Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Penyerangan Sekte Tapak Es Utara


__ADS_3

"Hei, kalian harus melihat ini". Arung membuka gulungan yang diambilnya dari Petta dan menunjukannya pada Sabrang. "Apa kalian merasa pernah melihat tempat ini?". Arung menunjuk gambar yang lebih mirip peta yang ad digulungannya.


Sabrang mengernyitkan dahinya sambil berfikir, dia merasa seperti pernah melihat tempat itu.


"Petak gambar ini adalah tempat terbuka yang sekarang kita injak ini. Pepohonan ini sedikit berbeda mungkin karena saat pembuatannya pepohonan berada disini. Namun bebatuan yang ada disana masih tersusun seperti gambar ini. Jika benar gambar digulungan ini adalah tempat ini maka gambar ini adalah pintu rahasia bukan?". Arung menunjuk gambar sebuah pintu yang ada didekat gambar tumpukan batu batu besar tempat Tungga dewi dan Lasmini beristirahat.


Sabrang tersentak kaget setelah mendengar penjelasan Arung, setelah dia lihat lebih lama gambar yang ada digulungan itu sangat mirip dengan lokasi mereka istirahat sekarang.


"Jadi ditempat ini ada pintu rahasia menuju sekte tapak es utara? Lalu siapa yang membuat peta dan jalan rahasia ini? Bibi Mantiki tak pernah menceritakan tentang jalan rahasia ini". Tanya Sabrang bingung.


"Aku tidak tau siapa yang membuat jalan rahasia ini namun saat tuan Panca berada didaratan Celebes dia mendapatkan petunjuk petunjuk dari batu batu tulis kuno dan menuangkannya dalam gulungan ini".


"Apa kau tidak berfikir batu itu terlalu mencolok berada ditengah padang rumput seperti ini? sebaiknya kita periksa sekarang, peta ini tidak mungkin ditulis tanpa alasan. Aku yakin apapun itu pasti ada sesuatu yang penting". Arung melanjutkan.


Arung berjalan mendekati tumpukan batu itu bersama Sabrang dan Mentari. Tak lama setelah mereka memeriksa sekitar tempat itu, Arung menemukan bebatuan yang sepertinya saling terkait yang dipisahkan oleh semacam tuas. Saking sempurnanya penyusunan batu itu membuat siapa saja yang melihatnya tidak menyadari jika ada tuas diantara bebatuan itu.


"Pintu ini dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi, bangunannya jauh lebih rumit dari Dieng". Arung berdecak kagum.


"Kau pernah masuk Dieng?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku pernah berusaha masuk tempat itu untuk menyelidiki keberadaan kitab paraton namun terhalang oleh segel kalian. Saat itu aku menyadari jika kitab paraton memang dimiliki Iblis petarung karena struktur mereka bangun sangat rumit dan maju namun tempat itu masih kalah dengan kerumitan pintu ini". Tunjuk Arung pelan.


"Ayo kita lihat apa yang kita temukan didalam sana". Arung menggeser tuas batu itu perlahan. bersamaan dengan tergesernya tuas itu sebuah lempengan batu bergerak kesisi kanan dan membuka sebuah celah yang cukup besar. Aroma lembab sangat terasa saat mereka melangkah masuk kedalam celah.


"Tempat ini terendam air?". Ucap Arung saat merasakan kakinya menyentuh air. Arung berjongkok sambil memegang air setinggi mata kaki dengan tangannya.


"Air laut? bagaimana bisa ada air laut ditempat ini? Jarak tapak es utara ke laut sangat jauh". Arung tersentak kaget.


"Apa itu benar benar air laut?". Tanya Sabrang pelan.


Arung mengangguk pelan sambil membuat penerangan dengan obor yang dia dapatkan dimulut gua.

__ADS_1


"Sebaiknya kita berhati hati, aku pernah membaca tulisan yang konon salinan kitab paraton. Tulisan mengenai ilmu untuk mengawetkan sesuatu kuncinya ada pada air laut dan aku takut air ini digunakan untuk mengawetkan sesuatu ditempat rahasia ini".


"Mengawetkan menggunakan air laut? apa bisa?". Mentari bertanya penasaran.


Arung menarik nafasnya panjang "Kau tau kenapa kitab paraton begitu diperebutkan didunia persilatan?. Kitab itu konon berisi ilmu pengetahuan yang sangat maju yang berasal dari pusat dunia Telaga khayangan api".


"Telaga khayangan api". Gumam Sabrang dalam hati.


Mereka terus melangkah masuk kedalam ruang rahasia itu sambil sesekali memberi tanda di dinding gua agar tidak tersesat terlalu jauh.


***


Ditengah kegelapan malam puluhan orang terlihat melesat diantara bangunan sekte Tapak es utara. Mereka bergerak tanpa menimbulkan suara sedikitpun menandakan ilmu kanuragan mereka sangat tinggi.


Salah seorang pendekar diantara mereka memberi tanda untuk menyebar kebeberapa tempat. Setelah melihat gerakan tangan pendekar itu beberapa orang memisahkan diri dari rombongan dan bergerak kesegala arah.


Namun ada satu orang yang merasakan kehadiran mereka bahkan jauh sebelum mereka masuk.


Candrakurama memang memiliki kelebihan yang sedikit unik, dia bisa merasakan hawa kehadiran seseorang dari jarak yang cukup jauh sekalipun.


"Apakah para pendekar daratan Hujung tanah?". Tanya Mahawira setengah berbisik.


"Aku tidak tau namun yang pasti jumlahnya puluhan dan mereka semua adalah pendekar pilih tanding".


"Lalu apa yang harus kita lakukan?". Tanya Mahawira pelan.


"Tujuan kita hanya mencari kitab dewa es dan membawanya pergi. Hindari sebisa mungkin dengan penyusup itu namun jika terpaksa aku akan dengan senang hati membunuh mereka semua". Chandrakurama tersenyum dingin.


"Malam ini kita batalkan dulu rencana kita menyusup di hutan itu, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang". Ucap Candrakurama pelan.


"Baik kakang". Jawab Mahawira pelan.

__ADS_1


Candrakurama membuka sedikit tirai kamarnya untuk melihat keluar. Terlihat beberapa pendekar melesat dengan kecepatan tinggi dihadapannya.


"Sekte Kuntau timur? Tak kusangka mereka ada disini, apakah artinya mereka juga mengetahui jika Tapak es utara memiliki hubungan dengan Pendekar langit merah?".


Mahawira sedikit terkejut mendekar kakak seperguruannya menyebut sekte kuntau timur. Salah satu sekte terbesar di Daratan Hujung tanah itu pengguna jurus ilusi neraka.


"Kakang yakin mereka pendekar Kuntau timur?".


"Aku sangat yakin dengan mataku, beberapa kali berhadapan dengan mereka membuat tubuhku bereaksi ketika merasakan tenaga dalam aneh jurus Ilusi Neraka. Dengar Wira, masalah kali ini jauh lebih berbahaya dari yang kuperkirakan karena keberadaan Kuntau timur. Persiapkan semuanya untuk menghadapi hal terburuk, jika terpaksa menghadapi mereka aku akan menahan mereka sekuat tenaga ku, tugasmu temukan kitab itu secepatnya".


"Baik kakang". Mahawira menundukan kepalanya.


"Yang jadi akan sangat menarik adalah bagaimana pendekar pengguna Naga api itu jika berhadapan dengan 40 Pilar langit Kuntau timur yang terdiri dari 40 murid paling berbakat milik sekte kuntau timur yang memang diciptakan sebagai pendekar berani mati. Api melawan Angin, patut ditunggu". Gumam Candrakurama dalam hati sambil tersenyum.


***


Suliwa hampir mengayunkan pedangnya kearah Wulan sari ketika mereka bertemu di dekat aula utama sambil mengendap endap.


"Aku hampir membunuhmu tetua". Suliwa menggeleng pelan.


"Berarti anda juga merasakan?". Bisik Wulan sari pada Suliwa.


Suliwa menggeleng pelan "Tenaga dalamku tidak setinggi anda nona. Aku tak akan mampu merasakan tenaga dalam milik orang lain namun instingku mengatakan jika malam ini terlalu hening dan berbahaya".


"Aku sempat merasakan keberadaan aura aneh yang memyelimuti tempat ini walau hanya sesaat. Sepertinya pemilik aura itu menyembunyikan keberadaannya". Ucap Wulan sari pelan.


"Jika mereka bisa menyembunyikan hawa keberadaannya darimu berarti mereka bukan pendekar sembarangan. Ini akan menjadi buruk karena hanya beberapa pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tinggi disini. Kita akan benae benar terdesak.


Aku akan memberitahukan hal ini pada tetua Mantili, kau pergi beritahu Angeng dan katakan padanya untuk bersiap bertarung".


"Baik". Jawab Wulan sari singkat.

__ADS_1


__ADS_2