
Wajah Wulan sari kembali tak bersemangat setelah mendengar perkataan Wardhana. Masalah baru kembali muncul setelah mereka menemui titik terang letak gerbang Dieng.
Tidak mungkin mereka akan menetap di sana sepanjang tahun menantikan gua itu muncul dari permukaan laut, apalagi kadipaten Karang sari merupakan wilayah kekuasaan Majasari yang selalu di jaga ketat karena di sana merupakan tempat latihan pasukan Tangan besi.
"Tak kusangka tempat itu begitu sulit didatangi". Wulan sari menggeleng pelan.
"Anda pernah mendengar sekte Bintang langit?" Tiba tiba Wardhana berbicara memecah keheningan.
Wulan sari menatap Wardhana bingung "Aku pernah beberapa kali mendengarnya namun kabar yang kudengar mereka bukan kumpulan pendekar".
Wardhana mengangguk pelan "Mereka adalah orang orang yang dianugrahi kepintaran yang luar biasa. Mungkin ilmu kanuragan mereka rendah namun mereka adalah pencipta semua jurus Segel yang ada saat ini termasuk segel 4 unsur yang konon digunakan untuk menyegel gerbang lapis dua dan tiga Dieng.
Mereka juga menguasai ilmu membaca bintang yang dapat memperkirakan kapan air laut akan surut maupun pasang. Namun sebagai pencipta ilmu segel tak akan mudah menemukan mereka. Konon mereka menetap di puncak bukit Cetho. Tak semua orang bisa menemukan tempat mereka karena dilindungi segel kabut. Kalian hanya akan melihat hamparan rumput hijau disana jika tidak bisa membuka segel itu.
Hanya mereka saat ini yang dapat membantu kita menentukan kapan gerbang Dieng akan muncul saat air laut pasang".
"Bagaimana kita dapat meminta bantuan mereka jika tempat mereka pun tidak bisa kita temukan". Wulan sari tersenyum kecut.
"Kita tidak akan tau jika tidak mencobanya nek, aku akan pergi ke bukit Cetho". Sabrang tiba tiba bicara.
"Yang mulia, itu hanya perkiraan ku saja karena sampai saat ini belum ada yang tau pasti di mana sekte Bintang langit".
"Tidak apa apa paman, aku harus secepatnya ke Dieng untuk mengobati seseorang, akan ku kejar sekecil apapun kemungkinan untuk menemukan gerbang Dieng".
"Aku akan kembali ke sekteku untuk membicarakan ini dengan Suliwa, berhati hatilah nak aku mempunyai firasat jika Lembah siluman tak akan diam saja melihat kita mendekati Dieng". Wulan dari memperingatkan Sabrang.
"Akan ku ingat pesan nenek". Sabrang tersenyum sesaat sebelum menoleh ke arah Wardhana.
"Paman untuk sementara kuserahkan segala urusan Malwageni pada paman. Selama paman Wijaya masih mendalami ilmu kanuragannya aku ingin paman mengendalikan semua pasukan angin selatan".
"Hamba menerima perintah Yang mulia".
Sabrang kemudian bergegas kekamar Mentari untuk memintanya bersiap. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar keseluruh tubuhnya untuk menekan racun yang berasal dari tubuh Mentari.
__ADS_1
***
"Apakah sudah ada kabar dari Langgeng?". Seorang pria tua tiba tiba muncul dibelakang Maruta yang sedang bermeditasi.
Maruta tersetak kaget melihat Mahendra, Ketua dari Lembah siluman sudah berada dibelakangnya.
"Anda sudah bisa berjalan Ketua?". Maruta menatap Mahendra tak percaya.
"Aku tak akan pernah bisa berjalan jika kau belum menemukan segel kehidupan". Suara Mahendra meninggi.
"Maaf ketua sampai hari ini aku masih kesulitan mencari dimana kitab itu berada". Maruta menundukan kepalanya. Aura yang menyelimuti Mahendra benar benar membuatnya sulit bernafas.
Maruta melirik kearah kaki Mahendra yang terlihat melayang dan tidak menyentuh tanah.
"Dia menggunakan tenaga dalamnya untuk melayang seolah dia sudah bisa berjalan, kekuatan tua bangka ini benar benar mengerikan". Maruta bergumam dalam hati.
"Semenjak Ken panca mengalahkanku menggunakan ilmu Candra geni aku sudah lupa rasanya berjalan dengan kakiku sendiri. Jika saja kakiku bisa kugunakan aku tak akan kalah dari bocah Pengguna Naga api itu ratusan tahun lalu. Kau harus secepatnya menemukan kitab segel kehidupan, aku membutuhkan lebih banyak air kehidupan untuk menyembuhkan kakiku ini".
Maruta hanya mengangguk pelan tak membantah ucapan Mahendra. Bagaimanapun dia yang paling mengerti kehebatan Mahendra karena dia melihat sendiri pertarungan Mahendra dengan Prana asabumi yang dijuluki pendekar dalam legenda di dunia persilatan ratusan rahun lalu.
Namun bukan itu saja yang membuat Maruta sedikit takut dengan Mahendra, orang yang kini ada dihadapannya itu telah hidup ribuan tahun sejak dia menjadi murid pertapa sakti Ken panca sampai hari ini. Keinginannya untuk hidup abadi telah membuatnya menjadi budak iblis yang bersemayam dalam air kehidupan.
Satu satunya cara untuk melepaskan diri dari pengaruh air kehidupan adalah menggunakan segel kehidupan yang dibuat oleh sekte bintang langit. Segel kehidupan bisa menghancurkan roh jahat yang terdapat dalam air kehidupan.
Selama ini Mahendra tidak pernah tidur satu detikpun sejak ratusan tahun lalu. Salah satu efek air kehidupan adalah ikut bersemayamnya iblis dalam tubuh penggunannya dan Mahendra harus selalu terjaga agar bisa melawan Iblis yang setiap saat berusaha merebut kesadarannya.
"Tiga purnama lagi gerbang Dieng akan kembali terbuka, saat itu aku ingin kau pergi mengambil air kehidupan itu lagi seperti yang selalu kau lakukan setiap tahun namun kali ini aku membutuhkan segel kehidupan karena efek air ini semakin kuat. Aku takut tenagaku tak mampu lagi menahan kekuatan yang berusaha merebut tubuhku maka segera temukan segel kehidupan itu atau aku akan membunuhmu!". Mahendra mencengkram leher Maruta.
"Ba..baik ketua aku akan berusaha semampuku". Maruta berkata dengan terbata bata.
Mahendra melepaskan cengkramannya namun tetap menatap tajam Maruta.
"Sebenarnya ada satu cara lagi untuk mengatasi air kehidupan jika kita tidak bisa menemukan kitab itu ketua". Maruta terlihat mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Katakan".
"Semua ilmu segel di dunia persilatan ini dibuat oleh satu sekte tuan".
"Maksudmu sekte bintang langit?". Mahendra mengernyitkan dahinya.
"Benar ketua, leluhur mereka adalah pencipta ilmu segel. Aku yakin saat ini keturunannya masih ada di dunia persilatan. Kabar yang kudengar mereka bersembunyi di bukit Cetho menggunakan segel kabut. Jika kita bisa menemukan tempat mereka, kita bisa memaksa mereka menuliskan kembali jurus segel kehidupan itu".
"Tunggu apa lagi, temukan mereka sebelum gerbang Dieng terbuka".
"Baik ketua".
***
"Kau yakin akan pergi ke Dieng?". Anom kembali bertanya pada Sabrang.
Sabrang mengangguk "Aku harus mencari Air kehidupan untuk mengobati Mentari".
"Dengan kemampuanmu saat ini akan sulit bagimu untuk masuk ke tempat itu kecuali mata mu telah benar benar berfungsi".
"Bukan kah para pedagang dari teratai merah itu bisa masuk kesana? mereka bahkan tidak memiliki ilmu kanuragan sama sekali saat masuk kesana".
"Mereka hanya memasuki gerbang pertama sedangkan air kehidupan ada di gerbang ke dua nak".
"Kau takut Anom". Naga api terkekeh mengejek Anom.
"Kau yang paling mengerti apa yang akan kita temui seletah melewati gerbang kedua. Kita hanya mempunyai waktu tiga hari sampai gua itu kembali tertutup air laut. Jika kita terlambat kembali kita harus menunggu setahun lagi untuk dapat keluar dari tempat itu. Tubuh anak ini tak akan mampu bertahan lama di sana".
"Itu akan kupikirkan nanti Anom, sekarang yang terpenting adalah menemukan tempat Sekte bintang langit secepatnya baru memikirkan hal lainnya". Sabrang membuka mata dan menyudahi meditasinya.
"Aku yakin dengan dua pusaka terkuat Dieng ditanganku kita akan bisa mengatasi apa yang ada didalam sana".
Anom terdiam setelah mendengar ucapan Sabrang sedangkan Naga api hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Aku tidak sabar melihatmu semakin berkembang bocah". Naga api bergumam dalam hati.