pemusnah Raga tapi anak ini berbeda".
"Berbeda? Pengguna Naga Api enam belas tahun lalu belum menguasai Pemusnah Raga, aku bersama beberapa tetua sekte lainnya butuh waktu untuk mengalahkannya bahkan nyawa kami hampir melayang. kau bisa bayangkan jika anak ini yang menguasai jurus terlarang itu berubah seperti Suliwa?".
Ki Gandana terdiam, dia pun merasakan betapa mengerikannya kekuatan tersembunyi Sabrang. apa yang diperlihatkan Sabrang hari ini baru dasar dari Jurus Pedang pemusnah raga.
"Dulu orang bernama Suliwa pun ingin menyatukan dunia persilatan, dia tidak ingin ada lagi saling bunuh antara Golongan putih dan hitam namun kau tau yang terjadi kemudian? dia yang membantai dan membunuh orang orang yang ingin dia satukan, ironis bukan?".
"Anda mengenal guruku?" Sabrang terkejut mendengar Kumbara menyebut nama Suliwa.
Kumbara mengernyitkan dahinya "Jadi dia gurumu?".
Sabrang mengangguk pelan.
"Kau tau bocah gurumu adalah orang baik, aku mengenalnya sebagai salah satu pendekar muda paling berbakat di jamannya. Namun pedang itu merubahnya, kau tidak tau seberapa berbahayanya pedang yang kau pegang itu".
"Aku tidak tau apa tujuan Suliwa mewariskan pedang itu padamu, namun kau masih hijau di dunia persilatan. Dunia persilatan tidak sesederhana Aliran putih dan hitam bahkan kini muncul aliran netral. Apakah semua orang di aliran putih adalah orang baik? atau di aliran hitam semua jahat?".
"Kelompok hitam mau pun putih dibuat oleh mereka untuk kepentingan mereka sendiri nak. Semua orang bergerak untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Banyak aliran putih yang merasa paling benar lalu memanfaatkannya untuk membunuh orang atas nama membela kebenaran, dan tidak semua orang aliran hitam seperti yang kau pikirkan".
"Hawa Nafsu dan ambisi dalam diri mereka yang bisa merubah mereka dan Pedangmu memanfaatkan ambisi manusia untuk merasuki dan merubah sifat mereka. Pedang terkutuk itu tak akan berhenti untuk selalu membuat kekacauan di dunia persilatan.
"Kau boleh memilih untuk melepaskan pedang itu atau kubunuh" Kumbara siap merapal sebuah jurus.
"Maaf tetua tapi Aku tidak akan menyerahkan pedang ini walau harus mati" Sabrang berkata dengan lantang.
__ADS_1
"Nak serahkan saja pedang itu, dengan jurus dan bakat yang kau miliki kau tetap akan menjadi pendekar hebat walau tanpa pedang itu". Ki Gandana mencoba membujuk Sabrang, dia tidak ingin Sabrang terbunuh.
Kekuatan Singa emas bahkan jauh di atas ki Gandana, dia tidak akan bisa melindungi Sabrang apalagi dengan keadaan tubuhnya yang terluka.
"Maaf guru, aku tidak akan mengecewakan kakek guru yang telah memberikan pedang ini padaku" Sabrang menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kau yang memilih jalanmu sendiri" Kumbara mengeluarkan aura yang sangat besar membuat tubuh Sabrang terjatuh berlutut tidak kuat menahan aura yang menekannya.
"Cakar besi pheonix" Dalam hitungan detik Kumbara telah muncul dihadapan Sabrang. belum sempat bereaksi tangan Kumbara telah mencekik lehernya.
"Kecepatan apa ini, aku bahkan belum sempat bereaksi".
"Bakat mu sangat tinggi namun sayang kau keras kepala" Kumbara siap menghantam tubuh Sabrang dengan jurusnya.
"Tetua mohon dipertimbangkan kembali" Ki Gandana berjalan mendekati Kumbara.
"Kau tak usah ikut campur!" Tiba tiba Ki Gandana melesat dengan sisa tenaga dalamnya mencengkram tangan Kumbara.
"Jika tetua memaksa aku terpaksa ikut campur".
Kumbara tersenyum sinis melihat tangannya dicengkeram oleh Ki Gandana.
"Kau kira kemampuanmu cukup untuk menghentikan aku?".
Tubuhnya ambruk di tanah dia kembali mencoba bangkit namun kekuatannya telah habis.
"Ledakan tenaga dalam? aku sering mendengar kehebatan jurus ini tak kusangka kini aku merasakannya sendiri".
"Aku terpaksa membunuhmu nak" Cakar besi pheonix menghantam tubuh Sabrang dengan keras namun tiba tiba Kobaran api melindunginya.
Beberapa saat kemudian tubuh Kumbara terlempar beberapa meter.
"Kekuatan Naga Api? bagaimana bisa? bukankah Segel kegelapan telah mengunci kekuatannya?". Raut wajah Kumbara berubah.
"Ilmu apa yang kau ajarkan pada anak ini?" Kumbara menatap tajam Ki Gandana.
"Rengkah Jiwa tetua".
"Pantas saja, dia secara tidak sadar menarik kekuatan Naga Api dan melemahkan Segel kegelapan dengan Cakra Manggilingan. Kau sudah membuat keputusan yang salah besar, kini aku pun belum tentu bisa mengalahkannya".
"Maksud anda?" Ki Gandana masih belum mengerti dengan penjelasan Kumbara.
"Jurus Cakra Manggilingan adalah jurus untuk membangkitkan Tenaga dalam di bawah alam sadar kita. kunci dari jurus ini adalah merasakan tenaga dalam yang tersembunyi. kemungkinan dia secara tidak sengaja merasakan kekuatan Naga api yang tersegel oleh Segel kegelapan dan menarik kekuatan naga api yang membuat Segel kegelapan melemah. Kita dalam masalah besar" Kumbara menggeleng pelan.
__ADS_1
Ki Gundana tersentak kaget dia tidak membayangkan jurus yang dia ajarkan akan membawa masalah.
***
"Kau sudah lihat? kekuatanmu hanya seujung kuku tua bangka itu bagaimana kau akan merebut Malwageni dengan kekuatanmu saat ini" Suara Naga api memenuhi pikiran Sabrang.
"Apa maksudmu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Terimalah kekuatanku, kau akan dengan mudah merebut Malwageni dan membalaskan dendam orang tuamu. mau sampai kapan kau akan menunggu jika dengan kekuatanmu saat ini".
Sabrang terlihat bimbang, dia memang merasakan bahwa dia sudah cukup memiliki ilmu yang tinggi namun semakin dia masuk ke dunia persilatan semakin dia sadar ilmunya masih sangat rendah.
"Kemarilah aku akan membantumu merebut apa yang harusnya jadi milikmu". Sebuah api membentuk tangan mengajak Sabrang berjabat tangan.
Tangan Sabrang perlahan bergerak menyambut jabat tangan api tersebut.
***
"Mundur" Kumbara melompat mundur menangkap tubuh Ki Gandana yang terpental oleh aura Api berwarna merah yang kini menyelimuti Sabrang membentuk tubuh Raksasa.
"Ini gawat, Kekuatan Naga api mulai menekan Segel kegelapan, jika dibiarkan maka Naga api akan benar benar menguasai tubuh anak itu".
Kumbara melesat mendekati Sabrang dan mencoba meraih Pedang Naga api ditangannya.
"Segel kegelapan abadi" Tangannya berusaha menyentuh Pedang namun dia kembali terpental terkena tekanan disekitar Sabrang.
"Aku tidak bisa mendekatinya". Kumbara mengatur nafasnya. Dia telah menggunakan tenaga dalamnya untuk melindungi tubuhnya dari tekanan Naga api namun dia tetap tidak mampu mendekatinya.
"Anda menguasai Jurus Segel kegelapan abadi?" Ki Gandana menatap Kumbara.
"Segel kegelapan abadi jurus yang berasal dari Dieng, selain Kelompok teratai merah aku pun menguasainya. Kita benar benar harus melakukan sesuatu sebelum terlambat" Kumbara terlihat berfikir.
Mentari memandang Sabrang dari jauh dengan wajah cemas, bahkan ditempatnya berdiri yang jauh dari Sabrang tubuhnya terasa hampir meleleh.
"Jika aku bisa mendekatinya mungkin aku dapat melakukan sesuatu" Kumbara menggeleng pelan.
***
Saat tangan Sabrang hampir menyentuh Kobaran api yang mengajaknya berjabat tangan tiba tiba muncul sesosok tubuh mencengkram tangannya.
"Anda tak harus melakukan ini nak" Sesosok tubuh itu berbicara dengan suara berat.
Seorang kakek dengan janggut panjang berbaju hitam tersenyum dan menarik Sabrang menjauh dari Naga Api.
__ADS_1