
Sebuah hamparan padang rumput yang sangat luas tampak mengelilingi sebuah bangunan megah, tak ada yang akan menyangka didalam hutan lali jiwo terdapat tempat yang sangat indah.
Jembatan penghubung dua sisi jurang dan bangunan megah berwarna kuning emas tampak kontras dengan hijaunya padang rumput yang membuat tempat itu semakin indah.
Wulan tampak berlutut di depan kuburan yang cukup terawat, sangat berbeda dengan kuburan lainnya yang telah banyak ditumbuhi rerumputan.
Dia membuka matanya saat merasakan kehadiran seseorang didekatnya.
"Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, tal kusangka kau berkembang sangat cepat," ucap Wulan tanpa menoleh.
"Sorik marapi telah hancur, guru tak perlu khawatir," jawab Sabrang pelan.
"Hancur? ada yang ingin kuceritakan padamu namun berilah hormat terlebih dahulu pada keluargaku," balas Wulan sambil berdiri dan mempersilahkan Sabrang untuk berlutut.
Sabrang mengangguk pelan, dia kemudian berlutut dihadapan kuburan itu cukup lama sebelum kembali bangkit.
"Ikut denganku," ucap Wulan pelan, dia melangkah masuk kedalam salah satu ruangan dibangunan itu.
"Dulu ruangan ini digunakan para pendekar Masalembo untuk menjaga makam ini agar tidak ada yang mendekati, namun seiring dengan waktu mereka mulai mengendurkan penjagaan karena fokus mengejar salah satu pendekar yang selalu berusaha menghancurkan mereka.
Pendekar muda itu sangat ditakuti oleh Masalembo, bahkan oleh Lakeswara Dwipa sekalipun. Banyak pendekar Masalembo meregang nyawa ditangannya, seorang pendekar yang entah dari mana itu memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.
Pendekar itu dijuluki iblis Rubah putih karena memiliki ciri khas rambutnya yang putih. Kemunculannya begitu menggemparkan Masalembo karena dia bukan berasal dari tiga trah besar namun kekuatannya hampir menyamai mereka," ucap Wulan pelan.
"Jadi sampai saat ini tidak ada yang tau dari mana dia berasal?" tanya Sabrang.
"Hanya aku yang mengetahui siapa dirinya, itupun secara tidak sengaja saat mengobatinya sedang terluka parah, namun bukan itu yang ingin kubicarakan dengan mu. Biarlah rahasia tetap menjadi rahasia, kami memiliki alasan untuk tidak membuka siapa sosok dibalik rubah putih sampai saatnya tiba" Wulan membuka sebuah gulungan dan menunjukkannya pada Sabrang.
"Masalembo dibentuk oleh tiga trah besar dengan tujuan membentuk dunia baru yang menurut mereka sebuah masa depan terbaik bagi manusia.
Lakeswara Dwipa yang juga leluhur pertamamu adalah pemimpin tertinggi yang dipanggil Yang mulia. Lalu empat wakil pemimpin tertinggi yang memiliki kuasa sama besarnya dengan Lakeswara berasal dari tiga trah lainnya.
Kemudian komandan tertinggi pasukan masalembo dipegang oleh Bima Tumerah yang juga saudara kandung Arjuna. Ilmu kanuragan dan bakatnya jauh di atas Arjuna," ucap Wulan sambil menunjuk pohon struktur Masalembo yang dia gambar.
"Bima tumerah? bukankah Kuntala pemimpin tertinggi setelah mereka membekukan tubuh para pemimpin dunia? aku tidak menemukan sama sekali mereka yang kau sebutkan saat menyerang Masalembo," jawan Sabrang cepat.
"Itulah yang membuatku bingung, Dewa pelindung Masalembo dan Sorik marapi hanya sebagian kecil dari pasukan Masalembo yang dibentuk oleh mereka. Daratan Masalembo seolah telah ditinggalkan setelah pengkhianatan Arjuna. Mereka hanya menempatkan sembilan dewa penjaga, Kemana mereka pergi dan apa rencana setelah Arjuna berkhianat masih menjadi misteri.
Lawan yang akan kita hadapi jauh lebih menakutkan dari yang kau pikirkan, bahkan mungkin jauh lebih pintar dari Wardhana sekalipun. Aku ingin meminta izin padamu untuk bicara dengan orang yang bernama Wardhana. Saat ini Rubah putih sedang melacak dimana mereka bersembunyi, kita harus mempersiapkan semuanya sampai dia menemukan tempat itu," jawan Wulan.
"Paman Wardhana? guru mengenal paman?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Tidak, namun seseorang sepertinya menyiapkan kalian berdua untuk menjadi senjata untuk melawan Masalembo dan aku ingin memastikan sesuatu," ucap Wulan sambil tersenyum penuh warna.
Dia bangkit dari duduknya dan meminta Sabrang untuk kembali ke Air terjun lembah pelangi.
"Rubah putih sudah menunggumu, berlatihlah sekuat tenaga karena orang yang akan melatihmu kali ini bukan pendekar sembarangan dan jika kau beruntung kau akan mengetahui siapa sosok dibalik topengnya. Aku akan mengunjungi kerajaanmu malam ini dan menjemput selir yang kau ceritakan. Berhati hatilah, ada saatnya Rubah putih berubah menjadi sangat kejam. Terima kasih sudah mau memberi hormat pada leluhurku," ucap Wulan pelan.
__ADS_1
***
Wardhana tampak pucat saat keluar dari dimensi ruang dan waktu milik Tungga dewi. Nafasnya tersenggal menandakan tenaga dalamnya hampir habis.
"Apa kau sudah menemukan petunjuk mengenai dimensi ruang dan waktu?" tanya Tungga dewi yang duduk disebelah Ciha disebuah ruangan yang bercorak merah.
"Maaf gusti ratu, hamba benar benar belum memahami bagaimana sistem kerja dimensi ruang dan waktu," jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
"Tak apa, besok kita coba lagi, aku masih memiliki cukup tenaga untuk menggunakan jurus itu," jawab Tungga dewi ramah sambil bangkit dan berjalan pergi.
"Mohon jaga kandungan anda Gusti ratu," ucap Wardhana saat melihat perut tungga dewi yang mulai terlihat terisi.
"Paman jangan khawatir, aku adalah mantan pemimpin Hibata," jawab Tungga dewi sambil tersenyum.
"Beristirahatlah Ciha, aku akan tidur disini," ucap Wardhana sambil merebahkan tubuhnya di salah satu tempat tidur yang memang disediakan untuknya.
"Anda juga harus beristirahat tuan, sudah hampir satu minggu anda tidur di ruangan ini," jawab Ciha pelan.
"Aku baik baik saja, harapan kita satu satunya untuk menemukan para pemimpin dunia adalah dengan memecahkan dimensi ruang dan waktu. Aku harus memastikan semua terpecahkan saat Yang mulia selesai latihan," jawab Wardhana sambil memejamkan matanya.
"Hamba mohon diri," ucap Ciha sambil melangkah pergi.
Wardhana hanya mengangguk tanpa membuka matanya, tubuh dan pikirannya benar benar terkuras akhir akhir ini.
Setelah berhasil menekan dan memberi pelajaran pada sikap Saung galah yang mencaplok wilayahnya dia masih belum bisa beristirahat.
Dia harus segera memecahkan dimensi ruang dan waktu untuk melacak para pemimpin dunia yang telah lebih dulu memecahkan misteri itu.
"Sepanjang mataku memandang, dimensi ruang dan waktu hanya berwarna putih tanpa ada apapun, bagaimana Masalembo mampu memecahkannya? apa aku melewatkan sesuatu?" gumamnya dalam hati.
"Apakah seorang patih hanya diberikan tempat sekecil ini olehnya? dia benar benar raja yang tak tau terima kasih," suara seorang wanita sempat mengejutkan Wardhana, lengannya hampir melompat namun dia mengurungkannya.
Wardhana tetap tenang dan tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Aku tak memiliki banyak waktu, katakan siapa kau dan apa maumu?" jawab Wardhana pelan, dia masih memejamkan matanya.
"Waw, aku sangat terkejut dengan rasa percaya dirimu yang sangat tinggi, kau bahkan tidak bergerak sama sekali saat tau kehadiranku. Apa kau tidak berfikir jika aku musuhmu, maka saat ini kau sudah tewas," jawan Wulan sambil duduk dan menatap Wardhana.
"Aku memasang segel udara di seluruh area keraton, semut pun tak akan lolos dari pengamatan ku. Kau muncul dari sisi barat melewati beberapa penjaga kerajaan dan langsung melesat masuk, itu artinya kau sudah mengenali keraton ini atau seseorang menggambarkan situasi keraton karena sisi barat keraton sangat dekat dengan ruangan yang ku gunakan, sejak awal kau memang mencariku.
kau melumpuhkan empat prajuritku tanpa melukai mereka sedikitpun, itu artinya kau tidak berniat menyerang Malwageni. Jika aku ingin, para pendekar Hibata yang bersembunyi sudah menghadang saat kau melumpuhkan para penjaga itu namun aku mencegah mereka karena ingin tau apa tujuan dan siapa dirimu. Semua gerakanmu dari awal sudah kurasakan memalui segel udara.
Kau mengatakan (Apakah seorang patih hanya diberikan tempat sekecil ini olehnya? dia benar benar raja yang tak tau terima kasih), ucapan Olehnya menandakan kau mengenal Yang mulia dan mungkin Yang mulia yang memintamu menemuiku, lalu untuk apa aku harus takut?" jawab Wardhana penuh percaya diri.
Wulan tampak takjub melihat Wardhana, dia bisa membaca semua gerakannya bahkan mampu mengidentifikasi lawan atau kawan hanya dari pergerakan tubuhnya.
"Kau benar benar membuatku sangat terkesan, membaca situasi dalam waktu yang singkat. Segel udara dan pergerakan prajurit dibawah komando mu membuat pertahanan keraton ini rapat tanpa cela. Arya dwipa benar benar mempersiapkan semuanya," jawab Wulan pelan.
__ADS_1
Wajah Wardhana berubah seketika saat mendengar nama Arya Dwipa, dia membuka matanya dan duduk sambil menatap Wulan.
"Apa kali ini gerakanku diluar perkiraanmu?" ucap Wulan sambil tersenyum karena dia berhasil menarik perhatian Wardhana.
"Katakan siapa anda sebenarnya?" tanya Wardhana dengan wajah yang masih tenang.
"Kau boleh memanggilku Wulan, aku adalah guru dari rajamu," jawab Wulan.
"Ah, maaf tetua, aku benar benar tidak mengenali anda," jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
"Tak perlu sungkan, aku sudah memaafkan mu karena kau berhasil membuatku terkesan. Apa keluargamu berasal dari keluarga pendekar?" tanya Wulan heran. Dia sudah berusaha menyelidiki latar belakang Wardhana namun yang dia temukan sangat mengejutkan. Wardhana lahir dari keluarga biasa disebuah desa kecil.
"Maaf tetua, hamba hanya anak dari petani kecil yang dibunuh oleh Majasari dan Yang mulia Arya dwipa menyelamatkanku," jawab Wardhana pelan.
"Kau bahkan lahir dari keluarga biasa, sepertinya kepandaianmu memang sebuah anugrah atau alam yang mengaturnya?" gumam Wulan dalam hati.
"Rajamu saat ini sedang berlatih bersama Rubah putih untuk beberapa purnama, aku ingin kau menyiapkan beberapa hal yang kuminta sambil menunggu dia selesai latihan," ucap Wulan.
"Apa saja yang anda minta tetua, aku akan mengusahakannya," jawab Wardhana sopan.
"Siapkan aku tempat khusus untuk melatih selir rajamu, dia memintaku mengobati racun dalam tubuh wanita itu. Jangan lupa siapkan kamar untukku karena aku akan tinggal disini."
"Aku akan menyiapkan semuanya tetua," jawab Wardhana cepat.
"Yang kedua aku ingin membahas rencana untuk melawan Masalembo bersamamu. Aku dan Sabrang tadi diserang oleh Sorik marapi, mereka mulai bergerak dan kupastikan semua tidak sesederhana yang kau pikirkan," Wulan melempar gulungan yang dari tadi dipegangnya.
"Itu adalah gulungan yang diberikan Naraya padaku, aku yakin Naraya ingin menunjukkan sesuatu padaku namun sampai detik ini aku tidak bisa memecahkan apa pesannya.
Saat ini adalah waktu yang paling tepat jika ingin menghancurkan Masalembo, keberadaan Sabrang dan mungkin dirimu memberi harapan yang dulu sempat mengecil. Pecahkan pesan Naraya itu dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan.
Satu yang harus kau tau, Arya dwipa mengajakmu bergabung bukan hanya demi Malwageni, untuk orang sepintar dia kerajaan ini terlalu kecil jika harus dipikirkannya. Ada hal besar yang dia persiapkan sejak dulu kan kau masuk dalam rencananya."
"Ah ini?" Wardhana tampak tersentak kaget saat melihat sebuah gambar pedang yang ada di gulungan itu.
"Apa kau mengetahui sesuatu?"
Wardhana berjalan kesebuah lemari penyimpanan senjata dan mengambil pedang kesayangannya yang diberikan Arya dwipa padanya.
"Pedang ini pemberian Yang mulia Arya dwipa padaku, apakah anda lihat gambar ini? pedang itu tampak sama dengan yang kumiliki," ucap Wardhana pelan.
Wulan tersenyum kecil sambil bangkit dan bersiap pergi.
"Jika memang pedang itu sama, apa kau mengerti maksud Arya Dwipa memberikan pedang itu padamu?" tanya Wulan.
Wardhana mengangguk pelan, "Aku akan memecahkan pesan ini dan akan kubuktikan jika Yang mulia Arya dwipa tidak salah memilihku," jawab Wardhana yakin.
"Baiklah, aku bisa sedikit tenang saat ini. Aku akan menemui pengguna Ajian lebur sukma itu untuk mempersiapkan semuanya, ku harap kau tidak mempersulitku menemuinya dengan segala aturan kerajaanmu," ucap Wulan sambil melangkah pergi.
__ADS_1
"Anda diperintah langsung oleh Yang mulia, akan kupastikan tak ada yang mempersulit anda selama berada di kerajaan ini," jawab Wardhana pelan.
"Baik, ku tunggu kejutan lainnya darimu."