Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kematian Dewa Penjaga Masalembo


__ADS_3

Ledakan energi keris yang begitu besar membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Wijaya dan Wardhana yang sedang bertarung.


Mereka bahkan menghentikan pertarungan hanya untuk melihat situasi.


"Anda tak perlu khawatir akan keselamatan Yang mulia, dia telah berkembang sangat pesat. Kali ini anda memilih berdiri di pihak yang salah, tak akan ada yang bisa menghentikannya saat ini walau ada seratus Umbara," sindir Wardhana.


Wijaya tersenyum kecut sambil memejamkan matanya sesaat, dia menatap Wardhana yang terluka cukup parah namun yang mengejutkan Wijaya adalah dia pun terluka.


Wardhana yang dikenalnya selama ini sebagai pria yang hanya pintar dalam strategi perang kini secara mengejutkan bertambah kuat.


"Kita semua bertambah kuat demi Yang mulia namun sepertinya hanya aku yang salah memilih jalan. Aku terlalu meremehkan kalian seolah semua beban berada dipundak ku, aku berlatih dengan sangat keras hanya demi menjadi kuat dan melindungi Yang mulia namun sepertinya akulah yang paling lemah saat ini", tubuh Wijaya bergetar hebat, dia benar benar malu menghadap Sabrang.


"Harusnya dari awal aku percaya pada Rajaku sendiri", ucapnya lirih, dia benar benar menyesal telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Sabrang yang dianggapnya masih sangat muda dan belum siap untuk memimpin perlawanan terhadap Majasari kini telah menjadi pendekar terkuat tanpa harus mengemis pada Masalembo. Dia bahkan dengan gagah memimpin pasukan untuk menghancurkan Masalembo


"Anda pasti telah melewati rintangan yang begitu berat untuk sampai diposisi ini Yang mulia, dan aku malah mengemis pada Masalembo untuk menutupi kelemahanku. Aku benar benar pantas mati". Air mata Wijaya mulai mengalir dari matanya, untuk pertama kalinya sejak dia selamat setelah penyerangan Iblis hitam terhadap Malwageni dia merasa beban di pundaknya seperti terangkat.


"Masih ada jalan untuk kembali, aku yakin Yang mulia masih memaafkan anda. Kita tak harus meneruskan pertarungan ini."


Wijaya menggeleng pelan "Jangan pernah bersikap lemah pada musuh mu, itulah kunci kemenangan dalam pertempuran apapun. Kau harus mampu menghilangkan belas kasih pada musuh mu Wardhana dan rebut kembali Malwageni demi Yang mulia."


Wijaya melempar sebuah gulungan pada Wardhana. "Itu adalah lokasi Masalembo, maaf aku mengecewakanmu".


Wijaya menarik pedangnya dan menundukkan kepalanya sebelum bergerak ke medan pertempuran.


"Aku akan memberikan nyawaku pada Yang mulia sebagai penebusan dosaku."


Wijaya bergerak cepat menyerang kerumunan pasukan Masalembo, dia sempat menoleh sesaat kearah Sabrang yang sedang bertarung.


"Maafkan aku Yang mulia".


"Tuan kau?" beberapa pasukan Masalembo tersentak kaget melihat Wijaya menyerang mereka.


"Aku berubah pikiran, aku ingin mati sebagai ksatria Malwageni", ucap Wijaya sambil terus menyerang.


Wardhana tampak terkejut melihat pergerakan Wijaya yang langsung menyerang tanpa perencanaan, walaupun Wijaya memiliki ilmu kanuragan tinggi namun tetap saja itu tindakan nekat menyerang tanpa persiapan.


"Gawat, dia berniat bunuh diri" umpat Wardhana sambil bergerak mendekat dan membantu Wijaya yang dikepung puluhan pasukan aliansi Masalembo.


Wijaya terlihat mengamuk di medan pertempuran, dia seolah ingin memberikan baktinya yang terakhir pada Malwageni.


Beberapa luka ditubuhnya akibat serangan balasan musuh tak dihiraukannya, tangannya terus menggenggam erat pedangnya seolah tak ingin dilepaskan sambil bergerak mengambil nyawa musuh yang berada dalam jangkauannya.


"Arung, pecah pasukan dan bantu aku disini," teriak Wardhana.


Arung yang menjadi komandan pasukan memberi tanda untuk memecah pasukan dan membantu Wardhana.


"Emmy bantu mereka, biar aku yang mengurus sisanya", Lingga terus bergerak membantu beberapa pasukan yang terlihat terdesak.


Emmy mengangguk sebelum bergerak kearah Wardhana, tubuhnya kembali diselimuti kobaran api dan membakar apapun yang dilewatinya.


Pertempuran kali ini memperlihatkan sisi dewasa Lingga, dia tidak lagi memikirkan kesenangan bertarungnya namun lebih pada keseimbangan pasukan.


Dia selalu hadir membantu saat beberapa pasukan terdesak. Ilmu kanuragannya yang semakin meningkat dan kedewasaan pikirannya mampu meningkatkan semangat juang pasukan.


Semua pasukan merasa terlindungi dengan kehadiran Lingga maheswara, beberapa tetua sekte seperti Mantili dan Brajamusti bahkan mengikuti perintahnya.


Pertempuran sepertinya mulai memasuki babak akhir, kehadiran para pendekar Jawata mulai membalikkan keadaan.


Kehebatan Wulan sari, kematangan Suliwa dan strategi matang Wardhana mampu merusak formasi Masalembo.


Wajah Umbara mulai berubah masam, dia yang sangat yakin diawal mampu melumpuhkan Sabrang kini mulai ragu. Walau masih terlihat seimbang namun angin kemenangan sudah terlihat perlahan.

__ADS_1


Siapapun yang melihat suasana pertempuran saat ini pasti sudah mengetahui jika kekalahan Masalembo tinggal menunggu waktu.


Kemunculan Wardhana dan Tungga dewi diluar prediksi Umbara.


Tungga dewi dibantu Mentari secara mengejutkan mampu mengimbangi Gendis. Kombinasi serangan pedang pemusnah raga dengan Segel bayangan dan es Mentari mampu mendesak Gendis.


Belum lagi Sabrang yang mulai bangkit dengan jurus jurus tiruannya membuat Umbara semakin marah.


Posisinya sebagai salah satu dewa penjaga Masalembo menjadi taruhannya karena Masalembo tak mengenal kata gagal. Jikapun dia bisa melarikan diri jika kalah nyawanya tetap akan dibunuh komandan Masalembo.


"Aku tak mungkin gagal, aku tak mungkin gagal," ucap Umbara terus bicara berulang ulang.


Umbara meningkatkan kecepatannya dan terus menyerang Sabrang namun kali ini terlihat dia menyerang secara sembarangan.


Emosi dan rasa panik sudah menguasainya, yang ada dipikirannya saat ini hanya mengalahkan Sabrang dan membalikkan keadaan karena jika terus dibiarkan seperti ini maka Masalembo akan mengalami kekalahan.


Saat Umbara sudah diselimuti emosi, Sabrang justru semakin tenang dan menguasai keadaan.


Mata bulannya yang sudah membaca gerakan Umbara membuat Sabrang mudah mematahkannya.


Umbara yang tidak menyadari jika Sabrang terus menyerap energi alam dengan Cakra manggilingan selama bertarung terus mencoba menekannya walau kini hampir seluruh serangannya dapat dipatahkan.


"Jurus pedang pemusnah raga", Umbara kembali menyerang Sabrang dengan jurus andalannya.


Sabrang yang sudah terkena jurus itu beberapa kali mulai bisa membaca arah gerakan pedang pemusnah raga yang khas.


"Kunci menghancurkan jurus ini adalah dua detik sebelum serangan mendarat," Sabrang bergerak maju sambil menajamkan mata bulannya. Dia memaksa mata bulannya bekerja lebih keras untuk mengikuti gerakan jurus pemusnah raga yang terkenal sangat cepat. Sabrang seolah tak memperdulikan tetesan darah dimatanya.


Dia mengalirkan energi Banaspati keseluruh tubuhnya untuk menekan rasa sakit akibat luka serangan Umbara.


Luapan aura dari tubuh Sabrang dan Umbara membuat semua orang serentak menoleh karena mereka yakin ini serangan terakhir keduanya.


Tim aliansi Jawata tampak cemas karena ini pertama kalinya mereka melihat Sabrang terluka cukup parah dalam pertempuran menandakan lawan yang dihadapinya sangat kuat.


Sabrang bergerak mendekati Umbara, hal yang sangat jarang dilakukan musuh saat menghadapi jurus pemusnah raga karena secepat apapun menghindar tubuh mereka akan terkoyak jurus itu.


Sabrang merubah sedikit gerakannya saat mata pedang Umbara hanya berjarak satu jengkal dari jantungnya sambil memunculkan keris penguasa kegelapan di tangan kirinya.


Lengan Sabrang dengan cepat membelokkan mata pedang Umbara dengan kerisnya sambil mendekati titik buta Umbara, dia merapal sebuah jurus pedang dan langsung meneyangnya.


"Jurus Angin pembasmi iblis", Sebuah sabetan pedangnya tepat mengenai punggung Umbara.


"Jurus ini?", Umbara tersentak kaget dan mencoba menghindari serangan bertubi tubi Sabrang yang terus merobek tubuhnya namun sia sia.


Puluhan energi keris yang ikut menyerangnya membuat konsentrasinya terpecah.


Mata bulan Sabrang sudah mengunci seluruh gerakannya.


Sabrang terus menekan Umbara sampai tak mampu menyerang balik.


"Jurus Angin pembasmi iblis tingkat II : Angin kegelapan", Tubuh Sabrang bergerak cepat seolah menembus tubuh Umbara.


Serangan kedua Sabrang membuat semua orang terkejut terutama Gendis. Jurus angin pembasmi Iblis adalah jurus andalan Gendis yang diberikan komandan Masalembo padanya.


Dia tak habis pikir bagaimana Sabrang mampu menguasai jurusnya.


"Dia meniru jurusku? tidak, jurusnya lebih kuat dari milikku. Trah Dwipa benar benar menakutkan", ucap Gendis sambil menahan nafas.


Umbara sempat menghindar di detik terakhir menggunakan jurus ruang dan waktu namun saat dia muncul kembali, Sabrang sudah berada dibelakangnya.


Sabrang langsung mencengkram tubuh Umbara dari belakang untuk menguncinya agar tidak menghilang lagi.


"Kau sangat sulit ditaklukkan selama terus menggunakan jurus itu", ucap Sabrang dingin.

__ADS_1


Pedang Naga api muncul diudara dan berputar sangat cepat membuat luapan energi yang sangat besar.


"Kau ingin bunuh diri bersamaku?", ucap Umbara sinis.


"Kau salah paham, serangan Naga api tak berpengaruh terhadap tubuhku karena aku tuannya. Kini hancurlah berkeping keping". Sabrang merapal sebuah jurus.


"Badai Api Neraka" Kobaran api merah berbentuk Naga tiba tiba melesat keluar dari pedang yang berputar di udara dan menghantam Umbara dan Sabrang.


Ledakan besar terjadi dan menghancurkan apapun yang berada disekitarnya.


Puluhan pendekar Masalembo tewas seketika menjadi abu. Tungga dewi dan yang lainnya harus bersusah payah menghindari kobaran api yang terus membesar.


"Yang Mulia" teriak Tungga dewi panik, karena serangan badai api neraka juga menghantam Sabrang yang menahan gerakan Umbara.


Emmy bergerak cepat kearah pasukan aliansi Jawata yang tak mampu menghindar.


"Tameng api abadi", tubuh Emmy melepaskan aura Naga api dan menahan api yang terus membesar kearahnya.


"Dia bunuh diri?", ucap Gendis pelan sambil terus memperhatikan pusat ledakan. Semua pendekar menghentikan pertempuran demi menyelamatkan diri.


Belum selesai rasa terkejut mereka sesuatu kembali terjadi.


Tanah bergetar diikuti bebatuan yang terangkat ke udara saat kobaran api merah seperti terhisap sesuatu.


Kobaran api merah terhisap ke titik awal ledakan dengan cepat.


Saat debu mulai menghilang, tampak Sabrang berdiri sambil memejamkan matanya, tak ada luka bakar sedikitpun akibat ledakan besar tadi.


Sabrang perlahan membuka matanya dan menatap sekelilingnya.


Semua mematung tak percaya termasuk Gendis, Hari itu seorang dewa penjaga Masalembo terbunuh ditangan pemuda yang masih sangat muda. Hal yang tidak bisa dilakukan bahkan oleh Naraya, pendekar paling berbakat milik trah Dwipa.


"Dia bukan manusia", ucap Krisna takjub.


Brajamusti menggeleng pelan, ada rasa takut dalam dirinya melihat ilmu kanuragan Sabrang.


"Kalian telah melakukan kesalahan dengan membuatnya kuat secara tidak langsung. Kini dia bagai dua sisi mata pedang yang bisa juga menghancurkan dunia persilatan jika dia salah mengambil jalan, tak ada lagi yang bisa menghentikannya sekarang", ucap Brajamusti pelan.


Pasukan aliansi Jawata yang sudah berada diatas angin kembali bergerak menyerang sesuai perintah Arung. Mereka memanfaatkan semangat bertarung aliansi Masalembo yang sudah turun. Pertempuran kembali pecah namun kali ini aliansi Jawata jauh lebih unggul.


Wijaya tampak mematung sambil menggunakan pedang sebagai tumpuannya. Tubuhnya sudah dipenuhi luka sabetan pedang. Dia tidak perduli lagi saat beberapa pendekar Masalembo menyerangnya.


"Anda semakin kuat Yang mulia, kini aku bisa mati dengan tenang", Wijaya mengangkat pedangnya dan siap menyerang musuh yang Mendekat. Dia ingin mengakhiri serangan terakhirnya sambil bunuh diri karena tak ada lagi keberanian dalam dirinya untuk menghadap Sabrang.


Saat Wijaya mengayunkan pedangnya sambil mencoba menarik pedang musuh dan menancapkan ditubuhnya untuk menghentikan gerakan mereka tiba tiba puluhan energi keris muncul dan menyerang para pendekar Masalembo.


Sabrang menarik tubuh Wijaya kebelakang dan melepaskan aura ditubuhnya.


"Jurus Angin pembasmi iblis tingkat II : Angin kegelapan" Tubuh Sabrang bergerak cepat dan membunuh para pendekar yang ada disekitarnya.


"Tak ada prajurit Malwageni yang bisa mati tanpa ijinku", ucap Sabrang dingin.


"Bagaimana anda?", ucap Wijaya tersentak kaget, dia yakin sekali beberapa saat lalu Sabrang berada jauh didepannya dan kini sudah ada didekatnya. Wijaya berlulutu dihadapan Sabrang memohon ampun.


"Yang mulia", ucap Wijaya lirih.


"Akan ada hukuman berat bagi pengkhianat namun kau masih memiliki tugas membela tanah kelahiran mu. Paman Wardhana akan mengurus hukuman yang pantas untuk paman tapi saat ini tunjukkan kesetiaan mu padaku dan bertarung lah sebagai ksatria Malwageni. Jangan kecewakan aku lagi atau aku sendiri yang akan mengambil kepala paman".


Wijaya mengangguk pelan, dia benar benar tak mampu berkata apapun.


"Pimpin pasukan mu dan bantu aku menghancurkan mereka", perintah Sabrang sambil melepaskan kembali aura ditubuhnya.


"Hamba menerima perintah Yang mulia", balas Wijaya pelan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


2 Chaptee hari ini kembali Author gabung jadi satu.


__ADS_2