
Samudranta adalah sebuah daratan terbesar
yang berada di ujung timur Nuswantoro. Dunia persilatan menjuluki tempat itu sebagai daratan misterius karena selain letaknya yang sangat sulit dijangkau, beberapa pendekar yang berhasil mendekat dan selamat mengaku melihat ada energi aneh melindungi.
Energi berwarna merah yang diceritakan melindungi daratan itu seolah menolak siapapun yang berusaha mendekat.
Tak banyak pendekar yang bisa selamat setelah mendekati tempat itu, selain karena lautan yang terkenal sangat ganas, kapal mereka biasanya akan hancur terkena tekanan aura merah itu dan para penumpangnya hilang secara misterius.
Tak pernah ada yang tau dari mana aura merah itu berasal dan untuk melindungi apa namun yang pasti dengan segala misteri dan keanehan yang menyelimutinya, daratan Samudranta adalah tempat terindah di Nuswantoro.
Hampir seluruh daratan ini berupa pegunungan dan hutan khas tropis yang biasanya menyimpan banyak misteri, dan tepat di tengah daratan itulah ada sebuah telaga aneh yang airnya berwarna hijau.
Tak jauh dari telaga, ada empat orang pendekar yang mengenakan pakaian serba hitam dan penutup kepala terlihat duduk bersila mengelilingi telaga aneh itu.
Salah satu pendekar tiba tiba membuka matanya saat seorang pemuda bergerak kearahnya dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat dihadapannya.
"Tuan Ardhani, apa anda merasakannya juga?" ucap pemuda itu terbata bata sambil mengatur nafasnya.
"Maksudmu energi Iblis Api? sepertinya memang sudah hampir tiba waktunya," jawab Ardhani pelan.
"Jadi ramalan tentang kemunculan Iblis api yang menjadi pertanda awal pertumpahan darah besar di Nuswantoro benar?" balas pemuda itu.
"Atlantis tak akan berhenti begitu saja untuk menguasai harta terbesar Latimojong dan aku yakin mereka akan menggunakan Iblis api untuk mencapai ambisinya. Aku akan menemui ketua untuk membicarakan masalah ini, sepertinya sudah saatnya kita kembali ke Jawata," jawab Ardhani pelan sebelum bangkit dari duduknya.
"Tarik segel pelindung telaga, aku harus bicara pada ketua sekarang," ucap Ardhani sambil melangkah ke pinggir telaga.
Tiga pendekar itu langsung menarik energinya setelah mendengar perintah Ardhani. Tak lama, air yang berwarna hijau itu tiba tiba bergerak sebelum menyusut dan hilang seolah terhisap oleh sesuatu dari dalam perut bumi.
"Aku akan segera kembali, jangan biarkan ada yang mendekat saat pintu suci Kontilola terbuka," ucap Ardhani sebelum melompat kedalam telaga yang sudah mengering itu.
"Baik tuan," ucap mereka bersamaan.
Sebuah lubang dimensi tiba tiba terbentuk di dinding telaga dan menghisap tubuh Ardhani dengan cepat.
Bagai menggunakan jurus dimensi ruang dan waktu, tubuh Ardhani berpindah tempat dan muncul di reruntuhan kuno yang ada di tengah kota megah.
"Selamat datang tuan Ardhani," ucap salah satu pendekar yang menjaga reruntuhan bangunan itu.
"Izinkan aku bertemu ketua, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," jawab Ardhani pelan.
"Maaf tuan, ketua sedang berlatih ilmu kanuragan, kami takut..."
"Ini mengenai kemunculan Iblis api, aku sudah merasakan energinya," potong Ardhani cepat.
"Iblis api? apa anda yakin?" wajah pendekar penjaga itu berubah seketika.
"Kami merasakannya dengan sangat jelas di atas sana, apa ada hal yang lebih penting dari ramalan tentang kehancuran Nuswantoro?"
Pendekar itu terlihat ragu untuk sesaat sebelum menganggukkan kepalanya.
"Mohon jangan sebarkan dulu kabar ini pada penduduk Lemuria, aku takut akan terjadi kekacauan di tempat ini. Ikuti aku, ketua sedang berada di bukit pengasihan," ucap pendekar itu sebelum melesat pergi.
"Bukit pengasihan? jangan jangan..."
__ADS_1
"Sebenarnya, ketua sudah mendapat firasat tentang kemunculan Iblis api melalui mimpi dan dia memutuskan menyepi di bukit pengasihan untuk meminta petunjuk pada nyonya Purwati sebelum mengambil keputusan," jawab pendekar itu pelan.
"Begitu ya... Jadi Iblis api benar benar mengkhianati kita dan tuan Sanjaya?" balas Ardhani pelan.
"Begitulah petunjuk yang diterima oleh ketua, sejak awal kita harusnya tidak percaya begitu saja pada ruh yang tercipta dari energi jahat batu Satam."
"Atlantis benar benar tidak tau di untung, tuan Sanjaya sudah menerima mereka dengan tangan terbuka, bahkan mengajari ilmu kanuragan warisan leluhur kita Latimojong, tapi mereka menyerang kita dan menculik tuan muda Jaya Setra," ucap Ardhani geram.
"Kita sudah sampai," ucap pendekar itu sambil menunjuk sebuah bukit kecil yang dikelilingi sungai besar, tampak seorang pria sedang bersemedi di atas batu yang ada di puncak bukit.
Setelah bicara pada para pendekar yang menjaga bukit itu, Ardhani langsung naik keatas bukit dan berlutut dihadapan pria itu.
"Hamba mohon menghadap ketua," ucap Ardhani pelan.
Pria itu membuka matanya perlahan dan tersenyum pada Ardhani.
"Apa terjadi sesuatu di atas sana?" ucap pria itu lembut.
"Maaf ketua, aku ingin melaporkan tentang kemunculan Iblis api, sepertinya ramalan itu sudah dekat," jawab Ardani sopan.
"Aku tau, beberapa hari lalu ibu menemui aku dan memperingatkan jika Atlantis telah bangkit bersama Iblis api. Mereka masih belum menyerah untuk menguasai harta terbesar Latimojong," ucap Layang Yuda sambil menggeleng pelan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan ketua?" tanya Ardhani kembali.
"Aku tidak ingin terburu buru mengambil keputusan ini hanya karena Iblis Api telah muncul, banyak yang harus dipastikan dulu karena kita sudah lama mengurung diri di tempat ini. Aku ingin kau membawa beberapa pendekar ke Jawata dan menyelidiki tentang masalah ini, setelah semuanya jelas, baru kita bergerak," jawab Layang Yuda pelan.
"Bukankah ibu anda sudah memberi pesan ketua? apa lagi yang harus dipastikan?" tanya Ardhani cepat.
"Baik tuan..aku akan pergi ke Jawata," jawab Ardhani.
Layang Yuda menarik nafasnya panjang sebelum memejamkan matanya kembali saat Ardhani sudah pergi.
"Ibu, apakah benar ibu mengkhianati ayah dan suku Lemuria? jika benar mengapa ibu datang kembali dan memperingatkan aku tentang kebangkitan suku Atlantis? Apa yang sebenarnya terjadi saat aku pergi dan kemana adikku saat ini?" ucapnya dalam hati.
***
"Kakek Panca? tidak mungkin, apa paman sudah gila menuduh kakek seperti itu," wajah Sabrang tiba tiba berubah saat Wardhana menjelaskan tentang keanehan Ken Panca dan kemungkinan itu bukan dirinya.
"Hamba mohon maaf Yang mulia, tapi..." belum selesai Wardhana bicara, Sabrang sudah memotongnya kembali.
"Kakek kehilangan lengan kirinya karena membantu kita melawan Lakeswara dan paman curiga padanya? Lalu siapa lagi yang akan dicurigai besok? Dewi, Tari atau Ibuku? suara Sabrang tiba tiba meninggi.
Wardhana terdiam sambil menundukkan kepalanya, dia tidak berani sedikitpun menatap wajah Sabrang.
"Yang mulia, mohon bersabar dan biarkan paman Wardhana menyelesaikan ucapannya," ucap Mentari pelan, dia berusaha menenangkan Sabrang.
"Cukup Tari! Aku selalu mendengarkan semua rencananya, bahkan setelah beberapa kali dia melakukan kesalahan tapi kali ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana kalian bisa menuduh leluhurku sebagai pengkhianat? Andai yang dikatakan paman mengenai ruh yang merasuki kakek bukankah seharusnya Naga Api bisa merasakannya?" jawab Sabrang cepat.
"Naga Api, apa kau merasakan sesuatu yang aneh dengan kakek Panca?" tanya Sabrang dalam pikirannya.
Naga Api menggeleng pelan, "Aku tidak merasakan energi aneh apapun saat berada di dekatnya, dia adalah Ken Panca, orang yang menciptakan pusaka yang kini ada di tanganmu," jawab Naga Api.
"Hamba tau ini sulit diterima tapi setelah bertemu dengan..."
__ADS_1
"Cukup paman! aku tak ingin dengar lagi paman bicara, fokuslah pada tugas sebagai Patih dan biarkan aku bersama Hibata yang mengurus masalah ini," jawab Sabrang sambil melangkah pergi.
"Hei nak, dimana rasa hormatmu pada orang yang sudah membantu Malwageni selama ini? kau memang seorang raja tapi tidak seharusnya memperlakukan orang seenaknya karena dia hanya ingin menjelaskan sesuatu yang dianggapnya aneh. Apa kau bisa menjamin apa yang terjadi selama Ken Panca menghilang?" Wulan mulai tersulut emosinya saat melihat tingkah Sabrang.
Sabrang terus melangkah pergi tanpa memperdulikan teriakan Wulan, emosi sepertinya sudah menguasai pikirannya.
"Yang mulia..." ucap Wardhana lirih.
"Anak itu benar benar keterlaluan, akan kuberi dia pelajaran agar bisa memperlakukan orang yang lebih tua dengan baik," umpat Wulan sambil berusaha mengejar Sabrang namun Wardhana menahannya.
"Sudah cukup, Wulan! jangan lagi memperkeruh keadaan, mungkin caraku menyampaikannya yang salah. Aku baru ini melihat Yang mulia sangat marah," ucap Wardhana pelan.
"Caramu menyampaikannya? kau bahkan belum menjelaskan apapun," balas Wulan kesal.
"Paman, mohon jangan diambil hati, aku akan coba bicara pada Yang mulia saat emosinya sudah mereda. Banyak hal terjadi padanya kemarin dan itu sepertinya membuatnya tertekan," ucap Mentari sebelum berlari mengejar Sabrang.
"Terima kasih nyonya selir...."
"Apa kau masih ingin membantunya setelah apa yang dia lakukan tadi?"
"Cukup Wulan... aku sedang tidak ingin membahas masalah ini, jika kau memintaku pergi maka lupakan karena hidupku hanya untuk Malwageni," balas Wardhana cepat.
"Kau...lakukan sesukamu!" jawab Wulan sambil melangkah pergi.
Wardhana hanya diam sambil menatap kepergian wanita yang dicintainya itu, dia benar benar tidak tau harus bicara apalagi.
"Yang mulia Arya Dwipa...apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dalam hati.
"Anakku memang sangat keterlaluan setelah semua pengorbanan yang kau lakukan untuknya. Pergilah, tugasmu sudah selesai Wardhana, biarkan Sabrang yang mengurus sisanya."
Wardhana tersentak kaget saat mengenali pemilik suara itu, dia langsung menoleh ke sekitarnya untuk mencari asal suara.
"Yang mulia Arya Dwipa? bagaimana anda..." ucap Wardhana saat melihat sebuah asap putih yang perlahan membentuk tubuh seorang pria.
"Kau sudah terlalu jauh melangkah Wardhana, bahkan kau melupakan tugasmu sebagai seorang patih. Lupakan semua masalah dunia persilatan ini dan kembalilah ke keraton, aku membawamu ke Malwageni bukan untuk menjadi seorang pendekar," ucap sosok putih itu.
"Tapi Yang mulia, bukankah salah satu tugas seorang patih adalah melindungi dan memastikan keselamatan rajanya?"
"Apa kau tidak salah bicara? Sabrang bukan seorang pendekar yang butuh perlindungan, kau seharusnya sadar pada kemampuanmu. Kau ingat apa yang kukatakan dulu? jangan memaksakan apa yang bukan menjadi tugasmu karena setiap manusia memiliki peran masing masing di dunia ini dan dunia persilatan bukan untukmu," jawab Arya Dwipa pelan.
"Jangan memaksakan apa yang bukan menjadi tugas hamba ya? mungkin anda benar Yang mulia...hamba sudah terlalu memaksakan diri," jawab Wardhana lirih sambil terus menundukkan kepalanya.
Tanpa disadari oleh Wardhana, sebuah lorong dimensi terbentuk tepat di atas kepalanya dan sebuah aura hitam perlahan keluar sebelum masuk kedalam tubuhnya.
"Kau sudah mengerti sekarang? kembalilah ke keraton, aku akan mengantarmu," Lubang dimensi yang ada di atas kepala Wardhana tiba tiba membesar dan menghisap tubuhnya.
"Yang Mulia," tubuh Wardhana menghilang seketika, hanya pedang kebanggaannya yang tertinggal di ruangan itu.
"Semua persiapan sudah selesai, tanpa Wardhana disampingnya anak itu tak akan mampu melawanku," Ken Panca yang berada disebuah gua tertawa puas sambil menarik jurus ilusinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote
__ADS_1